
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘
***
"Zee, Zee kenapa sih kau jadi sering melamun di sini?" tanya Lia.
"Mmmm aku, aku, aku sedang memperhatikan Theo." jawab Zee asal yang membuat Alena, Lia dan bahkan Theo yang duduk semejanya dengannya terkejut melihat ke arahnya.
"Apa yang kau perhatikan dariku?" tanya Theo heran namun ia juga merasa gede rasa mendengar ucapan Zee barusan.
"Mmm kau, kau terlihat lucu hahahha." sahut Zee menutupi bibirnya karena tertawa.
"Apa? aku lucu? memangnya apa yang terlihat lucu hah?" Theo berdiri dari kursinya dengan nada kesal.
"Sabar Theo ini pemakaman ayahku, tenanglah, mungkin Zee menyukaimu." bisik Alena menarik ujung jas Theo menyuruhnya agar duduk kembali.
"Hah apa kau bilang?" tanya Theo tak percaya menoleh pada Alena.
"Hussh tenanglah jangan keras-keras, nanti Zee bisa malu tau." Alena menahan Theo berbisik kepadanya.
perempuan gila itu menyukaiku hah bagaimana mungkin, tetapi kalau aku lihat dia bergaun seperti itu cantik juga, hah apa yang kau pikirkan Theo dia bahkan bukan tipe mu.
"Theo, kenapa sekarang kau yang melamun?" tanya Alena.
"Aku melamun? ah tidak kok, sudahlah aku akan pergi ke toilet dulu." Theo berdiri salah tingkah, lalu bergegas pergi ke toilet menyembunyikan wajahnya yang mulai merona dan memerah menahan malu.
"Aku mau pulang Lia bersamaku, tiba-tiba aku lupa harus membeli obat untuk nenekku jadi aku harus segera pulang?" ucap Zee beralasan karena tak betah berlama-lama berada disana.
"Apa nenek mu sakit?" tanya Lia sedikit khawatir di raut wajahnya.
"Hanya sakit kepala sih, tapi dia akan marah jika aku lupa membelinya, aku duluan yak." sahut Zee berdiri dan mencoba bergegas pergi dari sana.
"Kalau begitu aku tak ikut ya, kau duluan saja, aku masih mau disini menikmati daging steak terenak di kota ini, baiklah, hati-hati ya Zee saat kau pulang nanti."
Lia memberi kecupan di pipi kanan dan kiri Zee lalu memeluknya.
"Alena maaf aku tak bisa lama-lama ya aku harus pergi." ucap Zee menghampiri Alena lalu mencium pipi Alena dan memeluknya.
"Ok Zee tak apa, terima kasih ya atas kedatanganmu." sahut Alena
"Oh iya Alena, apa aku boleh membawa satu porsi steak terenak mu untuk nenekku?" tanya Zee karena ia ingin menguji daging itu pada paman Joseph kan dia yang ahli soal dagjnh makanan nya itu.
"Tentu saja Zee sebentar ya, aku akan suruh pelayan ku untuk menyiapkannya." sahut Alena lalu mencari satu pelayannya agar mempersiapkan satu porsi daging steak lengkap dengan sayuran pada Zee.
"Hahaha Zee kau tak tahu malu juga rupanya." ucap Lia lirih yang dibalas tatapan konyol dari Zee dengan mata juling nya.
"Biar saja soalnya aku akan memberikannya pada pamanku, kasihan kan dia ingin sekali makan makanan mewah seperti disini." sahut Zee berusaha untuk berbohong pada Lia.
Setelah Zee mendapat kotak bekal dari Alena lalu Zee melambai pada Lia dan Alena untuk pamit lalu pergi ke pintu keluar.
"Hai Zee kamu mau kemana?" sapa V yang datang dengan kedua orang tuanya.
"Hai V aku baru saja mau pulang, ada urusan mendadak tentang nenek ku." sahut Zee.
"Apa yang terjadi dengan nenek mu?" tanya V khawatir dan cemas.
"Oh tidak apa-apa kok, hanya saja ia mengalami sakit kepala." Zee tersenyum manis.
"Wah siapa gadis cantik ini?" tanya ayah V pada Zee.
"Ini teman sekolahku Dad, namanya Zee."
"Hai Om hai Tante aku Zee." Zee mengulurkan tangannya.
"Wah ini Zee gadis yang sering kau ceritakan itu yak hai Zee aku Briana, dan ini suamiku Leonard." ucap ibu nya V menggoda V sambil menjabat tangan Zee.
"Kapan-kapan datanglah kerumah kami ya Zee, masakan istriku paling enak." puji ayah V pada istrinya sambil menjabat tangan Zee juga.
"Baiklah om dan tante nanti aku akan mampir kapan-kapan." sahut Zee.
"Kau janji ya Zee." ucap V dengan raut wajah senangnya.
"Iya kapan-kapan, maaf ya aku harus segera pergi, permisi semuanya daaah." Zee pergi dari hadapan V dan kedua orang tuanya.
Di ujung sana Rose memandang ke arah Zee dengan wajah sinis nya. "Kau pikir kau bisa merebut V dari ku, awas saja kau Zee."
***
Zee berlari menaiki bukit menuju rumah kayu buatan Joseph.
Tanpa mengetuk lagi Zee langsung membuka pintu rumah Joseph yang tak terkunci.
"Paman apa kau tau.."
"Zee apa yang kau lakukan?" pekik Joseph terkejut dengan kehadiran Zee yang tiba-tiba datang saat dia hanya memakai celana dalam, terlihat jelas perut kotak-kotak beserta tubuh tegap nan atletis milik Joseph.
"Maaf paman aku tak tahu kau.." Zee berbalik badan namun ia berusaha menoleh sedikit untuk melihat tubuh tegap Paman Joseph nya itu sambil tersenyum menggigit bibirnya sendiri.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" ucap Joseph yang sudah memakai kaus putih dan celana jeans nya.
"Aku tadi mau bicara apa ya? hmmm sebentar." Zee berjalan mondar mandir di hadapan Joseph.
"Oh iya aku ingat, pria pembunuh itu paman."
"Ayah temanmu Alena kan? kau sudah menceritakannya tadi saat aku bersama nenek mu." potong Joseph.
"Bukan itu, dengarkan aku dulu." rengek Zee melingkarkan tangannya di lengan kekar Joseph.
"Kau coba makan lah ini." Zee menyodorkan kotak makan dari Alena tadi.
"Apa ini?" tanya Joseph menimbang - nimbang kotak makan di tangannya.
"Itu daging steak dari restoran terenak di kota ini, aku ingin kau mencicipinya."
"Apa ini sogokan? hal gila apa yang hendak kau lakukan lagi kali ini?" tanya Joseph penuh selidik.
"Tidak, tenang saja Paman, aku hanya ingin tau daging jenis apa itu, kan kau pakarnya?"
"Aku tak mengerti Zee."
"Ahh paman kau lambat juga berpikir kali ini." ejek Zee.
"Hei apa kamu mau ku terkam hah?" Joseph memiting leher Zee sambil tertawa.
"Tanganmu mencekik ku paman awww."
"Minta maaf dulu pada paman."
"Baiklah aku minta maaf ya paman ku tersayang muah." sebuah kecupan mendarat di pipi Joseph membuatnya salah tingkah menghindari Zee.
"Ayo paman cobalah, aku tak sabar mendengar pendapatmu."
"Baiklah." Joseph membuka kotak makan, mencium aroma masakannya dan mulai mencoba rasa daging itu.
"Bagaimana mungkin ini Zee." Joseph terbelalak dengan rasa daging yang ia rasakan.
"Benarkan dugaan ku paman." ucap Zee.
***
To be continued...