9 Lives

9 Lives
Si Kembar



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


***


"Halo nyonya Amelia." sapa laki-laki tegap itu memeluk dan mencium punggung tangan nenek.


"Halo Benjamin apa kabarmu?"


"Kami baik Nek, tapi tidak dengan kaum kami disana." sahutnya ada raut kesedihan terpancar di wajahnya.


"Halo nenek Amelia." sapa isteri Benjamin.


"Halo Karenina, kau terlihat pucat." ucap nenek khawatir.


"Untuk itulah kami menemui dirimu Nek." sahut Benjamin.


"Oh iya ini Britney dan Britany, ayo sapa nenek Amelia." ucap Benjamin pada kedua anak kembarnya.


"Halo nenek Amelia senang bertemu denganmu." keduanya mengucap sapaan bersamaan sambil menurunkan tubuhnya sedikit dengan memegang gaunnya.


"Hai putri-putri cantik, kalian sudah sangat besar, terakhir kali kita bertemu saat kalian berumur dua tahun, pasti tak ingat denganku? oh iya ini cucuku Zee." nenek Amelia memperkenalkan Zee.


"Halo aku Zee."


"Halo Kak Zee senang bertemu denganmu." lagi-lagi mereka berbicara berbarengan.


"Wow benar-benar kembar kalian ini aku sulit membedakannya." Zee mengamati dengan seksama.


"Kau bisa membedakannya dari mata, Britney berwarna hijau, Britany berwarna biru." ucap Karenina.


"Oh begitu rupanya." Zee mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Baiklah kita kerumahku sekarang." ajak nenek Amelia kepada para tamunya itu.


Zee melihat sekilas Joseph yang masih berdiri di atas bukit mengamati lalu Joseph pergi menuruni bukit dan menghilang.


"Ini rumahku silahkan masuk." nenek Amelia mempersilahkan para tamu masuk, sedari tadi nenek sudah sibuk membuat kue pie apel dan sup labu bagi para tamunya yang sudah dia hidangkan di atas meja.


"Silahkan kalian cicipi masakan ku bersama cucuku, kalian pasti lapar kan?"


"Wah tentu saja kami lapar, anda memang terkenal penyihir yang baik." ucap Benjamin


penyihir baik apanya setiap hari saja memarahiku, hebat sekali nenek ini terkenal dengan kebaikan nya pada orang lain tapi tidak padaku huh.


Zee mengamati neneknya yang selalu tersenyum malam itu sambil menyuapi sup labu ke mulutnya.


"Ada masalah Zee?" tanya nenek Amelia yang risih diperhatikan.


"Tidak nek, tidak."


"Si kembar ini akan tinggal di kamarmu selama aku mengobati Karenina." ucap nenek.


"Blue sudah menyiapkan semuanya, tenang saja."


"Terima kasih Nek, anda baik sekali, hei duo Brit ayo ucapkan terima kasih pada mereka!" ucap Karenina.


"Terima kasih nenek Amelia, terima kasih kakak Zee." kedua anak kembar itu mengucap bersamaan kembali


"Wah mereka benar-benar identik ya, cara berbicara, perilaku, cara makan pun selalu bersamaan, apa saat mereka di kamar mandi juga bersamaan melakukan hal itu buang..."


"Zee jaga ucapan mu, ini meja makan, bersikap dan bicara lebih sopan!" nenek menatap Zee tajam.


"Iya nek maaf."


"Mereka melakukan apapun bersamaan Zee jangan merasa heran, mereka kayaknya kembar siam namun terpisah satu sama lain." Benjamin berusaha menjelaskan.


"Oh ... begitu."


semua bersamaan, apa mereka juga mandi bersama, buang air bersama, makan bersama bagaimana kelak mereka menikah ya, jangan-jangan suami bersama.


Zee tersenyum sendiri membayangkan khayalannya tentang si kembar.


***


Makan malam telah usai Zee mengantar si kembar menuju kamarnya. Benar saja Blue sudah menyulap kamar Zee terasa lebih besar, dengan ranjang yang lebih besar dan barang-barang baru seperti lemari kebih besar, meja rias bahkan satu set home teather berada di kamarnya yang tadinya sepi furniture.


"Apa ini kamarku?" tanya Zee pada Blue.


"Bagaimana hebat kan aku, aku merubah semua penampilan kamarmu yang kampungan." ucap Blue sombong.


"Ah ini saja lebih norak dan kampungan ku lihat.


"Wah aku suka kamar ini." ucap si kembar bersamaan.


"Nah kau lihat kan, mereka saja suka." sahut Blue.


"Kenapa kalian kerumahku?" tanya Zee pada si kembar.


"Kaum kami di bunuh oleh para lycan." ucap si kembar bersamaan.


"Lycan? makhluk apa itu?"


"Mereka itu manusia serigala, mempunyai taring dan memangsa kami, ketika taring mereka menusuk tubuh kami maka taring mereka akan memasukkan cairan racun yang membuat kami lemas tak mampu bergerak, lalu mereka menyantap kami hidup-hidup." Ucap si kembar bersamaan.


"Apa kalian selalu berbicara bersamaan seperti itu?" tanya Zee heran.


"Dari lahir kami memang sudah begini."


"Apa serunya kalian melakukan apapun bersamaan hahaha, aww aww apa yang kalian lakukan?" pekik Zee saat dirinya terbelah menjadi dua.


***


to be continued...