9 Lives

9 Lives
Racun Laba-laba Tulip Hitam



**Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading**


***


"Berciuman? apa maksud nenek?"


"Dari pengamatan ku seperti nya sepuluh hisapan cukup mengeluarkan racunnya." nenek Amelia menyeka keringat dingin yang mengucur deras di dahi Zee.


"Siapa yang harus menciumnya?" tanya Joseph.


"Apa kau mau?" nenek Amelia menoleh pada Joseph.


"A..a..aku? aku harus sepuluh kali mencium anak ini?" Joseph pura - pura terlihat jijik padahal ia pernah mencium Zee sebelumnya.


"Wah kau berambisi sekali mau mencium sepuluh kali cucu ku hahaha, sekali hisap saja Zee sudah bisa membuat mu mati jika kau tidak buru - buru melepasnya dan jika berhasil lepas kau akan lemas selama tiga hari."


"Lalu bagaimana sekarang?"


"Ciumlah Zee! pastikan kau cukup tenaga melakukannya!"


"Harus aku?"


"Siapa lagi apa aku harus menyuruh Blue yang kecil ini?" nenek Amelia mengangkat blue ke arah Joseph.


"Tidak ku mohon jangan aku nek, aku tak mau mati setengah hisapan saja aku pasti mati." Blue mencoba memberontak lalu lari keluar rumah Joseph.


"Lihat kan Blue saja takut, ayo lakukan kalau tidak Zee tak akan bertahan dan mati lemas membiru seperti ini." perintah nenek Amelia.


Joseph ingin sekali mencium Zee tak perlu nenek meminta namun melakukannya sekarang di hadapan nenek Amelia membuatnya sangat gugup dan cemas.


"Cepatlah Joseph aku ingin melihat reaksi tubuhmu aku akan bersiap jika kau tidak kuat nanti dan menghentikan Zee."


"Kenapa bukan nenek saja yang mencium Zee?"


"Hei manusia serigala apa kau tak tahu berapa usiaku sekarang? meski kau lebih tua dari ku tapi tubuhku lebih lemah darimu dan menua tidak sepertimu yang masih tampak muda." ucap nenek Amelia ketus.


"Baiklah." Joseph menghela nafas panjang dan mencium Zee. Tampak bayangan yang terhisap dari tubuh Joseph melalui bibirnya masuk ke dalam tubuh Zee sampai membuat Zee tersadar dan membuka mata lalu mendorong Joseph jatuh.


"Apa apaan ini kenapa paman mencium ku?" ucap Zee marah. Joseph jatuh lemas berusaha duduk di sofa mengatur nafasnya. Joseph merasakan seolah jiwanya tertarik keluar dari tubuhnya, terasa sakit dan panas merasuk dadanya dengan jantung yang berdetak makin cepat.


"Dasar bodoh." nenek Amelia menepuk kepala belakang Zee dengan gemas.


"Awww sakit nek."


"Hampir saja kau mati kehilangan nyawamu, bodoh!" nenek membentak Zee.


Zee melihat Joseph yang terkulai lemas tak berdaya. "Apa yang terjadi pada Paman Jo?"


"Kau menghisap tenaga kehidupannya karena itu syarat mengeluarkan racun di tubuh mu dan..."


"Huek huek..." Zee berlari menuju toilet memuntahkan cairan biru dari mulutnya.


"Uhh menjijikkan." sahut nenek Amelia.


"Apa yang aku muntahkan tadi nek?" tanya Zee


"Jadi aku menghisap tenaga paman untuk mengeluarkan racunnya?"


"Bingo, tepat sekali!"


"Tapi Paman tak apa-apa kan?"


"Dia tak apa-apa, tapi kau harus merawatnya selama tiga hari karena kelelahan akan melandanya."


"Ah baiklah, terima kasih paman, maafkan aku ya tadi mendorong mu." Zee mengangkat Joseph membaringkannya di atas ranjang Joseph. "Pergilah aku lelah dan mengantuk." suara Joseph terdengar lemas.


"Baiklah, nanti aku kembali ya paman." ucap Zee menyusul nenek Amelia yang sudah melangkah keluar.


Joseph tersenyum memandang Zee "Sembilan kali lagi mencium mu seperti ini pun aku rela." ucap Joseph lalu tertidur.


"Astaga apa yang terjadi dengan kawan - kawanku nek?" pekik Zee.


"Mereka terlalu banyak tau, bantu aku minum kan ini ke dalam mulutnya." perintah nenek Amelia.


"Memangnya apa yang akan terjadi pada mereka?"


"Mereka tak akan tahu tentang laba-laba besar yang menyerang mu, lanjutkan saja tugas bunga tulip mu itu, bilang saja Joseph yang memberikannya saat ke bukit."


"Hmmm baiklah nek."


Tak lama kawan - kawan Zee tersadar dari tubuhnya yang membeku. Seolah tak terjadi apa-apa, mereka melanjutkan membuat laporan dan mengamati bagian - bagian dari bunga tulip hitam yang ada dikotak pada genggaman tangan Theo.


"Akhirnya selesai juga, besok aku akan membawa makalah hasil dan kaset CD berisi laporan hari ini, terima kasih ya semuanya." ucap Alena.


"Kenapa kakiku terasa sakit ya, seolah aku habis berlari kencang saja?" Lia mengusap dan memijit bagian betisnya.


"Ah benar aku merasakan yang kau rasa." sahut V.


"Kalian aneh!" ucap Theo.


"Sudahlah ayo kita pulang, terima kasih Zee atas jamuan nya." ucap Rose membuat Zee menoleh takjub karena seorang Rose bisa berkata manis dan mengucap terima kasih kepadanya. "Tentu tentu saja, aku pun senang menjamu kalian." sahut Zee.


Mobil V dan mobil Theo sudah hadir menjemput mereka di halaman rumah Zee, mereka pun pamit pada Zee dan nenek Amelia.


"Zee pemuda itu cocok untuk kau hisap tenaganya." ucap nenek Amelia memandang Theo.


"Maksud nenek?"


"Kau akan merasa lemas dan membiru seperti tadi, jika tak cepat kau dapatkan tenaga kehidupan, kau yang akan mati, nah jika itu terjadi di sekolah mu nanti, hisaplah pemuda itu!"


"Bukan kah aku sudah sembuh nek?"


"Sembilan kali lagi Zee, sembilan kali lagi kau akan membahayakan nyawamu." nenek Amelia masuk ke dalam rumah sambil bersenandung mengejek Zee.


"Aku mencium Theo? iyuh... " Zee bergidik jijik.


****


To be continued....


😊😊😊