9 Lives

9 Lives
Pertandingan Basket



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


***


"Hei pembantuku." sapa Theo pada Zee pagi itudi parkir sekolah.


"Pembantu mu huh enak saja." gumam Zee lalu pura-pura tak mendengar sapaan Theo.


Theo menarik ransel Zee dari belakang menahannya agar tak pergi.


"Aku tahu kau mendengarku, mau kemana kau?" goda Theo.


"Lepaskan... aku mau ke kelas."


"Tunggu, ini." Theo memberikan satu kotak susu cokelat pada Zee.


"Kau... kau sakit ya?" tanya Zee heran mendapat sekotak susu cokelat dari Theo.


"Kau itu kurus, sepertinya kau kekurangan gizi jadi itu untukmu, asal kau tahu yak dengan tubuhmu yang kurus itu tak akan ada laki-laki yang menyukai mu hahaha." Theo berlari menghindari Zee yang siap melemparinya sepatu.


***


"Baiklah kelas hari ini selesai lebih cepat karena aku akan menonton pertandingan tim basket kita melawan sekolah Smart, ayo siapa yang mau ikut?" ajak Pak Henry mengakhiri kelas matematika nya.


"Pastinya pak, anda memang pengertian sekali." sahut Lia.


Semua murid kelas pun bergegas menuju aula tempat pertandingan basket di selenggarakan.


"Zee lihat ! bukankah itu Zack?" Lia menepuk bahu Zee yang duduk di bangku penonton.


"Astaga Lia, dia tampan sekali." pekik Zee kegirangan.


"Lihat banyak murid perempuan yang menyorakinya!" ucap Lia menunjuk rombongan murid perempuan yang histeris melihat Zack.


Suara murid perempuan makin histeris tatkala tim basket sekolah Briliant muncul. Mereka makin menjerit layaknya para penggemar yang melihat idolanya saat Theo dan V melintas.


V melambai pada Zee dan Lia, namun Theo melempar bola basketnya pada dada V menyuruhnya agar fokus ke lapangan karena pertandingan akan di mulai. Zee menatap Theo dengan sinis saat Theo meliriknya.


Alena muncul bersamaan dengan Rose yang langsung duduk disamping Zee. "Tidak kah Theo terlihat tampan Zee?" Alena mencoba menggoda Zee.


"Hah? coba periksa lagi kedua matamu itu." sahut Zee memperhatikan Zack.


"Oh rupanya kau naksir dengan Zack ya?"


"Bagaimana kau tahu namanya Zack apa kau kenal?" Zee menoleh pada Alena.


"Tentu saja kan kami tinggal dalam satu wilayah."


"Apa dia punya pacar?" tanya Zee antusias.


"Aku suka, lihatlah Zee dan Zack nama kalian saja berawalan sama pasti kalian cocok." sahut Rose senang mendengar Zee menyukai orang lain dan bukan V.


"Ah kau bisa saja Rose." Zee tersipu malu.


"Jadi kau dukung siapa Zee? sekolah si Zack atau sekolahmu?" tanya Lia menunggu jawaban Zee bersamaan dengan tatapan Alena dan Rose.


"Kenapa kalian menatapku?"


"Aku ingin tahu apa kau setia pada sekolah apa rela mengkhianati sekolah demi pria." ucap Lia menatap tajam Zee.


"Uuu kau menakutiku Lia, baiklah aku dukung sekolah kita." jawab Zee.


"Nah gitu dong, ayo kita bersorak demi Briliant!"


Lia, Zee, Alena dan Rose bersorak meneriaki nama tim sekolahnya jauh lebih lantang di banding tim cherleaders sampai semua mata tertuju pada empat perempuan cantik yang sedang bersorak riang itu.


Theo melihat sekilas ke arah Zack yang menatap Zee terpesona dan berpura-pura menabrak bahu Zack.


"Ups sorry aku tak melihatmu." ucap Theo.


"Kau memang selalu cari gara-gara denganku ya kan?" Zack hendak membalas namun seorang temannya menahannya.


Pertandingan basket itu pun selesai dan akhirnya di menangkan oleh tim tamu yaitu sekolah Smart High School dengan skor tipis beda tiga poin. Para penonton yang kecewa beranjak pergi meninggalkan aula. Zee ingin menghampiri tim Zack memberi ucapan selamat namun sudah banyak murid Briliant yang mengerumuni Zack dan berfoto layaknya anggota boyband terkenal.


Handuk basah mendarat di wajah Zee tiba-tiba. Menahan dan menghela nafas panjang Zee langsung tahu siapa orang yang melempar handuk basah padanya.


"Ambilkan aku minuman dingin dalam cooler itu." perintah Theo.


"Dasar payah sudah kalah masih berlagak." gumam Zee terpaksa mengambilkan sebotol minuman dingin lalu melemparkannya pada Theo yang dengan reflek menangkapnya. "Gadis pintar, oh iya ambilkan aku..." Zee langsung berlari membekap mulut Theo dengan handuk basah yang dilemparkan Theo tadi.


"Ump ump fuaaahh apa yang kau lakukan?" pekik Theo geram.


"Aku sedang membasuh keringatmu." ucap Zee lalu berpura-pura menyeka keringat di wajah dan leher Theo dengan handuk itu.


"Kau..."


"Apa? mau memberi perintah lagi? tidak kah kau lihat kini kita jadi pusat perhatian." ucap Zee.


Theo terdiam lalu membuka kausnya di hadapan Zee. "Usap keringat di punggung ku!"


Ingin rasanya ku beri cakaran pada punggung ini kalau perlu ku belah dan ku ambil tulang punggungnya lalu ku berikan pada Bruno.


Nyatanya Zee menuruti perintah Theo meski dengan wajah kesal dan marah. Sementara di sekitarnya banyak gadis yang berbisik-bisik tentang Theo dan Zee, V ingin menghentikan aksi jahil Theo namun Rose menahannya.


***


To be continued...