9 Lives

9 Lives
Kau Milikku



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it πŸ’πŸ˜˜πŸ˜Š


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


Theo menarik tubuh Zee mendekat padanya lalu Theo mencium bibir Zee saat itu juga dan entah kenapa kali ini Zee tak bisa melepas Theo darinya dan membiarkan Theo melakukannya.


"Kau sudah menjadi milikku jadi jangan pernah kau coba berpaling dariku untuk bersama laki-laki lain, apalagi Zack." ancam Theo mendekap tubuh Zee dengan erat.


"Hahahaha aku tak salah dengar ini, bukan kah jika kau ingin memiliki seseorang kau harus mengungkapkan rasa cintamu pada orang tersebut, lalu jika kau menganggap aku milikmu kapan kau nyatakan cinta padaku hah? kok aku tak pernah mendengarnya ya?" Zee menatap Theo sambil menggodanya dengan tertawa melepaskan dekapan Theo.


"Terlalu kekanak-kanakan, sudah pokoknya kau milikku, ayo ku minta supir mengantar mu pulang, dan sampaikan terima kasih ku pada nenek atas pemberian kuenya ya." ucap Theo mendorong Zee pelan keluar dari rumahnya.


Dasar aneh barusan dia bilang aku miliknya sekarang malah mengusirku.


Zee pasrah menurut perintah Theo masuk ke dalam mobil yang Theo siapkan bersama supir untuk mengantar Zee pulang.


"Sampai jumpa esok di sekolah." ucap Theo menyentuh dagu Zee.


Mobil yang di kendarai Zee pun melaju menuju rumahnya. Zee sempat menoleh ke arah Theo yang masuk ke dalam rumahnya sambil menari dan berjingkrak kegirangan.


"Aku baru ingat, ada yang harus ku tanya kan pada paman Joseph saat aku sampai nanti." gumam Zee.


"Maaf nona, apa yang anda katakan saya tadi mendengar nya dengan jelas?" tanya supir yang diperintahkan Theo itu.


"Oh tidak, bukan apa-apa aku hanya menggumam." sahut Zee.


Supir itu tersenyum lalu fokus mengemudikan mobilnya menuju rumah Zee.


***


Makan malam sudah siap, nenek Amelia menyiapkan sup ayam dan roti gandum kesukaan Zee malam itu.


"Nek apa kau tau soal ciri-ciri vampir?" tanya Zee saat berada di meja makan bersama neneknya dan Blue.


"Kenapa kau tanyakan itu?" ucap nenek Amelia sambil mengunyah roti gandum nya.


"Entahlah nek, aku hanya bingung dengan ciri-ciri teman yang ku kunjungi di rumah sakit tadi, aku merasa ada yang aneh dengannya." sahut Zee.


"Setahuku vampir itu rentan dengan sinar matahari, kau coba saja bawa temanmu ke tempat lapang yang terkena cahaya matahari." ucap Blue memberi ide.


"Aku juga tahu soal itu, hanya saja bagaimana cara membedakan fisik nya itu yang aku mau tahu." sahut Zee.


"Coba nanti nenek cari buku-buku tentang vampir, sekarang habiskan makananmu!" perintah nenek.


"Aku mau ke rumah paman Joseph siapa tau dia bisa menjelaskan pada ku soal ciri-ciri vampir." Zee menyelesaikan makan malamnya lalu bergegas menuju rumah paman Joseph.


Saat Zee sampai di rumah paman Joseph rupanya Joseph sedang memotong-motong daging rusa buruannya, darah rusa itu mengalir deras ke dalam sebuah ember mengucur dari leher yang di gorok paman Joseph.


"Wow untung bukan manusia yang sedang kau gorok lehernya hehehe." ucap Zee memasuki halaman rumah Joseph.


"Ah aku tak mau melayani kau dan siapa kawanmu itu belajar, lihat lah aku sedang sibuk." sahut Joseph merapihkan potongan dagingnya.


"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Joseph .


"Berhubung aku juga sedang tak ingin belajar paman, nah aku kesini mau bertanya soal vampir." sahut Zee.


"Vampir? ada dengan makhluk itu apa kau bertemu dengan makhluk itu?" tanya Joseph ingin tahu.


"Emmm begini paman tadi siang aku mengunjungi adik kelas ku di rumah sakit, sepertinya ada yang aneh dengannya paman, dia sensitif dengan cahaya dan pada bagian matanya tiba-tiba warna irisnya berubah warna lho, kok aku curiga dengan nya ya, bisa jadi kan dia di gigit vampir." ucap Zee menjelaskan.


"Lantas apa yang membuatnya masuk rumah sakit?" tanya Joseph sudah selesai merapikan daging-daging ke dalam plastik untuk disimpan di lemari pendingin.


"Theo menemukannya tergeletak di tepi jalan dengan tangan penuh luka, dia bilang sih se ekor binatang buas menggigit nya tapi dia lupa dan tak tahu itu binatang apa." sahut Zee.


"Berikan dia darah segar untuk memancingnya mengeluarkan taring." paman Joseph menyodorkan ember berisi darah rusa ke arah Zee.


"apa-apaan sih paman memangnya aku penyuka darah apa." sahut Zee kesal


"Kan aku hanya memberi ide, ayo bantu aku bawa semuanya ke dalam rumah." ucap Joseph memberi perintah pada Zee.


"Baiklah baiklah, lalu ada ciri-ciri fisik lain gitu yang membedakan vampir dengan manusia selain taring?" tanya Zee sambil mengangkat container berisi daging yang sudah masuk dalam plastik.


"Wajahnya pasti pucat, sensitif dengan cahaya, dan langsung menyukai bau darah segar, selebihnya jika dia bisa mengendalikan dirinya kau tidak akan bisa membedakannya dengan manusia." ucap paman Joseph menjelaskan.


"Bagaimana ya paman jika Ariana memang vampir?" tanya Zee lagi sambil menaruh daging-daging itu ke dalam lemari pendingin.


"Kau harus bersiap menghadapi nya, bahkan membunuhnya." ucap Joseph dengan tegasnya.


"Mana aku sanggup, wajahnya yang imut dan polos itu lho paman, mana sanggup aku membunuhnya jika ia benar seorang vampir." sahut Zee


"Kalau begitu aku yang akan membunuhnya." sahut paman Joseph sambil memotong bawang di dapur.


"Kau mau memasak ya paman?" tanya Zee.


"Hmmm, tolong rebus darah itu." ucap paman Joseph.


"Darah ini di rebus? hah memangnya apa yang hendak kau buat paman?" tanya Zee.


"Sup daging." sahut Joseph.


"Sup daging? dengan kuah darah? ah sebaiknya aku pulang saja, selamat melanjutkan masak memasak nya paman, dah selamat malam." Zee langsung menuju keluar rumah paman Joseph menuju kamarnya.


"Baru ingin ku perintahkan kau memakan sup ini, ternyata kau takut juga hehehe." gumam paman Joseph sambil meneruskan masak memasaknya.


Di kamar Zee memandang langit-langit kamarnya yang sudah dia beri stiker bintang dan bulan yang bersinar ketika lampu kamar di padamkan.


"Aku milikmu." gumam Zee sambil menyentuh bibirnya.


"Jika kau tahu siapa aku, apakah kau masih mau menjadikan ku milikmu?" Zee mendekap boneka beruang di sampingnya sambil memikirkan wajah Theo yang terpampang di langit-langit kamarnya.


****


To be continued...


Salam dari Pocong Tampan mohon dukungannya ya buat vote karena vote kalian sangat berarti lho buat Vie, Komen juga ya ditunggu kritik sarannya😊😁