9 Lives

9 Lives
Bruno



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


***


"Apa dia seperti ini?" ucap Rose ketakutan dengan sosok di sampingnya itu.


Serigala hitam sudah menyeringai di samping Rose, Alena langsung berdiri naik ke kursinya begitu juga dengan Lia dan V yang ikut naik ke meja, sementara Rose membekukan dirinya tak mau bergerak menatap Bruno.


Zee menghampiri Bruno perlahan.


"Apa yang kau lakukan Zee, apa kau gila? nanti kau tercabik-cabik olehnya." bisik Alena bibirnya bergetar saat mengucapkannya.


"Tenang lah, aku hanya mencoba menyapanya." Zee mengulurkan tangan kanannya ke arah Bruno. Tangan Zee menyentuh hidung Bruno perlahan. Bruno mengendus tangan Zee lalu menjilati tangan Zee.


"Ah bagaimana mungkin hanya Theo yang dapat melakukan hal itu?" ucap Alena heran.


"Hai anak baik, uwuuu kau pintar sekali." Zee makin maju mendekat ke arah Bruno bahkan Zee mengelus kepala Bruno, membuat ekor Bruno bergoyang nyaman.


"Apa kau memelihara sejenis itu dirumahmu?" tanya Lia masih ketakutan dari atas meja.


Sementara Rose mengikutinya naik ke atas kursi menghindari Bruno.


"Aku bahkan punya yang lebih besar dari ini hahhaha"


gumam Zee teringat Paman Joseph.


"Bruno pintar, gantengnya." Zee melingkarkan tangannya di leher Bruno.


"Nona menjauhlah!" pekik seorang pelayan yang datang tiba-tiba.


"Zee menjauhlah hanya a... bagaimana mungkin bagaimana dia mau kau sentuh?" ucap Theo heran melihat Bruno berubah jinak di tangan Zee. Theo mendekat menghampiri Bruno yang langsung merubuhkan Theo ke tanah sambil menjilati wajah Theo.


"Anak nakal, bagaimana bisa kau lepas dari kandang mu hah?" ucap Theo berusaha menghindari jilatan Bruno namun gagal.


"Jadi ini yang namanya Bruno?" sahut Zee yang kemudian diterjang manja oleh Bruno sambil menjilati wajah Zee.


"Iya iya sudah tolong hentikan ini geli." ucap Zee.


"Hai Theo cepat lah kau masukkan Bruno ke kandangnya!" sahut Alena yang masih ketakutan.


"Lihat lah Bruno saja jinak pada Zee kenapa kau harus takut?" Theo tertawa senang.


"Aku tak tahu ya kenapa Bruno bisa jinak seperti itu pada Zee, tapi apa kau lupa sebulan lalu dia membunuh satu pelayan disini hah? Bruno tetap lah jahat!" ucap Alena ketakutan.


"Benarkah itu Alena?" tanya Lia penasaran.


"Iya Bruno mengoyak satu pelayan setelah menggigit leher dan kepala sampai tewas tidakkah itu mengerikan?" Alena bergidik ngeri membayangkannya.


"Karena pelayan itu lalai, sudah kuberi peringatan agar tak mendekati kandang Bruno dia malah nekat mengambil foto selfie dengan Bruno yang sedang lapar, kenapa harus Bruno yang disalahkan dia kan hanya mengikuti nalurinya." ucap Theo sambil menciumi moncong hidung serigala hitamnya.


"Cih, dasar tentu saja kau membela Bruno dia kan peliharaan kesayanganmu." Alena mencibir Theo.


"Tapi kali ini aku sependapat, Bruno kan serigala yang mempunya insting hewan buas, dia hanya mengikuti nalurinya dan mengira pelayan itu mangsanya, ya kan?" ucap Zee menoleh ke Theo.


Tidak, kenapa senyum Theo manis sekali, apa aku tak salah lihat ini, si pecundang ini tersenyum sehangat ini kepadaku.


"Hai Zee, kalian cocok sekali tau, aku jadi teringat dulu ada yang bilang kepadaku jika ada perempuan yang bisa membuat Bruno tunduk sudah pasti perempuan itu akan menjadi pacarnya, ya kan Theo?" Alena melirik ke Theo menggodanya.


"Hah kapan aku bilang seperti itu? lagi pula Zee ini bukan seleraku." ucap Theo memberi pandangan jijik pada Zee.


"Hei jaga ucapan mu yak, siapa juga yang ingin jadi pacarmu huh!" sahut Zee.


kutarik kata-kataku tadi, padahal tadi sempat terlintas memuji senyum Theo yang manis, dan sekarang aku menyesal.


"Hahahahaha... sudah lah Theo jangan berbohong." Alena makin menggoda Theo.


"Alena jika kau tak diam aku akan menyuruh Bruno menggigit mu!" Theo kesal dengan ejekan Alena.


"Oke baiklah aku takut, tolong masukkan dia ke kandangnya, tidakkah kau lihat kami semua ketakutan disini?" Alena memohon kali ini pada Theo.


"Hahaha kalian lucu sekali, oke Bruno ayo kita kerumah mu." ucap Theo namun Bruno tak beranjak dari duduknya di samping Zee.


"Sepertinya Bruno ingin kau yang mengantar Zee." ucap Theo.


"Baiklah ayo Bruno!" ajak Zee menepuk kepala Bruno.


"Lihatlah kalian cocok sekali." goda Alena yang di iyakan Lia dan Rose sambil tersenyum hanya V yang cemberut saja sedari tadi.


Theo menoleh pada Alena memandangnya tajam dan kesal.


Sampai di depan kandang Bruno yang besar, luas dan terlihat mewah bagi Zee.


"Luas kandang ini seperti luas rumahku." ucap Zee pelan dan ada smirk di wajah Theo saat mendengarnya.


"Ayo Bruno masuk, pelayan ambilkan daging untuk Bruno!" teriak Theo kepada pelayannya dan langsung seorang pelayan memberinya sepiring daging besar yang ternyata itu kaki domba.


"Boleh aku memberinya makan?" pinta Zee.


Theo memberikan kaki domba itu pada Zee. "Ini Bruno makanlah!" ucap Zee memberikan Bruno makanannya.


"Kenapa kau tidak takut Zee?" tanya Theo.


"Wah kenapa aku harus takut, aku sering menemani yang lebih besar dari Bruno ketika berburu."


"APA?"


Theo menarik lengan Zee.


Gawat, aku keceplosan.


Zee tak berani menatap Theo.


***


To be continued...