9 Lives

9 Lives
Tamu dari Negeri Zamrud



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


***


"Hai Zee." sapa V saat dikantin lalu duduk di samping Zee.


"Hai V, mana rose?" tanya Zee.


"Kemana ya? sepertinya hari ini dia tak masuk." ucap V menguyah salad buah yang dia bawa ke meja Zee.


"Hai Zee hai V." sapa Lia dengan senyum manisnya membawa sepiring ayam goreng, kentang goreng, dan salad sayur dari kantin.


"Hai Lia, oh iya apa kau tau kabar Joey?"


tanya V.


"Aku belum tau kabar tentang nya, entahlah aku hanya tak menyangka kalau dia tega membunuh keluarganya."


"Benar sekali, Joey tak akan seperti itu."


sahut V.


"Apa kalian yakin dengan pemberitaan yang beredar tentang Joey? bagaimana jika Joey juga mati hanya saja jasadnya hilang dibawa oleh pembunuh." ucap Zee membuat Lia dan V terperangah.


"Kenapa kau bisa sepintar ini Zee, aku suka pemikiran mu." puji V.


"Lalu bagaimana membuktikan pendapatmu?" tanya Lia.


"Entahlah itu kan hanya pendapatku." sahut Zee.


"Kau tahu aku rindu sekali dengan canda tawa Joey."


"Aku juga." Zee membayangkan wajah Joey yang terpenggal seolah menatap matanya di malam kejadian itu.


"Hai boleh kami bergabung." suara Alena mengejutkan Zee.


"Tentu saja." sahut Lia dengan senyum manisnya membiarkan Alena dan Theo duduk satu meja dengannya. V menatap Theo dengan sinis dan sebal karena Theo selalu memandang Zee dengan tatapan nakal nya.


"Kenapa kau menatap Zee seperti itu ?" tanya Alena pada Theo.


"Ada yang berhutang janji kepadaku." ucap Theo memandang Zee yang masih menunduk sedari tadi tak mau menatap Theo.


"Aww baiklah aku akan menepati janjiku tunggu sebentar." Zee terbangun dan berdiri karena sentakan kaki Theo di kakinya dari bawah meja.


"Janji apa Zee?" tanya V


"Aku harus ke Bread Jhon tunggu sebentar ya tuan muda." Zee menatap Theo dengan kesal.


"Aku ikut Zee aku temani kau." sahut V yang berdiri menyusul Theo.


"Ada apa ini?" tanya Alena heran.


"Aku hanya ingin dia membelikan makananku, memangnya kenapa dia kan pesuruh ku selama satu tahun disini." sahut Theo santai.


"Kau ini keterlaluan tau." Alena memukul bahu Theo.


***


"Kenapa kau begitu patuh pada Theo?" tanya V pada Zee saat kembali dari kedai Bread Jhon.


"Entahlah aku hanya menjalankan tanggung jawabku karena kalah taruhan."


"Aku tahu, kelak aku akan membalasnya lihat saja nanti." Zee tersenyum pada Vie.


Senyum itu yang membuatku jatuh cinta padamu Zee.


V menatap Zee penuh cinta.


"Aku ke kelas ya V, terima kasih tumpangannya karena sudah mengantarku ke kedai."


"Sama-sama Zee dengan senang hati aku akan menemanimu kemanapun."


Zee dan v berpisah menuju kelasnya masing-masing.


"Ini makananmu." Zee menyerahkan kotak berisi paket makan siang dari kedai Bread Jhon dikelas.


"Ah kau terlambat aku sudah makan makanan kantin tadi."


"Kau ini ya, benar-benar menjengkelkan lalu aku harus taruh ini dimana?"


"Simpan saja untukmu kau bawa pulang untuk nenekmu."


Zee menarik kerah seragam yang Theo kenakan.


"Apa yang kau lakukan? kau ingin mencium ku yak?" ucapan Theo membuat seluruh murid di kelas itu menoleh pada mereka. Lia sudah menarik rok Zee agar melepaskan Theo.


Bug...!!


Zee melepaskan kerah Theo tanpa sengaja mendorongnya dengan kekuatannya jatuh ke kursinya dengan keras.


"Aaawww... ini sakit sekali." Theo memegangi pinggangnya dan bokongnya.


"Rasakan." gumam Zee.


***


Malam itu Zee bersiap menyambut tamu dari negeri Zamrud di depan pintunya.


"Apa yang sedang kau lakukan Zee?" tanya nenek.


"Bersiap menyambut tamu nek."


"Bukan disitu kita menyambut mereka, ayo ikut nenek."


Nenek Amelia membawa Zee ke danau di bawah bukit tak jauh dari rumah Joseph.


"Kenapa kesini sih nek?" tanya Zee lalu melambai pada Joseph yang sedang memperhatikan keduanya dari atas bukit.


"Nanti juga kau tau, lihatlah ke tengah danau itu."


"Wow...!!" kedua mata Zee takjub dengan kemunculan kapal besar dari dasar danau. Kapal pesiar yang mewah itu muncul begitu saja dari dasar danau. Seketika saat kapal itu berhenti di tepi danau. Pintu tengah kapal itu terbuka. Muncul seorang perempuan dan seorang laki-laki serta dua anak kecil kembar dari tengah kapal tersebut.


Sekilas mereka memang terlihat seperti manusia biasa namun di bagian leher mereka terdapat rongga yang menyerupai insang ikan. Telinga mereka juga lebih lancip dengan hidung yang nyaris sempurna mancungnya.


"Lucu sekali dua anak kembar itu nek." bisik Zee gemas.


"Sebentar lagi kau akan tau betapa gemasnya bermain dengan si kembar itu." ucap nenek dengan senyum menyeringai pada Zee.


"Perasaan ku mengapa tiba-tiba tak enak yak?"


***


To be continued...