9 Lives

9 Lives
Natti (Part 2)



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


"Ya Natti, dia selalu menemaniku saat ku berada di danau ini." Theo lalu menggenggam tangan Zee membawanya melompat masuk ke dalam danau tiba - tiba.


Zee mendadak panik tatkala sepasang bola mata merah menyala dengan tubuh seperti anjing laut besar menghampiri Zee dan tersenyum.


Tunggu dulu apa dia tersenyum, makhluk ini tersenyum kepadaku, bagaimana bisa ada makhluk seperti ini didanau.


Zee masih berusaha mencoba berenang ke permukaan namun setelah Zee berhasil muncul Theo menariknya kembali mengajak Zee berenang bersama Natti. Zee mencoba memberontak, dilihatnya Theo malah menertawakan Zee bersama makhluk yang bernama Natti itu. Theo mengangkat Zee naik ke punggung Natti menyusuri danau, mereka berkeliling. "Wuhuuuu Ini seru kan Zee, ini romantis." ucap Theo memeluk Zee dari belakang di atas punggung Natti.


"Kau sinting!" ucap Zee kesal.


hanya perempuan gila yang akan menganggap ini romantis, seperti itulah batin Zee, perempuan normal pada umumnya mungkin mati ketakutan berada di punggung Natti yang bersisik sedikit tajam menusuk celana yang Zee pakai.


"Good boy." ucap Theo saat tiba di tepi danau menepuk punggung Natti. Sementara Zee tampak kedinginan naik ke permukaan.


"Zee kenalkan ini Natti, dia penghuni danau disini, hanya aku dan ayahku yang tau keberadaannya, Natti tak akan pernah muncul jika ada orang lain, dia hanya muncul kala mengetahui keberadaan ku." ucap Theo menjelaskan dengan antusias.


"Aku tak peduli, ini menyebalkan." sahut Zee lalu berpura-pura mengumpulkan ranting dengan mantra nya secara sembunyi-sembunyi dan membuat api menghangatkan tubuhnya.


"Wow kau pandai membuat api rupanya." puji Theo. "Baiklah Natti pergilah." Theo mencium wajah Natti dan melihatnya pergi ke dalam danau.


"Makhluk apa itu?" tanya Zee dengan tubuh masih gemetar kedinginan. "Bagaimana dia bisa hidup di air sedingin itu bbbrrrr."


Theo mendekat kearah Zee dan memeluknya dari belakang. Harusnya Zee langsung melempar Theo ke tebing karang sampai hancur, namun tubuhnya tak mau bergerak entah kenapa ia membiarkan Theo melakukannya.


"Ayahku bilang dia sejenis makhluk purba yang masih hidup di danau itu, ayahku berpesan agar tak memberi tahu siapapun karena itu akan membahayakan Natti, kurasa dia satu-satunya makhluk purba di danau itu. Mungkin karena kami merasa senasib karena selalu sendirian kami jadi cocok satu sama lain." ucap Theo.


Tak ku sangka tuan muda ini kesepian.


"Kenapa kau memberitahuku?" Zee ingin menoleh pada Theo namun pipi mereka sudah beradu dan makin bertemu jika ia menoleh.


"Karena aku yakin kau tak akan memberitahukan pada siapapun, ya kan?"


"Bisa saja aku akan..."


"Awas saja kau berani buka suara soal Natti, aku akan mengejar mu dan menghabisimu sampai ke ujung dunia manapun kau kan kutemukan."


ancam Theo menghentikan ucapan Zee.


Menghabisi ku hahaha kau lucu sekali Theo, kau hanya tak tahu siapa aku.


Zee dan Theo saling terdiam, keheningan tercipta sambil mereka memandangi pemandangan danau yang menghangatkan dan memuaskan mata yang melihatnya. Udara yang begitu segar dan angin yang berhembus semilir mencolek wajah datang silih berganti.


Theo makin memeluk Zee dengan erat seolah tak ingin merubah keadaan apapun saat itu, ingin rasanya menghentikan waktu kala Zee berada di pelukannya.


Zee yang terlanjur kedinginan tak kuasa menahan cairan hidung yang melompat keluar dari hidungnya ke tangan Theo yang saat itu memeluknya.


"Aarrgggg kau menjijikan!" Theo langsung melepas pelukannya berlari mencuci tangannya di danau, Zee puas menertawakan Theo.


***


Suasana canggung tercipta di dalam mobil Theo saat mengantar Zee pulang.


"Kenapa kau menarik nafas panjang terus?" tanya Zee melihat Theo.


"Aku sedang menyiapkan mental ku, paman mu pasti sudah menunggu mu nanti di halaman."


"Hahaha kau lucu takut juga kau dengan pamanku."


"Ya aku belum siap saja menghadapi tubuh besarnya itu."


"Paman sedang sakit, dia pasti masih lemas terbaring karena racun laba - laba di dalam goa puncak bukit Halley waktu kita mencari tulip itu."


aduh mulutku kenapa bisa meracau lepas kendali seperti ini sih.


"Laba - laba? di bukit? bukankah kita mencari tulip di kaki bukit?" Theo makin tak mengerti dengan ucapan Zee.


"Oh, maksudnya paman terkena laba - laba di bukit saat dia berburu nah bukit itu adalah bukit Halley tempat saat kita mencari tulip." Zee mencoba mengucap tenang.


"Apa paman mu mati? Awwww ..."


Zee memukul kepala belakang Theo segera.


"Sudah ku bilang pamanku sakit bukan mati, dasar bodoh." sahut Zee kesal.


"Ya maaf, sudah sampai turunlah!" perintah Theo.


Zee membuka pintu lalu turun dari mobil Theo. "Kau tak ingin mengucap apapun padaku?" Theo menggoda Zee.


"Ada, enyahlah kau makhluk menyebalkan!" pekik Zee lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Dasar tak tau terima kasih, ucapan macam apa itu, ku pikir dia akan mencium pipi ku seperti drama yang kulihat di rumah Alena waktu itu, karena telah mengajaknya pergi berkencan seperti ini."


Theo menggerutu sambil melihat Zee menghilang masuk ke dalam rumah lalu pergi melajukan mobilnya menuju rumah besarnya.


****


To be continued...


Happy Reading guys... jangan lupa votenya 😘😘😘


"