
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
***
Zee pulang dari rumah Alena dan melihat nenek Amelia menangis di depan perapian.
"Apa yang terjadi Blue?" tanya Zee.
"Apa kau ingat si kembar?" ucap Blue dengan wajah yang tak kalah sedih.
"Si kembar Zamrudian? apa yang terjadi dengan mereka?"
"Seluruh kaumnya hilang di bantai oleh lycan."
"APA? si kembar? apa yang terjadi dengan si kembar?" tanya Zee panik.
"Mereka sudah tiada Zee, tadi paman mu memberi kabar." sahut Blue menitikkan air matanya.
Zee memeluk nenek Amelia dan menangis bersama.
"Harusnya aku bisa menolong mereka nek." ucap Zee.
"Kau tak mampu kalahkan lycan Zee, tak akan mampu." ucap nenek Amelia.
"Aku punya paman Joseph yang bisa membantu, lalu kita minta bantuan Zack dan neneknya.".
"Mau apa Zee?"
"Membalas dendam nek."
"Tetap si kembar dan keluarganya tak bisa kembali, lagi pula pasti ada yang mengendalikan para lycan sehingga makhluk itu membunuh semua Zamrudian yang ada."
"Lalu bagaimana jika kaum kita yang terancam nek?" tanya Zee
"Kita harus siap, mau tak mau, berlatihlah membela dirimu dengan Joseph nanti. Sekarang antar kan aku menemui nenek Anna, nenek si pangeran penyihir itu." ucap nenek Amelia.
***
Sore itu Zee membawa neneknya menemui nenek Anna di toko rotinya.
"Halo selamat da...." sapa nenek Anna terhenti kala melihat nenek Amelia hadir di toko kuenya.
"Amelia." mata nenek Anna berbinar-binar kala melihat nenek Amelia.
"Jadi kau Anna sang Raja, kau masih hidup?" nenek Amelia memeluk nenek Anna dengan lekat.
"Gadis ini, gadis yang sering membeli kue arbei ternyata cucu mu?" tanya nenek Anna.
"Iya, dan aku tak menyangka kue arbei buatan mu itu enak sekali, kau yang seperti laki-laki tempo dulu bahkan para murid memberi julukan sang Raja padamu bisa membuat kue, kau benar-benar membuatku takjub." puji nenek Amelia.
"Aku juga tak menyangka." sahutnya.
"Jadi selama ini kau merawat pangeran?" tanya nenek Amelia.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Zee menceritakan pertempuran Zack dengan monster gurita kemarin."
"Jadi Zack bertempur ya Zee?" nenek Anna menoleh pada Zee yang dibalas anggukan.
"Dasar anak itu, apa dia mengeluarkan pedang peraknya?" tanya nenek Anna lagi.
"Iya nek, itu keren sekali." sahut Zee.
"Hmmm sudah ku duga pantas saja dia kelelahan sepanjang malam, ternyata dia tak cerita padaku, kau mau mencoba kue keju dan almond buatan terbaruku?"
"Tentu saja dengan senang hati."
"Apa kau sudah tau kabar musnahnya kaum Zamrudian?"
"Aku dengar semalam, lalu mereka mengincar bangsa kita juga kan?" nenek Anna memberikan secangkir teh pada Zee dan nenek Amelia.
"Ya, apa kau masih bisa mencari bangsa kita lainnya di belahan dunia ini?" tanya nenek Amelia sambil menyeruput teh hangatnya.
"Bertemu dengan mu saja membuatku sangat senang apalagi tahu masih banyak kaum kita di luar sana." sahut nenek Anna.
"Hmmm itu yang aku ragukan, apa kau takut dengan pemburu itu Anna?"
"Sebagai manusia normal iya pasti aku takut, namun sebagai penyihir haruskah kita takut?"
"Kau benar, untuk itulah tolong bantu aku demi menaikkan level Zee. Dia gagal kemarin."
Nenek Anna menyentuh pergelangan tangan kiri Zee dan menghitungnya.
"Kau punya nyawa cukup banyak, namun sepertinya kau dengan mudahnya membuang nyawamu anak cantik, berapa lagi sisa nyawamu?" tanya nenek Anna pada Zee.
"Tiga nek." ucap Zee.
"Hahahaha dia ceroboh apa bodoh cucumu ini wahai Amelia."
"Ya begitulah mungkin karena dia bukan berdarah murni jadi sedikit bodoh." nenek Amelia tertawa bersama nenek Anna sambil mengolok-olok Zee.
"Ah sebaiknya aku pergi saja dari sini." Zee mulai kesal dan ingin pergi keluar namun Zack sudah ada di depan pintu toko.
"Hai Zee." sapa Zack.
"Hai Zack." balas Zee.
"Cucuku tersayang." nenek Anna langsung menghampiri Zack hendak memeluknya namun.
PLAK...!! nenek Anna memukul kepala belakang Zack.
"Kau menggunakan pedang silver mu ya? dasar bodoh!"
ucap nenek Anna kesal.
"Bagai...bagaimana nenek tahu aku kan tak cerita." Zack menoleh pada Zee.
"Apa kau...?"
Zee menundukkan kepalanya tak mau melihat Zack.
"Ya sudah nenek mantrai saja dia agar melupakan kejadian kemarin dan melupakan identitas ku." sahut Zack.
"Dasar bodoh, dia itu kaum kita juga tau." ucapan nenek Anna mengejutkan Zack membuatnya menganga melihat Zee.
"Kau bantu Zee naik level, berlatihlah dengan pamannya yang bernama..." nenek Anna menoleh pada nenek Amelia.
"Joseph."
"Iya pada Joseph, apa dia juga penyihir?" tanya nenek Anna.
"Bukan, dia manusia serigala." sahut nenek Amelia.
"APA? manusia serigala? bukankah sama saja kau bergaul dengan kaum lycan, bagaimana pikiranmu Amelia." nenek Anna terdengar geram.
"Tenanglah Joseph tak akan menyakiti kita, dia hanya sendirian entah kaumnya yang lain."
"Benar paman Joseph ku itu terbaik dia tak akan menyakiti ku dan nenek." sahut Zee.
"Hmmm baiklah aku jadi penasaran dengan Joseph si manusia serigala ini." nenek Anna mengetuk dagunya dengan jari-jari nya sambil tersenyum pada Zee.
***
To be continued...
Happy Reading...