9 Lives

9 Lives
Pengakuan Paman Joseph



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


*****


"Kau... ummm... kau sebenarnya menyukaiku atau tidak sih Zee?"


Pertanyaan Zack membuat Zee tersentak dan terdiam, hanya menatap Zack di bawah pantulan sinar bulan malam itu.


"Aku...aku..."


"Kau menyukai Theo kan?" Tanya Zack.


"Aku... "


"Kak Zack, ayolah kita berlatih."


Theodore berteriak dari kejauhan memanggil Zack.


"Kau dipanggil tuh um.. aku tak tahu Zack, maafkan aku."


Zee bergegas pergi dari hadapan Zack meninggalkannya.


"Aku tahu kau menyukainya, hebat kau Theo, kau mengalahkanku kali ini."


Ada raut kecewa dari wajah Zack, tetapi dia sudah merasa ikhlas dengan keputusan Zee. Kini dia harus fokus untuk berlatih. Pertarungan sudah kian dekat di depan mata.


"Wah apa aku boleh bergabung?"


tanya Zee pada Theodore.


"Baiklah kau boleh ikut dan kau tanggung sendiri akibatnya ya."


Theodore menantang Zee lalu ia bergabung dengan Sammy menyatukan kedua raga mereka menjadi seekor serigala besar, lebih besar dari Paman Joseph.


"Woaaaaaa keren... hebat juga kau anak kecil."


puji Zee, lalu Theodore berpisah kembali dengan Sammy.


"Hosh... hosh... aku tak kuat, letih rasanya kak." ucap Theodore dengan nafas tersengal-sengal.


"Kau harus banyak berlatih lagi nak." ucap paman Joseph yang datang dari arah belakang Zee.


"Baik paman aku akan mencobanya lagi." ucap Theodore.


"Nanti saja, penuhi energi mu dulu." sahut Joseph.


"Zee, ini kau bisa gunakan ini untuk membantumu." Paman Joseph menyerahkan pisau belati yang terbuat dari perak ke tangan Zee.


"Wah kapan kau membuatnya paman? Ini bagus sekali." Zee melompat kegirangan.


"Seminggu yang lalu aku sudah selesai membuatnya, tetapi baru hari ini aku bisa berikan padamu, kau harus serang nadi di leher Lycan itu atau tusuk langsung jantungnya." ujar paman Joseph.


"Bagaimana jika ini ku tusukkan padamu hahaha." Zee mencoba bercanda berpura-pura menusukkan belati itu ke dada Joseph.


"Hal yang sama akan terjadi padaku, jika kau tusuk benda itu ke jantung ku." sahut Joseph.


"Ah paman, kan aku hanya bercanda." sahut Zee.


"Kau tahu Zee, aku rela jika kau yang mencabut jantung dari tubuhku, karena jantung ini sudah menjadi milikmu."


Joseph menarik tangan Zee mendekatkan pada dadanya yang bidang itu.


"Ha...ha...ha... paman kau lucu sekali sih, bercanda mu itu keterlaluan." sahut Zee lalu melepas genggaman tangan Joseph.


Zee berlalu pergi menuju rumah kayunya, menoleh sebentat ke arah Joseph sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Dan aku tak bercanda Zee, kau memang sudah mengambil seluruh hidupku saat ini." gumam Joseph yang di dengar oleh Zack yang datang menghampiri.


"Kau tahu paman, kurasa kita seri sekarang, Zee tak menyukai kita sama sekali." sahut Zack yang berdiri di samping Paman Joseph dan menatap punggung Zee bersamaan.


"Apa yang kau katakan?"


Tanya Joseph.


"Aku sudah mendengarkan dan memperhatikannya paman, kau mengaku menyukai Zee kan?" Tanya Zack sambil tertawa.


Joseph tak mau mengacuhkan Zack dan ingin berlalu menuju ke dalam hutan tapi Zack menahannya.


Joseph menepis tangan Zack dari lengannya lalu masuk ke dalam hutan.


***


"Bagaimana bisa kalian kehilangan jejak mereka, dasar bodoh!"


Ratu Obbysia melempar Lycan di hadapannya menabrak dinding tebing.


"Maaf kan kami Ratu, kami sudah berusaha mencari mereka tetapi kami terlambat sampai kesana." ucap lycan satunya.


Theo mengamati para Lycan dan seorang perempuan melayang dengan gaun hitam panjang memakai mahkota yang mengaku Ratu itu.


"Ratu, Cya tau mereka pergi kemana, dia menemukan ini di rumah tadi." ucap Lycan itu sambil menyerahkan ponsel milik Zee.


"Itu ponsel Zee, Bagaimana bisa mereka mendapatkan itu?"


gumam Theo yang masih bersembunyi di balik pohon.


"Dan ada kebodohan kalian yang lainnya." ucap Ratu Obbysia menoleh ke arah tempat persembunyian Theo.


"Tangkap dia dan bawa padaku...!" Ratu Obbysia menunjuk ke arah Theo sambil berteriak.


Para lycan itu berlari dengan kedua kaki dan tangannya mengejar Theo yang langsung berlari saat tempat persembunyiannya di temukan.


"Mau kemana kau?" Lycan itu menarik kaus yang Theo pakai.


"Awww punggungku...!" pekik Theo yang seketika tumbang jatuh ke tanah.


"Jangan bunuh dia! bawa dia padaku!" Ratu Obbysia berteriak.


Lycan itu menyeret lengan Theo yang mengaduh kesakitan sambil berteriak, "LEPASKAN AKU...!!!"


"Well, well, well, well, ternyata kau yang ada di ponsel ini." Ratu Obbysia menunjukkan layar ponsel Zee ke wajah Theo.


Theo tersenyum bahkan tertawa kegirangan bukannya ketakutan dikepung oleh para lycan dan berada di hadapan sang Ratu jahat. Theo merasa senang bukan kepayang kala melihat fotonya ada si layar ponsel Zee. Foto mereka berdua saat berada di atas panggung. Foto yang di ambil nenek Amelia kala Zee dan Theo sedang pentas drama.


"Heh..! kau menghina sang Ratu ya?" Lycan Fa menendang tangan Theo yang terbaring kesakitan.


"Aarrggg... kurang ajar kau!" pekik Theo kesakitan.


"Kurung dia! dan pastikan dia tidak terbunuh, aku rasa dia akan berguna nantinya." ucap Ratu Obbysia pada para Lycan.


"Cya kau gunakan ini untuk membawa kita ke para penyihir itu." Ratu Obbysia memberi perintah.


"Baik ratu, titahmu adalah perintah yang wajib ku lakukan." Lycan Cia menunduk dan mengendus ponsel Zee.


***


"Apa kita akan pergi sekarang?" tanya nenek Amelia pada Kakek Adam. Sementara itu, nenek Anna sedang memasak.


"Tunggu cucuku siap melakukan penggabungannya, paling tidak kita punya serigala besar yang akan melindungi kita dari serangan para Lycan." Kakek Adam menjawab.


"Baiklah... semoga saja kita belum terlacak." ucap nenek Amelia sambil mengelus Blue lalu hendak pergi membantu nenek Anna.


"Amelia, apa kau masih ingat legenda Pangeran Matahari?" Kakek Adam menahan nenek Amelia.


"Apa kau percaya hal itu? bukankah itu hanya legenda? kalaupun ada pasti dia sudah musnah bersama kaumnya yang musnah lima ribu tahun lalu." ucap nenek Amelia.


"Aku hanya berharap dia mengalami reinkarnasi," ucap kakek Adam menghela nafas panjang.


*****


To be continued...


Bersambung...


Jangan lupa mampir ke novel baruku


"With Ghost"


dan baca novel ku lainnya ya guys...


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Pocong Tampan


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘