9 Lives

9 Lives
Menuju Bukit Halley (Part 2)



**Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading**...


***


Perjalanan menuju atas bukit yang penuh dengan hutan Pinus itu sempat membuat Zee kewalahan. Theo dan V menebas beberapa dedaunan yang menghalangi perjalanan.


"Kemana lagi Zee, apa kita tersesat?" tanya Lia mendekat pada Zee karena takut.


"Hmmm bukankah menurut peta yang Alena berikan harusnya di sekitar bukit sini." ucap Zee sambil berpikir membolak - balikan peta yang tadi di berikan Alena.


"Disana ada sebuah gua." tunjuk V.


Theo mengeluarkan ponselnya dan menekan torch untuk memberi cahaya ke arah gua yang gelap itu. "Aku masuk duluan." ucap Theo.


"Masuk Zee, kau juga Lia biar aku berjaga dari belakang sini." ucap V.


Mereka perlahan masuk ke dalam gua tersebut dan melihat sebuah cahaya dengan pemandangan air terjun yang sangat indah. "Itu tulip hitam nya." pekik Zee saking senangnya menepuk punggung Theo.


"Wah benar iya Zee ayo kita petik untuk penelitian." ajak Lia menghampiri bunga tulip itu.


"Tunggu Lia, berhenti di sana!" ucap Zee menghentikan langkah Lia.


"Kenapa?" Lia menoleh ke arah Zee.


"Ssssttt ada sesuatu dibalik air terjun itu." bisik Zee. Zee perlahan menghampiri Lia. "Theo berikan kotak itu." ucap Zee.


"Permisi maaf ya aku akan memetik bunga tulip ini." suara Zee pelan saat memetik bunganya. Terlihat dua bola mata besar dari balik air terjun namun tak hanya dua masih ada beberapa mata di bawahnya.


"Mo... mo... mon...monster aaaaa." Lia berlari keluar gua di ikuti V yang juga ketakutan sedari tadi.


"Zee ayo kita keluar!" ajak Theo saat melihat sepasang kaki bagian depan yang besar persis seperti laba - laba berbulu berukuran raksasa. Belum sempat Zee melangkah laba - laba itu sudah menyemburkan racunnya yang berwarna biru pekat ke wajah Zee.


"Aaaa ini panas." ucap Zee berusaha menyeka cairan racun itu.


Theo mengambil ranting besar di dekatnya dan menusuk mata laba - laba itu membuatnya mundur. Theo menyeka wajah Zee dengan air terjun di sekitarnya. Zee terlihat lemas kehilangan tenaga.


laba - laba itu makin mendekat, Zee dengan nekat mengarahkan tangannya ke laba - Laba besar tersebut sambil memeluk Theo agar tak melihat perbuatan Zee. Dengan sisa kekuatan yang ia kumpulkan Zee memantrai laba - laba tersebut sampai terbakar. Perjuangan Zee belum berakhir namun tenaganya terkuras habis.


Laba - laba itu masih berusaha mendekat ke arah Zee dan Theo. Tak lama Joseph datang dengan senapan di tangannya dan menembak ke arah laba - laba besar tersebut sampai mati dan terbakar hangus.


"Zee kau tak apa Zee bangunlah!" Joseph meraih tubuh Zee dari pelukan Theo lalu mengguncang tubuh Zee. "Pa... paman Jo." ucap Zee lirih. Joseph membopong Zee menjauh dari gua tersebut di ikuti Theo di belakangnya.


"Apa masih banyak monster yang seperti itu disana?" tanya Theo.


"Tidak hanya satu yang seperti itu."


"Bagaimana dengan keturunannya?"


"Aku akan pastikan membunuh kawanannya di sekitar sini, kau hanya diam jangan membuat teman-temanmu panik dan menyebabkan keramaian satu kota untuk datang kesini." Joseph menatap tajam ke arah Theo ada nada ancaman dan di sana.


Sesampainya di halaman rumah Joseph semua teman Zee sudah membeku terdiam tak bergerak dan tak berbicara dihadapan mereka sudah berdiri nenek Amelia dan Blue. "Apa yang terjadi dengan mereka nek?" tanya Theo yang tiba-tiba membeku sama seperti teman Zee lainnya saat nenek Amelia mengarahkan jari telunjuknya ke Theo.


"Kau sudah tau rupanya nek." ucap Joseph.


"Gadis ini berteriak-teriak tentang laba - laba raksasa sambil berlari, untung saja Blue mengawasi mereka disini dan memastikan tak ada orang lain yang mendengar." ucap nenek Amelia kesal menunjuk ke arah Lia.


"Apa yang terjadi?" tanya nenek Amelia saat Josephasuk ke dalam rumah dan membaringkan tubuh Zee di atas ranjangnya.


"Zee terkena racun laba-laba tadi, maaf aku terlambat datang."


"Memangnya kau tak pernah tau ya ada binatang besar seperti itu di bukit ini?" ucap nenek Amelia sambil mengusap wajah Zee yang membiru.


"Maaf nek, aku tak menyangka jika kisah itu nyata kukira laba - laba besar penunggu tulip hitam hanyalah dongeng."


"Hmmmm untungnya Zee selamat kali ini, racunnya tak begitu banyak yang terserap ke dalam tubuhnya."


"Lalu bagaimana nek?"


"Dia butuh tenaga yang bisa ia serap, perlahan - lahan tapi pasti untuk mengeluarkan racun di tubuhnya."


"Maksud nenek?" tanya Joseph ingin tahu.


"Jika dia terasa lemas dan wajah nya membiru, dia harus menghisap beberapa tenaga kehidupan, lalu dia akan merasa mual dan memuntahkan racunnya." nenek Amelia memberi penjelasan di sudut sana Blue sudah tertawa cekikikan.


"Bagaimana caranya Zee menyerap tenaga kehidupan?" tanya Joseph.


"Seperti putri tidur yang di cium pangerannya lalu terbangun, ya hampir persis seperti itu." sahut Blue naik ke ranjang tempat Zee berada.


"Berciuman?" ucap Joseph penuh kebingungan.


***


To be continued...


Jangan lupa dukungannya dan votenya.... Mohon like semua bab dan beri rating bintang lima pula ya 😘😘😘