
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
***
"Kalian mau apa kesini, bukankah ini jam sekolah?" tanya salah satu pelayan cafe itu.
"Wah anda pasti tak melihat beritanya di tv, ayo pindah ke Fisher News sekarang." ucap Lia.
"Memangnya ada berita apa?"
"Sudah lihat saja sana, nanti nyonya akan tau apa yang terjadi di sekolahku." Lia mengambil buku menu dari meja kasir memberikannya pada Alena.
"Loh kenapa jadi banyak orang begini sih." ucap Alena yang melihat Theo, V dan Rose ikut duduk dalam satu meja.
"Aku kan sepupumu jadi aku mengikuti mu." sahut Theo.
"Mengikuti ku atau Zee?" Alena menggoda Theo, Lia menahan tawanya sedangkan Zee bermuka masam melirik Theo.
"Hmmm yah aku mengikuti Zee juga." ucap Theo datar membuat Zee menoleh dan terbelalak karena terkejut ucapan Theo barusan.
"Aku sudah tak tahan lagi, Zee kali ini kau harus menjawabnya!" V berdiri sambil menggebrak meja.
"Hei tenanglah V, aku belum memesan makanan tapi kau malah memulai kegaduhan di sini." ucap Alena.
"Tapi aku sudah tak sanggup menahan semua perasaanku, Zee jawablah pertanyaan ku!" ucap V dengan nada tegas.
Lia bertukar posisi dengan Zee karena sedari tadi Lia berada di samping V. "Pindah zee, tukar tempat." bisik Lia dan Zee mengiyakan. Theo lalu berdiri dan mencolek bahu Lia. "Kau bertukar tempat denganku." pinta Theo. Lia memandang sinis pada Theo namun akhirnya menurut untuk pindah, Zee menatap Theo dengan wajah kesal.
"Bagaimana Zee?" tanya V
"Apa yang harus ku jawab, memangnya kau sudah memberiku pertanyaan?" Zee berbalik tanya pada V.
"Hei bagaimana kalau kita pesan minum dan cemilan?" ajak Alena.
"Nanti Alena, setelah Zee menjawab." sahut V
"Ah terserah kau, aku mau pesan strawberry smoothies dan kue anggur, kau mau apa Lia?" ucap Alena mengacuhkan V dan bertanya pada Lia memesan makanan, Lia juga memesankan makanan yang sama untuk Zee.
"Zee jawab pertanyaan ku, siapa yang akan kau pilih mendampingi mu selama bersekolah di Briliant ini?" tanya V duduk dengan menggenggam tangan Zee dihadapannya.
"Apa maksudmu? pertanyaan mu itu terdengar sangat lucu tau." Zee menahan tawanya.
"Aku serius Zee siapa yang kau pilih, aku atau Theo?" V menunjuk dirinya dan Theo.
"Apa? kenapa harus makhluk ini?" ucap Zee menunjuk Theo.
"Awww...sakit tau!" Theo menjambak rambut Zee dari belakang.
"Tak mau, aku tak perlu menjawab, begini ya V aku memilih mu..."
"Yes terima kasih Zee, aku akan membahagiakan mu." V memotong ucapan Zee. Rose sudah menutup wajahnya penuh kecewa dadanya terasa sakit dan ingin menangis namun dia tahan kala itu.
"Hei V aku memilih mu sebagai sahabat ku dan memilih makhluk di belakang ini sebagai musuhku." Zee membelakangi Theo merubah posisi duduk nya menghadap V. Alena dan Lia menahan tawanya sedari tadi.
"Apa kau bilang? begini ya Zee, Bruno sudah menandai mu untuk menjadi milikku, apa kau lupa perjanjian itu, satu tahun menjadi pengabdi ku, yang berarti sampai kita lulus sekolah kau akan selalu mengabdi padaku." ucap Theo melingkarkan tangannya di leher Zee, dia menahan Zee agar tak bergerak.
"Uuuuuuu pedas." bisik Lia dan Alena bersamaan sambil mengadu kepalan tangan bersamaan.
"Theo bisa kah kau lepas kan aku!" pinta Zee mengigit tangan Theo.
"Awww... kau ini." Theo melepas leher Zee mengusap bekas gigitan Zee di lengannya.
"V lihatlah, jika kau ingin pendamping yang akan menemanimu selama sekolah dan mungkin selamanya tidak kah kau lihat Rose yang disampingmu?" Zee mengerti akan perasaan Rose selama ini pada V.
"Kenapa harus aku Zee?" tanya Rose terkejut dan gugup.
"Katakanlah perasaanmu padanya Rose, jangan kau diam saja." ucap Zee pada Rose.
V memandang ke arah Rose dengan perasaan kecewa lalu memandang Zee dan Theo dengan perasaan marah, berdiri dan pergi dari cafe itu. "V tunggu..." teriak Zee pada V, namun Theo sudah menahan lengan Zee untuk tetap tinggal.
"Bagus kau Zee, sekarang kau lihat kan betapa kecewanya V padaku." ucap Rose lalu menyusul V pergi dari cafe.
"Ah bagaimana sih Rose ini, sudah dibantu mengungkapkan perasaan malah marah - marah pada Zee." sahut Lia kesal.
"Sudah lah biar kan mereka berdua berkejaran dengan indah sementara kita nikmati makanan kita dulu." ucap Alena santai.
"Benar sekali." Theo menyeruput minuman dingin yang sudah Alena pesan tangan kirinya masih menahan tangan Zee agar tak lepas dan pergi.
"Aku hanya pesan tiga untuk Zee kenapa kau yang minum?" ucap Alena pada Theo.
"Sudah pesankan saja satu lagi." ucap Theo santai meski Zee berusaha berontak untuk lepas dari genggaman tangan Theo.
kalau aku tak ingat pesan nenek agar tak membuat kekacauan, sudah ku bakar habis tubuhmu dan ku buang ke jurang biar dimakan para singa gunung uh menyebalkan.
Zee menatap Theo kesal.
Alena dan Lia saling melirik menatap Theo dan Zee, mereka menahan tawanya karena adegan sikap kekanak-kanakan Theo pada Zee, seolah Theo ingin menjaga mainan kesayangannya agar tak terlepas dari genggamannya dan di ambil orang lain.
"Kue ini enak ya Lia?" ucap Alena menoleh ke Lia.
"Iya benar." sahut Lia
***
To be continued
Happy Reading....