
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie
semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
****
Di malam yang sepi di dalam gedung sekolah Sofia sedang mondar-mandir menunggu seseorang yang mengajaknya bertemu disana.
"Mana sih Lay?" gumam Sofia
Sosok laki-laki memakai jaket hitam bertudung menghampiri Sofia dari seberang sana.
"Apa itu Lay ya? Kau kenapa sih mengajakku bertemu disini Lay?" tanya Sofia menumpahkan kekesalannya.
"Kau mempunyai bokong yang indah ya." ucap sosok misterius itu yang kemudian mengacungkan sebuah Kampak besar dari balik tubuhnya.
"Kau bukan Lay, siapa kau? mau apa kau? apa yang akan kau lakukan padaku?" ucap Sofia histeris lalu ia mencoba kabur pergi ke ruangan kelas yang bisa ia buka. Tak ada orang disana yang bisa menolongnya.
"Bodoh sekali kau mengira aku Lay, larilah, aku suka mengejar mangsaku yang berlari hahahaha." ucapnya membiarkan Sofia menyelamatkan diri.
"Sofi...a, Sofi...a dimana kamu...!" suara Kampak terdengar menyeramkan beradu dengan teralis tangga di koridor sekolah malam itu.
Sofia mencoba bersembunyi, setelah berkali-kali membuka ruangan kelas yang terkunci dan beberapa ruangan lainnya, akhirnya ruang paduan suara lah yang tak terkunci.
"Aku harus bersembunyi disini." gumam Sofia.
Kenapa Lay menginginkan bertemu di sekolah sih, tapi tak kunjung datang malah aku bertemu dengan orang aneh seperti ini, seandainya saja tadi aku mendengarkan ucapan ibuku.
Batin Sofia sambil terisak menahan bibirnya agar tak bersuara. Dirinya takut setengah mati apalagi saat mengingat kejadian yang menimpa Sania dan Tamara. Sofia tak ingin berakhir seperti mereka.
Seseorang yang misterius membuka pintu ruangan paduan suara itu lalu dia menutupnya sepertinya dia tak menemukan apa yang dia cari.
Sofia mengendap-endap mencoba keluar dari tempat persembunyiannya. Dia yakin kini dia merasa aman dan ingin keluar dari ruangan paduan suara. Sofia mengintip dari celah pintu yang dibukanya pelan-pelan. Kepalanya muncul untuk menengok keadaan dan...
Taaaaakkkk... Sosok misterius itu menebas kepala Sofia begitu saja. Darah bermuncratan dari leher Sofia yang terpisah dari kepalanya yang jatuh menggelinding.
"Dasar gadis bodoh." gumam sosok misterius itu.
***
Zack mengunjungi Zee malam itu untuk mempelajari buku tentang lycan bersama paman Joseph.
"Malam paman Jo... lho kenapa semuanya berkumpul disini?" tanya Zack heran dengan pemandangan di rumah paman Joseph.
"Wah wah wah... ada vampir ya di rumah paman rupanya." ucap Zack memperhatikan Ariana dengan seksama.
"Siapa lagi ini? setelah ada serigala byesar, para penyihir, siapa lagi ini?" tanya Ariana.
"Ini Zack dialah pangeran penyihir." sahut nenek Amelia.
"Pangeran? kenapa tidak memakai mahkota hahaha." Ariana mencoba mengejek Zack.
Zack mengeluarkan pedang peraknya dari lengannya menunjukkan betapa tajam pedang yang dia punya.
"Aku gak butuh mahkota, aku hanya butuh ini untuk menebas leher mu." Zack menghunuskan ujung pedang itu ke depan leher Ariana yang langsung ketakutan.
"Baiklah maafkan aku." ucap Ariana.
"Kebetulan sekali, kau ingin belajar kan kesini? nah lycan itu hampir mirip dengan vampir mereka sama-sama menghisap darah hanya bedanya lycan mirip denganku karena membutuhkan jantung dan mengoyak mangsanya sampai habis setelah ia hisap darahnya, jadi kau carilah kelemahan si vampir ini." ucap paman Joseph lalu merubah wujudnya seperti manusia lagi dan pergi keluar rumah.
"Kau mau kemana paman?" tanya Zee.
"Menurutmu? sudah kau turuti saja perintahku tetaplah di rumahku." ucap paman Joseph.
"Okay kalian belajar lah yang rajin nanti nenek akan bawakan kudapan ya." ucap nenek Amelia lalu kembali ke rumahnya mengambil kudapan untuk dihidangkan pada Zack dan Zee.
Akhirnya Ariana menurut untuk dijadikan bahan penelitian Zack dan Zee malam itu.
***
"Firasat ku buruk hari ini, jangan-jangan ada pembunuhan lagi." ucap Zee saat melihat beberapa wartawan dan polisi sudah berada di sekolah Briliant.
"Jangan-jangan ada psychopat di sekolah kita." ucap Theo.
"Coba aku tanya Alena." Zee turun dari mobil Theo menghampiri Alena.
"Apa yang terjadi?" tanya Zee.
"Sofia salah satu pemeran kurcaci kita dia tewas tubuhnya terpisah-pisah." sahut Alena bergidik ngeri.
"Aku yang menemukan kepala Sofia di bawah pot bunga sana, hiyyy mengerikan kupikir buah kelapa taunya kepala ih aku masih merasa seram." sahut Lia melompat-lompat penuh kengerian.
"Hai Ariana apa kau dari dalam sana?" tanya Zee menahan lengan Ariana yang ia temui.
"Apa kau menuduhku?" bisik Ariana pada Zee.
"Memangnya aku menuduh mu aku kan hanya bertanya apa kau dari dalam sana, aku mau bertanya apa benar Sofia teman sekelas mu itu di mutilasi?" tanya Zee dengan nada berbisik pada Ariana.
"Oh kupikir... iya dia di mutilasi, tapi ada yang aneh polisi tidak menemukan bagian bokongnya." sahut Ariana.
"Kok aku merasa lucu ya mendengarnya, kenapa dia mengambil bokong nya, memang sih Sofia itu sexy sekali apalagi pada bagian uhhh ya itu." ucap Lia.
"Berati ini semakin jelas, ada pembunuh berkeliaran di sekolah, dan dia pasti psychopat, apa kalian sadar tiga siswi yang dibantai itu kehilangan anggota tubuhnya?" sahut Alena mencoba memberi gambaran tiga korban pembunuhan.
"Dan pembunuh itu hanya menyerang para siswi, jadi kalian berhati-hatilah." ucap Theo
"Ayo kita pergi ke cafe, kalian pasti belum sarapan?" tanya Alena.
"Aku sih sudah, tapi boleh lah." sahut Lia.
"Ariana kau mau kemana? ayo ikut." Zee mengajak Ariana ikut serta ke cafe.
Ariana dan Zee jadi bertambah dekat, mereka harus lebih dekat karena mereka harus saling menyembunyikan identitas masing-masing dari kawan-kawan yang lain karena itu jalan untuk menyelamatkan mereka.
***
V dan Rose sudah berada di cafe yang terletak dengan sekolah.
"Hai, wah kalian sudah lebih dulu rupanya sampai sini." sapa Alena pada keduanya.
"Hai, mari bergabung sini." sahut Rose tapi raut wajahnya berubah jutek saat melihat Ariana.
"Tolong menunya." ucap Alena pada pelayan cafe, lalu dia menuliskan pesanan masing-masing di kertas menu tersebut.
"Kau yang menemukan kepala Sofia kan apa kau melihat sisa tubuhnya?" tanya V pada Lia penuh ingin tahu.
"Ih menyeramkan pokoknya tubuhnya terpotong-potong tadi aku melihat polisi menaruh potongannya pada kantung mayat tapi bagian bokongnya tak ada kata Ariana."
Sahut Lia menoleh pada Ariana.
"Tadi sih yang kulihat begitu." sahut Ariana.
"Dia teman sekelas kamu kan Ariana?" tanya V pada Ariana.
"Iya kak dia temanku." sahut Ariana dengan mata berbinar karena begitu menyukai V.
****
To be continued...
Mampir juga ke karya ku yang lainnya.
- Kakakku Cinta Pertamaku (End)
- Pocong Tampan
- Gue Bukan Player