9 Lives

9 Lives
Pembunuhan di Sekolah



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


Srak srak srak...


suara pisau yang beradu di besi tangga darurat dalam gedung sekolah terdengar di keheningan malam menyusuri anak tangga dengan langkah kaki yang perlahan naik Seorang anak perempuan menaiki anak tangga penuh ketakutan sambil menangis dan berlari menghindari suara besi yang penuh ancaman itu.


"Tolong ku mohon lepas kan aku." ucap murid perempuan yang bernama Sania itu.


"Tak akan ada penjaga yang mendengar mu, semuanya sudah pulas terlelap dalam mimpinya hahaha." ucap sosok berjubah hitam dengan topeng boneka menyeramkan menggenggam sebilah pisau tajam yang berkilauan terpantul cahaya. Sosok itu juga menggendong tas ransel besar berwarna hitam di punggungnya.


"Kau, siapa kau? bukankah aku berjanji dengan Roy disini?" ucap Sania.


"Kau pikir itu Roy? hahaha kau bodoh sekali, kau terlalu senang mendapat pesan dari Roy tanpa berpikir panjang lagi." suara sosok itu tersamarkan seperti suara robot yang keluar dari mulutnya.


"Siapa kau? kau laki - laki atau perempuan?" sahut Sania


"Pentingkah aku perempuan atau laki-laki hah? yang terpenting adalah bagaimana aku akan membunuhmu."


"Tidak...!! ku mohon jangan bunuh aku!" Sania menangis sambil memohon.


****


"Pagi Zee." sapa Zack yang melintas dengan sepedanya.


"Hai Zack, selamat pagi." Zee memberikan senyuman termanisnya pada Zack.


"Kau mau kesekolah kan?" tanya Zack.


"Iya tentu."


"Baiklah aku akan menemanimu "


"Tapi bukan kah sekolah kita berlainan arah?"


"Tak apa aku akan pembalap sepeda yang handal aku bisa sampai di sekolahku lebih cepat dari ini."


"Baiklah ayo."


Sesampainya di depan gerbang sekolah Zee banyak murid perempuan yang terhenti langkahnya menatap Zack.


"Haruskah ku buka stand untuk fan sign mu di depan sekolahku?" ucap Zee sambil tertawa.


"Ah kau bisa saja, oh iya sebentar Zee ini, roti terbaru dari toko nenekku, semoga kau suka." Zack menyerahkan sekotak transparan berisi roti berbentuk bunga matahari kepada Zee.


"Wah cantiknya, terima kasih Zack." ucap Zee senang.


Theo turun dari mobilnya di depan gerbang sekolah langsung menghampiri Zack. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Theo meraih lengan Zack.


"Sudah lepaskan Theo!" Zee melerai keduanya. sambil menahan Zack "Pergilah Zack nanti kau terlambat, hati - hati ya!" ucap Zee. Zack tersenyum puas dan melambai pada Zee sambil mengayuh sepedanya.


"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Theo.


"Bukan urusanmu!" Zee melepas genggaman tangannya dari lengan Theo.


"Susah ku bilang aku tak suka dia mendekatimu." ucap Theo bersikeras.


"Bukan urusanmu lagi pula memangnya kau siapa ku?" tanya Zee sambil mengayuh sepedanya menjauh dari Theo namun Theo melangkah dengan cepat mengikuti Zee ke parkiran sepeda di sekolah Briliant.


"Kau itu pembantuku, kau harus menuruti perintahku." titah Theo dengan tegas.


"Hahahaha lalu kau juga mengatur dengan siapa aku boleh berkencan begitu?"


"Kau, kau berkencan dengan Zack?"


"Belum tapi kalau nanti iya kenapa wleeekk." Zee meledek Theo berlari menjauh.


"Zee... tunggu aku!" teriak Theo.


"Tak akan ku biarkan kau berkencan dengan Zack." gumam Theo dengan geram.


V menyimak semua dengan jelas sambil memukul kepalan tangannya sendiri. Rose menyunggingkan senyuman di samping V.


Bagus Zee terus lah begini, saingan V bertambah lagi karena adanya Zack semoga v lelah dan memandang ke arahku nanti.


Rose tersenyum puas.


"Aaaaaaaaaaaaaa ada mayat....!" Lia berlari ketakutan menghampiri Zee.


"Ada apa Lia?" tanya Zee


"Kau lihat saja ke kelas sangat mengerikan ih..."


Zee dan Theo saling berpandangan lalu bergegas menuju ke kelas. Terlihat banyak murid yang sudah berkerumun di depan kelas Zee dengan ponsel mereka masing-masing saling mencoba mengabadikan sosok penemuan mayat pagi itu di kelas Zee. Beberapa diantaranya mual dan berlarian keluar untuk memuntahkan sarapannya karena tak kuat melihat mayat yang tergantung tersebut.


Ze berhasil melewati kerumunan di depan kelasnya. Di kelas Zee tergantung mayat Sania dengan kedua kakinya terpotong dari pangkal paha, darah deras masih bercucuran dari potongan tersebut membasahi lantai kelas. Tercium bau anyir darah yang menusuk ke hidung. Zee mengamati mayat yang tergantung itu dengan seksama.


"Sania...?" ucap Alena yang datang bersama Rose dan V. "Iya itu Sania." sahut Rose.


"Kalian mengenalnya?" tanya Theo.


"Dia teman sekelasku." jawab Alena.


Mayat Sania di amankan oleh petugas medis setelah pihak sekolah menghubungi petugas medis. Beberapa polisi juga datang menyelidiki pembunuhan di sekolah itu. Hari itu sekolah Zee di bubarkan dan jam pelajaran di tiadakan. Alena mengajak Zee dan Lia ke sebuah cafe dekat sekolah. Theo mengikuti Alena begitu pula V dan pastinya Rose juga mengikuti V karena tak mau kehilangan jejak dari V.


****


To be continued...


Keep Like and Vote 😊😊😘😘