
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
***
Di luar restoran Zack segera menarik Zee ke sudut jalan.
"Apa kau tahu sesuatu tentang sepupu Mark, kau terlihat lain Zee?" tanya Zack berbisik pada Zee.
"Aku yang menolong anak itu, sementara para penjahatnya sudah habis di buru paman Joseph, yang aku heran kenapa anak itu bisa menghilang." jawab Zee sambil berbisik pada Zack.
"Kenapa kau bisa menolongnya? apa yang kau lakukan di kota Danver?"
"Aku menemani paman Joseph berburu."
"Oh seperti itu, kelihatannya menyenangkan menemani pamanmu itu berburu." ucap Zack.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Theo merangkul Zee dari belakang.
"Ih kau ini mengejutkan ku saja, tolong lepaskan aku!" pinta Zee tapi Theo menolak.
"Kau kan pasanganku malam ini, jadi kau harus menurut." Theo menatap tajam ke arah Zack.
"Teman-teman aku dan Mark duluan pulang ya." ucap Lia pamit sambil memeluk Alena dan Zee bergantian.
"Oke berhati-hati lah ya." sahut Alena.
Lia pulang bersama Mark mengendarai sepeda motor Mark dan menghilang di jalan kota.
"Jadi sekarang kita pulang bersama?" tanya Alena.
"Aku membawa motor juga, tadi aku bersama Zee, maka pulang pun Zee juga bersamaku." ucap Zack.
"Pulanglah sendiri, Zee pulang bersamaku." Theo menahan Zee bersamanya.
"Tidak mau, aku pulang bersama Zack saja, nenek kami juga pasti sedang menunggu kami." ucap Zee menepis tangan Theo.
"Wah Zee kau ini, kan tadi Zack adalah pasanganku, kenapa dia malah pulang denganmu?" Alena melirik Zee agak kesal.
"Umm Alena apa kau serius mengatakannya?" tanya Zee.
"Aku serius." Alena membantu Theo agar lebih dekat dengan Zee.
"Aku tak ingin berdebat lagi, aku sudah janji pada neneknya Zee untuk mengantarnya pulang karena dia tadi pergi bersamaku." sahut Zack yang langsung menarik Zee pergi.
Theo ingin menahan tangan Zee tapi Alena melarang.
"Sudahlah biarkan mereka malam ini, aku akan membantumu mendapatkan Zee besok." ucap Alena pada Theo.
"Kau pikir aku menyukai Zee ya, aku hanya tak ingin Zack bahagia makanya aku berusaha menggagalkan Zack mendapatkan Zee." sahut Theo.
"Sudahlah, kau itu tidak usah berlagak, gengsi mu besar sekali, mengaku menyukai Zee saja sepertinya membuat harga dirimu jatuh ke jurang, dasar Theosaurus." Alena meledek Theo lalu masuk ke dalam mobil Theo.
***
Zack sampai di depan rumah Zee, memarkirkan sepeda motornya dan mengantar Zee ke depan pintu rumahnya.
"Jadi, apa aku boleh bertanya Zee?" tanya Zack.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apa kau menyukai Theo?"
"Hah, pertanyaan macam apa itu hahhaha." Zee meninju dada Zack.
"Jawablah aku ingin tahu." Zack memandang Zee lekat.
"Baguslah, ku pikir kau menyukainya." ada kelegaan di ucapan Zack dengan helaan nafas dalam yang tersirat.
"Kenapa kau tanyakan soal itu?" Zee menanyakan Zack penuh ingin tahu.
"Aku... aku hanya ingin tahu perasaanmu pada Theo saja." sahut Zack agak kikuk.
"Iya kenapa kau ingin tahu sekali?"
Zack mendekatkan tubuhnya ke hadapan Zee, lalu dia menyentuh ke dua pipi Zee mendekatkannya ke wajahnya.
Jantung Zee berdetak dengan cepat dan kencang, wajahnya memerah namun tak terlihat karena penerangan yang remang di halaman rumahnya. Darah Zee terasa panas saat Zack menyentuh kedua pipinya malam itu.
"Apa yang kalian lakukan?" paman Joseph sudah bertolak pinggang menegur Zee dan Zack.
Zee terkejut dengan suara Joseph yang datang tiba-tiba, Zee langsung mendorong Zack jatuh ke tanah.
"Ouch... ini lumayan sakit juga." gumam Zack menepuk bokongnya. Padahal Zack berniat mencium Zee kala itu namun gagal sudah karena kehadiran Joseph.
"Kami tak melakukan apapun kok." sahut Zee.
"Kenapa belum pulang?" Joseph menoleh pada Zack memandangnya tajam.
"Maaf anda siapa?" tanya Zack.
"Dia paman Joseph." jawab Zee.
"Wow si manusia serigala itu." Zack menghampiri Joseph penuh kekaguman sambil mengelilingi nya.
"Kau, bagaimana kau tahu identitas ku?" Joseph mencengkeram kerah Zack.
"Tenang paman, dia bisa dipercaya, dia itu pangeran penyihir, ya meski levelnya di atas ku tapi kami tetap satu jenis." ucap Zee.
"Nenek mu tau?"
"Tentu saja."
"Bolehkah aku ikut berburu denganmu tuan? nenek bilang aku harus berlatih dengan mu untuk melawan bangsa lycan yang mirip dengan mu." ucap Zack penuh antusias.
"Tapi aku bukan lycan." sahut pan Joseph tegas.
"Setidaknya kalian mirip tuan."
"Lalu kau ingin mencoba menghabisiku?" ucap paman Joseph agak ketus kali ini.
"Oh tentu tidak, aku kan hanya ingin di tunjukan cara menghabisi lycan, tanya saja Zee neneknya juga menyuruh hal yang sama." ucap Zack menunjuk Zee.
"Iya paman, oh iya apa kau sudah mendengar si kembar dan keluarganya telah di habisi oleh bangsa lycan?" tanya Zee dan Joseph pun menggeleng.
"Nenek bilang sekarang lycan juga mengincar bangsa penyihir, jadi kami harus berjaga-jaga."
"Kau pikir aku pernah menghabis lycan?" Joseph menoleh pada Zee dengan ucapannya yang mulai agak kesal dan meninggi.
"Tapi paman..."
"Aku pun belum pernah berhadapan dengan lycan." Joseph berlalu meninggalkan Zee dan Zack.
Zee memandangi punggung paman Joseph yang lama kelamaan menghilang. Joseph tak mau menoleh pada Zee ada kepedihan yang terasa saat Zee membicarakan soal bangsa lycan. Kepedihan yang mengantarnya teringat pada kenangan buruk malam itu. Kenangan saat keluarganya juga mengalami pembantaian oleh kaum lycan atas perintah ratu Obyssia si Ratu penyihir.
***
To be continued...
Happy Ramadhan...
Selamat menjalankan ibadah puasa guys...😘😘😘