
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
***
Zee sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.
"Ini bekal mu, berikan satu bekal ini untuknya." ucap nenek Amelia sambil menyerahkan dua kotak makan pada Zee.
"Lho kenapa nenek harus repot sih menyiapkan bekal untuk orang yang merusak sepedaku." sahut Zee kesal.
"Sudah berikan saja padanya." ucap nenek Amelia.
"Ahh baiklah terserah nyonya besar saja, aku pamit ya nek."
"Zee ingat berhati-hati lah, pulanglah bersamanya kalau perlu." ujar nenek Amelia.
"Iya baiklah nenek ku sayang." Zee keluar dari rumahnya menuju Theo yang menunggu nya sedari tadi.
"Ini dari nenek." Zee menyerahkan kotak makan yang sudah neneknya siapkan untuk Theo.
"Kelihatannya enak, aku akan menemui nenek mu."
"Eh untuk apa?" Zee menahan lengan Theo.
"Untuk berterima kasih kepadanya." sahut Theo.
"Sudah tak usah nanti saja, kau lupa ya pelajaran pertama kita oleh Miss Cat, ayo kita harus segera ke sekolah." ucap Zee lalu masuk ke dalam mobil Theo.
"Oke baiklah." Theo masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya lalu melaju menuju ke sekolah.
"Ah tampaknya aku terlambat menjemput Zee." gumam Zack yang terlambat sampai ke rumah Zee.
***
"Hai Alena, lho kenapa kau datang dengan supir sendiri biasanya bersama Theo?" tanya Lia yang menyapa Alena pagi itu.
"Entahlah Theo meninggalkan ku entah dia hendak kemana mengendarai mobilnya sendiri." sahut Alena.
"Aku rasa aku tau Theo kemana, lihat itu." Lia menunjuk ke arah mobil Theo yang baru tiba di sekolah.
"Oh jadi seperti itu ya, dia menjemput Zee." Alena tersenyum sambil berdecak.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Theo pada Alena dan Lia yang memandang nya dan Zee turun dari mobilnya.
"Aku melihat kalian hihihi." sahut Alena sambil bertepuk tangan.
"Kalian sudah bersama dari kapan? kalian sedang terlibat kencan kan?" Alena menggoda Theo dan Zee.
"HAH? kami berkencan? aku pasti tidur sambil berjalan dan mengigau jika itu terjadi." sahut Zee sambil melangkah menjauh namun Theo sudah menarik rambut panjangnya yang terurai.
"Awww sakit Theosaurus." pekik Zee.
Theo hanya tersenyum dengan wajah smirk nya menatap Zee.
Alena dan Lia masih berbisik-bisik mengikuti Theo dan Zee dari belakang menuju kelas.
"Dah aku ke kelas ku ya." Alena melambai pada Lia dan Zee menuju kelasnya.
***
Lia mengajak Zee menuju kantin saat jam istirahat berbunyi dan di mulai.
"Aku membawa bekal kau saja yang ke kantin." ucap Zee.
"Tak mau, aku sedang sebal dengan Mark kau harus menemani ku ke kantin ayolah Zee, ku traktir kau minum jus strawberry, mau ya?" Lia mengucap memohon.
"Oke baiklah." Zee akhirnya menuruti Lia menuju kantin.
"Wah kotak makan kalian terlihat sama, isinya pun juga sama, kok bisa sama ya?" tanya Lia.
"Zee yang memberikan padaku." sahut Theo.
"Ah... so sweet kau manis sekali Zee sampai menyiapkan bekal untuk Theo." Alena memandang Zee dengan senyuman manisnya.
"Enak saja, bukan aku ya yang sengaja menyiapkan, aku terpaksa memberikannya atas perintah nenek ku." sahut Zee melirik ke arah Theo dengan kesal.
"Oh... begitu tapi tetap saja mendapat bekal dari nenek Zee itu seolah-olah menyatakan lampu hijau untuk Theo mendekati Zee ya semacam restu ya kan Alena?" Lia memandang Zee dan Theo bergantian sambil tersenyum meledek keduanya.
"Kau membuat selera makan ku hilang Lia, sudah lah hentikan ocehan kalian." sahut Zee mulai makin kesal.
"Hai semua." sapa Rose yang datang bersama V.
"Hai Rose, Hai V." sahut semuanya bersamaan.
"Bagaimana kalian sudah hapal dialog kalian?" tanya Rose.
"Aku tak bisa menghapal dialog tersebut, susah sekali apa kah aku akan di keluarkan dari pementasan drama?" tanya Zee penuh harap karena ia berharap Rose akan menjawab iya.
"Kau mencari alasan ya Zee?" sahut Lia.
"Zee apa kau belum mengenal Miss Jane?" tanya Rose.
"Memangnya ada apa dengan Miss Jane?" Zee bertanya balik pada Rose.
"Miss Jane itu ingin semuanya mengikuti apa yang dia mau, jika dia sudah mau peran itu untukmu ya harus kamu, jika kamu tidak mau menuruti Miss Jane, ku pastikan kau tidak akan lulus sekolah tahun ini." Rose menjelaskan secara detail untuk mengancam Zee.
"Wah itu sama saja menjebak pemeran drama lain yang tak setuju dengan peran mereka." sahut Zee agak kesal.
"Oleh karena itu sudah turuti saja apa yang dia mau jika kau tak ingin kena hukuman dan tak lulus tahun ini dari sekolah." ujar Rose.
"Ya Rose benar, kemarin aku memohon untuk tak ikut serta dan menolak peran pangeran tapi Miss Jane malah mengancam ku, dia tak akan meluluskan ku dari sekolah ini jika aku membangkang, jadi terpaksa aku menuruti nya." ucap V menyeruput jus yang dia bawa dengan wajah sedih.
"Sudah lah kenapa harus di perdebatkan jalani saja peran kita di drama nanti." sahut Theo yang sudah menghabiskan bekal makanan dari nenek Zee bahkan ia tak membolehkan tangan Alena untuk mencicipi makanan tersebut.
"Ah kau ini Theo sangat menyebalkan, oke bagaimana dengan kostum drama yang akan kita pakai untuk pementasan?" tanya Alena pada Rose.
"Nanti aku akan bicarakan pada Miss Jane memangnya kau ada rekomendasi untuk penyewaan kostum atau pembuatan kostumnya?" tanya Rose.
"Kalo penyewaan aku tak tahu, tapi jika ingin membuatnya kurasa Tante ku bisa." Alena melirik ke arah Theo.
"Maksud mu Tante Sabrina yang tinggal di pinggir kota?" tanya Theo.
"Ya siapa lagi, bibi Sabrina kan memang jago membuat pakaian." ucap Alena.
"Wah ide bagus, nanti kita tanyakan pada Miss Jane siapa tahu mau bekerja sama dengan bibi kalian." sahut Rose.
Istirahat telah selesai semuanya bergegas menuju kelas masing-masing saat itu juga.
"Jangan lupa sepulang sekolah kita latihan lagi ya." ucap Rose lalu pergi menuju kelasnya menggandeng tangan V.
Theo terus menarik rambut Zee menggodanya dan membuat Zee kesal sepanjang perjalanan menuju kelas.
"Ih kau ini menyebalkan." pekik Zee menepis tangan Theo.
"Tapi aku menyukainya." sahut Theo tersenyum puas.
***
To be continued...
alias bersambung ya...
mohon maaf kalau ada typo bertebaran ...
rajin membaca ya untuk mengisi waktu luang kalian dengan tetap di rumah.
Stay safe dan jaga kesehatan 😘😘😘