
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie
semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
****
"Sosok itu, iya aku yakin sekali dia membawa seorang perempuan lagi ke dalam hutan, ayo ikuti dia Zack." perintah Zee.
"Baiklah ayo kita ikuti dia, Theodore sebaiknya kau tenangkan Sammy dan jangan menarik perhatian." ujar Zack.
"Okay." sahut Theodore.
Zack mengikuti seorang pria berambut panjang yang di kuncir sedang merangkul seorang gadis yang tampak mabuk menuju ke dalam hutan. Sosok pria itu berusaha mencumbu si gadis yang tampak mabuk.
"Hei bukankah ini terlalu dewasa untuk ku lihat." sahut Theodore.
"Ahh iya aku lupa ada anak kecil disini, kau menunduk ya jangan lihat, awas kalau kau sengaja mengamatinya." ancam Zee.
"Kau yakin Zee ada yang aneh dengan pria itu? kita seperti seorang kriminal yang sedang mengintip mereka bercinta lho." ucap Zack.
"Ih kenapa kau pertegas sih, Theodore tutup telingamu juga!" ancam Zee pada Theodore.
"Kita kembali saja ke rumah paman Joseph." ajak Zack.
"Tunggu, lihat perbuatannya." ucap Zee membuat Zack menatap pria dan gadis itu dengan seksama begitu juga dengan Theodore yang ingin tahu.
"Ah sial, kita harus menolong gadis itu." ucap Theodore.
"Tidak kau disini saja bersama Sammy biar aku dia Zee yang turun." sahut Zack.
"Tapi..."
Zack menatap Theodore penuh ancaman yang membuat anak itu terdiam dengan nyali menciut kala melihat Zack berwajah seperti itu, Theodore tau ilmunya masih dibawah rata-rata dari Zack jadi dia harus patuh.
"Ayo Zee." ajak Zack turun dari mobilnya berdua dengan Zee.
Sosok pria itu sudah menghisap darah gadis mabuk itu saat mencumbunya. Pria itu menoleh ke arah Zack dan Zee dengan mulut yang masih bersimbah darah ditambah kedua taring yang sangat tajam.
"Apa aku mengganggumu tuan?" tanya Zack menyapa pria itu yang terkejut.
"Kalian, apa yang kalian lakukan disini? apa kalian akan menyerahkan nyawa kalian kepadaku?" tanya pria itu sambil tersenyum menyeringai makin memperlihatkan taringnya yang tajam.
"Oh tentu tidak, bahkan aku yang ingin kau menyerahkan nyawamu padaku." sahut Zack sambil mengeluarkan pedang peraknya dari tangan kirinya.
Pria vampir itu sangat terkejut lalu melompat menerkam Zack membuat Zack mundur beberapa langkah dan terjatuh karena terkejut. Vampir itu menoleh pada Zee dan berniat menerkamnya juga.
"Zee bersiaplah." ucap Zack.
Zee mengarahkan telapak tangannya pada vampir itu dengan sebuah mantra yang membuatnya terhempas. Si vampir itu kemudian membalas lagi dengan mencoba menggigit Zee.
Pertarungan pun dimulai dua penyihir muda melawan satu vampir yang bisa dibilang ketua dari ras murninya di kota Fisher. Zee tersungkur setelah terlempar membentur pohon besar membuat tubuhnya sakit tak dapat bergerak, tenaganya terasa habis terkuras. Vampir itu menyerang Zack secara bertubi-tubi sampai membuat Zack tersudut.
Pedang Zack terlepas begitu saja dari tangannya kala melawan vampir itu. Kim si pria vampir itu melingkarkan lengannya di leher Zack.
"Apa aku bisa menghisap darahmu? meski aku tak suka darah seorang penyihir, tapi membanggakan rasanya dapat menghisap darah pangeran penyihir." ucap si vampir dengan nada mengancam dan membahayakan nyawa Zack saat itu.
Zee hanya bisa menatap Zack yang kesulitan karena tertangkap oleh si vampir.
kenapa tubuh ini rasanya sakit sekali, kenapa aku sulit bergerak.
Sekuat tenaga Zee ingin bangkit namun tak bisa.
Ketika pria vampir itu sudah membuka mulutnya dan ingin menancapkan taringnya pada leher Zack, tiba-tiba pedang perak Zack menusuk punggung si pria vampir itu.
"Aaaarrrgghhh, kurang ajar kau anak kecil." si vampir itu bersiap menerkam Theodore yang menancapkan pedang perak Zack ke punggungnya.
Dengan sigap Theodore melempar pedang tersebut membuat Zack melompat untuk menangkapnya dan menebas kepala si vampir sampai terpisah dari tubuhnya.
Darah mengalir dari leher si vampir yang menyembur tiada henti kala itu. Si vampir itu kini mati.
"Terima kasih Theodore, kau tolong bantu Zee biar aku bereskan tubuh mereka." ucap Zack.
"Baik kak." Theodore langsung patuh pada Zack dan menghampiri Zack seketika untuk memapahnya berdiri.
"Lihat kan aku lebih bisa melawannya dibanding kau." ucap Theodore dengan bangga meledek Zee.
"Zack yang membunuhnya bukan kau." sahut Zee dengan nada ketus.
"Tapi jika tidak ada aku pasti Zack juga mati lalu kau juga mati, setidaknya kau harus berterima kasih padamu." sahut Theodore.
"Terima kasih Zack." ucap Zee pada Zack.
"Berterima kasih lah pada Theodore." tunjuk Zack pada Theodore yang memperlihatkan senyum bangga nya pada Zee.
"Iya iya terima kasih Theo." ucap Zee pelan.
"Namaku Theodore bukan Theo, jangan samakan aku dengan pria yang melukis mu tadi siang." sahut Theodore membuat Zack menoleh pada Theodore dan Zee bergantian.
"Kau bertemu Theo si besar?" tanya Zack.
"Ia kak tadi mereka berkencan di taman dekat rumahku." sahut Theodore dengan polosnya.
"Apa benar itu Zee?" tanya Zack penuh selidik ke arah Zee hatinya terbakar rasa cemburu seketika.
"Ummm... ya... ummm aku memang bersama Theo siang tadi tapi kamu tak berkencan kok." sahut Zee lalu melotot ke arah Theodore ingin rasanya ia merobek mulut Theodore yang usil itu.
"Oh..." Zack hanya menyahut dengan kata itu lalu ingin memusnahkan ke dua jasad di hadapannya.
"Jangan Zack, vampir itu serahkan padaku, aku akan membawakan oleh-oleh untuk paman Joseph, dia pasti akan menyukainya." ucap Zee.
"Kau akan membawa jasad tanpa kepala ini ke dalam mobil?" tanya Zack yang dibalas anggukan kepala oleh Zee.
"Hmmm baiklah." ucap Zack.
"Baru ini lho pergi berkunjung ke rumah seorang paman bukannya membawa buah atau kue, ini malah membawa jasad tanpa kepala." sahut Theodore menggeleng -gelengkan kepalanya.
"Ah sudah diam! kau belum tahu kan paman seperti apa yang akan kita temui nanti, kau pasti akan terkejut nanti." ucap Zee melirik Theodore.
"Zack tolong bungkus dia dengan mantra apapun yang kau bisa agar darahnya tak mengotori mobilmu, maaf aku terlalu letih untuk melakukannya." pinta Zee pada Zack.
"Terlalu letih apa terlalu lemah sebagai penyihir hahahaha." Theodore mengejek Zee.
Zee langsung membalasnya dengan pukulan di kepala Theodore.
"Baiklah awas aku akan merapikannya untukmu." ucap Zack.
Setelah merapikan tempat kejadian mereka kini melaju pergi kerumah paman Joseph.
****
To be continued...
Mampir juga ke karya ku yang lainnya.
- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
- Pocong Tampan
- Gue Bukan Player
I love you all my lovely Readers...😘😘😘