9 Lives

9 Lives
Akhir Tamara



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


***


Tamara yang terkunci di ruang paduan suara tertidur karena lelah. Ruangan itu semakin gelap hanya cahaya remang-remang yang memantul dari luar.


Tamara tersadar dari tidurnya dan mendengar seseorang membuka pintu ruang paduan suara tersebut.


"Pak penjaga apa itu kau?" tanya Tamara namun tak ada jawaban.


Sosok yang masuk itu memakai jaket hitam lebar dengan hodie menutupi wajahnya ia memakai topeng berwarna putih tanpa gambar apapun di sana.


"Apa kau penjaga Carter?" ucap Tamara mencoba bertanya lagi dan masih tak ada jawaban.


Tamara mencoba berlari menuju pintu keluar ruang paduan suara tapi sosok itu berhasil menariknya jatuh dan menutup pintunya.


"Apa... apa... apa yang kamu lakukan?" pekik Tamara ketakutan.


Sebuah pisau berkilauan terkena pantulan cahaya dari luar makin membuat Tamara ketakutan dan mundur beberapa langkah.


"Apa yang kamu inginkan dariku?" pekik Tamara masih tak ada jawaban.


Jeb... pisau tajam itu menghunus jantung Tamara mendorongnya ke sudut ruangan.


Tamara masih mencoba memberontak dan menarik topeng si sosok misterius itu.


"Ternyata kau, kenapa kau..."


Sosok itu makin menancapkan pisaunya di jantung Tamara. Banyak darah yang keluar dari mulut Tamara dan juga area tikaman pisau itu, akhirnya Tamara tewas seketika.


***


Malam semakin gelap suara gemerisik pepohonan yang tertiup angin terdengar sayup di telinga Zee yang menemani paman Joseph berburu.


"Itu sekolahku wah terlihat dari sini ya Paman." ucap Zee menunjuk sekolahnya.


"Memangnya masih ada kegiatan di sekolahmu?" ucap Joseph membenarkan jaketnya.


"Semalam ini? mana mungkin ada memangnya kenapa?" tanya Zee.


"Kenapa masih ada mobil keluar dari sana?" Joseph menunjuk sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sekolah. Mobil itu melaju pergi dari sekolah dengan kecepatan tinggi.


"Mana aku tahu, mungkin itu mobil penjaga sekolah." sahut Zee.


"Ayo kita ke kota sebelah." Joseph sudah berubah wujud lalu membiarkan Zee menungganginya dan berlari kencang menuju kota sebelah.


***


Joseph tiba di sebuah bukit telinganya mendengar suara tembakan dan teriakan.


"Kau lihat rumah itu?" tunjuk Joseph.


Zee mengeluarkan teropongnya dan mengamati rumah yang di tunjuk Joseph.


"Sepertinya rumah itu di rampok paman, asa tiga orang bersenjata." ucap Zee.


"Wanita dan pria itu sepertinya sudah tewas tertembak tubuhnya bersimbah darah." sahut Zee.


"Ah biadab mereka membawa anak perempuan itu ikut serta." ucap Zee.


"Kita ikuti mereka." ajak Joseph.


Tiga perampok itu menghentikan mobilnya di sebuah hutan. Mereka berniat memperkosa anak perempuan yang masih di bawah umur itu usianya sekitar sepuluh tahun.


Dua orang perampok itu membawa anak perempuan itu ke dalam hutan sementara masih ada satu orang perampok masih di mobil untuk berjaga. Dia asik menghitung hasil rampokannya dengan seksama.


"Hai paman." sapa Zee pada perampok yang di dalam mobil itu.


"Apa yang kau lakukan disini?" perampok itu turun dari mobilnya.


"Aku tak akan melakukan apa-apa sih tapi dibelakang mu, dia yang akan melakukannya." perampok itu menoleh ke belakang dan Joseph sudah siap menerkam kepala perampok itu dengan gigi tajamnya. Kepala perampok itu putus seketika.


"Atasi dua lainnya paman, biar aku yang bereskan ini." ucap Zee.


Joseph segera berlari ke dalam hutan. Dia menerkam perampok ke dua dan mencakar perampok ke tiga merobek dadanya.


Anak perempuan itu sudah tak berdaya bahkan ia hampir mati. Zee menghampiri anak perempuan itu setelah Joseph kenyang menyantap satu jasad perampok itu. Zee menutupi wajahnya agar tak terlihat.


"To... tolong bunuh aku kak." pinta anak perempuan itu pada Zee.


"Aku tak ingin hidup lagi kak." ucap anak perempuan itu lirih sambil menangis.


"Aku... aku akan membawamu ke rumah sakit saja." ucap Zee mengangkat anak perempuan itu.


"Nanti aku kembali paman." Zee segera pergi membawa anak perempuan itu menuju rumah sakit.


"Zee... !" pekik Joseph tapi Zee tak mau mendengarnya dan masih pergi membawa anak perempuan itu.


Sesampainya di rumah sakit terdekat Zee meletakkan anak perempuan itu di depan rumah sakit.


"Meski berat tapi kau harus hidup, jangan sia-siakan hidupmu, jika kau sia-siakan nanti aku yang akan datang sendiri membunuhmu." bisik Zee.


Zee membuka pintu rumah sakit dengan kekuatannya sehingga orang-orang yang didalamnya dapat melihat keberadaan anak perempuan itu lalu Zee pergi kembali pada Joseph.


"Kenapa kau menolongnya, bukankah dia sudah hancur?" tanya Joseph yang sudah kenyang dan mengepak daging yang ia mau di dalam tas ranselnya.


"Entahlah aku hanya ingin dia hidup, meskipun dia ingin mati." jawab Zee lalu membuang sisa jasad para perampok itu lalu membakar mereka sampai lenyap.


"Hidupnya kan sudah hancur Zee harusnya kau bunuh saja dia." sahut Joseph.


"Sudah lah paman, aku hanya ingin dia hidup, ayo kita pulang aku sudah mengantuk, oh iya akan ku ceritakan pengalaman ku hari ini bertemu pangeran penyihir sepanjang perjalanan." ucap Zee mencoba menjelaskan.


"Hmmm cerita yang menarik, coba aku ingin dengar." sahut Joseph.


***


Anak perempuan yang berhasil Zee selamatkan itu hilang di pagi harinya tak berbekas. Seseorang membawa tubuhnya pergi dari rumah sakit secara misterius.


***


To be continued...


Happy Reading 😘😘