9 Lives

9 Lives
Kecemasan Zee



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


*****


Theo memasang patahan pintu mobil yang diberikan Zee tadi. Meski cacat bagi Theo mobil kayu itu tampak sempurna. Theo memanggil pelayan setianya masuk.


"Aku ingin mobil kayu itu besok sudah ada dalam sebuah kotak kaca yang tak bisa pecah lalu kau letakkan di meja kamarku ini." pinta Theo.


"Baik tuan akan kami laksanakan." ucap pelayan itu lalu pergi membawa mobil kayu milik Theo.


"Kenapa aku sering melihat ayah membawa anak perempuan kecil sih di mobilnya, rasanya aku ingin mengikutinya saja." gumam Theo.


"Mungkin dia salah satu anak asuh ayahmu." sahut mommy yang tiba-tiba datang menghampiri Theo.


"Anak asuh?" tanya Theo tak mengerti.


"Ya, ayahmu aktif dalam gerakan ayah asuh bagi anak-anak terlantar." ucap mommy.


"Kenapa ayah tidak pernah membawa mereka ke dalam rumah ini mom?" tanya Theo.


"Ayahmu hanya mampir saat membawa mereka, dia tak pernah membawa satupun ke dalam rumah ini, mereka hanya duduk diam di kursi mobil saat ayahmu mampir." ucap nya.


"Apa mommy tau dimana yayasan ayah?" tanya Theo.


"Di gedung biru, di belakang kantor Sebastian enterprise di pusat kota, kenapa kau sangat ingin tau?" tanya mommy.


"Tidak juga sih mom, hanya saja dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa padaku tapi bisa mengurus anak lain." Theo terlihat sedih karena teringat tak pernah punya kenangan bersama ayahnya. Ayahnya seperti tidak menyukai nya sejak Theo lahir. Ayahnya selalu acuh dan tak perduli pada Theo.


"Hei ngomong-ngomong selamat ulang tahun ya." mommy memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam.


Theo membuka kotak tersebut ternyata berisi kunci sepeda motor yang Theo mau.


"Pelayan Leo bilang kau sedang ingin memiliki sepeda motor skutik kan? mommy heran banyak seusia mu ingin memiliki mobil seperti mu tapi kau malah ingin menaiki motor skutik yang antik."


ucap mommy sambil menggelengkan kepalanya terlebih lagi saat melihat Theo terlihat sangat senang kala menerima hadiah pemberian mommy saat itu.


"Thanks you mom ku pikir kau lupa ulang tahunku." ucap Theo.


***


Zack dan Theodore sudah menunggu Zee di rumah paman Joseph.


"Sejak kapan si bocah dungu ini ikut belajar dengan kita?" tanya Zee dengan pandangan kesal menatap Theodore.


"Aku juga kan penyihir jadi wajar aku berada disini untuk ikut belajar, aku juga ingin menjaga ras ku agar tidak punah dan juga menjaga kakekku." sahut Theodore dengan lantangnya.


Ada kekaguman yang Zee rasakan saat melihat semangat Theodore tapi tetap saja melihat bocah ingusan tersebut membuatnya cukup kesal.


"Baiklah aku akan melawan kalian, tapi tetap pada bentuk ku yang seperti ini karena biarpun lycan berbulu seperti serigala tapi sikapnya berdiri seperti manusia, dan mempunyai taring seperti vampir." ucap Joseph.


"Maaf aku terlambat." ucap Ariana yang langsung membuka pintu rumah Joseph.


"Apa yang kau lakukan selarut ini, besok kan kita ada pementasan drama?" tanya Zee.


"Aku yang memanggilnya kesini, Ariana bersedia membantu kalian ketika perang datang nanti." ucap Joseph.


"Kak Zee aku menginap ya, tadi aku ijin seperti itu pada ibuku." ucap Ariana.


"Tenang saja aku sudah membawa kasur camping jadi aku bisa tidur di lantai kamarmu, aku janji tak akan menggangu mu saat tidur kak." ucap Ariana.


"Lagi pula kakak ini sangat cantik, dia membuatku semangat untuk berlatih." ucap Theodore menggoda Ariana.


"Heh bocah ingusan dasar genit, memangnya kau tak sadar apa kalau kau masih kecil?" Zee menunjuk ke arah Theodore.


"Bukan urusan mu kakak cerewet." Theodore langsung berlari sehabis meledek Zee menghindari Zee yang hendak menerkamnya bagai singa lapar.


***


"Aku pulang ya, aku akan mengantar Theodore dan Sammy pulang juga." ucap Zack yang memeluk Zee seketika lalu ingin mencium Zee tapi Zee menghindari nya.


"Selamat malam berhati-hatilah di jalan." ucap Zee melambaikan tangannya.


"Kau menyukai kak Zee? apa mata kakak Zack rabun ya bisa menyukai perempuan cerewet itu?" tanya Theodore sambil melangkah menuju mobil Van milik Zack.


"Theodore aku mendengar mu, awas kau ya!" pekik Zee namun Theodore sudah masuk ke dalam Van bersembunyi.


"Aku pulang ya." ucap Zack.


"Iya iya pulanglah, awas ya Theodore kalau ketemu lagi besok." Zee meninju-ninju telapak tangannya sendiri dan mengacuhkan Zack.


***


Di kamar Zee, Ariana memandangi langit kamar Zee sambil berpikir.


"Kenapa kau belum tidur?" tanya Zee.


"Kak Zee apa aku bisa membuat koloni vampir, seperti menularkan vampir dengan cara menggigit orang yang ku inginkan?" tanya Ariana.


"Setahu ku dari buku yang pernah ku baca ya, kau itu bukan keturunan murni, kau tercipta karena ditularkan, jadi hanya keturunan murni dari orang tua yang asli vampir yang bisa membuat koloni dan menularkan orang-orang tertentu yang dia mau. Memangnya kau ingin membuat sebagian penduduk kota Fisher menjadi vampir ya?" tanya Zee setelah menjelaskan.


"Tidak kok, aku hanya berpikir jika aku bisa membuat koloni aku kan jadi punya pasukan yang siap membantu mu saat perang melawan lycan nanti." sahut Ariana.


"Sudah lah Ariana, sebaiknya kita tidur dan hapalkan dialog mu saja untuk pementasan besok." sahut Zee merubah posisinya tidur menghadap samping kanan menunjukkan punggungnya pada Ariana.


sesungguhnya aku sangat takut jika perang itu terjadi Ariana, aku bahkan tak ingin kau terlibat dalam perang nanti. Aku takut jika nenek, paman kau dan yang lainnya sampai mati. Aku tak ingin itu terjadi.


batin Zee lalu mencoba menutup kedua matanya untuk tidur.


***


"Kurasa jebakan ini cukup untuk membuatnya terpotong seketika, tinggal ku tekan lalu seeett dia terpotong lalu bagian dadanya akan jatuh ke bawah lubang ini, tepat berada di atas kedua tanganku melengkapi koleksi wanita tercantik dan paling sempurna seperti yang ku impikan ditambah dengan kepala mu wahai ratu impianku."


ucap sosok misterius dengan jaket hitam bertudung sedang melihat sebuah foto perempuan yang sedang tersenyum. Pria misterius itu sedang menyiapkan jebakan di atas panggung pementasan tempat dilangsungkannya pertunjukan drama sekolah esok hari.


Senyum puas nan menyeringai berada di wajahnya kala itu sambil memandangi lokasi jebakan yang akan dia lakukan besok.


*****


To be continued...


Mampir juga ke karya ku yang lainnya.


- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


- Pocong Tampan


- Gue Bukan Player


I love you all my lovely Readers...😘😘😘