
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Zee dan keluarga nya pindah ke negara North Sea yang sangat dingin. Zee menghabiskan masa SMP nya di sekolah "Brilliant" dengan aman tanpa kekacauan yang selalu ia timbul kan.
Kini Zee sudah menjadi murid kelas pertama di SMA "Brilliant" di kota Fisher. Sekarang dia enggan sekali pindah ke sekolah lain karena sekolah ini sangat nyaman dengan guru-guru yang ramah dan kompeten di bidangnya. Di sekolah itu juga Zee merasa minim bullying seperti sekolahnya terdahulu semua siswa bahkan saling cuek tak mau mencampuri angkatan satu sama lain kecuali mereka ada tugas bersama baru mereka bekerja sama dengan baik.
Zee mempunyai sahabat di sekolah Menengah atas nya yakni Lia seorang gadis yang ceria dan selalu polos, agak lama dalam berfikir alias lemot membuat Zee semakin senang berada di dekatnya hanya sekedar menggodanya. Lia bahkan merubah Zee menjadi pribadi yang lebih aktif dan lebih ceria dibandingkan dulu dengan sifat pendiamnya.
"Hai mister V apa kabar?" sapa Lia pada teman pria nya yang bernama Vano entah mengapa anak-anak senang sekali memanggilnya mister V ketimbang hanya mengucap nama V.
"Hentikan lah jangan menambah mister pada namaku." sahut V kesal menatap Lia.
"Daripada ku panggil **** * hayo?" ledek Lia.
V mengacuhkan ejekan Lia pandangannya selalu fokus kearah Zee, dia sudah jatuh cinta pada Zee sejak pertama kali bertemu di sekolah menengah pertama Brilliant ini, namun V tak pernah berani mengungkapkan perasaanya meski Zee menyadari perhatian V dan Zee selalu saja menghindari nya.
"Hai V, ayo kembali ke kelas." ajak Rose sahabat V sedari kecil.
"Apa sudah bel masuk?" tanya V.
"Belum sih tapi sebaiknya kita ke kelas." ajak Rose lagi.
"Sebentar, aku harus menemui Zee." ucap V
Rose memandang Zee kesal dan menunggu V di depan kelas.
"Hai Zee, terimalah ini untukmu ibu ku yang membuat ini."
V memberikan saputangan berwarna merah dengan inisial nama Zee di sudut kanan saputangan itu.
"Apa itu? ah manisnya tapi memangnya Zee sedang menangis ya?" tanya Lia.
"Aku tak menangis kok." sahut Zee.
"Lalu untuk apa itu V? Zee juga tidak pilek. " ucap Lia.
"Aah sudahlah aku malas menjawab mu, ini Zee kuharap kau suka." sahut V tak mau mendengarkan ocehan Lia.
"Terima kasih, aku suka sekali." jawab Zee dengan nada terpaksa menghargai pemberian V.
"Oh iya Minggu depan ulang tahun ku yang ke tujuh belas apa kau mau datang?" tanya V pada Zee.
"Tentu tentu aku mau." sahut Lia dengan girangnya tertawa dia menjawab sebelum V bertanya padanya.
"Cih aku tak mengundangmu kok."
ucap V menoleh ke Lia.
"Oh begitu, asal tau saja ya, Zee itu tak akan pergi kalau aku juga tak pergi." ucap Lia dengan penuh percaya diri memandang Zee.
"Benar, kalau Lia pergi aku akan pergi." sahut Zee.
"Baiklah aku mengundang mu Lia." ucap V pasrah dengan terpaksa.
"Yeeeeaaayyy terima kasih V, aku pastikan Zee datang bersamaku." Lia tersenyum manis pada V.
"Baiklah... aku pamit ya aku akan kembali ke kelasku dulu, daahh." V keluar dari ruang kelas Zee.
Zee melihat muka ketus Rose yang menoleh padanya saat menggandeng lengan V menuju kelasnya.
Tak lama Ms. Catherine datang ke ruang kelas membawa seorang murid laki-laki baru ke dalam kelas Zee. Tubuhnya tinggi dan tegap dengan dagu terbelah yang membuatnya sangat terlihat manis dan tampan.
"Perkenalkan ini Theo, murid baru di kota Fisher ini." ucap Ms. Catherine memperkenalkan Theo.
"Hai Theo....." ucap sembilan belas anak di kelas Zee dengan kompak bersamaan.
"Baiklah Theo kau duduk di belakang Zee hanya itu kursi yang tersisa karena kelas ini hanya menampung dua puluh anak." ucap Miss Cat sapaan khas anak-anak untuknya.
"Terima kasih Miss." sahut Theo lalu dia melangkah menuju kursi di belakang Zee.
"Hai aku Lia." bisik Lia pada Theo yang hanya tersenyum mengangguk.
"Lia konsentrasi ke papan tulis!" ucap Miss Cat.
"Okay Miss maafkan aku." sahut Lia.
***
Bel pulang berbunyi dengan pembagian tugas kelompok dari Miss Cat berdasarkan susunan kursi di kelas. Zee bersama Lia harus satu kelompok dengan Joey dan Theo si anak baru.
"Tenang Theo kau sudah berada di kelompok yang benar." ucap Joey mencoba merangkul Theo namun di tepisnya.
"Hmm aku tak mengerti." sahut Theo.
"Kau bersama orang terpintar di kelas ini, yaitu aku, hehehe bukan kok aku hanya bercanda, Zee yang terpintar di kelas."
Joey melirik ke arah Zee yang masih mengemasi barang-barang nya ke dalam tas.
"Jadi hari ini kita mulai belajarnya? bagaimana kalau dirumah Zee?" ucap Lia.
"Mana mungkin sejak dulu juga Zee tak mau kita kerumahnya padahal rumahnya tidak jelek aku pernah lewat di depan rumahnya." sahut Joey.
"Rumah ku memang jelek, tak senyaman rumah kalian, lagi pula aku tak ingin kita mengganggu nenek ku." sahut Zee.
"Apa sebaiknya kita ke rumah Theo?" tanya Joey
"Ja-jangan deh aku belum ijin pada ayahku."
jawab Theo langsung memotong ucapan Joey.
"Oooohh... baiklah kalau begitu di rumahku seperti biasa jam tiga sore nanti, boleh ku minta nomer ponsel mu Theo? nanti ku kirim alamatnya ke hape mu." ucap Lia.
Theo mengeluarkan handphone keluaran terbaru yang membuat Lia dan Joey mengucap "WOW"
Mereka pun bertukar nomer telpon termasuk Zee dengan terpaksa karena Lia bersikeras membuat grup WhatsApp untuk kelompok mereka.
"Tunggu, apa aku pernah melihatmu sebelumnya?" Theo menahan lengan Zee sebelum keluar kelas.
"Apa kau mencoba merayuku?" tanya Zee menepis tangan Theo dari lengannya.
"Cih... percaya diri sekali kau, kulihat dari atas ke bawah bagiku nilai mu hanyalah lima eh tunggu baiklah lima setengah dibawah standar perempuan cantik pada umumnya." ejek Theo.
"Ih menyebalkan sekali, belum pernah yak kau merasakan meja ini mendarat di wajahmu?" gertak Zee.
"Hahaha... dasar gadis yang aneh." Theo pergi berlalu keluar kelas dengan menabrak bahu V yang sedari tadi memperhatikan nya dari luar.
"Apa dia mengganggu mu Zee?"
tanya V sambil menoleh ke arah Theo.
"Oh tidak... sudah lah biarkan saja ayo kita pulang."
ucap Zee mendorong pelan punggung V menuju luar kelas.
***
To be continued
Happy Reading...😘😘