9 Lives

9 Lives
Menemui Theo



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


***


"Sudah sampai, ini rumahku." ucap Zee.


"Oke Zee, terima kasih sudah mengundangku mampir." ucap Mark.


"Aku tak memgundang mu mampir, ada yang tak beres dengan otak mu ya?" Zee mengetuk helm Mark.


"Hahaha baiklah, apa kau kenal Lia?" tanya Mark.


"Tentu saja, dia kan teman sekelas ku, kenapa? kau naksir padanya ya?" Zee menggoda Mark.


"Dia teman sekolah dasar ku."


"Lalu?"


"Ah tidak, itu hanya cinta monyet saja. Aku pamit ya Zee daaah." Mark lalu pergi melajukan motornya


"Cinta monyet? hahaha kalau sekolah dasar saja cinta monyet lalu sekolah menengah atas namanya cinta kingkong ya, hahahhaha lucu sekali." Zee tertawa sendiri sampai sakit menahan perutnya.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Joseph.


"Eh paman, aku merindukanmu." Zee memeluk Joseph.


"Lepaskan, apa yang kau tertawakan?" tanya Joseph melepas pelukan Zee.


"Dia, pria tadi dia bilang dia cinta monyet nya Lia saat di sekolah dasar, berarti nanti ketika mereka bertemu dan bersama lagi mereka akan mempunyai cinta gorila hahahha itu lucu kan paman?" Zee masih tertawa.


"Ya itu lucu, untukmu." Joseph pergi ke atas bukit.


"Paman kau mau kemana?" tanya Zee.


"Pulang, menurutmu?"


"Oh, ya sudah, eh paman apa kau mau berburu malam nanti?"


"Kau pikir aku akan mengajakmu ikut serta, sudah lah kau sudah kehilangan satu nyawamu semalam." Joseph menahan langkahnya dan menoleh pada Zee.


"Terserah, aku akan tetap mengikuti mu." Zee melambai pada Joseph dan melangkah masuk ke rumah dan menyapa neneknya.


Zee menaruh jaketnya di penyangga dan duduk di kursi makan tempat neneknya sedang memasak.


"Kau mau sup ayam Zee?" nenek Amelia menawarinya sup untuk makan siang.


"Aku mau, oh oh nek hari ini aku membiru."


Nenek Amelia menjatuhkan mangkuk sup nya terkejut mendengar pengakuan Zee barusan.


"Kau masih terinfeksi racun itu, lalu bagaimana kau... siapa yang kau hisap?"


"Theo, si pemuda kekar yang pernah kesini tempo lalu, yang berada di gua laba-laba bersamaku." jawab Zee.


"Zee, Joseph lebih kuat karena dia bukan manusia biasa, tapi si Theo itu manusia biasa kan?" tanya nenek Amelia cemas.


"Apa maksud nenek, dia bisa saja..."


"Mati." ucap nenek Amelia.


"Ah tidak, aku harus mencarinya." Zee memakai jaketnya lagi.


"Kau mau kemana Zee makanlah dulu sup mu."


"Aku harus menemui Theo nek, aku takut dia mati karena ku." sahut Zee lalu pergi.


"Apa Theo masih hidup?" tanya Zee panik.


"Kau ini mengigau ya, dia masih hidup kok ada bersamaku di kamarnya, ah kau mengkhawatirkan nya ya?" Alena menggoda Zee.


"Ah syukurlah, Alena apa aku bisa bicara padanya?" tanya Zee.


"Umm tunggu sebentar... Zee dia tak mau bicara dengan mu kecuali kau kesini."


"Aku memang mau menemui nya tapi sepeda ku rusak."


"Baiklah supirku akan menjemput tunggu ya." ucap Alena.


"Baiklah aku akan menunggu." Zee menutup ponselnya.


"Kalau aku harus menunggu lebih baik aku makan sup nenek dulu." gumam Zee kembali ke dalam rumahnya menunggu jemputan supir Alena.


***


Tiba di halaman rumah Theo, seorang pelayan sedang terseret oleh Bruno yang berlarian tak terkendali.


"Hei Bruno...!" ucap Zee meneriakkan nama Bruno.


Bruno menoleh dan langsung menabrak Zee lalu menjilati wajah Zee.


"Nafasmu bau tau." Zee mencoba menahan jilatan dari Bruno.


"Wah nona bagaimana kalau melakukannya, biasanya hanya tuan muda Theo yang bisa melakukan nya." ucap pelayan itu yang sudah berdiri merapikan seragamnya.


"Hahaha asal kau tau ya tuan muda mu itu peliharaan ku dia menurut padaku, oleh karena itu Bruno juga menurut padaku." Zee membelai kepala Bruno.


"Aku tak mengerti bicaramu nona."


"Sudahlah, hanya aku yang mengerti, ayo ku bawa Bruno masuk kandangnya." ucap Zee.


"Gadis aneh." sahut Theo yang melihat Zee dari jendela kamarnya.


"Tapi tahukah kau, aku bertaruh suatu saat nanti kau akan tunduk pada Zee." sahut Alena menepuk Theo.


"Hahaha kau mimpi."


"Siapa tahu, jadi sekarang bagaimana?"


"Seperti rencana kita tadi." Theo langsung terbaring di ranjang mewahnya dan berpura-pura lemas tak berdaya.


Suara ketukan pintu kamar Theo datang lalu Alena berpura-pura menangis menyambut Zee.


"Ada apa ini Alena? kau bilang dia baik-baik saja?" tanya Zee panik.


"Tadi begitu, eh tiba-tiba dia tak sadarkan diri lagi." ucap Alena sambil memberi kode pada pelayan yang bingung dengan akting Alena.


"Tapi dia tak demam kan?" Zee menyentuh dahi Theo.


"Tidak, tapi mungkin aku harus mengambil air dingin dan lap siapa tau nanti dia demam, aku ke dapur dulu ya Zee, ayo kau ikut aku." Alena menutup pintu kamar Theo menarik lengan si pelayan pergi mengikuti nya agar mereka membiarkan Zee di dalam bersama Theo.


"Apa dia kembali lemah ya? perkataan nenek tadi jadi membuatku cemas." gumam Zee.


Zee kembali menyentuh dahi dan pipi Theo.


"Suhu tubuh nya stabil kok, tidak demam ataupun dingin."


Zee mendekatkan wajahnya ke hadapan Theo, tiba-tiba Theo membuka matanya tepat saat mata Zee sedang menatapnya.


****


Happy Reading... jangan lupa like and votenya.... komen sarannya juga boleh banget...


To be continued...😘😘😘