
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
***
"Ah tidak, kenapa harus sekarang." nenek Amelia mulai panik.
Kepulan asap hijau pekat itu sudah masuk ke dalam tubuh Zee membuatnya kejang - kejang meronta. Mulutnya mengeluarkan busa biru yang terus mengalir, mata Zee melotot menahan sakit.
"A... a... aku... aku tak sanggup pa...man."
Joseph menarik Zee ke pangkuannya dan hendak mencium Zee menghisap racun laba-laba yang menyerang tubuh nya.
"Apa yang kau lakuna Joseph! lepaskan Zee kau tak akan sanggup, bukan hanya racun tapi energi naik level itu sangat berbahaya untuk kau hisap!" nenek Amelia mencegah Joseph.
"Lalu kau akan membiarkannya mati?"
"Ya sudah ku duga dia tak akan kuat."
Zee tergeletak tanpa nafas di pangkuan Joseph. Zee kehilangan nyawanya lagi.
Joseph membawa Zee ke kamarnya membaringkan Zee di atas ranjangnya. Nenek Amelia juga membaringkan Blue di atas kasur kucing empuk di samping kasur Zee.
"Apa dengan mati Zee telah kehilangan racun laba-laba yang mengendap di tubuhnya?" tanya Joseph.
"Aku belum tau, aku akan mencoba membuat ramuan penangkalnya."
"Lalu apa kau akan melakukan ritual ini lagi?"
"Hmmm aku harus menunggunya sampai ia berusia dua puluh satu tahun."
"Apa akan terjadi seperti ini lagi?"
"Sudah lah Joseph aku lelah, pergilah sana tidur, dan selama empat tahun nanti kau harus menjaga Zee agar tak menyia-nyiakan nyawanya." ucap nenek Amelia.
"Baiklah, aku akan menjaganya, aku pamit pulang." Joseph keluar dari kamar Zee melompat melalui jendela, ya cara praktis bagi Joseph daripada turun tangga dan keluar halaman.
"Dasar anak itu, eh bahkan dia sudah lebih tua dari ku." ucap nenek Amelia.
Malam itu ia memutuskan untuk tidur di kamar Zee menjaga Zee dan Blue sampai kembali tersadar.
***
"Ah tidak... aku menggagalkannya ya nek?" ucap Zee membangunkan nenek nya yang terlelap pulas keletihan.
"Dasar gadis bodoh, sia-sia ku hadiahkan tulang ku untukmu." sahut Blue.
"Maafkan aku Blue harusnya aku lebih kuat dan berhasil."
"Kau memang penyihir di bawah rata-rata."
"Eh jaga ya bicaramu, atau aku tak akan berniat membelikan mu kaki robot untukmu berjalan." ucap Zee menunjuk Blue.
"Memangnya ada?"
"Ada, tapi mahal, kecuali aku mendapatkan secara sihir." Zee menjentikkan jarinya.
"Tidak mungkin, aku tak mengajarimu sihir untuk mencuri ya!" nenek Amelia terbangun.
"Umm memangnya aku mau mencuri kan hanya mencari akal mendapatkannya?" sahut Zee.
"Dengan cara apa?"
"Ya... nanti kupikirkan, wah aku terlambat aku harus ke sekolah Nek." ucap Zee.
"Baiklah, apa kau tak ingin sarapan dulu?" tanya nenek Amelia.
"Aku sudah terlambat nek, aku pamit ya." Zee mencium pipi nenek Amelia lalu menyangkutkan ransel sekolahnya ke bahu dan pergi pamit.
"Hati-hatilah Zee." ucap nenek Amelia.
Zee menemukan rantai sepedanya yang rusak dan menendang nya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, duh aku sudah terlambat."
Tin...Tin...
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di hadapan Zee.
"Kau mau ikut?" sapa pengendara saat kaca mobilnya turun.
"Sudah, cepat masuk apa kau mau ketinggalan pelajaran Miss Cat?" ucap Theo ketus.
"Ah iya Miss Cat, baiklah aku ikut."
Zee masuk ke dalam mobil Theo.
"Aku terpaksa ya ikut mobil mu, kalaubbukan karena Miss Cat." ucap Zee memakai sabuk pengamannya.
Theo hanya tersenyum mendengar ucapan Zee.
Maaf merusak rantai sepeda butut itu, tapi kalau tak ku rusak, mana mau kau ikut dengan ku, hampir satu jam aku menunggu mu tau.
Theo melirik ke arah Zee.
"Mana Alena?" tanya Zee menyadari hanya mereka berdua dalam mobil.
"Dia sudah jalan lebih dulu dengan supir." jawab Theo.
"Lalu kenapa kau tak pergi dengan supir?"
"Susah lah jangan berisik kau menggangguku menyetir tau."
Zee menekuk wajahnya sambil mendekap tubuhnya sendiri, kesal dengan jawaban Theo.
"Bukalah laci mobilku!" perintah Theo.
"Yang ini?" Zee menunjuk laci mobil Theo.
"Yang mana lagi, apa aku menyuruh mu membuka laci di dalam kamarku?"
"Ih kau ini menyebalkan." ucap Zee lalu membuka laci itu.
Sebuah kota berwarna merah muda dengan pita di tengahnya menyapa Zee di dalam laci mobil Theo.
"Apa itu?" tanya Zee.
"Ambilah, itu untukmu." ucap Theo.
"Untukku? apa isinya?"
"Kau ini ya, bawel sekali, cukup kau buka saja nanti kau tahu itu isinya apa." ucap Theo kesal.
"Iya ya ya aku buka." Zee membuka kotak merah muda itu.
Sebuah gelang berada dalam kotak tersebut kotak yang terbuat dari perak dengan bandul kristal berbentuk bulan di tengah pada bagian dalam bulan tersebut terdapat berlian merah yang sangat cantik.
"Bukan kah ini mahal?" tanya Zee.
"Iya mahal, jadi jangan sampai hilang." ancam Theo.
"Ini untuk siapa?" tanya Zee masih tak percaya.
"Astaga, itu untukmu Zee, untukmu!" Theo menegaskan ucapannya.
"Untukku? wah hahahahahaha aku tak percaya ini semua, kau pasti mengerjaiku." sahut Zee.
"Kau pikir aku bercanda?" ucap Theo kesal tak mau menjawab ucapan Zee yang makin kacau tentang gelang tersebut.
Zee tersadar wajah Theo tampak serius dan marah kepadanya karena tak mau menjawab semua ucapannya sedari tadi sampai mereka di parkiran sekolah.
"Kau marah ya padaku?" tanya Zee.
"Turun!" ucap Theo ketus.
Zee turun dari mobil Theo.
"Terima kasih ya." ucap Zee lalu melangkah menuju ke dalam sekolah.
"Zee..."
Theo menghentikan langkah Zee yang menoleh padanya.
"Iya." jawab Zee
"Selamat ulang tahun." ucap Theo tanpa menoleh ke arah Zee berpura-pura sibuk mengunci mobilnya.
****
Happy Reading...
Jangan lupa di like dan vote yak 😘😘😘