9 Lives

9 Lives
Menyembunyikan Ariana



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ariana berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai mengeluarkan taring.


"Kau baik-baik saja kan?" Zee mencoba menyentuh punggung Ariana.


"Jangan sentuh aku, pergi dari sini, cepat keluarlah dari sini atau aku tak akan tanggung akibatnya." ancam Ariana


"Akibatnya apa? apa kau akan mengigit ku dan menghisap darahku?" Zee mendorong bahu Ariana membalikkan tubuhnya agar menatap mata Zee.


Benar saja warna bola mata Ariana berubah merah pada bagian iris nya kedua taringnya pun mulai keluar.


"Zee sudah ku bilang tanggung akibatnya." Ariana mencoba mencekik Zee, tetapi Zee dengan sigap mendorong Ariana dengan kekuatannya membentur dinding toilet.


"Ka...kau... bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya Ariana mencoba untuk berdiri.


"Tenang lah Ariana, tahan emosi mu dan hawa nafsu mu akan darah." ucap Zee.


"Apa kau juga makhluk sepertiku? makhluk menjijikan seperti ku hah?" Ariana tak bisa lagi menahan emosinya dan kembali mencoba menerkam Zee.


Zee membuat Ariana tak sadarkan diri kali ini karena benturan keras yang Zee lakukan padanya. Zee mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang nenek.


"Ada apa kau menghubungi ku?" tanya nenek dari seberang sana.


"Apa nenek ingat Ariana yang ku kunjungi tempo hari di rumah sakit? sekarang dia seorang vampir dan dia tak dapat mengendalikan dirinya nek, bagaimana ini dia barusan menyerang ku dan ku buat tak sadarkan diri."


ucap Zee mulai panik berjalan mondar-mandir di hadapan Ariana yang tak sadarkan diri.


"Aku akan segera kesana, jangan matikan telepon nya." ucap nenek Amelia.


"Tapi bagaimana caranya... ah aku lupa nenek ku penyihir hebat." Zee sudah melihat nenek Amelia sampai di dalam toiletnya.


"Jadi ini vampir nya?" tanya nenek.


"Sepertinya dia hanya generasi baru bukan generasi awal, pasti ada yang menularkannya saat Theo menemukannya tergeletak di tepi jalan." ucap Zee.


"Aku akan membawanya pulang, menahannya bersama Joseph, aku ingin tahu bagaimana bisa dia menjadi makhluk ini, dan siapa yang generasi sebelumnya." ucap nenek.


"Nek, kenapa kau tak mengajariku berpindah tempat seperti tadi? jadi aku kan tidak harus terburu-buru." ucap Zee menoleh pada neneknya dengan senyuman manisnya.


"Ini saja sudah hampir menguras habis tenaga ku, apalagi kau yang pemula, sekali pindah saja mungkin kau bisa pingsan sepertinya." sahut nenek Amelia.


"Jadi tidak ada petunjuk ya dan lampu hijau untuk ku mempelajari ilmu perpindahan ini hmmmm." ucap Zee memonyongkan bibirnya.


Nenek Amelia tersenyum pada Zee tanpa menjawab lalu menarik lengan Ariana dan menghilang.


"Ne...nek... ah sial kenapa sih menjawab pertanyaan cucu kesayangan ya saja harus penuh teka teki. Zee menggerutu dan terkejut saat Lia dan Alena sudah ada di pintu toilet.


"Hai Zee apa sudah selesai bincang-bincang nya?" tanya Alena.


"Bincang-bincang dengan siapa ya?" Zee balik bertanya pada Alena untuk menyembunyikan hal yang terjadi barusan.


"Bukan kah kau menghampiri Ariana, kok dia tidak ada sih di sini?" tanya Lia yang menengok ke kanan dan kiri toilet.


"Ariana sudah tak ada, dia lari dan pergi karena malu, dia kan hanya ingin membantu mu tadi, dia melakukannya hanya untuk menghentikan darah mu." ucap Zee.


"Zee ayo kita harus pergi!" Theo berteriak dari luar ruang paduan suara memanggil Zee.


Bagus sekali kau menyelamatkan ku Theo dari duo reporter ini.


"Baiklah tunggu sebentar, maaf ya aku ada janji dengan Theo." ucap Zee langsung menghampiri Theo.


"Zee tunggu aku belum mengukur ukuran tubuh mu." pekik Rose dari dalam namun Theo sudah menarik tangan Zee pergi.


"Nanti aku akan mengirim pesan padamu ukuran tubuhku." sahut Zee tak bisa menghentikan Theo menarik lengannya.


Theo membukakan pintu mobilnya mempersilahkan Zee untuk masuk ke dalamnya lalu melajukan mesinnya menuju danau dalam hutan tempat Natti berada.


"Kita mampir ke toko ikan segar dulu, aku akan membelikan oleh-oleh untuk Natti." ucap Theo.


"Ah tindakan mu itu manis sekali." sahut Zee membuat Theo tersipu malu tapi tak mau menoleh pada Zee, ia menyembunyikannya berpura-pura menoleh pada kaca jendela sampingnya.


Theo menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai penjual ikan segar di dekat pelabuhan di kota Fisher.


"Kau mau ikut?" tanya Theo pada Zee.


"Kau saja yang ke dalam, aku mau beli minum soda disana, apa kau mau?" Zee menawarkannya pada Theo.


"Okay, belikan aku, ini uangnya." Theo mengeluarkan selembar uang kertas pada Zee.


"Kau pikir aku tak pernah punya uang ya? kalau hanya sekedar soda aku masih mampu membayarnya." sahut Zee lalu melangkah ke seberang penjual soda.


Zee menabrak seorang laki-laki yang mengenakan sweater hitam berlengan panjang, lengkap dengan celana jeans, mengenakan topi dan juga kaca mata hitam.


"Maaf tuan aku tak melihatmu." ucap Zee pada pria yang terjatuh akibat Zee, sehingga kacamatanya terlepas dan tangannya terlihat berasap karena terkena cahaya matahari. Seketika pria itu langsung menutupi tangannya. Pria itu berlaku tanpa menoleh dan menjawab permintaan maaf Zee.


"Hei nona, soda apa yang kau inginkan?" penjual soda mengagetkan Zee saat memperhatikan pria itu.


"Apa kau melihatnya paman, dia itu barusan..."


"Ya ya ya pria yang aneh ya, di cuaca sepanas ini dia memakai pakaian tertutup, pasti dia buruk rupa hahaha." ucap penjual soda itu meledek pria yang barusan Zee tabrak.


"Ah paman jangan menghina begitu, mungkin saja dia sakit, oke berikan aku soda gembira dengan lemon itu dua medium cup." pinta Zee.


"Oke nona cantik pesanan mu akan segera ku siapkan." ucap penjual soda itu.


Zee menghampiri Theo dengan membawa dua gelas plastik soda lemon ditangannya.


"Ini minumlah, ini akan menyegarkan di cuaca sepanas ini." ucap Zee sambil menyerahkan satu gelas itu pada Theo.


"Terima kasih." sahut Theo lalu membuka bagasi mobilnya.


"Letakkan disini Tuan Smith." ucap Theo pada pemilik kedai.


"Kau pasti dan keluarga mu sangat menyukai ikan hasil tangkapan ku ya?" tanya Tuan Smith.


"Hahaha tentu saja." sahut Theo menutup bagasi mobilnya kembali.


"Wah wah wah siapa gadis cantik ini? biasanya kau hanya membawa Alena sepupumu kesini, apa si cantik ini pacarmu?" tanpa basa basi lagi pertanyaan itu terucap dari bibir tuan Smith.


****


To be continued... Happy Reading...


Selamat menjalankan ibadah puasa ya buat kalian yang menjalankan.