9 Lives

9 Lives
Mencium Theo



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


"Dari mana kau tau ulang tahun ku?" tanya Zee.


Theo pura-pura tak mendengar Zee dan pergi meninggalkannya.


"Dasar aneh!" gumam Zee.


Zee berpapasan dengan V di tangga sekolah.


"Hai V..!" sapa Zee.


Rupanya V tak membalas sapaan Zee.


"Kenapa dia?" tanya Zee pada Rose di belakangnya.


"Menurutmu?" ucap Rose menyenggol bahu Zee dan pergi mengikuti V ke kelasnya.


"Huh sudahlah, kalau kalian marah padaku." gumam Zee.


****


"Hai Zee." Alena menyapa Zee yang sedang makan di kantin bersama Lia.


"Hai Alena." sapa Zee.


"Zee, kau bertemu Theo kan tadi pagi? kau jadi diantar dia ke sekolah?" tanya Alena.


"Bagaimana kau tahu?" Zee balik bertanya.


"Dia menelepon ku lalu menyuruhku pergi dengan supir, dia bilang dia akan menjemputmu, tau tidak dari jam 6 pagi dia sudah pergi." Alena menjelaskan.


"Tapi aku bertemunya jam 7, dia hilang lewat di depan rumah ku."


"Wah... jangan-jangan Theo menunggumu Zee, kabar baik ini." sahut Lia menyela.


"Tidak, dia hanya lewat di depan rumah ku." Zee mengucap kesal.


"Hahaha... Zee sadarlah sepupuku itu menyukaimu." ucap Alena.


"Ha... ha... lucu sekali, dia tidak mungkin menyukai ku, dia kan selalu menindas ku." ucap Zee.


"Justru itu dia mencari perhatianmu." Alena meminum jus berry nya.


Tangan Zee tiba-tiba membiru, Zee merasa tubuhnya lemas.


Bagaimana mungkin racun itu masih ada di tubuhku, aduh bagaimana ini


Zee bergegas menuju kamar mandi.


"Zee kau mau kemana makanan mu ini bagaimana?" pekik Lia tapi Zee tak menoleh ia bergegas pergi ke toilet.


"Ada apa dengan mu?" Theo menabrak Zee yang menuju toilet.


"Kenapa wajah mu terlihat biru?" Theo penasaran dengan Zee yang menutupi wajahnya namun Theo melihat punggung nya yang membiru. "Zee kau..."


Zee menarik Theo ke dalam toilet, mendorong Theo duduk di atas kloset.


"Maafkan aku Theo." ucap Zee lirih lalu mencium Theo, Zee menghisap kehidupan dari Theo.


Zee melepas ciumannya, lalu dia membopong tubuh Theo keluar toilet.


"Untung tak ada yang melihatku." gumam Zee sambil membopong Theo menuju ruang UKS.


"Mau ku bantu?" sapa seorang murid pria yang melintas di depan Zee.


"Oh boleh." sahut Zee.


"Apa yang terjadi dengannya?"


"Aku tak tau dia pingsan di depan toilet." ucap Zee berbohong.


"Oh, ini Theo Sebastian kan murid tingkat 3 A disini?"


"Iya, dia sekelas denganku." sahut Zee.


"Ada apa ini? apa yang terjadi?" tanya Miss Dee penjaga ruang kesehatan.


"Dia pingsan Miss." sahut Zee


"Letakkan ia disini!" perintah Miss Dee.


Zee pergi dari ruang kesehatan sekolah.


"Hai aku Mark, aku murid tingkat dua di sekolah ini." murid pria itu mengulurkan tangannya.


"Hai Mark aku Zee, terima kasih ya bantuannya." ucap Zee lalu pamit menuju kelas karena bel masuk telah berbunyi.


***


Sepanjang pelajaran Zee tak melihat Theo masuk lagi ke kelas.


Bagaimana kalau dia mati ya, duh...


Zee mengetuk-ngetukkan bolpoinnya ke meja.


"Zee kau tak pulang?" Lia mengejutkan Zee.


"Oh iya, ayo pulang." ucap Zee.


"Alena kenapa kau tergesa-gesa?" tanya Lia.


"Theo tak sadarkan diri, sekarang dia di rumah sakit karena tak jua sadar, tadi ibunya kemari menjemput Theo, aku duluan ya dah.." Alena pamit segera pergi dari hadapan Lia dan Zee.


Zee terdiam tak berani mengatakan apapun.


"Pantas saja tadi kita tak melihat Theo di kelas ya Zee?" tanya Lia.


"Iya." sahut Zee.


"Zee antar aku ke kamar mandi yuk." Lia menarik lengan Zee menuju toilet.


Mereka menabrak penjaga sekolah tiba-tiba.


"Maaf pak Carter aku tak sengaja." ucap Lia.


Penjaga sekolah yang baru itu hanya memandang Lia dan Zee, dia tak bersuara membalas permintaan maaf Lia, lalu dia pergi.


"Tidak kah dia menyeramkan Zee?"


"Biasa saja." ucap Zee.


"Lihat wajahnya ada bekas luka sayatan pisau, lalu matanya selalu menatap tajam, belum lagi tangan kirinya terdapat luka bakar, bahkan murid yang lain menjadikan dia bahan gunjingan sebagai tersangka pembunuh Sania." Lia menjelaskan dengan terperinci.


"Lalu dengan semua penjelasan mu itu, hanya karena fisiknya menjadikan dia tersangka pembunuhan? kalian lucu." sahut Zee.


"Ya kan bisa saja..."


"Sudahlah sana katanya mau ke toilet." ucap Zee.


"Oh iya aku lupa hehehe." Lia masuk ke dalam toilet.


"Kau bahkan tak tahu ini hari ulang tahun ku." gumam Zee.


****


Zee menunggu bis sekolah yang melintas namun sangat lama ia dapati karena hampir semua murid membawa kendaraan apalagi sekolah Zee terbilang sekolah elit untuk kaum menengah ke atas.


"Lalu bagaimana aku harus pulang huaaaaa menyebalkan kau Theo." Zee menggerutu sepanjang perjalanan.


"Hai Zee!" Mark menyapa Zee.


"Apa kau mau ku antar pulang?" tanya Mark yang mengendarai sepeda motor besarnya.


"Umm aku pulang sendiri saja." sahut Zee.


"Apa kau yakin? nanti lelah, letih , lesu tak bertenaga lho." ucap Mark meledek Zee.


Setelah berpikir panjang dan tak mungkin ia mengeluarkan mantra terbang atau cepat menuju pulang akhirnya Zee memilih pulang bersama, daripada nanti kakinya membengkak karena berjalan jauh.


"Nah gitu dong, kemana kita Zee?" tanya Mark.


"Pulang kerumahku lah." jawab Zee.


"Aku kan tak tahu rumah mu?"


"Oh iya, ayo ku arahkan sepanjang perjalanan." Zee menaruh tas ranselnya di depan dadanya menjaga jarak dengan Mark.


"Begitu mudahnya Zee ikut bersama pria baru." ucap Rose disamping V yang mengamati Zee.


"Jaga ucapan mu!" V masuk ke dalam mobilnya.


***


Happy Reading...


To be continued...