
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
****
Zee melajukan mobil Theo sampai pada halaman rumahnya untuk memarkir mobilnya.
Seorang pelayan menghampiri Zee.
"Apa yang terjadi dengan tuan muda?" tanya pelayan lalu Theo tersadar dan mencoba berdiri namun tak bisa.
Si pelayan buru-buru memapah tubuh Theo keluar dari mobilnya dan membantunya berdiri menuju ke kamar Theo.
"Aku pulang yak." ucap Zee sambil melangkah keluar gerbang rumah Theo.
Zee berpapasan dengan seorang laki-laki yang mempunyai wajah mirip Theo berada dalam mobil sedan mewah menuju ke dalam halaman rumah Theo.
Jangan-jangan dia ayahnya Theo.
Zee tersenyum lalu menundukkan kepalanya saat tuan besar yang memang ayahnya Theo memperhatikannya.
"Kirimkan supir untuk mengantarnya pastikan ia selamat sampai rumah." ucap Theo lirih.
"Baik tuan akan saya laksanakan." jawab si pelayan.
Tak lama sebuah mobil sedan sudah menghampiri Zee.
"Ayo nona kau ku antar pulang, tuan muda yang menyuruhku." ucap sang supir.
"Tak usah, aku bisa jalan sendiri." sahut Zee menolak.
"Jika nona tak mau ku antar, tuan muda akan memecat ku." wajah si supir tampak sangat cemas saat mengucapkan nya.
Zee tahu si supir tidak akan berbohong karena memang tabiat Theo yang seperti itu. Zee memutuskan untuk masuk ke dalam mobil itu pulang bersama si supir menuju rumahnya.
****
Di ruang paduan suara sekolah Briliant.
"Baiklah kegiatan paduan suara kita selesai hari ini, mari kita pulang." ucap Rose pada teman-teman paduan suaranya.
"Oke Rose, tadi itu luar biasa kita pasti akan memenangkan perlombaan itu bulan depan." sahut Tamara.
"Dimana Mark?" tanya V pada Rose.
"Tadi bukankah dia sudah keluar dengan rombongan anak laki-laki." sahut Rose
"Ah sial, dia kan harusnya membawakan laptop berisi tugas kimia kepadaku sekarang."
"Apa harus sekarang V?" tanya Rose.
"Iya kan aku belum mengerjakannya, kau sih enak sudah selesai mengerjakan nya dengan Alena." sahut V agak kesal.
"Mau ku temani?" tanya Rose lagi.
"Tak usah, aku akan mencari Mark sekali lagi." jawab V.
"Hei kalian! aku akan menutup aula ini sebaiknya kalian pulang sekarang!" petugas kebersihan Carter membentak para anak-anak paduan suara yang masih berada di aula.
"Baik Pak." jawab anak-anak kompak.
Semua keluar dari ruangan tersebut dan penjaga kebersihan Carter menguncinya lalu pergi untuk mengecek beberapa ruangan di kelas.
"Lho kemana semua orang." ucap Tamara yang tertinggal di ruang ganti.
***
Zee sampai dirumah dan berterima kasih pada sang supir yang mengantarnya pulang.
Zee bergegas menemui neneknya dan menceritakan kejadian yang dia lihat terhadap Zack.
"Apa kau melihat tanda di tangannya seperti tanganmu?" tanya nenek.
"Aku tak sempat memperhatikannya yang kutahu pedang perak itu keluar dari tangannya." jawab Zee sambil memperagakan bagaimana Zack mengeluarkan pedangnya.
"Sebentar aku sepertinya masih mempunyai buku silsilah." nenek Amelia mencari bukunya di tumpukan benda-benda tua.
"Buku silsilah?" tanya Zee.
"Ya buku silsilah, nah dapat." nenek Amelia meniup buku berdebu itu dan membuka halaman per halaman nya.
"Apa seperti ini gambar pedangnya?" nenek Amelia menunjuk sebuah pedang perak yang persis seperti yang Zack punya tadi.
"Iya benar nek ini pedangnya, lalu bagaimana Zack bisa, bisa mengeluarkan pedang ini?"
tanya Zee makin penasaran.
"Karena dia keturunan pangeran penyihir." ucap nenek Amelia.
"Hah? pangeran penyihir?"
"Ya, dia golongan kasta tinggi di tingkat penyihir namun golongannya hanya ada sedikit di dunia ini mungkin hanya sepuluh orang, dengan siapa Zack tinggal?" tanya nenek Amelia.
"Dengan neneknya, yang punya toko kue arbei itu nek, namanya nenek Anna." sahut Zee.
"Anna, apa aku pernah bertemu dengannya ya?" nenek Amelia berpikir sambil menyeruput teh panasnya.
"Entahlah nek, tapi dia hebat sekali ya nek, seorang pangeran ckckckckc pantas saja terlihat tampan." puji Zee.
"Hei dasar kau, temukan aku dengan neneknya besok." pinta nenek Amelia.
"Okay dengan senang hati nek, aku mandi dulu yak." Zee menuju kamarnya di lantai dua.
"Apa cucu mu itu jatuh cinta pada pangeran penyihir itu nek?" tanya Blue yang naik ke atas meja lalu berbaring.
"Hmmm entahlah biar kan saja Zee juga belum dewasa dia pasti belum paham apa cinta sebenarnya."
"Menurut mu nek, kira-kira apa pangeran itu dari golongan penyihir yang sama apa berbeda dengan kita?"
"Kita akan mengetahuinya besok saat aku bertemu dengan mereka, baru kita tentukan mereka musuh atau kawan." nenek Amelia membelai Blue dengan lembut.
***
Malam pun tiba Zee keluar dari jendela kamarnya diam-diam. Zee tahu jika ia minta ijin nenek untuk menemani paman Joseph berburu nenek pasti akan melarang.
Zee mengetuk pintu rumah Joseph.
"Hai paman." sapa Zee.
"Kau ini ya benar-benar tidak menurut." ucap Joseph saat membuka pintu rumahnya.
"Sudahlah ayo kita berburu, aku sudah tak sabar makhluk apa yang akan kita dapat hari ini." ucap Zee.
"Jangan senang dulu, anak muda." sahut paman Joseph menepuk kepala Zee.
***
Bersambung....
Happy Reading....