9 Lives

9 Lives
Zee Pamit (Part 2)



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


*****


Zee memutuskan untuk mengunjungi Theo terakhir kalinya. Sang pelayan mengantarnya menuju kamar Theo dan mempersilahkan Zee masuk ke dalam kamar Theo.


"Kemarilah." Theo menepuk sisi kasur di sampingnya berharap Zee akan duduk disana meski rasanya tak mungkin melihat Zee akan menurut padanya.


Akan tetapi, Zee tiba-tiba duduk di samping Theo di atas ranjangnya membuatnya tersentak dan bergeser.


"Ouch... " Theo menyentuh punggungnya yang cidera.


"Apa kau tak apa-apa?" tanya Zee.


Theo menggeleng, tersenyum meski menahan sakit.


"aku mau bilang sesuatu, eh tak jadi deh."


Zee hendak berdiri, namun Theo buru-buru menahannya.


"Duduk kembali!" perintah Theo menarik tangan Zee.


"Kau mengkhawatirkan ku ya?" tanya Theo.


"Ummm... yaaaa bolehlah jika kau mau bilang begitu, tetapi aku juga mau pamit."


sahut Zee.


Raut wajah Theo berubah menjadi sangat terkejut dengan ucapan Zee.


"Kau mau pamit?" sahut Theo dengan dahi mengernyit yang berdenyut.


"Iya, aku akan pindah sekarang, harus pindah." sahut Zee.


"Kenapa kau mau pindah? dua hari lagi kan upacara wisuda angkatan kita, kau harus datang." ucap Theo.


Zee mengangkat kedua bahunya.


"Tak taulah, anggap saja aku datang, tapi aku tak akan datang." Zee tersenyum pada Theo.


"Kau itu ya Zee." Theo mencubit kedua pipi Zee.


"Kenapa sih aku tak bisa melupakanmu? kau itu seperti penyihir yang menyihir ku untuk jatuh cinta padamu tau, apa jangan-jangan kau memang seorang penyihir?" tanya Theo.


"Hahahaha kau lucu sekali sih." sahut Zee.


aku memang seorang penyihir Theo, pertarungan ku akan segera di mulai, aku takut tak bisa kembali lagi padamu.


"Kau seorang penyihir kan Zee? aku mendengarnya saat Mark mencekik mu dan kau memantrai pisaunya aku juga lihat hanya saja aku tak dapat bergerak saat itu."


ucap Theo menatap Zee dengan pandangan tajam namun penuh cinta.


Zee hanya terdiam tak berani menatap Theo, dia juga tak berani menjawab pertanyaan Theo.


Theo menyentuh dagu Zee dan mengangkatnya untuk mempertemukan sepasang matanya dengan mata Zee.


"Meskipun kau seorang vampir atau nenek sihir pun, aku tak perduli, dan aku akan tetap menyukaimu, karena aku mencintaimu Zee." Theo menggenggam kedua tangan Zee.


Saat mendengar ucapan Theo entah kenapa Zee malah merasa sedih. Hari itu Zee sudah menetapkan hatinya untuk tuan muda tampan yang menyebalkan ini. Akan tetapi, membalas cinta Theo hanya akan membuatnya terbunuh. Karena Zee tahu, Theo tak akan membiarkan diri Zee celaka, malah dia akan merelakan dirinya sendiri yang celaka.


"Aku... aku... maaf aku harus pergi, aku hanya akan membahayakan dirimu." ucap Zee melepas genggaman Theo lalu berdiri untuk keluar dari kamar Theo.


"Zee tunggu." Theo mencoba menahan Zee namun tak bisa bergerak punggungnya masih terasa sakit.


Zee berbalik lalu menghampiri Theo. Dia memberikan kecupan selamat tinggal di bibir Theo membuatnya membeku sambil menyentuh bibirnya dengan jari jemarinya.


"Aku memilihmu... aku pamit." bisik Zee.


Zee bergegas pergi keluar dari kamar Theo menahan tangisnya. Langkahnya terhenti saat melihat mobil kayu itu sudah utuh dalam sebuah kotak kaca bertuliskan "My Love".


Air matanya tak bisa lagi terbendung, Zee berlari segera keluar dari rumah besar Theo.


"Zee TUNGGU...!!! AAARRGHHHH... ZEE.....!!!"


teriakan Theo terdengar sampai halaman rumahnya membuat seluruh pelayan panik dan menghampirinya.


Zee sudah berlalu menuju rumahnya.


***


"Apa ini? kenapa kalian berkumpul?" tanya Zee pada semua mata yang memandangnya.


"Kita harus bersama." sahut nenek Amelia.


"Lalu dimana Theodore?" tanya Zee.


"Aku disini." sahut Theodore yang mengecil dan berada di sebuah kotak seperti rumah.


"Hahaha bagaimana kok bisa sekecil kecoa?" Zee menertawakannya.


"Sudahlah ayo kita bergegas!" ucap kakek Adam masuk ke dalam Van yang dikemudikan Zack bersama nenek Anna.


Joseph mengemudikan mobil pick up nenek Amelia, Zee dan neneknya berada di sampingnya sambil memangku Blue.


***


Para lycan datang mengepung rumah Zee yang kosong dan membakarnya sampai tak bersisa lalu mereka pergi.


Theo yang memantau dari kejauhan karena sebelum sampai kesana ia melihat para lycan membakar rumah Zee. Theo memaksakan dirinya bertemu Zee lalu ia bersembunyi di balik pepohonan besar.


"Cari mereka sampai dapat atau sang ratu akan membunuh kita semua!" ucap salah satu lycan yang dilihat Theo.


"Makhluk macam apa itu?" gumam Theo lalu memutuskan untuk mengikuti para lycan itu, berharap akan bertemu Zee meski punggungnya masih terasa sakit.


***


Zee dan kawanannya sudah tiba di sebuah negara baru jauh dari kota Fisher. Kakek Adam memutuskan untuk menetap di atas bukit dalam hutan. Mereka bekerja sama untuk membuat rumah dari kayu disana. Entahlah apa masih ada lagi penyihir seperti mereka atau hanya tinggal mereka sehingga mereka harus tetap bersama mempertahankan rasnya.


Kakek Adam memutuskan untuk melaksanakan rapat. Dia memberi ide untuk menjodohkan Zack dan Zee dan membuat pernikahan untuk mereka. Pernikahan itu dilakukan agar Zack dan Zee bisa menghasilkan keturunan penyihir lagi.


Zack menyetujuinya namun Zee hanya terdiam dan pergi dari rapat malam itu untuk menghindar.


Ada yang lebih kecewa lagi saat mendengar Zee akan dinikahkan dengan Zack yaitu Joseph. Sedari tadi Joseph tak mau menghadiri acara rapat itu, dia memilih pergi ke pinggiran sungai.


"Siapa aku? kenapa aku berharap pada gadis muda itu? bodohnya aku." gumam Joseph memandangi wajahnya di permukaan air sungai yang terpantul cahaya bulan.


Di sisi lain, Zee sedang merenung memandang bulan. Ia lupa kalau ia melupakan ponselnya di rumahnya, padahal ia ingin sekali melihat Alena dan Theo berfoto dengan toganya.


"Hmmm... selamat ya Zee kau lulus sekolah juga." gumam Zee pada dirinya sendiri.


Zee memandangi gelang pemberian Theo.


"Apa yang sedang kau lakukan ya sekarang?" gumam Zee mengangkat tangannya ke atas sambil memandangi gelangnya yang berkilau.


"Ehm.. apa aku mengganggumu Zee?" Zack menghampiri Zee.


"Tidak kok, tapi maaf ya Zack entah mengapa aku merasa belum siap jika kita menikah." Zee menatap Zack.


"Iya tenanglah, tadi itu hanya rasa khawatir kakek Adam saja pada ras kita." sahut Zack.


"Terima kasih Zack." ucap Zee.


"Tapi, apa aku boleh bertanya padamu?"


"Tanya apa?"


"Kau... ummm... kau sebenarnya menyukaiku atau tidak sih Zee?"


Pertanyaan Zack membuat Zee tersentak dan terdiam, hanya menatap Zack di bawah pantulan sinar bulan malam itu.


*****


To be continued...


Bersambung...


Jangan lupa mampir ke novel baruku


"With Ghost"


dan baca novel ku lainnya ya guys...


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Pocong Tampan


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘😘