9 Lives

9 Lives
Perpustakaan Kota



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


***


Ban mobil Theo mengalami pecah ban saat pulang sekolah.


"Tak usah ya, ini sudah sore nanti aku kemalaman kan ada yang harus ku kerjakan dengan Zack." ucap Zee turun dari mobil.


"Tapi Zee..." Theo menahan Zee pergi.


"Maaf Theo tapi kami buru-buru." sahut Zee langsung menerima helm yang Zack berikan padanya dan memakainya.


Zee naik membonceng sepeda motor Zack lalu melambai pamit pada Theo. Zack juga melambai dengan tersenyum penuh kemenangan menatap Theo lalu pergi.


"Dasar sial, awas kau Zack." umpat Theo menggebrak kap mobilnya memandangi Zack dan Zee yang pergi menjauh darinya.


***


Di sebuah toko buah di pinggir kota Fisher.


"Ariana, pergilah ke tempat paman, ambilkan sekotak anggur dan sepeti jeruk di rumahnya." ujar seorang wanita paruh baya yang di panggil ibu oleh Ariana.


"Ah... aku kan mau menonton TV Bu acara kesukaan ku akan segera di mulai." sahut Ariana dengan raut wajah agak kesal.


"Ayolah, jika kau tak mau aku tak akan memberikan mu uang jajan." ucap Ibu Ariana.


"Ah kenapa sih ibu selalu mengancam ku dengan uang jajan, huh." Ariana beranjak dari tempat duduknya.


"Baik aku akan pergi menuruti perintah mu ibuku tersayang." Ucap ariana lalu menaiki motor skutik nya menuju rumah paman.


"Hati-hati ya Ari." sahut ibunya Ariana.


Saat perjalanan Ariana menuju rumah pamannya, ia tak sengaja menabrak seorang pria yang keluar dari dalam hutan.


"Ah sial, kenapa sih dia datang tiba-tiba begitu." Ariana melirik kaca spionnya melihat pria yang ia lindas kaki nya secara tak sengaja sedang mengaduh kesakitan.


Ariana turun dari motornya dan menepi.


"Tuan apa kau tak apa?" tanya Ariana.


"Kaki ku sakit sekali, mau kah kau mengantarku ke rumah ku disana?" tunjuk pria itu.


"Rumah disana? apa kau tinggal di dalam hutan?" tanya Ariana.


"Bukan di dalam hutan hanya di dekat sana." sahutnya.


"Baiklah ayo ku antar kau ke rumah mu." ucap ariana lalu membopong pria itu dan membantunya naik ke atas motor skutik Ariana menuju rumah pria itu.


"Wah rumah mu bagus sekali tuan, meski kecil tapi ini sangat bagus lho, aku baru tau." ucap ariana yang penuh takjub melihat bangunan mungil nan rapih dan terlihat mewah dengan barang-barang mahal di dalamnya.


"Apa tidak sebaiknya kau ke dokter tuan? bagaimana jika kau mengalami patah tulang karena tindakan ku tadi?" tanya Ariana.


"Aku sudah punya penyembuhnya tidak usah ke dokter, mari masuk."


Ariana membantu tuan itu untuk berjalan.


"Wah benar-benar bagus lho rumahmu, apa kau tinggal sendirian?" tanya Ariana penuh keingintahuan.


"Iya aku tinggal sendiri, apa kau mau membantu mengobatiku?" tanya pria itu.


"Karena aku yang membuat mu begini tentu saja aku akan membantu mengobati mu." sahut Ariana.


"Siapa namamu?" tanya nya.


"Namaku Ariana, siapa nama tuan?" Ariana bertanya balik pada pria itu.


"Panggil saja Mr.Black." sahutnya.


"Haha lucu sekali kau berkulit putih tetapi namamu Mr. Black." ucap Ariana tak bisa menyembunyikan perasaan lucunya terhadap nama tuan tersebut.


"Kau yang tampak lucu sekali, mendekatlah kemari, kau mau membantuku sembuh kan?" tanya pria itu.


"Iya, bagaimana caranya aku membantu mengobati lukamu?" tanya Ariana.


Pria itu menarik lengan Ariana dan menggigit nya segera, pria itu menghisap darah dari tangan Ariana.


"Ke... ke... kenapa ini terasa pa...panas." Ariana tak sadar kan diri jatuh ke lantai.


***


"Ini kan perpustakaan kota ya pasti ada bukunya hanya saja jangan mencarinya di tempat umum." sahut Zack.


"Lalu dimana kita bisa mencarinya?" Zee mencoba memindai dengan seksama buku-buku di perpustakaan itu.


"Nenek ku bilang ia akan berada disini." Zack menarik lengan Zee membawanya ke sebuah lorong di sudut belakang perpustakaan dekat dengan toilet.


Zack menekan salah satu batu bata di sana yang membawanya dan Zee ke sebuah gang sempit yang membuat mereka harus berjalan menyamping.


"Mencari buku saja susah sekali sih harus melewati ini." Zee menggerutu sambil berjalan menyamping membiarkan tangannya di genggaman Zack.


"Kita sampai, harusnya ada seorang kurcaci tua yang menunggu disini?" Zack melihat sekeliling.


"Maksudmu dia." Zee menunjuk seseorang yang berdiri di belakang Zack.


"Dimana?" tanya Zack.


"Aku disini anak muda." sosok itu menarik bagian bawah kemeja yang Zack pakai.


"Oh maaf aku tak melihat mu tuan, aku tak menyangka kau hanya setinggi pinggangku." ucap Zack.


"Ya ya ya terima kasih atas pujian mu, apa yang kalian lakukan di sisi rahasia perpustakaan kota ini?" tanya nya.


"Begini tuan..."


"Miguel, namaku Miguel." sahut kurcaci itu.


"Baiklah tuan Miguel, kami hendak mencari sebuah buku tentang lycan." ucap Zack yang langsung membuat Miguel terkejut menoleh pada Zack dan Zee sambil mengamati mereka.


"Ada keperluan apa kau mencari buku itu?" tanya Miguel.


"Kami ingin melawannya." sahut Zack.


"Dengan usia semuda kalian berniat melawan lycan, bukan kah itu sama saja dengan bunuh diri?" Miguel mengernyit dahinya.


"Kami akan belajar, nenek kami yang menyuruh kami dan kami akan di latih oleh manusia serigala besar yang melegenda." sahut Zack sementara Zee masih terdiam dengan kedua matanya masih mengamati sekeliling nya.


"Boleh kulihat lengan mu?" Miguel meminta Zack mengulurkan lengannya.


Miguel menyentuhnya sambil menutup mata.


"Tidak mungkin, bagaimana mungkin kau keturunan sang ratu, apa kau seorang pangeran penyihir?" tanya Miguel dan Zack mengangguk.


"Lalu gadis itu?" tanya Miguel.


"Dia sama sepertiku." sahut Zack.


"Boleh kulihat lengan mu wahai gadis cantik?"


tanya Miguel meminta lengan Zee.


Zee memandang Zack sesaat.


"Berikan lenganmu padanya Zee." ucap Zack.


Akhirnya dengan takut-takut Zee mengulurkan lengannya.


"Hmmmm rupanya kau sering menyia-nyiakan nyawamu ya, sisa berapa lagi yang kau punya?" tanya Miguel pada Zee.


"Sepertinya tiga lagi." sahut Zee.


"Hahaha kau itu penyihir kuat namun kebodohanmu yang membawamu celaka." ucap Miguel.


Zee melepas paksa genggaman Miguel.


"Tapi aku tak merasa bodoh." sahut Zee agak kesal.


"Saran ku ya berhentilah kau mencari masalah wahai gadis cantik." ucap Miguel lalu ia menuju sebuah rak buku dan memindai.


"Ini, ada dua buku yang bisa kalian pelajari, aku harap kalian benar-benar mempelajarinya ya, karena bangsa ini juga merenggut kaumku bahkan keluargaku." ada kesedihan buang tersirat di wajah Miguel kala itu saat menyerahkan dua buku tersebut.


****


To be continued...


Alias bersambung....


Selamat menjalankan ibadah puasa 😘😘😘


Salam dari Pocong Tampan 😊😁