9 Lives

9 Lives
Di Rumah Zee



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it πŸ’πŸ˜˜πŸ˜Š


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


"Ini, ada dua buku yang bisa kalian pelajari, aku harap kalian benar-benar mempelajarinya ya, karena bangsa ini juga merenggut kaumku bahkan keluargaku." ada kesedihan yang tersirat di wajah Miguel kala itu saat menyerahkan dua buku tersebut.


"Terima kasih Tuan Miguel, kami akan menjaga dan mempelajari buku ini dengan baik." ucap Zack menyerahkan satu buku itu kepada Zee.


"Ayo kita kembali Zack." ucap Zee.


"Baiklah, Tuan Miguel sepertinya saya dan Zee harus pamit dan kembali ke rumah." ucap Zack menjabat tangan Miguel.


"Berhati-hatilah saat pulang." sahutnya yang membalas jabatan tangan Zee juga.


Zack dan Zee lalu pamit pergi dari perpustakaan itu.


"Karena belum malam apa kau mau mampir ke toko es krim?" ajak Zack.


"Ummm aku merasa lelah sih aku mau pulang saja, toh nanti malam kita bertemu lagi untuk mempelajari buku ini." ucap Zee.


"Baiklah kalau begitu, ayo ku antar kau pulang."


Zack menyalakan mesin motornya, lalu Zee langsung naik membonceng di jok belakang.


Keduanya menuju rumah Zee.


"Terima kasih ya atas tumpangannya." ucap Zee ketika sampai di halaman rumahnya.


"Iya sama-sama, sampai jumpa nanti malam ya, jaga kedua buku itu baik-baik." ucap Zack sambil memeluk Zee lalu pamit mengendarai motor nya dan pulang.


"Kenapa dia suka sekali sih memeluk ku, kan jantung ku jadi berdegup kencang ini." gumam Zee lalu berjalan menuju rumahnya.


"Tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat mobil putih itu, tapi dimana ya, hmmm coba ku ingat-ingat." Zee memperhatikan sebuah sedan berwarna putih terparkir tak jauh dari rumahnya.


"Ya aku ingat pernah lihat mobil itu dimana, mobil ini pasti milik..."


"Hai, kenapa kau pulang lama sekali." sapa Theo saat Zee membuka pintu rumahnya.


"Milik pria menyebalkan ini." ucap Zee.


"Apa yang kau katakan barusan?" Theo samar-samar mendengar ucapan Zee.


"Kau mengumpat pada ku ya?" Theo bertolak pinggang di hadapan Zee


"Tidak aku tak mengatakan apa-apa sih, dimana nenek ku?" tanya Zee.


"Dia bilang mau ke kebun belakang mengambil buah anggur yang sudah masak."


sahut Theo kembali duduk di sofa rumah Zee dengan cemilan yang dia bawa menumpuk di atas meja ruang tamu Zee.


"Sepertinya kau betah sekali di rumahku ya, sekalian saja kau bawa pakaian mu dan tidur disana." ucap Zee dengan tatapan sebal pada Theo.


"Wah memangnya boleh ya? kenapa aku tak berpikir sampai kesana ya, kan aku jadi lebih mudah mengantar mu dan menjemput mu sekolah." sahut Theo dengan wajah senang terpampang di sana.


"Wah iya benar, tentu saja boleh... tapi ke esokan nya kau mati karena ku beri racun." sahut Zee melotot pada Theo.


"Hahaha kau tak akan berani melakukan itu, kau kan membutuhkan ku." sahut Theo sambil memindah Chanel TV yang ingin ia tonton.


"Cih percaya diri sekali makhluk ini." gumam Zee.


"TV mu ini kecil sekali sih, mataku sakit tau melihatnya, besok ku bawakan tv yang besar untuk nenekmu." ucap Theo.


"Sepertinya kau sangat menyukai nenek ku, kau sangat memperhatikan barang-barang di rumah ini bahkan mau menggantinya, oh iya ngomong-ngomong aku juga tak keberatan memanggil mu kakek ku." Zee tertawa dan bergegas menaiki tangga menuju kamarnya.


"Apa Zee sudah pulang?" tanya nenek Amelia yang baru masuk dari pintu belakang membawa sekeranjang anggur di tangannya.


"Sudah nek, sini ku bantu." Theo langsung menghampiri nenek Amelia.


"Kau memang pemuda yang baik ya." puji nenek Amelia.


Ini pertama kalinya aku mau membantu orang lain dan membawa keranjang berat begini, ini semua karena mu Zee.


Theo mengangkat keranjang penuh anggur itu menuju dapur.


"Nenek mau membuat apa dengan anggur ini?" tanya Theo.


"Aku mau membuat minuman menyegarkan dan juga kue." sahut nenek Amelia sambil memisahkan anggur yang baik untuk minuman dan anggur untuk membuat kue.


"Hmmmm pasti enak, aku boleh mencicipinya nek?" Theo membantu memilih anggur -anggur tersebut.


"Tentu saja, tunggulah sampai kue nya matang kalau minuman aku akan membuatnya besok." nenek Amelia tersenyum dengan kerutan di wajahnya.


"Hari sudah malam tidakkah kau ingin pulang?" Zee turun dari tangga langsung menuju dapur tempat Theo menemani nenek Amelia memilih anggur.


"Kau mengusirku ya? nenek mu saja menyuruhku untuk tinggal sampai kue matang, ya kan nek?" tanya Theo menoleh ke nenek Amelia.


"Iya biarkan dia tinggal." sahut nenek Amelia.


Ah nenek aku kan mau berlatih bersama Zack malam ini mempelajari lycan bersama paman Joseph, kalau ada Theo disini bagaimana dengan latihan ku dan Zack.


Zee memandang geram dan kesal pada Theo.


"Dari pada kau berdiri di situ memandangiku lebih baik kau kemari membantu nenekmu membuat kue." Theo melirik ke arah Zee.


"Dasar orang aneh." sahut Zee.


"Lho kenapa kucing itu wajahnya seperti tersenyum ya barusan?" Theo menunjuk ke arah Blue.


Nenek Amelia dan Zee langsung menahan tawanya.


"Kurasa ada yang salah dengan matamu." sahut Zee masih mencoba menahan tawanya.


"Tapi tadi aku... tadi ... ah sudah lah kucing itu sebenarnya cantik ya, mungkin bisa ku adu dengan Bruno hahahaha." ucap Theo sambil terpingkal memegangi perutnya


Blue memandang Zee penuh ingin tahu tentang Bruno. Zee paham dan sadar dengan tatapan Blue.


"Bruno itu campuran anji*g dan serigala nek, besar sekali, kurasa bagus juga jika Blue bertemu dengan Bruno hahahaha." sahut Zee menertawakan Blue yang langsung pergi menuju lantai dua tak mau mendengar lagi tapi masih berusaha mengintip dan menguping pembicaraan di bawah.


"Sepertinya kucing itu mengerti apa yang kita katakan?" tanya Theo.


"Ya dia memang kucing pintar." sahut nenek Amelia yang sekarang sudah mengaduk adonan kue anggur.


Bel pintu rumah Zee berbunyi.


"Biar aku buka." ucap Zee.


Ternyata Zack sudah berdiri di depan pintu rumah Zee kala itu. Zack terkejut saat melihat Theo sudah berdiri di dalam rumah Zee.


"Wah ini akan seru sekali nih." gumam Blue mengintip dari tangga rumah.


***


To be continued...


Alias bersambung ya semuanya.


Selamat menjalankan ibadah puasa tetap dirumah jaga kesehatan jaga jarak jaga aman buat kalian semua, semoga pandemi ini segera berakhir aamiin 😘😘😘


Salam dari Pocong Tampan mohon dukungannya ya buat vote karena vote kalian sangat berarti lho buat Vie, Komen juga ya ditunggu kritik sarannya😊😁