
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
****
Zee mendekatkan wajahnya ke hadapan Theo, tiba-tiba Theo membuka matanya tepat saat mata Zee sedang menatapnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Theo mengagetkan Zee. Zee yang terkejut mendarat di atas dada Theo seketika.
"Kau sengaja ya mau memelukku?" ucap Theo
"Ih enak saja, apa untungnya aku sengaja memelukmu cih." sahut Zee kembali ke posisinya berdiri tegap.
"Sebenarnya kau apakan aku sih? dokter bilang aku keracunan makanan, tapi setahuku tak ada makanan aneh yang ku makan." Theo mencoba menjelaskan pada Zee.
"Lho aku mana tau, tapi kau tak merasa lemas?" tanya Zee penasaran.
"Aku lemas sih merasa cepat lelah, seperti orang yang berlari seharian memutari blok ini."
"Ya sudah kalau begitu kau tidur saja, aku mau pulang." ucap Zee yang hendak melangkah keluar namun tangannya tertahan oleh Theo.
Theo menarik tangan Zee sehingga jatuh ke atas ranjang Theo dalam posisi duduk di samping Theo.
"Kau jelas-jelas mencium ku dan membuat ku tak sadarkan diri, apa yang kau lakukan padaku?" Theo menatap tajam ke arah Zee.
"Um bukan kah dokter bilang kau keracunan makanan? mungkin itu reaksinya saat kau di toilet, atau mungkin saat aku, emmm... mencium mu kau sangat menyukai nya sampai pingsan hehehe." Zee tak berani menatap Theo.
"Apa iya seperti itu?" Theo menarik Zee mendekat dan mencium Zee secara paksa.
"Um... lepas!" Zee mendorong Theo terlalu keras membuatnya punggungnya membentur tepi dinding kasur.
"Awww.... sakit sekali, aku yang sedang lemah apa memang tenaga mu seperti pria sih mengerikan." ucap Theo mengelus punggungnya sendiri.
"Lain kali aku bisa lebih mengerikan dari ini." Zee pamit pergi membuka pintu kamar Theo.
"Zee tunggu..."
Theo tak dapat mengejar Zee karena tiba-tiba dia merasa amat kelelahan. Theo tersenyum puas sambil menyentuh bibirnya.
"Kurang ajar kau, awas..." langkah Zee terhenti kala melihat miniatur mobil yang terbuat dari kayu terpajang rapih di suatu meja hias.
"Mobil yang ini sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?" gumam Zee.
"Hallo apa yang kau lakukan disini?" sapa seorang ibu yang wajahnya mirip sekali dengan Theo.
"Maaf nyonya saya hanya melihat mainan ini." ucap Zee sambil mengamati wanita cantik nan anggun di hadapannya.
dia pasti ibunya Theo, wajahnya mirip sekali apalagi pada bagian bibirnya, bibir Theo itu sangat... ah apa yang aku pikirkan ih menyebalkan.
"Kau siapa ya?" tanya ibu itu.
"Saya Zee, saya baru menjenguk Theo." jawab Zee
"Oh kau temannya ya, aku pikir Theo tak akan punya teman selain sepupunya sendiri Alena." senyum yang menawan menghiasi wajahnya.
"Halo nyonya namaku Zee, senang berkenalan dengan mu." ucap Zee.
"Hai Zee, kau sudah menemui Theo?"
"Iya sudah, saya hendak pulang nyonya." ucap Zee.
"Baiklah kalau begitu hati-hati ya di jalan." nyonya Demmi tersenyum pada Zee dan melambaikan tangannya.
****
"Bagaimana aku pulang ini, tak ada kendaraan, mana ponsel Alena tak bisa ku hubungi lagi." Zee menghentakkan kakinya dengan gemas ke trotoar tempatnya berpijak.
"Hai Zee, apa yang kau lakukan disini?" Zack menyapa Zee dengan membawa sepeda motor skutiknya.
"Hai Zack, kebetulan aku boleh menumpang tidak aku mau pulang?" tanya Zee penuh harap.
"Tentu saja boleh tapi aku harus mengantar kue ke jalan Orchid apa kau mau ikut?" tanya Zack.
"Terserah deh asal aku bisa ikut menuju jalan pulang." sahut Zee.
"Baiklah ayo naik!" ajak Zack.
Zack membawa Zee mengantarkan kue menuju jalan Orchid.
"Rumah ini sepi sekali Zack, apa kau tak salah alamat?" bisik Zee pada Zack.
"Aku tak salah kirim kok, benar ini alamatnya,jalan Orchid nomor tiga belas B."
"Kenapa perasaanku tak enak ya?" bisik Zee kembali.
"Tenang lah jangan berpikir berlebihan."
Tak lama pintu rumah itu terbuka. Seorang laki-laki kecil membuka daun pintu dan mempersilakan keduanya masuk.
"Apa ada yang bernama nyonya Soraya?" tanya Zack.
"Sebentar kak, itu mama saya." anak itu berlari memanggil mamanya, dan pergi ke dalam meninggalkan Zack dan Zee di depan pintu rumah.
"Anak itu lucu ya, tapi seperti nya ada yang aneh dengan anak itu." ucap Zee mencoba berfikir.
"Apa yang aneh Zee?" tanya Zack.
"Anak itu, anak itu berkaki tiga, Zack." ucap Zee yakin.
"Kau salah lihat kali" ucap zack.
"Aku serius Zack kau kau lihat saja kakinya itu ada..." ucapan Zee terhenti melihat sosok di hadapannya itu.
****
To be continued...
Happy reading... love u all stay safe ...