
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie
semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
****
"Hahaha kau lucu sekali." ucap Zee.
"Awas kau ya Zee aku akan membalas ku." ancam Theo lalu ia langsung menghampiri Zee dan menggelitik perut Zee dengan tangannya.
"Lepas, lepas hentikan !" pinta Zee pada Theo namun Theo tak juga menghentikan aksinya.
"Aku tak akan melepaskan mu, rasakan ini." ucap Theo makin jadi membuat Zee tertawa karena kegelian. Keduanya asik bercanda sampai lupa waktu dan hari mulai malam.
"Astaga, ini sudah terlalu sore, senja mulai datang." ucap Zee menepuk bahu Theo yang masih bercanda dengan Natti dan kedua anaknya.
"Baiklah ayo kita kembali." sahut Theo.
"Tunggu, aku tadi mau memberi mereka nama, bagaimana kalau Natta dan Nitta, lihat mereka berbeda kupikir ini jantan dan ini betina sama seperti Natti." ucap Zee
"Nama macam apa itu hahaha?" tanya Theo sambil menertawakan Zee.
"Kau juga menamainya Natti, nama macam apa itu hayo?" Zee bertanya balik pada Theo.
"Okay terserah kau saja, oh iya Natti tetaplah disini jaga mereka sampai besar, hindari manusia, jangan pergi ke permukaan, kupikir ikan satu peti ini cukup untuk mu selama dua atau tiga hari, nanti aku dan Zee akan kembali membawakan ikan segar lagi ya."
ucap Theo mencium kepala Natti dan diberi balasan dengan suara Natti yang khas dan parau seperti anjing laut.
Tidakkah Theo sangat manis memperlakukan Natti seperti itu, ah ada apa denganku kenapa aku makin kagum dengannya ya, bangunlah Zee hentikan ocehan mu ini.
Zee menepuk kedua pipinya agar tak memikirkan Theo terus.
"Bye Natti, bye Natta bye Nitta, nanti aku akan kembali lagi menengok kalian." pamit Zee melambaikan tangannya lalu bersama Theo menyelam kembali menuju permukaan.
"Aku akan mengantarmu pulang." ucap Theo saat tiba ke permukaan dan kembali berpakaian seperti semula.
"Kau memang harus mengantarku pulang kan?" sahut Zee memukul bahu Theo dan berjalan menuju mobil Theo di pinggir hutan.
"Kau dengar itu Zee?" Theo menghentikan langkahnya.
"Dengar apa?" tanya Zee penasaran dan waspada.
"Ada sesuatu di rumah itu." bisik Theo.
Rumah di dalam hutan itu kan milik ayah Alena, tempatnya melakukan pembunuhan waktu dulu, dan tempat saat Zee menghabisinya, bukan kah rumah itu sudah tak berpenghuni, apa ada yang menggunakannya lagi ya?
batin Zee masih waspada dengan Theo mengamati rumah tersebut.
"Sebaiknya kita pergi Theo, ini akan membahayakan kita, apalagi hari mulai malam." bisik Zee pada Theo dia takut Theo akan terluka dan dia juga takut jika harus mengeluarkan kekuatan penyihirnya di depan Theo nanti.
"Tunggu ini membuatku penasaran." bisik Theo lalu mengendap-endap menuju rumah kosong itu.
Sosok bertudung dengan mantel hitam yang tebal keluar dari rumah kosong itu.
"Siapa ya orang itu Zee kira-kira?" bisik Theo.
"Theo kau parkir dimana mobilmu?" tanya Zee dengan berbisik pada Theo.
"Disana, aduh gawat dia berjalan ke arah mobilku." Theo mengusap wajahnya frustasi.
"Ayo lekas kita menuju mobilmu." Zee dan Theo lalu berlari menuju mobilnya tapi sosok bertudung itu menghilang.
"Kemana dia pergi Zee?" tanya Theo mengamati sekeliling.
"Aku tak tahu, sudahlah ayo lekas kita pulang, aku merasa ini terlalu berbahaya." ucap Zee menarik tangan Theo agar masuk ke dalam mobil.
"Tapi untuk apa dia berada di dalam rumah kosong dalam hutan itu ya?" gumam Theo.
"Sudahlah ayo lekas kita pulang agar kau juga tak terlalu malam pulang kerumah mu, terlalu banyak bahaya di kota Fisher." ucap Zee.
"Apa kau tahu pemilik rumah kosong dalam hutan itu?" tanya Zee.
"Dulu rumah itu milik keluarga ku dan Alena, tapi karena jarang kita pakai akhirnya terbengkalai begitu saja." sahut Theo.
Berati siapapun bisa ada disana karena rumah itu sudah tak terpakai.
Zee menatap jendela mobil Theo sambil mengamati pepohonan di tepi jalan yang terus bergerak bagi penglihatannya.
Sesampainya di halaman rumah Zee, Theo segera pamit.
"Terima kasih dan hati-hati ya." ucap Zee melambaikan tangannya pada Theo.
Zee masuk ke dalam rumahnya.
"Hai Blue, dimana nenek dan Ariana?" tanya Zee.
"Di rumah Joseph." sahut Blue sambil menjilati tubuhnya.
Zee bergegas menuju rumah Joseph di bukit Halley.
"Kenapa dia di ikat nek?" tanya Zee saat masuk ke rumah Joseph.
"Dia sangat keras kepala dan suka memberontak." sahut nenek Amelia kesal.
"Lepaskan aku! aku tahu kalian bukanlah manusia biasa, ya kan Zee?" pekik Ariana sambil meronta-ronta ingin melepaskan ikatannya.
"Kau juga bukan manusia ya kan?" Zee bertanya balik sambil memandangi Ariana tajam.
"Pamanku bisa saja membunuh mu, apalagi dia sangat menyukai daging seorang vampir." ucap Zee dengan penuh tawa menoleh pada Joseph.
"Kau mengancam ku kan?" gertak Ariana.
Joseph berubah wujud menjadi serigala besar di hadapan Ariana yang langsung terkejut tak menyangka dengan apa yang dia lihat di hadapannya.
"Bagaimana dia gagah bukan, dia bisa saja langsung mengoyak mu, seperti vampir wanita yang kutemui di atas kapal waktu itu, kau pasti tak ingin merasakan tulang-tulang mu remuk digigit paman ku, ya kan?" Zee mencoba menakuti Ariana.
"Baiklah, jujur aku juga tak ingin seperti ini, seorang pria yang kutemui di pinggiran kota mempunyai rumah yang bagus di dalam hutan sana, dan setelah aku mengikutinya kesana ternyata ia bukan orang baik ia malah menggigitku dan merubahku menjadi vampir." ucap Ariana menjelaskan.
"Apa kau masih ingat wajah orangnya?" tanya Zee.
"Tentu saja aku masih ingat, memangnya kenapa?" sahut Ariana.
"Berarti pria itu akan menjadi buruan mu paman." sahut Zee
"Lalu bagaimana denganku apa aku masih bisa berubah seperti manusia sedia kala?" tanya Ariana.
"Dia sengaja membuat kerajaannya di kota ini, dan dia memilihmu untuk menjadi pengikutnya." sahut nenek Amelia.
"Tapi aku tak mau!" rengek Ariana.
"Kau harus mengendalikannya, apalagi jika kau mencium darah, bagaimana kalau kita berlatih?" tanya nenek Amelia meyakinkan Ariana.
"Kau mau membantuku?" tanya Ariana agak ragu.
"Tentu, aku akan membantumu asal kau bawa kami kepada vampir pria tersebut." ucap nenek.
"Baiklah, tapi tolong bantu aku mengendalikan rasa haus darah ini." pinta Ariana.
"Tentu, tentu saja, nah untuk sementara kau harus membiasakan menghisap darah hewan seperti rusa dalam hutan atau lainnya agar kau bisa bertahan tanpa harus menghisap darah manusia." ucap nenek menjelaskan.
****
To be continued...
Mampir juga ke karya ku yang lainnya.
- Kakakku Cinta Pertamaku (End)
- Pocong Tampan
- Gue Bukan Player