
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie
semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
*****
Zee dan Ariana saling berpandangan dan menatap dengan wajah tegang kala melihat foto Lia berada disana.
"Kita harus bergegas Ariana." ucap Zee lalu keluar melompati jendela dan berlari.
"Hei apa yang terjadi?" tanya Theo yang di tinggal lari oleh Zee dan Ariana.
"Oh iya aku lupa." Zee berbalik lalu menarik Theo kembali menuju mobil Theo.
Zee menghubungi ponsel Lia.
"Zee kau dimana?" tanya Lia.
"Lia kau dimana?" Zee balik bertanya.
"Kok malah balik tanya sih, aku di sekolah bersama Alena." sahut Lia.
"Kau tetap disana bersama Alena jangan kemana-mana." ucap Zee lalu menutup ponselnya.
"Ayo cepat Theo kita kembali ke sekolah, kita harus menolong Lia." ucap Zee mendorong Theo pelan masuk ke dalam mobil.
"Apa yang terjadi? memangnya Lia kenapa?" tanya Theo makin tak mengerti.
"Ayo cepatlah kita harus bergegas ke sekolah nanti aku jelaskan dalam perjalanan." sahut Zee lalu masuk ke dalam mobil.
***
"Nenek pulang ya Zee, nenek akan memberitahukan Joseph agar membantumu." ucap nenek Amelia sambil memeluk Zee.
"Baiklah nek hati-hati ya." ucap Zee.
"Jaga nyawamu dengan baik." nenek memperingatkan Zee lalu ia pergi menuju rumahnya dengan cara menghilang tanpa ketahuan para manusia.
"Ayo lekas kau cari Lia." Zee memerintahkan Ariana dan Theo berpencar untuk mencari Lia. Theo yang sudah diberitahu sepanjang perjalanan tentang potongan tubuh di rumah penjaga Carter makin paham dengan pembunuhan yang terjadi di sekolah meski selama ini tebakannya terhadap siapa pembunuhnya itu salah. Theo berusaha menghubungi Alena.
"Alena dimana Lia?" tanya Zee yang akhirnya menemukan Alena. Theo dan Ariana juga sampai di hadapan Alena.
"Kalian kenapa sih kenapa wajah kalian cas, tegang dan ketakutan seperti itu?" tanya Alena tak mengerti.
"Kemana Lia pergi kan tadi sudah ku bilang dia harus tetap bersamamu." Zee mengguncang kedua bahu Alena.
"Tadi Lia bersama Mark sedang meliput kondisi terkini mayat Rose sehabis pementasan untuk koran sekolah." sahut Alena.
"Theo, Ariana apa kalian sudah mencari sekeliling sekolah?" tanya Zee
"Aku tak menemukan mereka." sahut Ariana Theo pun sama menggeleng kan kepalanya tanda tak menemukan juga Lia dan Mark.
"Zee apa jangan-jangan Mark? kita harus menghubungi polisi setempat." ucap Theo.
"Apa polisi akan percaya dengan perkataan kita, nanti malah kita lagi yang dituduh oleh polisi?" tanya Zee.
"Tapi bukankah tindakan kalian lebih bodoh jika ingin menghentikan pembunuh itu sendiri?" tanya Theo dengan nada geram.
"Kami tak sendiri, aku berdua bersama Ariana." Zee dan Ariana saling memandang.
"Aku tak mengerti, ada apa dengan Lia dan Mark, lalu menghadapi pembunuh? apa maksud semua itu?" tanya Alena tak mengerti.
"Jika mau ingin menghubungi polisi yakinkan mereka untuk datang ke tempat tadi, tapi aku rasa kita akan terlambat untuk menyelamatkan Lia." sahut Zee
"Sebaiknya kita bergegas." ajak Ariana menarik Zee.
Theo segera berlari menyusul Zee dan Ariana
"Mark? apa yang Mark lakukan sih?" Alena terus bertanya tanpa henti karena masih tak mengerti.
"Alena sebaiknya kau pulang saja, hubungi supir untuk menjemput mu." perintah Theo.
"Aku tak mau aku ikut dengan kalian." sahut Ariana.
Akhirnya mereka berempat melaju ke tempat tadi rumah penjaga Carter yang sudah ditinggalkan.
"Aku tahu rumah ini, kalau kalian mau mencari penjaga Carter bukankah dia sudah pindah, kenapa harus kesini sih?" tanya Alena.
"Bisakah kau berhenti bicara, kau diam saja di mobil ini." sahut Ariana.
"Tidak mau aku takut, aku harus ikut kalian." sahut Alena tak mau mengalah.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang gadis yang mereka paham suara tersebut. Zee dan lainnya segera berlari menuju ke dalam rumah.
Theo mendobrak pintu depan rumah tersebut dengan kekuatan tenaganya.
"Mark hentikan...!!!" teriak Zee pada Mark yang sudah mengikat Lia di kursi dan bersiap untuk membunuh Lia.
"Zee kenapa kau kemari sih? kau itu sangat mengganggu ku tau, lihatlah karya indah ku cantik bukan? sangat sempurna karena inilah wanita sempurnaku, aku hanya butuh wajah Lia yang bisa ku pandangi setiap hari dengan tubuh sempurna yang ku persembahkan untuknya." ucap Mark sambil mengelus pipi dan dagu Lia yang menangis ketakutan.
"Dasar bajing*n kau sakit Mark! sadarlah!" Theo membentak Mark.
"Mark kenapa? kenapa kau lakukan ini?" Alena menangis sambil menutup hidungnya karena bau busuk yang menyengat ke hidungnya.
Ariana langsung menyerang Mark namun Mark sudah sigap dengan pisaunya sehingga menebas perut Ariana dan melukainya membuat Ariana jatuh tersungkur ke lantai.
"Kalian mundur lah atau ku gorok leher Lia." ancam Mark yang langsung memegang kepala Lia.
"Dasar kau..." Theo mau menghampiri Mark namun Zee menahannya.
Zee menatap ke pisau Mark dan memantrainya membuat tangan Mark terasa panas dan melepas pisau tersebut. Theo menyerang Mark seketika namun Mark sudah sigap dengan posisi bertahan dan membuat tubuh Theo terdorong, kepalanya membentur tepi meja saat itu membuatnya tak sadarkan diri.
Zee langsung menyerang Mark yang lengah namun Mark sangat gesit sehingga bisa menghindar dari serangan Zee. Zee menyerang Mark lagi dengan meninju wajah Mark bertubi-tubi. Kali ini Zee bisa menahan Mark dengan jepitan tangannya di leher Mark.
"Alena bebaskan Lia sekarang!" perintah Zee pada Alena. kemudian Alena segera membebaskan Lia yang masih menangis ketakutan dan membawa Lia keluar untuk meminta bantuan.
Mark membalikkan keadaan kali ini, Zee sudah berada di bawah Mark, kaki Mark menahan perut Zee menindihnya. Mark berhasil meraih pisau dan bersiap menusukkan pisau tersebut ke dada Zee. Mark melihat bibir Zee yang bergerak-gerak seolah-olah sedang mengucap sesuatu. Pisau Mark terasa panas kali ini karena Zee memberinya mantra menciptakan api dari besi pisau yang di pegang Mark.
"Awww ini panas." Mark membanting pisau itu seketika dan mencekik Zee.
"Apa kau seorang penyihir yang memantraiku?" tanya Mark.
"Mark lepaskan aku, kau akan menyesal jika membunuhku." ucap Zee dengan nada suara tercekat karena Mark mencekiknya.
"Menyesal katamu? aku malah bangga dapat membunuh seorang penyihir sepertimu." ucap Mark sambil tertawa.
"Jika kau membunuhku saat ini maka esok hari aku akan kembali untuk memburu mu dan menyiksamu sebelum mati." ucap Zee
Mark makin tertawa puas mencekik Zee dengan wajah geramnya yang mengerikan.
*****
To be continued...
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke novel baruku
"With Ghost"
dan baca novel ku lainnya ya guys...
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Pocong Tampan
- Gue Bukan Player