
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
***
Zack meraih tangan Zee untuk memeluk pinggangnya sepanjang perjalanan.
Hati ini tak beraturan, rasanya campur aduk, antara senang, gelisah dan keingintahuan tentang siapa sebenarnya Zack.
Tiba-tiba motor skutik yang di kendarai Zack berhenti mendadak.
"Sial, mau apa dia menghalangi jalanku seperti ini." gumam Zack membuka helmnya.
"Hai semua, maaf ya mobilku tiba-tiba berhenti tak tahu kenapa." ucap seseorang yang turun dari mobil dan ternyata itu Theo.
"Ah sudah ku duga, pantas saja rasanya aku kenal mobil ini." ucap Zee.
"Darimana saja kalian?" tanya Theo penuh selidik.
"Wah, wah, wah apa urusanmu menanyai kami ini dari mana? memangnya kamu siapa?" Zack menusukkan jarinya ke dada Theo yang bidang itu.
"Aku Theo, kau tahu kan siapa aku? lalu kenapa kau tanya kan lagi hah?" Theo menarik kerah baju Zack.
"Kalian ini pada kenapa sih?" Zee melerai keduanya.
"Mundur lah Zee ini bukan urusanmu." sergah Theo.
"Iya Zee mundur lah memang dia selalu cari gara-gara denganku." ucap Zack.
"Memangnya apa sih yang kalian ributkan seperti ini?" pekik Zee kesal terhadap keduanya.
"KAU...!" Theo dan Zack menyahut bersamaan membuat Zee terkejut dan mundur beberapa langkah.
Zee melihat kedua mata Zack dan Theo yang sudah bertatap dan saling beradu siap menerkam masing-masing seperti ke dua singa yang berebut wilayah.
Tiba-tiba Theo merasa lemas dan memegangi perutnya. Zee tahu jika mereka berkelahi pasti Theo yang kalah setelah melihat kemampuan Zack mengalahkan wanita gurita tadi. Zack bukanlah manusia biasa.
"Kau tak apa Theo?" tanya Zee yang menghampiri Theo membantunya untuk berdiri.
"Ayolah Zee sudahlah dia hanya berpura-pura jangan hiraukan." ucap Zack mencegah Zee menolong Theo.
Aku tahu yang terjadi padanya, mana mungkin aku membiarkannya.
"Sudah Zack hentikan, pulang lah aku akan menemani Theo pulang, maafkan aku Zack." ucap Zee.
"Duduklah, biar aku yang mengendarai mobilmu." ucap Zee membopong Theo masuk ke mobilnya.
"Zack maaf sekali lagi aku harus pulang bersama Theo." ucap Zee pelan.
"Baiklah tak apa, kali ini ku biarkan kau mengantarnya." Zack membelai kepala Zee sebelum pamit.
"Terima kasih Zack." ucap Zee lalu menutup pintu mobil Theo dan mengendarai mobil nya itu.
"Kau itu ya sudah ku tolong masih saja menghina, tidak bisakah kau bilang terima kasih." sahut Zee masih fokus berkendara.
Theo mengamati gelang yang dia berikan di tangan kiri Zee sambil tersenyum tapi tak mau melihat, ia hanya melihat dari balik kaca mobil pohon-pohon yang seolah bergerak mundur dari matanya.
"Kau kan masih lemah, kenapa kau sudah keluar sambil membawa mobil pula?" tanya Zee.
"Aku bosan dirumah." sahut Theo padahal dia berbohong, dia hanya mencari Zee dan kebetulan bertemu saat Zee membonceng Zack.
Rasa di hatinya penuh amarah apalagi melihat Zee melingkarkan tangannya di pinggang Zack, oleh karena itu ia langsung menghalangi motor Zack dengan mobilnya.
"Apa yang kau rasakan sekarang? lemah, lesu, atau ada yang sakit di sekujur tubuhmu, di bagian mana, katakan padaku siapa tahu aku bisa membuat nenekku menyembuhkan mu?" tanya Zee bertubi-tubi pada Theo.
"Hahaha.. sejak kapan kau jadi mengkhawatirkan ku seperti ini?" Theo menahan perutnya yang sakit saat tertawa.
"Ya karena aku yang membuatmu seperti ini." sahut Zee tak sengaja terucap dari bibirnya.
"Kau membuatku seperti ini?" Theo menarik lengan Zee.
"Hentikan kau bisa membuatku menabrak nanti." sahut Zee.
"Hentikan mobilnya disini!" ucap Theo.
"Memangnya kau mau apa disini, rumahmu kan masih jauh?" tanya Zee heran dengan permintaan Theo.
"Sudah hentikan saja disini." pinta Theo dan Zee menghentikan laju mobil itu.
"Kau yang membuatku seperti ini kan?" tanya Theo menatap Zee dengan tatapan tajamnya.
"Aku tak mengerti aku kan hanya salah ucap." Zee menunduk tak berani menatap Theo.
"Tapi memang kau yang membuatku seperti ini, mengaku lah iya kan?" Theo menyudutkan Zee.
"Aku...aku tak mengerti, kau mengigau ini pasti ya." Zee mencoba menyalakan mesin mobil namun Theo menahannya.
"Theo lepaskan sebaiknya kita pulang."
pinta Zee namun Theo makin memegang tangan Zee dan mengamati gelang yang ia berikan.
"Cantik ya, sangat cantik." ucap Theo.
"I... iya cantik terima kasih kau sudah memberikan nya padaku." sahut Zee.
"Kau tahu Zee kau itu yang membuat ku seperti ini, kau membuatku tak bisa berpikir jernih, hanya kau yang sekarang berlari-larian dipikiran ku, ku mohon jangan pergi dariku." Theo kemudian menutup kedua matanya.
"Dia berhalusinasi mungkin, dia masih hidup kan?" Zee menyentuh bawah hidung Theo.
"Oh dia masih hidup, kupikir mati." Zee tersenyum dan melajukan mobil Theo menuju rumah Theo.
****
To be continued...
Happy Reading...