9 Lives

9 Lives
Bruno (Part 2)



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


***


"Kenapa kau tidak takut Zee?" tanya Theo.


"Wah kenapa aku harus takut, aku sering menemani yang lebih besar dari Bruno ketika berburu."


"APA?"


Theo menarik lengan Zee.


Gawat, aku keceplosan.


Zee tak berani menatap Theo.


"Kau tadi bilang apa?" tanya Theo makin penasaran.


"Maksudku aku pernah mengikuti pamanku berburu dan bertemu serigala sebesar ini kok jadi pernah terbiasa."


"Sepertinya bukan itu maksud perkataanmu tadi?"


"Ummmm aku mau bergabung dengan teman-teman lagi, lagipula sudah sore aku mau pulang."


Theo memandang Zee penuh keingintahuan.


"Theo bisa lepaskan tanganku!" pinta Zee.


Theo segera melepas tangan Zee dan membiarkan Zee berlalu melangkah ke taman depan rumahnya tadi.


###Flashback###


"Kau harus membunuhnya!" ucap ayah Theo.


"Tidak, aku akan mempertahankannya." Theo memeluk Bruno dengan erat bulu-bulu lebatnya yang berwarna hitam penuh darah segar.


"Tapi dia membahayakan Theo, bagaimana jika suatu saat dia memangsamu?" ucap ayah Theo marah.


"Tak akan ayah, ini salah pelayan itu lihat di handphone nya, video terakhirnya, dia sengaja masuk ke kandang mengambil selfie dengan Bruno sambil membawa daging segar, seharusnya dia tidak usah masuk kedalam kandang cukup taruh dagingnya ditempat itu." tunjuk Theo.


"Sekali lagi Bruno mu ini membunuh lagi, aku yang akan menembaknya dengan tanganku sendiri." ucap ayah Theo geram.


"Baiklah, terserah ayah." ucap Theo tertunduk.


"Kau akan selalu menjadi sahabatku, jangan lakukan itu lagi ya Bruno." Theo mencium kepala Bruno lalu keluar dari kandang.


"Kau tau Theo, tak akan ada yang mau jadi pacarmu jika melihat Bruno mu ini." Alena berdiri di luar kandang.


"Huh aku akan lebih memilih lagi, siapapun perempuan yang bisa menjinakkan Bruno dialah yang akan jadi pacarku." ucap Theo tersenyum bangga.


"Bagaimana jika dia nenek- nenek hahahaha." ledek Alena.


"Hah mana mungkin, pokoknya syarat menjadi pacarku harus bisa menjinakkan Bruno."


"Hahahaha tak akan pernah ada Theo, dia pasti sudah mati di cabik Bruno." ledek Alena memukul bahu sepupunya itu.


***


"Kami pamit, terima kasih atas jamuannya." ucap Lia pada Alena dan Theo.


"Zee besok kita kerumah mu ya?" tanya Alena.


"Zee aku antar pulang ya?" tanya V menghampiri Zee.


"Tak usah kau antar saja Rose pulang kalian kan searah sedangkan rumahku berlainan arah denganmu."


"Jadi kau tak apa-apa pulang sendiri?" tanya Lia.


"Tak apa, sudah lah kalian pulang saja jangan khawatir kan aku, bye...." Zee mengayuh sepedanya segera sambil melambaikan tangan kanannya kepada teman-temannya.


Tak lama Theo hadir dengan sepedanya disamping Zee.


kring kring... Theo menekan tombol lonceng sepedanya yang terlihat mahal itu.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Zee sambil mengayuh.


"Aku mau tau rumahmu, dari pada esok aku tersesat." sahut Theo.


"Wah hebat sekali aku ini diantar pulang tuan muda sepertimu hahaha." Zee mencibir Theo.


"Jangan besar kepala ya, aku hanya sekalian berolahraga kok." ucap Theo datar sambil mengayuh sepedanya.


Setengah jam mengayuh sepeda mereka sampai di halaman rumah Zee.


"Ah tidak, sedang apa si kembar disana?" gumam Zee .


"Kenapa Zee?" tanya Theo.


"Ummm tidak, hanya saja itu si kembar itu tamu nenek yang sedang menginap, kau pulang lah." Zee mencoba menjauhkan Theo dari si kembar.


"Hai Zee, siapa kakak tampan ini?" tanya si kembar bersamaan.


"Hai aku Theo, aku bos nya Zee." ucap Theo mengulurkan tangannya pada si kembar.


"Bos nya Zee?" ucap si kembar bersamaan.


"Enak saja bos." sahut Zee.


"Kau kan memang pembantuku selama satu tahun ini."


"Itu hanya di sekolah, terpaksa karena ku orang yang bertanggung jawab."


"Wah kalian seperti sepasang kekasih." ucap si kembar.


"Kalian unik yak lucu sekali selalu bersamaan seperti itu." Theo tertawa menunjuk si kembar.


"Sebaiknya tak kau lanjutkan Theo, ayo pulang lah sebelum mereka membuatmu aaahhh sudahlah, kalian masuk lah ke dalam rumah!" Zee menatap tajam si kembar dan berusaha mendorong Theo pulang dia takut si kembar akan membuat Theo membelah diri seperti Zee waktu itu.


"Kau ini kenapa sih, mereka itu lucu tau."


"Theo pergilah, ayo pulang." Zee mendorong Theo yang berada di atas sepedanya.


Si kembar tiba-tiba menjauh dan masuk ke dalam rumah segera, ternyata Joseph sudah berada di belakang Zee dan Theo.


"Pulanglah!" ucap Joseph ke Theo.


"Hai paman!" sahut Zee.


Theo memandang pria berbadan tegap yang lebih tinggi darinya itu dari ujung kaki sampai kepala.


***


To be continued...