
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie
semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
*****
Kilauan kuning ke emasan menyelimuti tubuh Theo. Lycan itu makin menginjak dada Theo dengan kuat, tetapi ia malah merasa sangat panas kala menginjakkan kakinya.
"Anna lihat itu! mungkinkah legenda itu benar?" ucap Kakek Adam dengan takjub.
"Iya, aku tak salah lihat kan..?" ucap Nenek Anna.
"Jadi dia adalah..."
"Pangeran Matahari." sahut Joseph bersamaan dengan ucapan kakek Adam.
"Aku tak percaya, ratusan tahun aku mencari calon reinkarnasi pangeran matahari ternyata ada pada dirimu, kenapa aku tak menyadarinya." ucap Lycan Cya makin menginjak dada Theo.
Pedang emas telah berada di tangan Theo, pedang yang selama ini di cari Raja Arnold dan Raja Lycan. Pedang Emas itu tergenggam di tangan kanan Theo.
"Pemuda itu... sudah ku duga pantas saja naga air menolongnya, legenda itu benar rupanya, ayah kau pasti bangga jika melihat ini, kisah Pangeran Matahari yang selama ini kau ceritakan ternyata bukan isapan jempol semata."
Joseph masih memangku Zee di tangannya. Zee sempat melihat ke arah Theo, menyaksikan perubahannya. Ariana memapah tubuh V yang lemas, kekuatan pemula sebagai vampir telah habis, tak ada lagi tenaga tersisa.
"V... ambillah darahku, kau juga Ariana, aku akan membantu mu." ucap Zee lalu ia menutup matanya dan tewas di pangkuan Joseph.
"Zee... oh tidak, Zee BANGUNLAH...!!" jerit V mengguncang tubuh Zee. Joseph menghitung tanda hitam di lengan Zee.
"Syukurlah... lekas kau turuti perintah Zee, hisap darah yang keluar dari lukanya!" perintah Joseph pada V dan Ariana.
"Tapi paman..."
"Cepat laksanakan! jika kalian ingin menemuinya esok pagi lakukan perintahnya!" ujar Joseph memberi titah.
V dan Ariana yang belum paham maksud paman Joseph mengenai ucapannya bertemu Zee esok pagi saling berpandangan. Namun, akhirnya mereka menyerah untuk bertanya, V dan Ariana menghisap darah Zee. Lalu kemudian jasad Zee menghilang.
Theo bangkit dan langsung menendang Lycan Cya. Adu pedang perak dan Emas terjadi menimbulkan kilatan cahaya perak dan emas yang saling bertubrukan. Suara pedang yang menggelegar menampakkan kekuatannya.
"Berikan padaku, jika kau ingin selamat!" pinta Lycan Cya pada Theo.
"Justru kau yang harusnya berdoa agar bisa selamat, rasakan ini hiyaaaaaa...!!"
Theo terus mengayunkan pedangnya ke arah Lycan Cya tanpa ampun.
Joseph, Ariana dan V yang telah pulih kembali menyerang para Lycan dengan sisa peluru perak yang tersisa.
Kakek Adam terus menjaga nenek Anna bersama Theodore. Joseph membantu kakek Adam dari serangan Lycan.
Theo terus menyudutkan Lycan Cya sampai suara dentuman keras yang menyakitkan telinga untuk di dengar tercipta dari peraduan pedang tersebut. Pedang perak yang di pegang Lycan Cya patah dan kehilangan kekuatannya. Theo menebas leher Lycan Cya seketika menewaskanya. Para sisa Lycan lainnya memandang kekalahan sang ketua di tangan Theo.
Para Lycan yang hanya tersisa sekitar sepuluh Lycan itu lari tunggang langgang menyelamatkan sisa ras mereka agar tak habis di musnahkan.
Ratu Obbysia mencoba merangkak mendekati Zack, di seutuhnya pipi Zack sambil menangis. Kebencian dan balas dendam telah membuatnya buta sampai ia harus membiarkan anaknya sendiri terbunuh dan ia juga sampai tega membunuh guru tersayangnya nenek Amelia. Ratu Obbysia mencium kening Zack lalu ia menutup matanya, disamping Zack ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Theo menghampiri Joseph.
"Dimana Zee paman?" tanya Theo dengan wajah panik.
"Dia akan kembali esok hari." ucap Joseph.
"Maksud paman?" Tanya Theo penasaran membuat V dan Ariana ikut menyimak.
"Zee di lahirkan sebagai penyihir keturunan sembilan di garis keturunan penyihir besar nenek Amelia. Kini ia sudah kehilangan tujuh nyawanya. Kau harus menjaga dua sisa nyawanya lagi Theo dalam mempertahankan ras penyihir dan kaum Matahari." ujar Joseph menepuk bahu Theo.
"Sekarang kita siapkan pemakaman untuk mereka." ucap Kakek Adam.
***
Sinar matahari yang hangat memantulkan cahayanya di desa Greenwitch, saat Joseph, Theo, V dan Ariana mengangkat tubuh Nenek Amelia, Blue, Zack, dan Ratu Obbysia. Tubuh mereka di sejajarkan sebelum di makamkan. Natti kembali ke danau Fisher bersama satu anaknya, satu anaknya yang lain akan di makamkan sejajar dengan makam Blue.
Sementara itu, nenek Anna dan kakek Adam membersihkan jasad para Lycan dan membakarnya menjadi satu di dalam hutan terlarang, lalu mereka kembali ke desa Greenwitch yang sepi karena Ratu Obbysia berhasil memusnahkan seluruh penduduknya.
Zee datang dari dalam sebuah rumah kayu yang sudah Joseph siapkan.
Sekembalinya kakek Adam dan Nenek Anna, mereka melangsungkan upacara pemakaman. Tangisan tiada henti terus mengalir membasahi pipi Zee kala ia ingat semua ocehan dan senyum nenek Amelia. Bayangan Blue yang selalu mencibirnya juga melintas di pikirannya. Terlebih Zack, pemuda yang pertama kali membuatnya merasakan jatuh cinta, meski pada akhirnya Zee menetapkan hatinya pada Theo.
"Jadi kita tetap disini atau kembali ke kota Fisher?" tanya Zee.
"Kalau aku akan kembali ke Fisher, orang tuaku pasti mencariku." sahut V.
"Aku juga, kan kita bilang ke mereka kalau kita berlibur V." Ariana menepuk dada V.
"Nah betul, jadi kita harus kembali." V merangkul bahu Ariana.
"Aku juga akan kembali." Sahut Theo.
"Kalian kembalilah, aku, Adam dan Theodore sebaiknya membangun kota ini lagi dan mencari keturunan penyihir yang sudah menikah dengan manusia." ucap Nenek Anna.
"Apa kau yakin nyonya, masih ada keturunan penyihir?" tanya Joseph.
"Entahlah, tapi aku yakin masih ada, lalu kau bagaimana Joseph?" tanya nenek Anna.
"Aku sudah berjanji pada nyonya Amelia untuk menjaga Zee, jadi kemanapun dia pergi aku akan ikut." sahut Joseph memandang Zee.
"Wow tunggu sebentar, apa maksud paman kalian akan tinggal bersama? enak saja lebih baik Zee tinggal bersamaku kalau begitu." sahut Theo langsung menyembunyikan Zee di balik badannya.
"Hei kau ini posesif sekali, Zee akan tinggal bersamaku, lalu paman Joseph akan tinggal di dalam hutan dekat rumahku, jika kalian menikah baru kalian tinggal bersama." Ucap Ariana pada Theo.
Paman Joseph mencibir Theo dengan tatapan wajah smirknya.
"Ayo siapa yang ikut kembali ke Fisher? kita jalan sekarang!" ucap paman Joseph lalu pamit dan melangkah pergi meninggalkan semuanya.
"Paman tunggu pakai ilmu sihirku saja kita berteleportasi."
Ucap Zee hendak menghampiri paman Joseph, namun Theo menahan lengannya.
"Kita nikmati pemandangan kota Greenwitch dulu." Theo menggenggam tangan Zee, sesekali ia mencium punggung tangan Zee.
V yang merangkul bahu Ariana, berjalan mengikuti Theo dan Zee, keduanya hanya saling berpandangan dan tersenyum kala melihat perlakuan manis Theo pada Zee.
"Kau masih menyukainya?" tanya Ariana pada V.
"Entahlah... tapi sainganku sangat berat, tuan muda tampan, lalu kaya raya dan menakutkannya lagi dia adalah Pangeran Matahari." sahut V.
"Tapi aku punya gadis manis yang cantik dan pemilik hatiku di sampingku, kenapa aku harus masih menyukai Zee?"
V mencium kepala Ariana.
Mereka kembali menuju kota Fisher.
***
THE END
Waaahhh terima kasih banyak buat semua para pembaca tercinta. Gak nyangka banget awalnya mau buat horor misteri jadi banyakan fantasinya tentang petualangan Zee.
Tapi seneng banget alhamdulilah 9 LIVES dj rekomendasikan sama mimin Noveltoon di Instagram dan lebih senangnya lagi 9 LIVES di kontrak guys... Semua berkat dukungan kalian para pembaca setia cerita petualangan Zee ini.
Dan doain aja 9 LIVES jilid dua bakal hadir melanjutkan petualangan Zee berikutnya soalnya
sosok misterius kan belum ketahuan, terus ada apa dengan ayah Theo juga belum ketahuan, terusnya lagi suami istri yang nabrak Zee waktu kecil ternyata tinggal di kota Fisher nah siapa ya kira-kira???
Semoga cerita selanjutnya bisa lebih seru dan menegangkan buat di baca.
Bagi yang baru hadir dan baru baca please banget baca dari awal ya jangan endingnya aja.
Jangan lupa mampir ke novel baruku
"With Ghost"
dan baca novel ku lainnya ya guys...
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Pocong Tampan
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘