
**Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading**
****
"Hai Zee." sapa Alena saat sampai di halaman rumah Zee bersama dengan Theo.
"Hai, akhirnya sampai juga."
"Iya kupikir kau belum pulang, masih asik bersama Zack." Alena menggoda Zee sambil melirik ke arah Theo yang kesal.
"Hahaha lucu sekali kau Alena."
Lia sampai kerumah Zee bersama V dan Rose. "Ini untukmu Zee." Lia menyerah kan sebuah kotak berisi muffin cokelat.
"Wow ini terlihat enak, terima kasih Lia." ucap Zee.
"Sama-sama, ayo kita ke rumahmu aku ingin bertemu nenekmu." ucap Lia.
"Hmm sebentar ya aku takut nenek ku sedang tidur, kita langsung saja ke rumah singgah ku dekat bukit."
"Itu nenek mu." sahut Alena sambil menunjuk saat melihat nenek Amelia tersenyum menggendong Blue di depan pintu.
"Nenek, apa yang nenek lakukan di sini, biasanya nenek tidak ingin bertemu manusia?" bisik Zee menghampiri neneknya.
"Aku ingin melihat bagaimana rupa wajah kawan-kawan mu."
"Aku juga." sahut Blue.
"Blue kau harus mengeong bukan nya bicara!" ancam Zee.
"Baiklah, eh meong." sahut Blue.
"Halo nenek." sapa Alena mengulurkan tangannya.
"Halo anak-anak." sapa nenek Amelia menjabat uluran tangan kawan-kawan Zee satu persatu.
"Wah nenek masih terlihat sangat cantik." puji Lia.
"Terima kasih anak muda, oh iya silahkan nikmati kue-kue yang sudah ku siapkan di rumah singgah kami, dan berhati - hatilah saat di bukit." ucap nenek Amelia dengan senyum cantiknya.
"Iya nek." sahut semuanya bersamaan.
"Zee tunggu sebentar." nenek Amelia menahan Zee.
"Kau yakin mau mencari tulip hitam di bukit Halley?" tanya nenek memastikan.
"Iya nek, memangnya kenapa?"
"Berhati-hatilah ada seekor laba-laba beracun yang menjaga bukit itu."
"Apa makhluk itu bisa membunuh?"
"Yang aku dengar racunnya bukan membunuhmu namun membuatmu selalu lemas dan aku lupa apa penangkal racun itu saat lemas, nanti nenek cari tahu lagi, yang penting berhati-hati lah." bisik nenek Amelia.
"Baiklah nek, aku menyusul mereka dulu yak."
"Hati - hati Zee." pekik nenek Amelia.
"Ayo ikuti aku!" perintah Zee.
Tok Tok... Zee mengetuk pintu rumah paman Joseph.
"Hmmm... " Joseph membuka pinta nya sambil menggeliat tanpa kaus.
"Hai, paman! aku akan pinjam rumah mu." bisik Zee.
"Kau ini mengganggu tidurku saja, toh teman-temanmu sudah nyaman duduk di kursi kayu itu." ucap Joseph melihat teman-teman Zee duduk di halamannya.
"Lalu kau mau melanjutkan tidurmu?" tanya Zee.
"Aku tak mengusir mu lho paman, aku tak ingin kau terganggu oleh ku hehehhe."
"Zee, apa aku boleh pinjem toilet?" ucap Alena. Zee melirik ke Joseph.
"Masuklah!" Joseph meraih kaus putih di atas sofa kesayangannya, tampak Alena memperhatikan tubuh atletis Joseph dengan kagum.
"Alena... Alena katanya kau mau ke toilet?" Zee menyadarkan Alena dari tatapan takjubnya pada tubuh Joseph.
"Eh iya, maaf sebelah mana ya?"
"Lurus lalu ke kanan." ucap Zee.
"Okay, terima kasih." Alena segera pergi lurus ke taman.
Joseph meraih mantelnya dan memakainya.
"Topi mu paman." ucap Zee menaruh topi Joseph di atas kepala Joseph.
"Hmmm terima kasih." sahut Joseph lalu pergi membawa senapan angin seolah-olah hendak pergi berburu.
"Siapa itu Zee ?" tanya Lia.
"Pamanku."
"Wah dia misterius sekali." ucap Lia.
"Tapi dia tampan." sahut Alena yang baru keluar dari rumah Joseph.
"Menurut ku juga begitu." sahut Rose yang tadi juga memperhatikan Joseph.
"Paman mu dari keluarga ibu mu atau ayahmu?" tanya V ingin tahu.
"Dari keluarga ayahku." sahut Zee.
"Apa dia tinggal di rumah itu?" tanya V lagi.
"Tidak juga, dia baru sampai kemarin." ucap Zee berbohong.
"Kalau dia tidak ada siapa yang menempati rumah ini Zee?" tanya V lagi.
"Kadang aku, kadang kosong, jadi bisa kita mulai?" ucap Zee menghentikan pertanyaan V.
"Zee kenapa di dapur rumah mu tersimpan banyak daging di lemari pendingin?" tanya Alena.
"Oh mungkin itu simpanan pamanku dia membawanya kemarin."
"Kau tahu itu daging yang sama dijual di restoran ayahku, dan menurut ayahku kualitas daging lembu itu sangat baik dan berharga mahal, juga langka, makanya restoran ayahku sekarang kekurangan daging itu."
"Oh aku tak tahu, ayo kita lanjutkan tugas kita!" ucap Zee tak mau Alena menjelaskan lebih lanjut soal daging itu karena sebenarnya daging yang disimpan Joseph itu adalah daging manusia sama seperti daging yang ayah Alena makan dan siapkan untuk restorannya.
"Cemilan yang nenekmu sediakan ini enak Zee." sahut Lia.
"Ayolah kapan kita mulai membuat tugasnya?" sahut Zee kesal.
"Baiklah, aku akan menulis makalahnya, Rose akan membantu ku mencari keterangan tentang tulip hitam di internet, kau bawa notebook mu kan?" tanya Alena ke Rose.
"Iya aku bawa." Rose mengeluarkan notebook hitamnya.
"Nah Zee kau pimpin sisanya ke atas bukit mencari tulip."
"Tunggu, biar aku saja yang ikut sementara Lia mencari di Internet." protes Rose karena dia mau mengawasi V agar tak dekat dengan Zee.
"Hmmm tidak kau lebih pandai dari Lia dalam menggunakan internet." sahut Alena, Zee menahan tawanya karena memang benar ucapan Alena tentang Lia yang sedikit lambat dalam berfikir.
"Apa maksud mu nona?" ucap Lia sedikit kesal.
"Sudah lah, ayo kita ke bukit karena hari sudah mulai sore nanti." Zee menarik lengan Lia pergi menuju bukit bersama Theo dan V.
***
To be continued...