9 Lives

9 Lives
Vampir yang Kalah



Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


Jadi malam ini Paman Joseph akan berburu vampir rupanya, kupikir makhluk itu hanya ada dalam film seperti twilight ternyata ada juga nyata nya.


"Baiklah paman sekarang bagaimana?" tanya Zee pada Joseph.


"Kau tunggu saja di sini jika ku butuh bantuan baru kau bantu aku, asal kau tahu dia bisa membunuhmu."


"Ahh benar sekali kalau aku terbunuh nenek pasti akan melarang ku ikut berburu dengan mu lagi."


"Anak pintar." Paman Joseph berlari kencang lalu melompat ke atas kapal di danau itu.


Perempuan vampir itu hampir saja menggigit Joseph membuat Zee berpikir kalau Joseph butuh bantuan. Zee langsung melompat ke atas kapal.


"Wah wah wah siapa ini yang datang?" vampir perempuan itu mengendus aroma tubuh Zee.


"Bloody hell! tak mungkin keturunan langka sepertimu masih tinggal di bumi ini." perempuan itu tersenyum lebar menunjukkan taringnya yang penuh darah.


"Kenapa kau kesini Zee?" ucap paman Joseph lirih badannya sudah telungkup dengan kaki perempuan itu menginjak kepalanya.


"Kulihat kau butuh bantuan paman." ucap Zee.


"Paman? bloody hell kau tak mungkin memiliki darah kedua nya."


"Kalau iya memangnya kenapa?" Zee bersiaga bersiap jika perempuan vampir itu menyerang nya.


"Bagaimana bisa kau tak berubah sepertinya?" tanya vampir itu.


"Karena mungkin aku special, mungkin juga aku memiliki darah sepertimu." Zee mengeluarkan taringnya membuat perempuan vampir itu terkejut dan tersirat ketakutan dari wajahnya.


"Bloody hell makhluk apa kau sebenarnya?"


"Sudah ku bilang aku spesial."


Zee juga mengeluarkan pedang dari sela jarinya seperti makhluk Wolverine, perempuan vampir itu makin takut melihat Zee dan tak disangka ia berlutut memohon pengampunan pada Zee.


"Kumohon lepaskan aku, jangan bunuh aku." pinta perempuan vampir itu berlutut di hadapan Zee.


"Aku tak akan membunuhmu namun.."


Hap... Paman Joseph langsung menggigit kepala vampir itu memisahkan kepala perempuan itu dari tubuhnya darah tersembur dari leher vampir itu.


"Bagaimana kau bisa melakukan itu?" tanya Joseph.


"Aku belajar ilmu meniru dari buku yang kutemukan di perpustakaan nenek."


Zee menjatuhkan tubuhnya ke lantai kapal itu.


"Aku lelah sekali paman, kurasa energi ku terkuras habis." Zee merasa sangat lelah dan tak dapat menahan rasa kantuk kelelahan saat itu sampai akhirnya ia memejamkan matanya, sempat melihat sayup-sayup paman Joseph sudah merobek dada perempuan itu untuk mencari bagian favorit nya, jantung yang masih segar berdenyut.


Joseph kembali ke tubuh manusianya, dia menggendong Zee dan membakar seisi kapal itu untuk menghilangkan jejaknya. Lalu dia kembali pulang sambil menggendong Zee.


Di hutan yang penuh kabut dengan suhu dingin menusuk tulang Joseph merasa kan pergerakan dari semak yang terinjak dengan langkah seseorang. Joseph memutuskan untuk bersembunyi untuk mengintai sosok itu.


Seorang pria memakai mantel tebal dengan topi menutupi sebagian wajahnya sedang berjalan di tengah hutan yang Joseph lalui. Zee menggeliat dan sedikit bersuara dengan erangannya lalu tersadar, karena Zee tersadar saat sedang bersembunyi Joseph langsung membekap mulut Zee untuk diam.


"Ada apa paman?" bisik Zee.


"Seorang pria sedang menggendong tubuh anak laki-laki ke hutan itu."


"Sudahlah bukan urusan kita."


"Bagaimana jika dia penjahat penculik anak atau semacam nya?"


"Baiklah ayo kita ikuti."


Joseph dan Zee tiba di sebuah rumah tua dalam hutan. "Apa iya ada yang mau tinggal di hutan ini menyendiri dirumah tua seperti ini sangat aneh." gumam Zee lalu tersadar melirik ke arah Joseph.


"Oh iya aku lupa kau menyendiri seperti itu hehehe, maaf paman."


"Aku akan berubah menjadi tikus atau serangga kecil yak agar aku bisa mengintip ada apa didalam sana." ucap Zee.


"Jangan Zee kau terlalu lemah kan aku tak mau kau tertangkap pingsan di dalam." Joseph melarang Zee.


"Tapi aku penasaran, ijinkan aku mengintip sebentar."


Joseph tak bisa melarang Zee kali ini karena Zee sudah berlari kecil mengendap-endap menuju rumah tua itu.


"Ah dasar anak ini keras kepala." Joseph menyusul Zee ikut mengendap-ngendap.


Zee menyeka embun pada jendela rumah tua itu dan betapa terkejutnya ia melihat pria di dalam rumah itu sedang memotong tubuh anak itu memisahkan bagian kaki, tangan, badan lalu membuang kepala anak itu dalam tungku perapian yang membara.


"Gila apa dia kanibal paman?" bisik Zee.


"Ayo kita pulang Zee ini sudah kelewatan."


"Paman dia orang jahat apa kau tak mau membunuhnya."


"Aku tak punya tenaga lagi Zee, fajar mulai nampak pula di langit."


"Ah paman ini menyebalkan aku ingin membunuh pria itu, lihat dia sedang mengiris daging pada tubuh anak itu dan membuang jeroannya ke dalam tungku perapian."


"Ayo Zee."


Srak... Joseph menginjak dedaunan kering di tanah yang lembab itu. Pria di dalam rumah tua itu menoleh dan tersadar sesuatu sedang mengawasinya saat itu. Pria itu menghentikan aktivitasnya lalu membuka pintu rumahnya mencari asal suara tadi dengan seksama.


"Apa itu rusa hutan ya, atau... oh serigala rupanya, wah masih ada serigala juga di hutan ini." gumamnya saat melihat ekor Joseph di balik pepohonan. Pria itu kembali lagi ke dalam rumah di hutan itu melanjutkan aktivitas nya.


"Hampir saja." ucap Joseph.


"Bukan aku yang bodoh kali ini yak, ini karena paman." Zee menahan tawanya.


Joseph hanya melirik Zee tajam membuat Zee menunduk tak berani berkata apa-apa lagi.


"Hoaaamm aku mengantuk paman, astaga aku lupa tugas kelompok ku yang belum ku selesaikan." Zee menepuk jidatnya.


"Pakailah kekuatan sihir mu!"


"Aku tak punya kekuatan saat ini energi ku habis menolong paman tadi." ucap Zee.


"Oh jadi kau ingin aku berterima kasih padamu yak oleh karena itu kau mengungkit perbuatan mu tadi?" tanya Joseph melirik tajam kembali pada Zee.


"Bukan begitu juga paman, eh tapi memang seharusnya kau berterima kasih kepadaku sih hehehe."


"Oh begitu rupanya."


"Tidak tidak paman aku hanya bercanda, dah paman aku kembali ke kamarku yak." Zee lalu melompat masuk ke dalam kamarnya dari jendela yang sengaja ia buka.


Zee langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya, malam tadi terasa lelah sekali baginya dan Zee melupakan sesuatu, tugas kelompoknya yang belum ia kerjakan.


Fajar telah menyingsing memperlihatkan titik Venus yang terlihat saat matahari terbit. Pria dalam hutan tadi menemukan sebuah flashdisk di atas tanah dekat dengan jendela luar rumah nya. Oh tidak Zee tak menyadari flashdisk milik Joey yang ada di sakunya hilang terjatuh di hutan saat ia mengintip perbuatan pria dalam hutan itu.


***


To be continued...