
"Daaaaaaaah Mama dah Papa."
Yudhi dan Ochi masuk ke rumah besar milik Oma dan Opa mereka. Keduanya dititipkan oleh Tiara dan Yundhi di sana dengan alasan akan melangsungkan baby moon tiga hari dua malam saja. Seolah menjadi tradisi. Setiap Tiara mengandung anak mereka, Yundhi selalu melakukan ritual itu. Untuk ritual ke tiga ini, Tiara sama sekali tidak di beri petunjuk di mana, ke mana mereka akan pergi. Namun yang jelas masih di pulau yang sama, tanpa harus memakai transportasi udara atau menyebrang lautan.
"Kita istirahat dulu deh, aku capek."
Tiara yang merasakan pegal di beberapa titik tubuhnya setelah menempuh dua jam perjalanan, meminta Yundhi untuk menepi mencari tempat untuk mereka beristirahat sekedar meregangkan tubuh.
"Kita ke warung itu, mau?"
Mengingat mereka telah keluar dari pusat kota, yang artinya tidak ada tempat seperti restoran berbintang atau hotel mewah, jadi yang bisa mereka temukan adalah warung-warung kecil penjual gorengan dan kopi.
"Heeh,kita ke sana deh," Tiara menyetujui meski warung itu tampak kecil dan reot.
"Eh, ada tamu, silakan-silakan," ujar pemilik warung menyambut Yundhi dan Tiara. Sangat ramah dan Tiara merasakan kenyamanan.
"Mau minum apa? Mbok ada kopi, kopi tubruk, kopi saset."
"Saya kopi deh, Mbok, kamu?" tanya Yundhi sedikit ragu pada Tiara, pasalnya Tiara tidak minum kopi selama masa kehamilan.
"Ibu ada teh juga ga?"
"Ada, ada, ayo ibu hamil duduk dulu!"
Yundhi dan Tiara duduk di bangku panjang yang terbuat dari bambu. Yundhi terenyuh melihat wajah lelah istrinya. Kehamilan yang ke tiga ini memang membuat Tiara lebih cepat lelah. Mungkin dikarenakan faktor usia Tiara yang telah memasuki usia kepala tiga saat ini, atau bisa juga karena mitos yang menceritakan bahwa hamil anak ke tiga adalah yang paling berat. Entah.
"Kakinya selojorin deh biar aku pijat."
"Ga usah, ga pegel kok, kita masih lama ya nyampenya?"
Meski Tiara menolak, Yundhi dengan telaten memposisikan Tiara untuk bersandar dan menselojorkan kaki hingga memudahkan Yundhi memijat telapak istrinya. Tiara yang menyadari sifat Yundhi yang tidak menerima penolakan kini menurut saja. Meski Tiara tidak enak melihat Yundhi di lihat orang saat memijatnya.
"Ayo di minum dulu," sela si ibu pemilik warung, "wah, bapaknya pinter ya mengerti kondisi istri, mirip suami saya suka pijitin pas saya hamil dulu, duuuh jadi pengen bunting lagi," si ibu tertawa cekikikan, "sebentar saya ambilkan gorengan dulu di belakang, kayaknya udah mateng, buat temen minum."
"Iya, makasih bu." Tiara membalas dengan penuh ramah dan senyum, tersentuh ucapan pemilik warung itu.
"Kita mau kemana sih, Sayang?" Tanya Tiara lagi, dia masih penasaran.
"Ada deh, kita sebentar lagi sampai kok, mungkin tinggal perjalanan empat puluh menit." Sengaja, Yundhi menjawab misterius. Kalau Tiara tahu duluan, kan ga jadi kejutannya.
"Ini gorengannya, silakan di nikmati, santai-santai aja dulu, kalau ada yang di perlukan, panggil aja Mbok Cinder."
Tiara mengernyit, tapi juga menyanggupi dengan jawaban iya. Sedangkan Yundhi hanya melemparkan senyumnya yang paling manis pada Mbok Cinder.
Akhirnya mereka menikmati suasana di warung itu berdua saja di temani kendaraan yang hilir mudik. Sesekali Yundhi menyesap kopi tubruk yang masih hangat di sela kegiatannya memijat. Meski Tiara sudah meminta Yundhi untuk berhenti dan mencuci tangan, Yundhi tetap saja masih ingin melakukannya. Alhasil, Tiara yang menyuapi jika Yundhi ingin menikmati cemilan gorengan yang tersedia di depan mereka. Telah beberapa tahun membina rumah tangga, mereka masih tampak seperti pengantin baru. Orang yang tidak mengenal pastinya mengira mereka baru menikah.
"Udah yuk, kita lanjutin jalannya."
Sekitar dua puluh menit beristirahat, Tiara akhirnya meminta duluan agar mereka melanjutkan perjalanan.
"Ayo kalau gitu!"
"Kamu bersihin tangan dulu!"
"Hm."
Yundhi menuruti Tiara mengelap tangan dengan tisu basah yang Tiara bawa selalu di dalam tas. Tiara menengok ke bagian dalam warung, mencari sosok pemilik.
"Permisi, Mbok!" sahut Tiara.
Tidak mendapat jawaban. Warung sederhana itu seperti tak berpenghuni.
"Permisi, Mbok Cinder!"
Kali ini Tiara bersuara lebih keras.
"Enjeh!" sahut Mbok Cinder terdengar buru-buru dari dalam, "wah sudah mau jalan lagi ya, kok cepat?"
"Iya Mbok, takut ke sorean."
Kali ini Yundhi yang menjawab, "berapa semuanya Mbok?" sambung Papa Edward.
"Dua lima Den."
Yundhi mengambil lembaran uang berwarna merah dari dompetnya dan menyerahkannya pada Mbok Cinder.
"Sebentar," wajah paruh baya itu tampak panik, "kayaknya kembaliannya belum ada," katanya ragu.
"Simpan deh Mbok!" Jawab Yundhi.
"Wah kebanyakan Den."
"Mbok nama lengkapnya siapa?" tanya Tiara penasaran.
"Cinderlela." Jawabnya gugup, "ini gimana kembaliannya?"
"Udah Mbok simpan aja, ga apa-apa kok," kata Tiara ramah.
"Aduh, saya ga enak, wong Aden sama Nonnya makannya sedikit, sebentar saya cari tukeran."
"Jangan Mbok, terima aja!" Sahut Tiara lagi.
Yundhi kembali merogoh isi dompet sambil menahan geli karena terngiang nama lengkap pemilik warung itu.
"Ini Mbok, buat beli es krim, ga usah repot cari kembalian ya, kita jalan dulu," sambar Yundhi sembari meraih tangan Mbok Cinder dan menyarahkan lagi beberapa lembar uang. Setelahmya ia menarik tangan Tiara agar mereka segera beranjak dari sana.
"Walah, kok di kasih lagi, ini gimana?" Mbok Cinder heboh, kebingungan menghitung berapa jumlah uang yang ia terima.
"Sebentar, Den, Non, aduh!"
Tiara dan Yundhi segera memasuki kendaraan mereka, "lucu ya namanya," celetuk Yundhi. Tiara tersenyum geli.
Beberapa detik sebelum menstater mobilnya, terdengar ketukan di jendela. Yundhi menurunkan kaca, kepala Mbok Cinder nongol di sana.
"Ini ada ubi sama pisang, buat oleh-oleh, pokoknya harus di terima, kalau enggak saya cariin Adennya buat ngasih kembalian yang tadi," paksa Mbok Cinder.
"Astaga, Mbok, ya sudah saya terima ya." Yundhi mengambil bungkusan kresek hitam itu, "makasih."
"Saya atu yang makasih, Aden hati-hati, Non juga ya, semoga selamat, sehat selalu, panjang umur. Aamiiin." do'a Mbok Cinder.
"Iya Mbok, makasi do'anya, kita pamit dulu."
***
"Ini kita mau kemana lagi?" tanya Tiara begitu Yundhi kembali dari menitipkan mobil di rumah seseorang.
Tiara kebingungan Yundhi memintanya menunggu di mulut sebuah jalan setapak.
"Nanti juga tau, yuk!"
Tiara mengenal pemandangan yang ada di sekelilingnya. Hamparan sawah membentang luas di sisi kanan dan kiri. Ada bukit kecil tampak dari kejauhan, kicau burung menyapa. Hembusan angin sore menerpa wajah. Tiara terpesona dengan pemandangan yang ia saksikan. Tapi satu dua tanya terbersit.
Untuk apa Yundhi membawanya ke sawah orang di sore hari? Bukankah mereka mau melaksanakan ritual baby moon? Menurut gambarannya, paling tidak mereka akan berada di hotel atau villa saat ini.
Yundhi menggandeng tangannya menyusuri setapak yang mulai menampakkan sebuah bangunan. Tiara juga menyadari, semakin ia melangkah, tidak hanya sawah, ia juga bisa melihat kebun sayuran yang bejajar di salah satu sisi setapak dekat bangunan itu.
"Itu rumah siapa?"
"Kita."
Tentu saja Tiara terkesiap. Jawaban Yundhi mengejutkannya.
Lelakinya itu terus menuntunnya mendekati bangunan yang semakin tampak megah begitu Tiara mendekat. Kakinya memaksa berhenti melangkah. Yundhi bisa menangkap raut wajah ragu wanitanya.
"Jelasin!" Tuntut Tiara.
"Sawahnya kurang luas ya?"
"Yundhi!" geramnya.
Suaminya itu selalu tahu cara membuatnya terkejut.
Yundhi mulai bergerak, berpindah ke sisi belakang Tiara, memeluk istrinya di tengah ladang sayur dan hamparan sawah yang mulai menguning. Di depan mereka rumah mungil itu seperti memanggil untuk di singgahi.
"Kamu lihat pohon kelapa di ujung sana?" Tiara mengangguk. "Itu batas sawah kita."
Sawah? Kita?
"Itu pohon kelapanya kecil Yundhi."
"Kenapa? Aslinya besar kok."
"Justru itu, kelihatan kecil dari sini, sawahnya keluasan, ini gimana sih ceritanya kita punya sawah di sini?" nada Tiara sedikit kesal.
"Ceritanya pendek kok, nanti aku cerita. Yang pasti itu batas sawah kita, dari pohon kelapa itu, lanjut ke pohon yang itu, terus ke sana." Yundhi menjelaskan tapi Tiara seperti tak menemukan ujung dari sawah itu. Entahlah, nanti dia akan mengintrogasi pria penuh kejutan yang memeluknya sekarang.
"Dan besok pagi, kamu bisa lihat kabut yang menutupi bukit dan sawah, kicau burung, suara aliran sungai dan sapaan petani, persis...." Yundhi memutus kalimat karena Tiara berbalik memeluknya sekarang, "mimpi kamu," tutup Yundhi.
"Aku cuma cerita, ga pernah minta kamu beli, buat jadi kenyataan kayak gini." Tiara sedang menangis haru dan berucap di tengah pelukannya. Kenapa cerita ngawurnya di simpan Yundhi dalam hati dan diam-diam mewujudkannya. Bagaimana kalau Tiara menceritakan gunung emas, apa yang akan Yundhi lakukan?
"Ini hadiah sayang. Buat hamil kamu."
"Ini berlebihan."
"Berlebihan itu relatif, jangan tiru Mbok Cinder dong."
"Aku serius."
"Aku juga ga main-main."
Tiara melepas pelukannya.
"Kamu ga kerja di kantor lagi? Mau jadi petani?"
Sontak saja Yundhi tertawa mendengar pertanyaan nyeleneh sang istri.
"Ya enggak lah, tapi kalau kamu minta aku bisa aja alih profesi."
"Jangan, udah cukup kamu berhenti dari penerbangan, aku memang pengen ngerasain hidup di desa, tapi aku juga masih penyuka kebisingan kota."
"Setuju! Yuk masuk, kita lihat ke dalam, kamu bakal suka."
Mereka kembali berjalan, seperti bisa, dengan tangan jemari saling mengait.
"Itu beneran rumah kita?"
"Iya, kenapa?"
"Kenapa ga bikin dari anyaman bambu sama ilalang, gubuk kecil gitu? Lantainya tanah."
Sejenak Yundhi berpikir.
"Kayak yang kamu bilang, aku juga pengen ngerasain hidup di desa, tapi masih penyuka kenikmatan kota juga, jadi aku pindahin sebagian kecil kehidupan kota ke tengah desa, gimana menurut kamu?"
"Hm, boleh, setuju deh."
Mereka memasuki pintu utama rumah. Tiara kembali di sambut pemandangan wah. Rumah itu berbentuk persegi panjang. Pintu lebar menjadi penyekat antara ruangan di dalamnya. Ruangan paling ujung adalah kamar tidur yang cukup luas, di sambung ruang tengah yang bisa juga berfungsi sebagai ruang keluarga, kemudian ruang makan yang menyatu dengan dapur.
Kontras dengan pemandangan di luar, rumah itu sangat mirip dengan rumah di perkotaan lengkap dengan segala fasilitas yang tersedia. Tiara menyukai pilihan warna cat yang mendominasi ruangan itu meski itu bukan warna kesukaannnya. Banyak bagian yang telah ia jadikan daftar favorit bangunan itu, taman kecil di dalam kamar, kolam renang terbuka yang terletak di samping kamar pula, dapur yang memperlihatkan pemandangan sawah, dan sebuah jendela yang bisa di duduki entah untuk membaca, minum-minum atau kegiatan lain.
Tiara merasakan jatuh cinta.
"Gimana?" tanya Yundhi setelah mengajaknya berkeliling, "suka?"
"Ada ga kata lain yang bisa mengungkapkan rasa suka?"
"Apa?"
"Cinta, tergila-gila, demen, aku ga tau kata yang tepat, yang pasti aku lebih dari sekedar suka sama rumah ini, semuanya?"
Yundhi tersenyum, puas mendengar jawaban sang istri.
"Tapi kayaknya aku salah, ada yang harus aku koreksi." Tiba-tiba Tiara menyambung kalimatnya yang membuat Yundhi sedikit tegang.
Suasana canggung tiba-tiba menyerobot masuk. Yundhi dan Tiara yang kini berada di ruang tengah, berdiri berhadapan. Yundhi sedikit takut jika Tiara kecewa dengan hadiah yang ia berikan.
"Rasa suka yang lebih itu bukan buat banguan ini, atau sawah dan pemandangan di luar...tapi buat pria yang mewujudkan semua ini."
Pelan Tiara bertutur, kemudian meraih tangan pria di depannya.
"Buat lelakiku ini, dengan segala usahanya yang selalu bikin aku terkejut, semoga aku ga jantungan, kamu...makasih udah sayang sama aku sampai detik ini. Selalu berusaha bikin aku bahagia, malah aku ga tau sudah pernah bikin kamu bahagia seperti yang aku rasakan sekarang atau belum sama sekali.Kamu itu ga fair, suka curi start bikin istrinya senang, kamu..."
Tiara harus menghentikan kalimatnya karena Yundhi memilih memyatukan bibir mereka. Yundhi menyukai Tiara yang cerewet, tapi kalimat-kalimat yang di ucapkan Tiara sekarang sangat membuatnya besar kepala hingga ia terpaksa harus menghentikannya karena takut akan terbang tinggi hingga melupakan Tiara yang masih berada di bawah.
Tiara tidak melawan. Dia membuka segala akses untuk Yundhi menyalurkan perasaannya. Hingga pria itu puas, membuat kulit bibir Tiara bengkak akibat lumatannya. Tiadak ada yang keberatan karena mereka menikmatinya.
"Karena wanita ini memang pantas menerimanya, kebahagiaan yang kamu bawa ke kehidupan aku, keluarga Prasetya, jauh lebih besar dan mewah dari semua yang aku kasih. Malah ga sebanding. Mungkin kamu ga sadar sudah berkali-kali membuat aku dan keluargaku bahagia. Terima kasih sudah menerima dan bertahan sama mantan Pilot ini."
Suara Yundhi setengah berbisik di depan wajah Tiara dengan telapak yang membingkai. Mereka menyatukan kening sebagai akhir dari adegan romatis yang mereka ciptakan dan akan dilanjutkan nanti.
"Eh, ini rumahnya sudah di selametin belum?" kata Tiara tiba-tiba.
Yundhi menggiringnya berjalan ke ruang tengah. Mereka menghempas badan di sofa.
"Aku udah minta penjaga ngundang warga sekitar syukuran dua hari lalu."
"Barang-barang kita gimana?"
"Nanti di antar sama penjaganya, yang tadi tempat titip mobil itu rumahnya."
"Oh."
"Terus makanannya gimana? Tadi kita ga belanja dulu."
"Sudah ada di kulkas. Nanti istri penjaganya datang ke sini, bantuin kalau kamu mau masak."
"Oh gitu."
Totally END