When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Blank



Tanpa dia sadari, air mata Yundhi luruh begitu saja. Tangannya menggenggam erat kotak cincin yang rencananya akan ia berikan ketika mereka melaksanakan lamaran secara resmi. Dengan tangan tertangkup menggenggam kotak cincin Yundhi menopang kepalanya yang makin terasa berat.


Merasa tubuhnya mulai lemas, Yundhi mulai meringkuk di pinggiran tempat tidur. Matanya masih setia mengeluarkan air, bentuk rasa penyesalannya yang teramat sangat.


"Maafin aku, maafin aku yang nakal sama kamu, maafin aku udah mengabaikan kamu," ucap Yundhi dengan suara parau.


Untuk pertama kalinya Yundhi merasakan sakit berbalut patah hati. Tak hanya merasakan sesak, ia merasa puluhan suara tak kasat mata merutuki keadaannya.


Harusnya ia mengutamakan Tiara. Bahkan dulu dia selalu panik jika Tiara tidak menjawab panggilannya. Lalu apa yang terjadi pada dirinya dua hari bersama Emmy. Dua hari itu adalah 2 hari terbodoh dirinya dalam hidup.


"Maaf aku lupa sama janjiku, tapi dia tetap di tempatnya, hanya masa lalu, dan kamu tetap di posisimu sebagai masa depanku, jangan hukum aku dengan cara lari seperti ini," ucapnya lagi dengan tangan memeluk erat cincin yang akan ia sematkan di jari Tiara.


Yundhi sadar Tiara tidak bisa mendengarnya, setidaknya ia melakukannya untuk dirinya sendiri, bahwa Tiara masih ada di hatinya, tak pernah tergantikan oleh siapapun, oleh wanita manapun.


Suara tawa Tiara mulai merasuki pikiran Yundhi, ocehannya ketika marah, sikap kerasnya jika ingin sesuatu, Yundhi mulai merindukan itu semua.


Kamu bahkan ga pernah minta apapun untuk oleh-oleh, ga pernah minta apapun selain aku pulang dengan selamat dan jangan ada lipstik merah di kerah seragamku, gumamnya dalam hati.


Tak hanya patah hati, Yundhi perlahan mulai merasakan ketakutan. Tubuhnya terasa ngilu dan sakit di saat yang sama. Matanya terpejam erat mencoba menghapus kemungkinan Tiara benar-benar pergi dari hidupnya.


Jangan, Ra. Jangan pergi!


***


Dua minggu berlalu setelah kehilangan Tiara, Yundhi makin terlihat kacau seperti orang yang kehilangan arah. Selama dua minggu itu juga dia tidak melaksanakan tugas terbangnya dan sudah menerima surat peringatan dari atasan. Mungkin karena sedang bebal, Yundhi sama sekali tidak memedulikan karirnya yang terancam.


Tak hanya berubah kacau, tanpa disadari Yundhi kini menjadi pria dingin. Sosoknya yang dulu ramah, tiba-tiba menjadi tak acuh pada orang lain, terlebih lagi wanita. Jika tidak memasang wajah dingin, tatapannya akan menjadi datar dan penuh tatap tidak suka pada setiap wanita yang melihatnya.


Sekacau-kacaunya penampilan Yundhi, tetap saja pesonanya bisa menghipnotis pandangan kaum hawa. Segelintir wanita bahkan lebih suka pria datar nan dingin daripada pria lembut nan ramah. Tipe wanita seperti itu sudah pasti menjadikan Yundhi sasaran. Tapi jangan harap Yundhi akan melihat mereka.


Trauma luar biasa yang dirasakannya membuatnya menjadi bersikap antipati pada wanita lain. Ia merasa Tiara tidak akan suka jika ada wanita yang melihatnya, merasa takut jika dia tidak sengaja berinteraksi dengan wanita dan Tiara melihatnya tanpa ia sadari seperti saat bersama Emmy. Pengaruh kepergian Tiara tak kalah hebat membuat Yundhi terpuruk.


Hari masih siang, tapi Yundhi telah menghidangkan dirinya berkaleng-kaleng bir di sebuah kelab yang siang harinya menjadi kafe sepi pengunjung. Di depannya berdiri dua orang laki-lagi bertubuh tinggi dan berpakaian semi formal.


Yundhi tertawa meremehkan setelah mendengar apa yang kedua laki-laki itu ucapkan. Ia kemudian melangkah berdiri di depan mereka. Tanpa bisa melakukan persiapan khusus, Yundhi menghantam satu per satu pria itu dengan tinjunya. Membuat badan mereka mundur dan hampir jatuh jika tak menjaga keseimbangan.


Ketiga pria itu terlihat sangat bodoh di depannya dan ia menganggap mereka pantas mendapat pukulannya. Mereka di sewa oleh Yundhi untuk mencari tahu keberadaan Tiara.


"Maaf bos, wanita itu sepertinya benar-benar lenyap. Tidak ada setitik petunjukpun tentang keberadaannya," ujar salah satu laki-laki itu sambil memegang sudut bibirnya yang berdarah.


"Nyari satu wanita saja kalian ga becus, cepat keluar dari sini, CEPAT!!!" bentak Yundhi marah. Suaranya menggema ke seluruh ruangan.


Ketiga laki-laki itu segera keluar terbirit-birit. Merasa takut jika Yundhi akan menghadiahi mereka dengan hantaman lain.


Merasa jengah Yundhi pun keluar dari tempat hiburan itu dan segera menuju parkiran. Mang Jay sudah siap menunggunya di mobil.


"Mang Jay ingat kemana terakhir nganter Tiara?" tanyanya setelah duduk di kursi penumpang.


Mang Jay berpikir sejenak, kemudian mengangguk cepat. Tak hanya dua laki-laki asing itu, Mang Jay pun merasa takut jika terlambat memberi jawaban pada Yundhi lalu mendapat amukan jika Yundhi merasa tidak puas dengan jawaban yang ia dengar.


"Antar saya ke sana!"


***


"Sudah sampai Den."


Mata Yundhi terbuka setelah lama tertutup selama perjalanan. Ia tidak tidur, tapi sibuk mengingat kenangannya dengan Tiara setiap mereka di mobil.


Mata Yundhi mengitari tempat mang Jay menghentikan mobil yang mereka tumpangi.


"SWOT SPOT?" gumamnya pelan. "Ini bimbel Tiara." Yundhi segera turun dari mobil menatap seksama tempat itu. Tak hanya kaget, ia merasa dadanya bergemuruh menyadari ada aktivitas yang terjadi di tempat itu.


Kenapa tak terpikir sebelumnya, Tiara mungkin pindah ke tempat itu dan tinggal di sana. Ia setengah berlari, masuk ke dalam gedung melewati resepsionis yang berjaga di depan. Langkahnya menaiki tangga. Ia sudah tahu rancangan tempat itu karena ia dan Tiara pernah mendiskusikannya.


Yundhi memasuki sebuah ruangan dan tersentak kaget melihat beberapa orang berkumpul di sana duduk berkelompok di sebuah lingkaran sofa. Matanya memindai satu per satu wajah yang ada di ruangan itu dan kembali kecewa. Tidak ada Tiara. Tatapannya berpindah ke sebuah meja kerja kosong, tapi sebuah pigura menarik perhatiannya. Dengan langkah lemah, Yundhi berjalan menuju meja itu. Ia tahu pasti itu akan menjadi meja kerja Tiara. Tapi kemana pemiliknya?


Tangannya meraih bingkai di atas meja, fotonya bersama Tiara, melihatnya membuat Yundhi mengukir senyum.


"Lo ngapain ke sini?" suara Jenny memecah keheningan yang sempat terjadi, tadinya mereka hanya mengamati Yundhi dan melihat apa yang akan di lakukan pria itu.


"Kasih tahu gue dimana Tiara!" pinta Yundhi sambil menaruh bingkai itu kembali ke tempatnya.


"Please, Jen. Lo temennya, lo pasti tahu." suara Yundhi memelas.


"Terus lo apanya? Pacarnya atau bukan? Calon suaminya atau bukan? Orang kedua yang paling penting setelah ayahnya atau bukan?" nada Jenny meninggi, "lo harusnya lebih tahu," sambungnya.


" Gue ____"


"Ga tahu? Lo ga tahu hah? Ga tahu kan di mana Tiara? Lo kemana aja waktu dia butuh lo?" Jenny bergerak ke depan Yundhi, "bahkan saat Tiara hanya butuh dengar suara lo, lo ga bisa kasih. Lo apain teman gue *******?" Jenny mendorong keras dada Yundhi hingga ia hampir jatuh.


Namun Jenny belum berhenti, "mau apa lo sekarang nyari dia? Mau ngasih janji apa lo? Mending lo bersyukur ga jadi saksi mata kehancuran Tiara. Cukup gue yang lihat dia hancur ga bersisa, karena LO GA PENTING, NGERTI?" teriak Jenny tepat di depan wajah Yundhi.


Ivan menarik badan Jenny yang mulai tak terkendali tersulut emosi sedangkan Mimi menarik Yundhi keluar dari ruangan itu agar mereka terlepas dari suasana panas yang berpotensi mengganggu siswa yang sedang belajar di sana.


"Kita-kita ga tau keberadaan Tiara, lo sia-sia nyari dia kesini," ujar Mimi sambil menarik paksa badan Yundhi.


"Gimana bimbel ini bisa jalan sedang dia ga ada?"


"Lo nanya gini, berarti lo belum kenal Tiara, dia bisa jalanin rencana tanpa harus turun tangan. Semua sudah dia atur sedemikian rupa. Kami sudah di beri tugas masing-masing lewat email sebelum dia menghilang. Tinggal ketemu, komunikasi, that's it. Peserta bimbel sudah ada begitu aja, jadwal, biaya operasional, semuanya rapi dan dia...pakai dana pribadi," ucap Mimi panjang lebar.


Mata Yundhi terbelalak menatap Mimi.


"Apa? Lo ga tahu masalah ini?" Mimi tertawa mengejek.


"Lo, ceritain semuanya ke gue!" kali ini Yundhi yang menarik lengan baju Mimi.


Lengan baju?


Meski Mimi sahabat Tiara, Yundhi tetap tidak ingin ada kontak fisik, rasa antipatinya masih aktif, bagaimanapun Mimi seorang perempuan, kan?


Bagaimana jika Tiara tiba-tiba datang dan melihatnya melakukan skinship dengan Mimi.


***


Mereka duduk di sebuah tempat makan yang ada di deretan bimbel Tiara. Mimi mungkin lebih lunak di banding Jenny hingga Yundhi berani memaksa sahabat Tiara itu menceritakan hal yang ia lewati tentang Tiara.


"Semuanya, yang elo tahu tentang Tiara, sekecil apapun itu kasih tahu gue, se-ka-rang!" ucap Yundhi dengan penekanan di akhir kalimatnya.


Mimi sebenarnya malas meladeni Yundhi, tapi melihat penampilan Yundhi yang jauh berbeda dari sebelum Tiara menghilang, Yundhi yang sekarang acak-acakan, membuatnya sedikit iba.


"Tiara pakai dana pribadi buat buka bimbelnya, dari awal dia ga dapat sponsor." Yundhi menghela nafas. "Dia memang punya dana khusus buat bimbel ini, kemungkinan dari uang bulanan yang di transfer ayahnya dan hasil di ngajar les di banyak tempat sejak masih kuliah," Mimi melanjutkan.


Yundhi tertunduk, ia sedikit kesal kenapa Tiara tidak memakai uangnya saja untuk menjalankan bimbel itu, Yundhi akan dengan senang hati memberi semua uang yang dia punya untuk Tiara.


"Kita semua yang jadi pengurus, yang gantiin dia sekarang itu dapat email dari dia, tapi emailnya ga aktif lagi waktu gue mau bales. Kayaknya dia hapus biar ga ninggalin jejak. Tiara benar-benar sembunyi," kenang Mimi dengan raut sedih.


"Termasuk Ivan?" tanya Yundhi tiba-tiba.


"Iya, Tiara butuh Ivan, dia anak manajemen, jadi dia ngatur segala sesuatu di bimbel ini."


Yundhi hanya mengangguk.


"Gue mau konfirmasi sesuatu, lo tahu Tiara ketemu mantan lo di tengah jalan menuju tempat wisudanya dia waktu itu?"


"Maksud lo?"


Mimi menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir, Yundhi ternyata ketinggalan banyak hal tentang Tiara.


"Dari awal dia udah tahu mantan lo balik, tapi dia lebih percaya kalau lo ga bakal nyari mantan lo lagi, dia sangat yakin kalau dialah masa depan lo."


Yundhi meraup wajah frustasi.


"Gue tegasin, gue ga pernah berpaling dan Tiara memang masa depan gue, ga akan ada yang gantiin dia."


" Oh ya? Wah, kalau gue kasih tahu lagi gue ga yakin lo bisa ngeles," ucap Mimi dengan nada merendahkan.


"Apa?"


"Mantan lo punya adik kan? Kita, bertiga dengar nama lo di sebut sama adik mantan lo itu yang gue atau Tiara ga tahu namanya, waktu kita di toilet bioskop. Lo nanyain kabarnya kan, nanyain kapan mantan lo balik dari luar negri, minta di kasih kabar pengen ketemu."


Kali ini Yundhi merasa tertampar, ia ingat saat itu, hari kelulusan Tiara.


"Malam di mana lo harusnya ngerayain hari kelulusan Tiara, dia dapat cum laude. Gue sahabatnya yang paling cuek, tapi gue yakin sebenarnya dia pengen rayain itu sama lo, tapi dia malah ngajak kami nonton," Mimi tertunduk mengingat kejadian itu.


"Kita udah nuding lo macem-macem, tapi dia terus aja belain lo, gue kesel sedikit pun dia ga marah ke lo, ga mau curiga apapun ke elo. Kalu lo khianatin dia di belakang, gue pastiin lo bakal nyesel."


"Gue ga pernah punya niat khianatin dia, gue dan Emmy sekarang cuma teman, gue cuma bodoh ga cerita tentang Emmy sama dia dari awal," ungkap Yundhi dengan nada penuh penyesalan.


"Baru nyesel lo. Ah, gue hampir lupa. Lo harus banyak terima kasih sama pak Deki."


"Maksud lo guru baru itu? Ngapain?"


"Dia yang gantiin posisi lo waktu Tiara nemuin paman Adib collaps. Dia nolong Tiara dari awal."


Lagi-lagi Yundhi merasa egonya tersentil.


"Hm, gue bakal ingat."


"Segitu sibuknya lo reunian sama mantan, sampai ga punya waktu sekedar nanya kabar Tiara. Jenny benar lo harus bersyukur ga lihat Tiara sekacau itu. Di tinggal paman Adib, tahu-tahu punya ibu dan adik tiri. Tu anak baik banget lagi nanggung ibu sama adeknya. Semua hasil bimbel kita kasih ke tante Helma. Tiara pesan itu buat Wahyu. Ada mata paman Adib di mata Wahyu, dia lihatnya gitu."


Mimi kemudian berdiri, ingin meninggalkan Yundhi.


"Perbaiki diri lo, gue cuma bisa bantu sampai sini." ucap Mimi sambil berbalik.


"Lo udah tanya pak Sahrul? Sebagai atasan mungkin beliau lebih tahu daripada kami," tutup Mimi tanpa berbalik melihat Yundhi.


Om Sahrul?