When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Keluarkan!



Kasvian Gazale Alam. Laki-laki berusia 37 tahun. Salah satu staf kementrian yang bertemu dengan Tiara sekitar dua tahun lalu saat Tiara beberapa kali menjadi penerjemah di kantornya. Di saat yang sama, waktu itu anaknya Geva Gazale Alam, membutuhkan tutor untuk memperdalam ilmu bahasa Inggrisnya. Seakan mendapat orang yang tepat, Vian menanyakan pada Tiara apakah bisa membantunya mengajari Geva. Di luar dugaan Tiara bersedia menjadi tutor tetap Geva. Tiga kali seminggu, setiap pulang kuliah Tiara aktif datang ke rumah Vian mengajari Geva.


Selama di bimbing Tiara, Geva mengalami banyak kemajuan. Hingga saat ini semua keluarga Vian akrab dengan Tiara. Geva dianggap Tiara sebagai adik, Vian dan istrinya Asti, di anggap kakak oleh Tiara. Rumah Vian seperti rumah kedua bagi Tiara.


Vian menendang-nendang ringan kaki Tiara yang saat itu masih tertidur. Sudah jam sebelas siang dan Tiara belum juga bangun.


"Tiara, bangun woy! Jadi ke Loca ga?"


"Jadi lah bang." jawab Tiara sambil memperbaiki letak selimut.


"Dasar kebo!"


"Bukan kebo bang, ini gue lagi ngurangin beban hidup gue yang terlampau berat." Ujarnya dengan suara tidak jelas.


"Kamu berangkat jam 1, ini udah jam 11, cepetan bangun, siap-siap!"


"Hm, siap!" hanya berkata di mulut, tapi Tiara masih menempelkan kepalanya di bantal.


"Heh, dasar. Abang tunggu 20 menit lagi di luar."


"Iya bang." Tiara tidur lagi.


***


Yundhi terperanjat dari tidur lelapnya, otaknya langsung bekerja. Di lihatnya jam tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan dan dia mengumpat. Tidak ada yang membangunkannya hingga sesiang ini, biasanya Citra atau Ranti tidak akan berhenti mengganggunya sampai ia bangun dan sarapan bersama.


Yundi segera ke kamar mandi dan melakukan mandi kilat. Entah apa yang membuatnya buru-buru, padahal ia tidak punya janji temu dengan siapapun.


Setelah selesai menyiapkan diri Yundhi segera turun. Di meja makan ia sudah melihat Hans, Citra dan Ranti yang menikmati sarapan dalam diam.


Begitu Yundhi tiba di depan meja makan, Citra langsung bangun dan meninggalkan kursinya. Ia bahkan tidak melihat wajah Yundhi, rotinya pun masih tersisa tapi Citra tak peduli, Citra tetap masuk ke kamar. Hans dan Ranti juga tak menegur apa yang di lakukan Citra, mereka diam saja ketika Citra meninggalkan makanannya.


Mengambil tindakan sama seperti Ranti dan Hans, Yundhi tidak meributkan sikap tak acuh sang mama. Ia mengambil selembar roti, mengolesinya dengan selai, dan memakannya dengan tenang. Tidak ada satupun yang bicara, membuat suasana terasa canggung bagi Yundhi.


"Oma udah selesai, oma duluan." ujar Ranti begitu rotinya habis. Tanpa menunggu jawaban siapapun Ranti meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya. Kini hanya tinggal Yundhi dan sang papa.


"Mama kenapa pa?"


"Mama kamu sedang patah hati." Ujar Hans penuh teka-teki, sambil berdiri keluar dari kursi. Sebelum benar-benar pergi, ia menepuk bahu Yundhi, "Papa harap kamu ga salah langkah," ujarnya lagi dan melangkah keluar menuju mobil yang sudah siap mengantarnya ke kantor.


Yundhi tak terlalu memikirkan kata-kata Hans, ia segera menghabiskan rotinya dan juga pergi dari meja makan. Hari ini ia akan menemui Tiara. Akan menghabiskan waktu dengan calon istrinya itu. Jika Tiara marah karena ia tak menemaninya ketika Adib meninggal, Yundhi akan minta maaf sampai Tiara memaafkannya. Ia yakin Tiara bisa memahami karena saat itu Tiara sendiri yang melepaskannya untuk bekerja, terbang ke Jepang.


Yundhi segera mengambil kunci mobil, menjalankannya dan meninggalkan halaman rumahnya yang luas. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu Tiara. Ia berharap Tiara sudah berada di kamarnya sekarang.


***


Tiara duduk dengan tenang di kursi penumpang samping Kasvian. Tatapannya mengarah keluar jendela. Menikmati pemandangan kota tempat tinggalnya untuk terakhir kali.


"Jangan bilang ini gara-gara laki-laki, kasih tahu abang siapa orangnya, berani dia nyakitin kamu."


"Geva udah semester berap bang? Kuliahnya lancar kan, bilang sama dia untuk spesialis ambil kuliah di luar aja," seru Tiara dengan mata yang masih menghadap jendela. Vian menarik nafas berat.


Jika sudah begini Tiara benar-benar tidak akan menceritakan masalahnya. Gadis itu benar-benar pintar menyembunyikan perasaan.


"Nanti abang sampaikan." Vian menyerah untuk memancing Tiara bercerita tentang masalahnya. Pendiriannya terlalu kokoh, sakit keras kepalanya sangat akut.


"Abang akan nganter kamu sampai Loca, setelah ketemu pengurus daerah sana, baru abang balik. Kamu harus janji jaga diri baik-baik di sana, Ra!" titah Vian.


"Hm, tenang aja bang."


"Kalau abang dengar kamu ada masalah sedikit saja, semisal sakit, abang ga akan segan geret kamu balik."


Tiara hanya diam tanpa jawaban, tapi kata-kata Vian ia simpan dalam memorinya. Ia tidak boleh sakit.


"Tadinya kamu hampir batal pergi, pilot pertama yang kantor hubungi ga mau terbang sekarang karena urusan pribadi, untungnya ada pilot lain yang bersedia."


Kali ini ucapan Vian ia anggap angin lalu, Tiara menangkap kata pilot disana, membuatnya teringat Yundhi.


Laki-laki itu.


Apa yang sedang di lakukannya sekarang, apa dia masih di Jepang. Liburan bersama Emmy, berfoto seperti yang ia lihat di ponselnya. Kalau kamu bahagia dengannya, akan kurelakan.


Mata Tiara terpejam, menahan air agar tidak keluar dari setiap sudutnya.


Aku akan pergi agar kamu ga perlu memilih.


Aku akan pergi agar kamu ga merasa terbebani.


***


Yundhi menghentikan mobilnya di depan rumah Tiara. Ia bergegas keluar berlari menuju pintu. Helma membukakannya pintu di ketukan yang ke dua.


"Tante, Tiara udah pulang?" Yundhi langsung ke inti kedatangannya.


"Masuk dulu nak Yundhi, silahkan duduk!"


Helma memilih duduk di tempat yang bersebrangan dengan Yundhi.


"Mau minum apa?"


"Ga usah repot-repot tante! Tiara?"


"Oh, Tiara belum pulang."


Mata Yundhi membulat, lututnya seakan lemas, tatapannya mulai gusar.


"Maksud tante, sejak pergi tadi malam Tiara ga kembali lagi?"


"Nak Yundhi belum tahu bagaimana Tiara kemarin ketika ayahnya meninggal?"


Yundhi menggeleng lemah, "waktu itu saya sedang bertugas," jawabnya dengan suara pelan.


"Oh, tante lupa nak Yundhi seorang pilot." Helma menjeda, "Tiara mungkin terpukul dengan kepergian ayahnya yang tiba-tiba. Dia sendiri yang menemukan ayahnya sudah meninggal dunia di kamar," ucap Helma dengan mata yang sudah berembun.


"Ada seorang temannya yang kebetulan datang, dia membantu Tiara membawa mas Adib ke rumah sakit, tapi nyawa mas Adib tidak bisa di selamatkan. Sejak dari rumah sakit, Tiara sudah pingsan. Sampai di rumahpun dia hanya sadar beberapa saat. Teman dan tetangga yang membantunya mengurus segala sesuatu yang harusnya menjadi tanggung jawab Tiara." Helma tidak bisa menahan air matanya lagi. Wajahnya sudah basah oleh cairan bening itu.


Yundhi yang hanya mendengar cerita merasa sakit di dadanya. Ia bisa membayangakan bagaimana terpukulnya Tiara, sedangkan ia tidak bisa berada di samping sang calon istri. Yundhi mulai frustasi, dia memikirkan kemana kira-kira Tiara pergi, otaknya mulai berkelana.


"Boleh saya ke kamarnya Tiara?" kata Yundhi tiba-tiba.


Helma mendongak, kemudian mengangguk memberi izin.


Yundhi berharap menemukan petunjuk sekecil apapun tentang keberadaan Tiara, calon istrinya. Ia melangkah pasti menuju kamar Tiara, diikuti Helma di belakang.


Yundhi tercengang melihat kamar Tiara yang berantakan. Tidak banyak barang di sana. Beberapa baju berserakan di atas tempat tidur, sprei yang menutupi kasur keluar dari tempatnya. Bantal tidur sudah berpindah ke lantai.


Yundhi memandang ke bawah, tatapannya nanar, keadaaan kamar itu seolah menggambarkan bagaimana kacaunya Tiara. Dadanya panas di penuhi rasa bersalah karena tidak bisa menemani Tiara melewati musibah yang menimpanya. Bayangan Tiara yang menangis di atas tempat tidur seolah berputar di ruangan itu, Tiara yang histeris dan tidak bisa mengendalikan emosinya, menangis sendirian. Tangan Yundhi terkepal erat, bukunya memutih. Merasa sakit dan marah di waktu yang sama. Marah pada dirinya yang sempat mengabaikan gadis yang menerima lamarannya tanpa syarat dan sakit, tidak bisa bertemu kala ia merindukannya.


Tiba-tiba Yundhi merasa menginjak benda keras, dahinya mengernyit. Sebuah pecahan ponsel. Yundhi meraih benda itu dan mengamatinya. Pecahan ponsel milik Tiara ada di tangannya. Matanya mengitari sekeliling ruangan, bermaksud mencari pecahan yang lain. Yundhi mengangkat baju Tiara yang berserakan di bawah, di sana ia menemukan pecahan yang lain. Ia harus menemukan pecahan lain lagi, agar bisa merangkai ponsel itu menjadi utuh kembali.


"Tante belum sempat merapikan kamar Tiara."


Tiba-tiba Yundhi tersadar, ia tidak sendiri di ruangan itu. Pikirannya kembali fokus pada Helma.


"Maaf, tante punya hubungan apa sama Tiara?"


Helma menghentikan aktivitasnya memunguti pakaian Tiara. Ia menatap ke arah Yundhi.


"Saya, tante adalah ibu tirinya Tiara."


Tubuh Yundhi mundur mewakili rasa terkejutnya. Ibu tiri? Tiara bahkan tidak pernah memberitahunya kalau dia punya ibu tiri.


"Ekspresi kamu sama seperti Tiara. Dia juga baru mengetahui keberadaan saya kemarin, setelah pemakaman ayahnya selesai. Saya kira dia akan mengusir saya dan Wahyu. Tanpa saya duga dia meminta saya tinggal di sini. Sebelum pergi dia meminta saya menjaga rumah ini selama dia ___"


"Wahyu?" ucap Yundhi dengan nada tanya yang kental.


"Wahyu, adik Tiara."


Perasaan Yundhi bergejolak. Tiara, bagaimana ia bisa menerima kenyataan seperti ini di saat kehilangan ayahnya. Yundhi semakin diselimuti rasa takut. Takut kalau Tiara tidak bisa menerima kenyataan dan mengambil jalan yang salah.


"Mama!" suara anak kecil menginterupsi pembicaraan Yundhi dan Helma. Helma segera keluar dari kamar itu meninggalkan Yundhi.


Fokus Yundhi kembali pada Tiara. Dia pergi, tidak membawa ponsel, bagaimana Yundhi akan menghubunginya. Kemana Yundhi akan mencarinya. Semua pertanyaan tentang bagaimana menemukan Tiara berputar di kepalanya.


Yundhi segera keluar dari kamar Tiara. Di sana ia tidak bisa berpikir karena bayangan Tiara sepertinya hadir di kamar itu.


Helma keluar dari kamar, hendak menyambangi Yundhi, tapi Yundhi sudah melangkah keluar dan ia juga melihat Helma.


"Saya akan kembali," ucap Yundhi menatap Helma dan Wahyu bergantian.


Yundhi kemudian pergi dan segera memasuki mobil. Di sana dia melampiaskan kemarahannya, memukul setir beberapa kali meluapkan emosi yang tiba-tiba muncul. Penyesalan kini menyelimuti seluruh ruang hati Yundhi. Kenapa ia begitu abai, bahkan tidak pernah menghubungi Tiara ketika bersama Emmy. Umpatan keluar dari mulutnya yang ia tujukan untuk dirinya sendiri.


Otaknya berpikir keras bagaimana agar bisa menemukan Tiara. Kenapa Tiara tidak ke rumahnya jika tak sanggup menghadapi kehadiran Helma.


Saat pikirannya dipenuhi tanda tanya, ponsel Yundhi bergetar. Sebuah panggilan dari maskapainya tertera di sana.


"Ya?"


"...."


Yundhi menarik nafas dalam mendengar kata-kata orang di seberangnya.


"Sorry, hari ini saya ga bisa pak, saya punya urusan pribadi yang harus diselesaikan. Saya bisa bawa heli, tapi maaf hari ini saya ga bisa terbang. Bapak bisa minta yang lain. Besok saya akan menghadap."


Yundhi memutus sambungan sepihak, ia kembali fokus pada Tiara. Mengingat-ngingat saat terakhir bersama wanitanya itu.


Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ia memberikan kartu debet pada Tiara sebelum berangkat bekerja kala itu.


***


Sebuah helikopter EC-725 AC Caracal telah siap di landasan helipad di atas gedung kementrian. Helikopter itu, akan mengantar Tiara dan Kasvian menuju pulau Loca.


Tiara sedikit gentar mendengar deru mesin pesawat yang akan segera ia naiki. Sempat merasa ragu namun segera ia tepis. Ia tidak mungkin mengecewakan Vian setelah bersedia repot-repot membantunya.


Vian naik lebih dulu dan segera mengambil posisi agar bisa menarik tangan Tiara nanti saat akan menaiki pesawat, Tiara pun segera menyusul. Mereka kini sudah berada di dalam pesawat. Pilot pun mulai menggerakkan pesawat berbaling-baling itu. Tiara dan Vian memasang headset agar memudahkan mereka berkomunikasi.


Tangan Tiara sedikit bergetar, matanya mulai basah. Ia teringat Yundhi. Kenangan manis mereka berputar di kepalanya seiring heli yang terus naik ke udara. Seketika itu juga bayangan Yundhi dan Emmy muncul membuat lukanya semakin terbuka. Tiara menangis, ia tak tahan. Tangisnya semakin kencang, ia bahkan harus memegang dadanya yang kembali sesak.


Kasvian tahu Tiara sedang memikul beban yang tak ingin di bagi dengan siapapun. Beban itu mungkin menjadi luka yang bersemanyam di hatinya. Vian hanya bisa menepuk halus pundak Tiara, mencoba memberi kekuatan di tengah kerapuhannya.


"Kamu nangis aja, keluarkan semuanya, abang ga akan nanya."


***


Yundhi sibuk memeriksa menu e-banking di ponselnya. Wajahnya kembali lesu. Tidak ada riwayat Tiara menggunakan kartu yang ia berikan. Tidak ada notif pemberitahuan bahwa saldonya terpotong. Pikirannya kembali kacau.


Sekarang bagaimana ia mencari keberadaan Tiara. Ia melihat gerai ATM di pinggiran toko. Mobilnya ia tepikan di sana. Dengan pikiran terburuk yang sedang di alami Yundhi mengambil dua kartu yang tersimpan di dompetnya. Ia mentransfer semua uang yang ada di kedua kartu itu ke nomor rekeningnya yang kartu debetnya di bawa Tiara. Berharap dengan sangat agar Tiara memakai semua uang yang ada di sana sehingga ia bisa melacak keberadaan Tiara dengan kartu itu.


Transaksinya telah selesai di lakukan. Yundhi menopang tubuhnya di mesin ATM di depannya. Pikirannya akan buntu jika harus diam dan hanya menunggu.


Sekelebat bayangan Tiara muncul di kepalanya. Bagaimana gadis itu merapikan letak dasinya saat pertemuan terakhir mereka, tingkah manja Tiara yang memeluknya saat akan berangkat bekerja, pesan-pesan Tiara yang ingin dia kembali tanpa ada tanda lipstik merah di kerah bajunya. Demi Tuhan sekarang Yundhi benar-benar merindukan wanita itu.


Secepat itu pula rasa bersalah muncul, karena terakhir bertemu Tiara, ia bahkan menemui Emmy dan menemani wanita yang sekarang menjadi temannya itu. Rasa bersalah datang seperti palu gondam yang memukul sekujur tubuh Yundhi. Tanpa sadar ia menendang mesin ATM yang tidak bersalah sehingga menimbulkan tanda tanya pada orang-orang yang mengantri di balik kaca pembatas.