
If you are mine, you are only mine, I don't like sharing.
Itu istilah yang menggambarkan seorang Yundhi kemarin Bahkan dia keberatan kalau Tiara berbagi tawa dengan Deki. Hanya Deki, mantan rivalnya yang terlampau nekat ingin menikungnya dulu.
Dia tahu Deki. Yundhi pernah menyelidiki pria itu diam-diam pasca acara makan malamnya yang dia gelar untuk merayu Tiara.
Menjadi guru hanya pekerjaan main-main pria itu. Utamanya adalah Deki seorang pebisnis, terkhusus di bidang garmen. Keluarganya punya perusahaan garmen yang tersebar di beberapa kota, bahkan memiliki cabang di luar negri. Ayahnya masih menjadi pemegang perusahaan mereka sebelum nantinya akan di wariskan pada Deki.
Lainnya, informasi tentang Deki yang membuat Yundhi tidak nyaman jika Tiara dekat dengannya adalah sepak terjang Deki di dunia gemerlap. Entah masih atau tidak, Deki adalah seorang play boy kelas berat. Pernah mendapat julukan "hot bujang". Menjadi incaran wanita kelas menengah ke atas. Berganti wanita setiap kali berkencan.
Entah apa yang menimpa lelaki itu hingga memilih menjadi guru sebagai profesi sampingannya.
Dan saat ini, setelah hari kemarin berlalu, setelah dirinya di landa cemburu melihat Tiara tertawa dengan Deki, setelah ia melakukan hubungan dengan kasar karena ingin menghukum sang istri, Yundhi seperti di tampar keras tangan tak kasat mata ketikamelihat benda yang ada di tangannya.
Bukanya dia tidak senang, hanya saja, apa yang baru dia perbuat bisa saja...ah, Yundhi bahkan tidak berani memikirkan jika perbuatannya memengaruhi calon bayinya nanti.
Tiara masih terlelap, Yundhi menatapnya iba dengan kaki yang tak berhenti mondar-mandir di depan sang istri.
Tangannya mendadak tremor, kakinya terasa seperti.tidak menginjak lantai. Yundhi ketakutan, membayangkan bagaimana tadi dirinya berlaku kasar pada Tiara. Wajah Tiara yang memelas memintanya agar lebih pelan terbayang-bayang di benaknya. Sesekali Yundhi berjongkok sambil melihat wajah damai itu. Kenapa dia sampai berlaku seperti ******** pada istri sendiri?
Sesal. Maaf. Dua kata itu menjadi akhir dari perilakunya. Dia tersadar, waktu tidak bisa di ulang. Matanya melihat pada jam di atas nakas, pukul empat pagi. Yundhi keluar dari kamarnya.
Setengah berlari ia menuruni tangga, lalu bergegas ke bagian belakang rumahnya, ke kamar bik Jo tepatnya.
Tidak segan-segan Yundhi mengetuk pintu di hadapannya. Di ketuknya berkali-kali sampai orang yang ada di dalam itu membuka pintu.
"Ada apa Den? Ada yang bisa bik Jo bantu?"
Yundhi menggaruk tengkuk, "maaf Yundhi bangunin pagi buta bik, saya mau minta tolong nanti bikin sarapan lebih cepat, bikin sarapan yang sehat, sayurnya lebih banyak, tapi harus ada daging juga. Jangan olahan lauy, Tiara alergi udang dan teman-temannya. Bisa kan bik?"
Bik Jo yang masih setengah sadar dengan mata setengah terbuka seketika sigap, "bisa."
Seyum Yundhi mengembang.
"Nanti bibi masakin yang enak, lezat dan bergizi, mau di banyakin sayur kan Den?" Dalam hati Bik Jo ingin bertanya alasan dirinya di minta membuat sarapan pagi buta, tapi semua itu teryahan di mulut saja.
"Makasih Bik, maaf saya ganggu." Yundhi bergerak meninggalkan pintu di mana bik Jo masih berdiri, "jangan sampai telat Bik!" setengah berteriak Yundhi mengingatkan kembali.
"Kesambet apa Tuan Muda itu?"
***
Yundhi masih bertahan di lantai dasar rumahnya. Beberapa lampu ruangan dia nyalakan. Tangannya sibuk mengetik, menscrolling benda pipih di tangannya. Sesekali mulutnya berdecak, mendesah putus aasa dan membuang napas kasar.
Tidak ada toko bunga yang sudah buka sepagi itu adalah penyebab Yundhi kecewa.
Badannya terhempas ke sofa, memijit pelipis yang mulai berdenyut. Seharian ini dia benar-benar tidak tidur. Tubuhnya mulai terasa lesu.
Waktu sudah memasuki subuh, matahari sebentar lagi akan naik, sialnya matanya malah terasa makin berat. Dia tidak mau tertidur saat Tiara membuka mata lagi.
Langkahnya gontai menuju kamar. Di kamar mereka, Tira masih tertidur pulas. Dengan gerakan pelan Yundhi mengisi ruang kosong di samping sang istri. Ratusan kata maaf terucap tanpa suara. Terekam jelas bagaimana Tiara sabar saat melayaninya, wanita itu tidak mengeluh sedikitpun, tidak pernah menolak saat Yundhi meminta. Kemarin Tiara hanya meminta Yundhi menurunkan tempo, bahkan untuk hal sesepele itu, dia tidak mau mengabulknannya.
Tiara marah saat Yundhi menyakiti hati wanita itu, tapi tidak marah saat Yundhi menyakiti fisiknya.
Sangat halus Yundhi menarik tubuh Tiara ke dalam dekap. Sentuhannya seperti tangan yang menyentuh porselen, takut kalau bemda itu akan ia pecahkan. Tiara bergumam tak jelas, namun membalas pelukan suaminya. Untuk kali kedua, , sudut mata Yundhi menyembulka cairan bening.
Kalau dulu air mata pertamanya adalah ketika Ed lahir, dan yang keluar adalah ungkapan air mata bahagia. Kali ini tangisannya adalah untuk kebodohannya sebagai seorang suami.
***
Sinar matahari bersemangat masuk melalui celah tirai ruangan. Hangatnya terasa menyentuh kulit wajah Tiara dan cahayanya mengusik Tiara untuk membuka mata. Samar-samar penciumannya menangkap aroma maskulin yang menenangkan. Sensasi kehangatan lain mengambil alih yang ternyata ia rasakan dari tubuh suaminya.
Mata itu masih terpejam. Meski tertutup , mata itu menguarkan gurat lelah. Jam berapa suaminya itu tidur?
"Tahu rasa, capek kan sekrang, sudah di bilangin pelan -pelan, malah ngeyel." Kalimat itu di ucapkan Tiara pada Yundhi yang masih pulas.
Tiara beranjak duduk, hati-hati, ada rasa pegal di beberapa bagian tubuh. Dirinya memilih duduk lebih lama untuk menyesuaikan diri. Matanya menoleh pada amplop yang ia taruh di atas nakas. Amplop itu sudah tidak di tempatnya.
"Kamu sudah buka amplopnya ternyata, jangan takut! Anakmu baik-baik saja." Lagi-lagi Tiara bicara, seolah Yundhi mendengarnya, seolah dirinya tahu perasaan suaminya setelah melakukan aksi itu semalam dan kini tahu dirinya hamil.
Tiara mengecup sekilas bibir suaminya, kemudian beranjak turun menuju kamar mandi.
Langkahnya tertatih, berjalan hati-hati karena terselip rasa takut yang tidak ia mengerti. Pelan ia mengusap perut, "Mama tahu kamu kuat."
Setelah dua puluh menit berlalu, Tiara keluar dengan rambut basah yang di gelung handuk kecil. Tubuhnya rapi terbungkus handuk kimono putih.
Di lemari, Tiara memilih baju rumahan yang membuatnya nyaman. Pilihannya jatuh pada kaus besar milik Yundhi. Mungkin karena ukurannya yang longgar di tubuh, bahan yang halus tapi bisa menyerap keringat menjadi alasan Tiara iseng mengambil baju di lemari sang suami.
"Aku pinjam bajumu ya? Iya. Makasih.Sama-sama," kalimat tanya dan jawabannya berasal dari Tiara. Hanya formalitas meminta ijin yang punya saja.
Kaus oblong berwarna biru muda, dengan tulisan 'damn, I love Indonesia' itu terpasang sempurna di tubuh Tiara. Tiara lalu menuju kamar putranya. Ed sedang duduk sendiri dengan sebuah boneka yang suka di peluk anak itu ketika tidur.
"Wah, sudah bangun kesayangan Mama. Udah lama ya nunggunya?"
Ed menanggapi kalimat Tiara dengan celotehan anak kecil. Anak itu lalu berdiri, merentangkan tangan ingin di rengkuh ibunya.
"Ed mau makan dulu atau mandi dulu? Mandi dulu aja ya, tapi kita mandi di bawah, Papa masih tidur, masih capek, kasian nanti keganggu. Ed mandi di bawah sama Mama ya nanti."
Ada rasa was-was yang dirasakan Tiara ketika menggendong Ed, mengingat kandungannya yang masih muda sekarang. Tapi dia juga tidak tega membiarkan Ed berjalan menuju lantai bawah, karena setiap hari, setiap bangun dari tidur anak itu selalu mendapat pelukan dan ciuman dari ibunya selama sebanyak mungkin.
"Ada yang mau datang ya Bik, tumben masak sebanyak ini?"
Tiara melihat olahan sayur capcay, tumis buncis, bihun sayur, semur daging, perkedel kentang, dan tahu tempe bacem.
Bik Jo yang baru meletakka mangkuk berukuran sedang berisi sayur sop menoleh, "itu dia non, tadi Den Yundhi sekitar jam tiga gedor-gedor pintu minta saya masak banyak, yang enak, yang bergizi yang banyak sayur yang ada daging tapi jangan udang sama temen-temennya, gitu. Den Yundhi mau ada tamu mungkin, Non Tiara ga tahu?"
Tiara yang di tanya juga tidak tahu menahu rencana suaminya, wajahnya menunjukka raut bingung.
"Mungkin, ya sudah Bibik siapkan saja yang perlu di siapkan, saya mau mandikan Ed."
Tiara bergegas menuju kamar mandi yang biasa di pakai tamu yang datang ke rumah mertuanya. Dirinya tak perlu repot mencari kebutuhan Ed karena sejak Ed lahir, di ruangan manapun itu keperluannya sudah di sediakan. Baik keperluan mandi, minyak telon, bedak, diaper, baju hingga mainan. Di kamar Citra dan Ranti pun terdapat barang-barang Ed, berjaga kalau-kalau cucu mereka mau menumpang mandi atau tidur di sana.
Sekesai memandikan Ed, Tiara kembali ke meja makan. Kali ini dirinya sedang malas untuk memasakan Ed. Lagi pula Bik Jo sudah membuat makanan yang sangat banyak, dirinya memilihkan menu yang bisa di terima lidah Ed untuk sarapan.
***
Di kamarnya Yundhi tiba-tiba tersentak bangun. Dirinya seperti di siram air dingin. Kesadarannya langsung berkumpul. Matanya langsung terbuka, badannya duduk tegak. Dia menoleh ke sekitar ruangan, gelisah, tidak mendapatkan Tiara di sana.
Yundhi beringsut menuju kamar Ed. Kosong.
Dia menuju interkom, berharap ada yang mendengar panggilannya.
"Biiiiiik, Bik Jo!" Hening beberapa saat.
"Iya Den," Jo menjawab panggilan dari dapur.
"Disana ada non Tiara?"
"Ada."
"Sedang apa?"
"Sedang suapi Den Yudhi."
"Bilangin ga usah gendong Ed!"
"Oh, Non kata Tuan ga usah gendong Den Yudhi." Teriak Jo pada Tiara.
"Bilangin iya."
"Kata Non Tiara iya."
"Bilangin sama Tiara jangan banyak gerak!"
"Non! Kata Tuan jangan banyak gerak!"
"Bilangin iya."
"Kata Non Tiara iya."
"Bilangin jangan kerja yang berat-berat, kalau bisa jangan jalan!"
"Non, kata Tuan jangan kerja berat, jangan jalan."
"Bilangin iya."
"Kata Non Tiara iya Den."
"Sarapan yang banyak, banyakin makan sayur, jangan lupa makan daging, bilang gitu Bik!"
Di depan interkom Jo mengingat lagi kalimat Yundhi yang lumayan panjang kali itu.
Tiara bisa melihat Bik Jo kebingungan dari meja makan.
"Bilang aja bik saya dengar kok."
"Den, kata Non dia dengar."
"Mana Non Tiaranya, minta dia ke situ!"
"Non diminta ke situ, eh...ke...sini ya jadinya?"
Jo menyingkir dari depan interkom, di gantikan Tiara, "iya aku dengar, kamu yang minta Bik Jo masak sebanyak ini?" Tanyanya begitu mereka saling tersambung dengan interkom.
"Kamu kenapa ga bangunin aku, kenapa ga bilang kamu lagi..." mendadak Yundhi seperti menelan batu, takut melanjutkan kata-katanya sendiri.
"Tadinya mau bikin kejutan, tapi kamunya marah-marah, sudah mandi dulu sana yang bersih yang wangi," Tiara belum sadar dirinya bicara sendiri, karena Yundhi sedang berlari menuju dirinya, "anakmu ga suka bau yang jelek-jelek, eh..." Tiara merasa ada yang memutar badannya tiba-tiba.
"Maaf." Yundhi memeluknya.
**Open vote, adiknya Ed mau cewek atau cowok?
boleh jawab di kolom komentar ya.
sambil nunggu up Tiara Yundhi, bisa jalan-jalan ke Kenya atau Cashier Wanna Be guys**.