
Pukul tujuh pagi Yundhi sudah mendudukkan diri di meja makan. Bik Jo masih berkutat di dapur dengan masakannya, tapi Yundhi lebih memilih roti tawar yang sudah tersedia di atas meja daripada harus menunggu masakan bik Jo matang. Hari ini ia memiliki jadwal yang padat dengan Tiara. Baru satu gigitan pada roti yang ada ditangannya Citra muncul dari arah kamar.
"Tumben pagi, pasangannya udah balik sekarang mendadak rajin ya kamu," sindir Citra dengan senyum menghoda Yundhi yang tampak segar.
"Tapi mama seneng kan lihatnya?"
"Iya lah, lebih seneng Tiaranya balik tapi."
Yundhi berdecak, dan dia sudah biasa di anak tirikan sang mama kalau ada Tiara. Itu yang terpenting, calon istri dan mamanya klop.
"Hari ini mama mau belanja buat seserahan, fitting baju sama oma, terus ke catering buat nyoba menu. Kamu punya barang khusus yang mau di kasih ke Tiaranya? Biar nanti sekalian di packing sama WO."
"Ada," jawabnya cepat, Yundhi mengambil dua lembar kertas dari dalam dompet dan menyerahkannya pada Citra, "Mama sekalian ambilin ya, hari ini Yundhi seharian sama Tiara dan Wahyu."
Citra membaca nota pembayaran yang baru di serahkan Yundhi, di sana tertulis nama toko perhiasan terkenal, dan nama toko sepatu merek luar negri yang bisa di pesan khusus model dan ukuran pemakainya.
"Biar nanti Mama tambahin yang lain," veletuknya senang.
Tak lama Hans dan Ranti bergabung dengan mereka. Ikut membahas rencana pernikahan Yundhi dan Tiara yang semakin dekat. Meski terbilang mendadak, dengan koneksi dan dana yang mumpuni yang dimiliki Yundhi dan keluarganya, acara itu pastinya akan terwujud sesuai keinginan mereka.
Hans tidak tanggung-tanggung, ia juga sudah menyiapkan hadiah pernikahan untuk calon menantunya, sebuah mobil yang ia pesan khusus jauh-jauh hari. Mobil itu akan di bawa dari dealer saat acara pernikahan dilaksanakan. Semuanya antusias. Rencana yang tadinya sempat tertunda enam bulaan lamanya kini akan segera terjadi. Ranti senang bukan main karena mimpinya terwujud menjadikan Tiara cucu mantu Prasetya.
"Yang penting jangan sampai Tiara terlalu capek ikut ngurusin persiapannya, dia masih sibuk siapkan seminar hasil penelitian." Pesan Yundhi pada keluarganya bersamaan dengan gigitan terakhir rotinya, Yundhi kemudian bangun dari kursi. Ia pun pamit pada orang tua dan Omanya.
***
Tepat pukul sembilan lebih 30 menit Yundhi keluar dari hotel tempatnya menginap kemarin dengan Tiara. Ia sudah membereskan barang-barang milik Tiara dan mengurus keperluan check out. Tujuan berikutnya adalah rumah Tiara. Hari ini dia akan mengantar Tiara untuk pemeriksaan rutin di rumah sakit, kemudian mengajak Wahyu jalan-jalan. Kepala Yundhi sudah di penuhi rencana agar Tiara merasa lelah seharian dan bertemu Deki dengan wajah kusut. Mencukupkan rasa tidak suka Deki pada Tiara selain tanda merah yang ia ukir di leher wanitanya itu. Benar-benar gila.
Tak butuh waktu lama, karena memang jalanan tidak terlalu ramai, Yundhi sudah tiba di depan pintu rumah Tiara. Ia di sambut Wahyu dengan teriakan khas anak kecilnya dan mendapat pelukan dari adik Tiara itu.
"Bantuin kak Yundhi keluarin barang kak Tiara dari bagasi ya!"
Wahyu mengangguk setuju. Mereka berdua mengeluarkan barang milik Tiara yang di kemas dalam koper dan tas jinjing. Wahyu terlihat kesusahan dan menggeret tas jinjing berwarna hitam milik Tiara.
"Sini, biar kak Yundhi yang bawa."
Wahyu menolak, "kata mama kita ga boleh kerja setengah-setengah."
Yundhi tertawa ringan mendengar pengakuan Wahyu, "kalau gitu nanti kak Yundhi kasih hadiah, oke." Mereka bertos ria.
Di dalam rumah, Helma nampak sibuk di dapur membuat kue pesanan. Aroma lezat dari kue yang sedang di panggang langsung memenuhi penciuman Yundhi.
"Lagi bikin pesanan tante?"
"Eh, sudah datang ya. Iya ini ada pesanan dari pelanggan, nanti kamu bawa juga ya buat orang rumah, tante udah bikin lebih."
"Jangan deh, ga usah repot-repot tante," padahal dalam hati Yundhi sudah ingin mencicipi kue buatan Helma.
"Kok repot? Repot apanya, sudah duduk dulu sambil nunggu Tiara, tante buatkan minum, kayaknya Tiara lagi mandi."
Helma menuangkan teh yang memang telah siap di dalam teko. Kemudian menghidangkannya pada Yundhi bersama potongan kue yang baru keluar dari panggangan.
"Makasih lho tante."
"Di minum ya!"
Tak lama berselang Tiara keluar dari kamar mandi, rambut di gelung, wajah bersih segar di lengkapi daster batik rumahan, sungguh pemandangan favorit Yundhi. Tidak seperti sebelumnya, kedapatan Yundhi tidak memakai dalaman ketika keluar dari kamar mandi, sejak itu Tiara kapok, dan selalu membawa dalaman lengkap ketika mandi.
Melihat Tiara pagi itu, Yundhi berakting terkulai lemas di sofa sambil memegang dada kirinya.
"Cantik banget sih, Ra."
"Masih pagi mas, ga usah gombal."
Yundhi menangkap tanda merah karyanya di leher Tiara saat Tiara berbelok ke arah dapur mengambil minum, ia semakin tidak rela jika Tiara harus bertemu Deki nanti malam. Andaikan boleh, Yundhi ingin meminta nanti malam ada gempa besar.
Sialan sialan sialan, umpatnya dalam hati.
"Aku siap-siap dulu."
Tiara masuk ke kamarnya.
"Terima kasih ya sudah ajak Tiara kembali," suara Helma tiba-tiba. Wanita itu kemudian duduk di seberang Yundhi.
"Tante sebagai bagian dari keluarga Tiara sekarang, mungkin hubungan kami awalnya tidak terlalu baik, tapi Tiara sudah menjadi anak tante. Layaknya ibu yang mau melepas anaknya, tante titipkan Tiara sama kamu, tolong jaga Tiara seperti ayahnya dulu menjaga dia."
Yundhi tertegun, kemudian memberi anggukan kepala. Memorinya memutar pesan Adib padanya dulu, hampir sama seperti yang ia dengar dari Helma sekarang.
"Tante ga usah khawatir, saya akan menjamin kebahagiaan Tiara."
"Tante percaya sama kamu, kamu juga pilihannya mas Adib, dia sangat bangga dulu menceritakan kamu sebagai calon suaminya Tiara. Tante kira pernikahan kalian benar-benar tidak akan terjadi kemarin. Mas Adib pasti sedih kalau kenyataannya seperti itu."
"Amit-amit deh tan, kalau Tiara berjodoh sama cowok lain, saya akan dengan senang hati merebutnya."
Helma tertawa mendengar pengakuan Yundhi.
"Benar kamu, dulu tante kira kalian putus lho, karena ada temannya Tiara yang stand by di samping Tiara waktu Mas Adib meninggal. Dia ga pulang-pulang, dan bantu-bantu di sini sampai malam. Tante kira cowok itu pacar Tiara yang baru."
"Wah tante ngingetin rival saya, sakitnya tu di sini lho tan." Yundhi memegang pelipisnya. Tidak lain yang di maksud Helma adalah Deki.
"Jadi beneran rival kamu?"
"Ga juga sih, kami kan udah mau nikah, jadi dia cuma orang yang numpang lewat di hidupnya Tiara."
"Oh. Tapi hati-hati lho, nanti kamu di tikung di ujung jalan, kan banyak tu pasangan yang udah berencana menikah eh tahu-tahu batal, terus nikahnya sama yang lain."
"Amit-amit, tan udah jangan bahas lagi, saya ga kuat." kadar was-was Yundhi semakin naik mendengar cerita Helma. Ibu sambung kekasihnya ini belum tahu anaknya akan dinner dengan pria yang ia ceritakan.
Haduh, kenapa Deki jadi ada di mana-mana. Yundhi mendadak panas.
***
Seketika Tiara di sambut tatapan kagum Yundhi begitu ia terlihat di ujung pintu. Penampilan Tiara hari ini dia rasa berbeda, padahal wanita itu hanya mengenakan mini dress motif batik di bawah lutut, jaket denim dan sniker putih. Penampilannya terlihat sempurna di mata Yundhi setelah melihat aplikasi make up tipis di wajah wanitanya itu. Bucin kan dia, penampilan sederhana terlihat luar biasa.
"Wahyu udah siap belum?" tanyanya begitu duduk di samping Yundhi.
Yundhi membungkukkan badan, menghadap Tiara dengan kepala di tumpu sebelah tangannya.
"Pacar siapa sih ini?" Yundhi memulai godaannya.
"Apa Wahyu ga ganggu nanti, mending ga usah di ajak deh!" Kata Helma menyela obrolan.
"Cantik banget sih Ra, jangan cantik-cantik deh kalau keluar kayak gini," goda Yundhi lagi.
"Kemarin kan kita udah janji mau ngajak dia jalan-jalan Tante, masa ga jadi? Nanti Wahyu marah." Tiara memilih menimpali Helma daripada menyahuti ocehan Yundhi.
Namun Yundhi tidak masalah, mengingat gadis ini akan segera dimilikinya, mau di judesin mah ayo aja.
Sejenak obrolan tidak nyambung itu terjadi tanpa mereka sadari.
"Gitu ya, ya udah tante panggil Wahyu sebentar." Helma berlalu mencari Wahyu.
Tiara melihat pada Yundhi yang masih memaku pandangan padanya. Dia kemudian mengikuti posisi Yundhi memangku kepala dengan sebelah tangan.
"Kamu kayak ga pernah lihat cewek cantik, pramugari di tempat kamu kerja pasti banyak yang lebih lebih lebih dari aku." Tiara berkata dengan menekankan kata lebih.
"Banyak, mereka cantik-cantik memang, tapi aku cintanya sama kamu, gimana dong?"
"Gombal."
"Mau Cleopatra bangkit lagi terus pamer kecantikan di depan aku, aku tetap milih kamu."
Tiara tertawa, "gitu ya?" tanyanya dengan nada tak percaya yang di buat-buat.
Melihat Tiara yang semakin bening Yundhi merasa tak tahan mendaratkan ciuman di wajah Tiara yang merona. Dan benar saja, pilot itu menyambar ciuman ringan di pipi Tiara dan lansung medapat pelototan tajam dari empunya pipi.
"Ih, kamu tu, nanti tante sama Wahyu lihat, ga malu apa."
"Enggak, kalau perlu satu dunia tahu kamu punyaku sekarang dan selamanya, kamu ga keberatan aku umumin sekarang?"
"Jangan ngaco! Apa ini belum cukup?" Tiara menyingkap sedikit jaket yang ia kenakan, menunjukkan tanda merah yang di buat Yundhi di lehernya.
"Apapun yang menyangkut kamu ga akan pernah cukup, Ra."
***
Yundhi, Tiara dan Wahyu berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Mereka menuju ruangan praktek dokter Reyhan. Begitu tiba di depan ruangan sang dokter, terlihat satu pasien yang duduk menunggu sebelum giliran Tiara di panggil.
"Kita duduk di sini dulu ya Wahyu, nunggu giliran kak Tiara," ucap Yundhi. Wahyu menurut dan duduk di apit Tiara dan Yundhi. Tanpa sadar mereka seperti satu keluarga kecil di mata pengunjung lain.
Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, akhirnya nama Tiara di panggil oleh asisten dokter Reyhan, Tiarapun bangun diikuti Yundhi dan Wahyu.
"Apa kamu ga ajak Wahyu nunggu di luar aja?"
Yundhi menggeleng. "I don't wanna miss a thing about you, lagian Wahyu juga ga keberatan ikut masuk, iya kan bos?" Wahyu yang polos mengiyakan pertanyaan Yundhi.
Begitu di ruangan.
"Wow wow wow, ini gimana ceritanya udah main jadi aja, punya saya aja masih sebesar biji jagung." sambar Reyhan.
"Jaga tu mulut, ini adik ipar gue!" sarkas Yundhi.
"Serius? Beneran Tiara?"
"Udah lah jangan bawel, lakukan apa yang harus lo lakukan!"
Hanya Yundhi yang bisa berbicara tidak sopan pada Reyhan. Entah dendam apa yang di miliki kekasih Tiara itu pada temannya sendiri.
Tiara tersenyum tipis.
"Iya, bener kok."
Reyhan hanya tersenyum penuh arti, ia kemudian melakukan tugasnya.
***
Di lain tempat, Citra bergelut dengan segala persiapan pernikahan anak semata wayangnya. Kebahagiaan rasanya tidak akan berhenti mengaliri keluarga Prasetya jika Tiara telah menjadi anggota keluarga mereka.
Citra begitu bersemangat, bersama Ranti saat ini dia sedang mencoba seragam untuk rentetan acara pernikahan nanti di sebuah butik terkenal.
Khusus untuk baju pengantin, telah di pesan pada desainer yang berbeda.
"Habis ini kita ke tempat katering ya, Ma."
"Iya," jawab Ranti di sela mencoba seragam ke dua, "bagus ga?" tanyanya pada Citra.
"Bagus Ma. Ma, lihat baju di manekin itu?"
Ranti menoleh pada manekin yang di maksud Citra, "kenapa memangnya?"
"Citra mau beliin buat Tiara, kayaknya bagus kalau dia yang pakai, gadis itu badannya mungil, tapi kalau pakai baju kayak bagus semua di badan dia."
Ranti tersenyum, "ambil aja, nanti Mama yang bayar."
Citra speechless.