When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Home, is You



Meski mendapat perlakuan tidak adil dari sang mama, karena Citra memberikan perhatian sepenuhnya pada Tiara, Yundhi sama sekali tidak keberatan. Ia justru senang mamanya memberi sebagian kasih sayangnya pada Tiara yang notabene sudah tak memiliki orang tua. Tiara memang bukan anak-anak lagi, adalah seorang wanita dewasa yang sudah matang. Meski begitu ia juga manusia biasa, makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidup. Dan rasa kasih sayang juga di dapatkan seorang manusia dari manusia lainnya bukan?


Untuk mendapatkan rasa dicintai, seseorang harus menerima perlakuan yang bisa membuat orang itu merasakan bahwa dirinya di cintai.


Itulah yang dirasakan Tiara saat ini, merasa di cintai oleh Citra. Dengan telaten ibu kandung Yundhi itu menyuapinya makan malam, membantunya minum obat, juga mengajaknya ngobrol tanpa jeda. Menanyakan apa keperluan Tiara yang ingin di penuhi meski Tiara menolak dengan halus bahwa ia tidak memerlukan apapun. Citra justru mencatat sendiri apa saja yang tidak ada di kamar itu dan berencana akan membawakan untuk Tiara besok pagi. Tentu saja Tiara menolak, karena itu hanya akan merepotkan Citra, dan toh besok sore Tiara sudah bisa keluar dari rumah sakit.


Agar sang calon mertua tidak merasa kekecewaan mendalam Tiara hanya meminta untuk di bawakan sarapan buatan tangan Citra. Mendengar itu, Citra luar biasa senang.


"Kamu mau tante masakin apa? Chineese food, western, masakan Indonesia, atau sea food?" tanya Citra semangat.


"Apa aja tante, asal tante yang masak, Tiara kangen masakan rumah."


"Hmm, oke besok pagi tante bawakan."


"Yundhi ga di tanya juga, ma?"


"Sakit dulu deh kamu."


"Pedes banget sih, anak kandung lho?"


"Emang ada yang bilang kamu anak pungut? Kamu terima aja apa yang mama bawa besok, kayak ga pernah makan di rumah."


"Sering, tapi kan yang masak bik Jo."


"Iya, resepnya kan dari mama."


"Huh, ngeles aja."


"Eh kamu jaga Tiara kan malam ini?"


"Jelas lah." jawab Yundhi sekenanya sambil fokus dengan hape.


"Kamu ga ada jadwal terbang?" tanya Tiara sedikit gusar. Ia takut kalau-kalau sakitnya menghambat pekerjaan Yundhi.


"Ga ada. Memang off seminggu, nambah cuti tiga hari. Enam bulan ga ada kamu aku jarang libur. Bolehlah sekali-kali cuti. Sisa delapan hari aku temenin kamu." jelas Yundhi.


"Iya, sekalinya libur sampai tiga minggu, Ra. Patah hati, uring-uringan, keluyuran ga jelas, sampai dapat SP," cecar Citra.


"Tiara udah tahu ma, jangan diperjelas kali."


Tiara membisu mendengar cerita Citra tentang apa yang terjadi pada Yundhi. Yundhi memang pernah mengungkapkan apa yang ia rasakan ketika Tiara pergi, tapi tidak sedetil cerita dari Citra. Tak hanya dirinya, Yundhi ternyata juga kacau ketika mereka berpisah.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian dan pandangan orang yang ada di ruangan itu. Tak lama suara pintu di buka dan Hans muncul di depan mereka. Ranti juga mengikuti di belakangnya.


Tiara tertegun, salah satu sosok yang ia segani selain ayahnya adalah Hans. Tidak seperti wajah ceria ketika menyambut Citra, kali ini wajah Tiara tampak serius.


"Om." gumam Tiara dengan suara serak. Kekacauan yang ia buat enam bulan lalu dengan pergi secara tiba-tiba, hingga membuat pernikahannya di tunda, membuat Tiara malu menampakkan diri di depan para orang tua yang berpengaruh pada hidup Yundhi itu.


"Oma." mata Tiara mulai berembun.


Hans dan Ranti menghampiri Tiara yang duduk di brankar. Sedikit menunduk Tiara menyalami punggung tangan Hans dan Ranti secara bergantian. Wajahnya tenggelam tak mampu ia angkat.


Ranti duduk di pinggir tempat tidur. Suasana tiba-tiba berubah sunyi. Tiara menangis tanpa suara. Haru biru menyeruak.


"Kenapa menunduk, lihat Oma!" Ranti mengangkat wajah Tiara. Senyum hangat terlukis di wajah wanita baya yang menjodohkannya dengan Yundhi. Orang yang paling ingin Tiara menjadi bagian keluarga itu.


"Maaf. Tiara minta maaf." Ranti merengkuh tubuh Tiara penuh keharuan. Suasana yang tadianya biasa menjadi luar biasa. Citra ikut terhanyut melihat adegan itu. Air matanya lolos begitu saja.


Selain keluarga inti, memang belum ada yang tahu rencana pernikahan Yundhi-Tiara, lamaran belum di adakan, undangan juga belum di sebar. Tapi sudah pasti ada hati yang terluka dengan tertundanya rencana besar itu, termasuk Ranti. Rasa kecewa yang di ungkapkan tanpa kata kadang lebih menyakitkan.


Yundhi mati-matian menahan diri agar tidak terbawa emosi kesedihan. Ia mengalihkan perhatiannya dengan melihat ke luar jendela. Memunggungi mereka yang sedang meluapkan rasa.


"Tidak ada yang harus dimaafkan, kamu juga tidak perlu minta maaf. Oma sama semua keluarga bisa memaklumi. Kamu yang paling merasakan, pasti butuh waktu untuk menerima apa yang terjadi, kamu berhak mengambil keputusan. Malah di sini Oma yang ingin minta maaf atas apa yang Yundhi lakukan," Ranti melepaskan pelukannya. Tiara menunduk, menangis, sesenggukan.


"Oma akan jamin, dia ga akan nakal lagi. Oma harap kamu tidak berubah pikiran. Oma masih pengen kamu jadi cucu mantu Oma."


Tiara melihat wajah baya nan sejuk itu, sama seperti dirinya, Ranti juga menangis.


"Jangan khawatirkan apapun, dulu atau sekarang kamu sudah jadi bagian keluarga Prasetya. Kamu ga sendirian, paham," ujar Ranti lembut.


"Om sendiri yang akan hajar Yundhi kalau dia bikin kamu nangis lagi." seloroh Han, "Pegang janji om, oke!"


Tiara mengangguk cepat, Ranti memeluknya lagi diikuti Citra.


"Terima kasih sudah kembali, terima kasih masih mau menerima Yundhi." lirih Citra di tengah tangisnya.


Berbeda dengan Hans yang hanya tersenyum hangat dengan sedikit rasa haru yang singgah melihat acara temu kangen itu, Yundhi lebih merasa tersentuh, bahkan mungkin merasa tertampar. Meski hanya lewat kata, apa yang terucap dari para wanita Prasetya itu tepat mengenai jantungnya. Setitik cairan bening lolos dari sudut matanya, ia buru-buru menghapus jejak itu.


"Sudah kapok kan sekarang?" Hans tiba-tiba menghampirinya. "Papa harap kamu bisa lebih hati-hati ke depannya. Kamu sudah punya rencana?" terdengar ambigu tapi Yundhi paham apa yang di tanyakan sang ayah, ia mengangguk mantap.


"Kali ini Yundhi ga akan gagal."


***


Malam itu berakhir dengan obrolan ringan sampai obrolan berat antara Citra, Ranti dan Tiara. Sesekali mereka tertawa mendengar cerita Tiara di tempat penelitiannya. Sesekali juga mereka memasang wajah serius mendiskusikan rencana pernikahan Yundhi dan Tiara. Kali ini bisa jadi Tiara akan lebih menurut, mengikuti apa keputusan Ranti dan Citra, tidak melulu harus memaksakan kemauannya pada mereka. Keputusan bersama akan menjadi yang terbaik.


Yundhi berbicara di sofa dengan Hans, menjelaskan rencananya untuk melamar Tiara secepatnya dengan suara hampir berbisik, tanpa di sadari Tiara, mamanya atau sang oma.


Mendekati jam batas kunjungan, para anggota Prasetya itu mulai beranjak. Satu per satu dari mereka berpamitan pada Tiara. Yundhi kemudian mengantar keluarganya sampai di lobi rumah sakit.


"Minta mang Jay bawakan Yundhi baju ganti aja ma."


"Ada lagi?"


"Ga ada."


"Ya udah, nanti mang Jay balik ke sini bawakan kamu baju ganti. Hati-hati kamu, awas jaga yang bener, jangan macem-macem, ngerti?"


"Mau mama tabok lagi? Sini kamu!" Citra mengangkat tasnya ke udara.


"Mama main kasar terus deh. Padahal kemarin sempat jinak."


Citra tak menggubris kata-kata Yundhi, ia melanjutkan niatnya memasuki mobil. Kendaraan yang membawa keluarga Prasetya itu pun berlalu, keluar dari halaman rumah sakit.


Yundhi berbalik kembali memasuki gedung. Dari arah berlawanan ia melihat Reyhan yang sepertinya baru selesai bertugas.


Reyhan bermaksud mengajak Yundhi bicara, ia sudah mengatur posisi agar bisa menyetop Yundhi, sayangnya...


"Ga mau ngobrol dulu bro?"


"Males."


Yundhi berlalu melewati Reyhan, membuat Reyhan tertawa cekikikan. Ia paham Yundhi pasti msih kesal dengan kejadin tadi.


"Woy, gue traktir nih?" teriak Reyhan. Untung lobi sepi.


"Makasih, ogah," jawab Yundhi tanpa menoleh.


Reyhan cuma geleng-geleng kepala.


***


Tiara tak henti bersyukur dengan apa yang ia alami. Keluarga Yundhi menyambutnya dengan hangat setelah apa yang terjadi enam bulan lalu. Tidak ada yang menyalahkannya atau menghakimi. Semua orang tetap menyayanginya, membuatnya merasakan kehangatan sebuah keluarga. Satu ketakutannya hilang. Ruang kosong yang hampir terbuka makin lebar kini tertutup. Terisi kembali dengan kehadiran orang-orang yang mencintainya


Yundhi kembali ke kamar Tiara dengan membawa dua buah minuman kaleng dan beberapa bungkus makanan ringan. Tiara melompat kegirangan dalam hati. Semua makanan yang di bawa Yundhi adalah kesukaannya.


"Ga usah ngomong, aku tahu kamu senang lihat ini." beo Yundhi.


Bibir Tiara mengerucut tapi kemudian tersenyum lagi, "I know you know me so well." ujarnya dengan mata berbinar.


"Mau buka yang mana dulu?"


"Yang rumput laut."


"Oke, rumput laut ya?" Yundhi meletakkan makanan di atas nakas, mengambil kursi dan segera membuka snack yang di minta Tiara.


"Di Loca ga ada snack kayak gini ya?"


"Ada, kenapa?"


"Kamu kayaknya kalap makannya sebelum tidur di hotel kemarin."


"Wajah Tiara memerah, Yundhi memergoki sisi buruknya.


"Di Loca banyak kok tersedia makanan ringan kayak gini, cuman aku harus berhemat, ga bisa makan setiap hari." Tiara berdusta, "aku musti pintar mengatur pengeluaran, buat makan juga keperluan yang lain, makanya aku kurus gini, kamu kasihan kan?" jawabnya dengan nada mengibakan diri yang di buat-buat.


"Masa? Bukannya untuk konsumsi setiap hari sudah di atur, di kirim dari pusat langsung, kualitas yang terbaik deh kalau ga salah kata bang Vian." Yundhi menangkap wajah kebingungan Tiara, dia semakin gencar menyerang, "bukannya karena kamu juga patah hati, mikirin aku, lihatin foto aku kalau kangen,sampai ga nafsu makan, hm? Ngaku!"


"Kalau kamu udah tahu ngapain nanya lagi." Tiara merebut paksa snack yang tadinya di pegang Yundhi. "Ga usah di perjelas!"


"Ga kamu doang Ra, aku juga gitu. Mungkin lebih parah."


Tiara menghentikan makannya, memandang wajah Yundhi seksama.


"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini." Yundhi mengecup ringan kening Tiara dan duduk kembali.


"Kalau kamu ga balik, aku ga bisa banyangin gimana jadinya. Aku...ga akan berjanji sama kamu, tapi aku bikin janji dengan diri aku sendiri, aku ga akan biarin kamu merasakan sakit lagi, meski itu hanya air hujan sekalipun."


"Yundhi aku..."


"Ga usah di jawab, kita fokus ke kesehatan kamu dulu, jangan mikir yang berat."


Tiara mengangguk dengan kepala sedikit tertunduk. Yundhi, laki-laki itu tidak berubah sama sekali, malah cara mencintainya semakin membuat Tiara merasa di atas awan, tapi dia juga takut akan terhempas dan jatuh lagi.


"Aku boleh ngomong sesuatu?" Tiara memberanikan diri.


"Aku...ga akan lari dari kamu lagi, jadi kamu jangan takut. Aku tahu kamu antipati berinteraksi dengan cewek lain karena takut aku salah paham lagi, iya kan?"


Yundhi sedikit tertegun.


"Berhenti bersikap kayak gitu, bersikap sewajarnya saja. Cintai aku sewajarnya, tanpa ada celah untuk wanita lain, tapi tidak mengurangi rasa cintamu ke mama dan oma. Aku bersedia jadi istri kamu Yundhi Edward Prasetya, aku menerima lamaranmu," jantung Yundhi menggila, mendengar apa yang di ungkapkan Tiara. Bisa jadi ia tidak siap jika Tiara melanjutkan kata-katanya.


"Aku menerima kekurangan dan kelebihan kamu, semua yang ada di diri kamu. Menggantungkan masa depanku, menjalani sisa umurku, menjadi ibu dari anak-anakmu, akan aku lakukan, bersamamu,"


Tepat setelah itu Yundhi merengkuh tubuh mungil Tiara, memberi puluhan kecupan di pucuk kepala wanita itu, berulang kali mengucapkan terima kasih dalam hatinya.


"Jangan di lanjutin, Ra! Harusnya itu bagianku." Yundhi mengeratkan pelukannya.


"I'm happy, my happiness is you, I feel home when I'm with you, sorry for my stupidness six months ago." ujar Tiara berurai air mata.


"No, it's my biggest mistake, yang paling aku sesali ga ada di samping kamu di waktu yang seharusnya, maaf." Yundhi melepaskan pelukannya, menyadari ada hal yang harus ia lakukan saat itu juga, tangannya mencari sesuatu di saku celana, benda yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.


Sebuah kotak kecil berwarna hitam, di bukanya dengan hati-hati. Tiara terperangah tak percaya melihat isi kotak itu.


Yundhi kemudian berlutut, menjulurkan tangan dengan kotak berisi cincin berlian. "Tadinya aku mau siapkan acara yang mewah, dinner romatis di restauran berbintang. Tapi karena keadaan, kita percepat saja. Please answer fastly, Tiara Pardita Putri will you marry me?"


Tiara mengagguk dengan mulut tertutup tangannya, masih tidak percaya bahwa aksi isengnya berujung manis, Yundhi sudah menyiapkan cincin untuk melamarnya.


Pilot itupun segera bangkit dengan perasaan membuncah. Ia kemudian memasangkan cincin itu di jari manis Tiara.


"I love you, more than anything I have."