
Sesuai rencana, tepatnya Sabtu sore, Yundhi dan Tiara menggelar acara syukuran rumah baru sekaligus acara empat bulan usia kandungan sang istri. The power of money and connection memang tidak perlu diragukan lagi.
Rumah baru yang baru selesai di bangun itu semakin terlihat megah dengan sentuhan tangan ahli desainer interior. Tiara juga banyak memberi masukan dan arahan sesuai dengan selera dan keinginannya dalam menata dan menentukan tata letak furniture rumah barunya. Karena Yundhi juga demikian, ingin melibatkan sentuhan tangan Tiara dalam tiap sudut rumah impiannya. Sentuhan sang istri adalah penghargaan baginya atas hasil kerja kerasnya selama ini.
Para tamu mulai berdatangan. Citra mengundang kelompok pengajian dan beberapa tokoh agama untuk memimpin acara. Keluarga, sahabat, kolega penting, petinggi perusahaan, dan tetangga baru mereka juga di undang. Alhasil, rumah itu tampak ramai di padati para tamu, tapi juga memancarkan aura yang sangat positif dari raut bahagia mereka.
Tiara harus berterima kasih pada Citra, sang Mertua, yang sangat lihai dalam mengatur segala hal yang tidak bisa di jangkau Tiara sendiri. Mang Jay, Bik Jo, suster Ana juga bahu membahu membantu. Terutama suster Ana, selain telaten mengurus Edward, ternyata pengasuh Edward itu juga pintar menata ruangan. Jika Ed sedang tidur, dia tidak segan membantu pekerjaan yang lain.
"Udah rapi," Tiara memakaikan peci hitam di kepala Yundhi kemudian menepuk bahu suaminya sebagai pertanda bahwa Yundhi telah siap. Mereka tampak serasi dengan Yundhi yang memakai baju koko berwarna putih tulang, begitupun Tiara yang memakai terusan berwarna senada lengkap dengan pashmina berbahan prada.
Rona bahagia begitu jelas terpancar dari keduanya. Terutama Yundhi, yang serasa memiliki seluruh kebahagian di dunia dengan Tiara di sisinya dan keluarga kecil yang melengkapi, kehadiran anak dan calon anaknya.
"Ayo," Yundhi meraih tangan Tiara dan melingkari di lengannya. Mereka keluar dari kamar, siap menyambut tamu yang datang.
Begitu menuruni tangga, perhatian para tamu otomatis teruju pada Yundhi dan Tiara. Bak pasangan pengantin baru, mereka di sambut dengan senyuman oleh para tamu yang telah memadati ruangan.
Yundhi menyalami satu per satu tamunya, di ikuti Tiara yang setia mendampingi. Seperti takut Tiara akan lari, tangan kirinya terus saja menggenggam tangan Tiara saat mereka bersalaman.
Begitu di rasa tamu yang datang telah cukup banyak, tokoh agama yang di minta memimpin acara tersebut segera memulai. Tiara dan Yundhi menempati tempat yang memang khusus di sediakan untuk mereka.
Acarapun di mulai. Para tamu dengan khidmat mengikuti. Ayat suci dilantunkan, do'a-do'a di panjatkan. Segala harapan terbaik untuk tuan rumah ditasbihkan. Penuh khusyuk, acara itu berlangsung.
"Kenapa? Pegel?" bisik Yundhi pada Tiara yang sesekali mengubah posisi duduknya.
"Enggak, kesemutan aja."
Yundhi tersenyum mendengar jawaban Tiara. Dia tahu Tiara pasti mulai merasa tidak nyaman.
"Sabar ya!" Spontan Yundhi mengecup pelipis kiri istrinya. Tiara hanya mengangguk.
Posesif. Begitu kira-kira gambaran pilot itu sekarang. Selama acara berlangsung, tangannya tak lepas memeluk pinggang Tiara yang mulai lebar. Sesuai namanya, Tiara, seperti mahkota berharga yang ingin Yundhi banggakan dan takut jika sampai kehilangan. Dan Yundhi sangat sadar, rizki yang dia terima, segala hal yang ia raih, kekayaan, jabatan, prestasi adalah berkat do'a Tiara. Tidak keliru jika segala yang ia punya dipersembahkan untuk belahan jiwanya itu.
Dan perlakuan istimewa Yundhi membuat Tiara merasa sangat dicintai. Rasa syukur selalu ia panjatkan akan hal itu.
Begitu do'a terakhir di ucapkan, sebagai tanda berakhirnya acara, Tiara menyandarkan diri pada bahu Yundhi. Kali ini dia benar-benar tidak tahan. Ia memang merasakan pegal yang mulai datang. Mungkin karena hari sebelumnya dia juga di sibukkan dengan acara itu sehingga tubuhnya merasakan efek lelah sekarang. Tiara mengabaikan pasang mata yang melihatnya seperti bermanja. Bodo amat. Toh yang menjadi sandarannya adalah suaminya sendiri. Tapi mungkin, Tiara tidak menyadari ada sepasang mata yang iri dengan keharmonisan keluarganya.
Tiara tiba-tiba menegakkan badan melihat Ed yang berlari mendekatinya.
"Astaga, anak Mama." Kaki Tiara yang bersila menjadi pangkuan yang nyaman untuk Edward. "Ed sudah makan?" Gumaman riang balita itu menjadi jawaban bagi sang ibu. Tiara menghujaninya dengan ciuman membuat Ed cekikikan karena geli.
"Sini Ed, sama Papa!" Yundhi mengambil alih Edward ke pangkuannya, tak lupa memberi kecupan sayang seorang ayah. Yundhi kemudian membisikkan sesuatu di telingan sang anak sambil mengajak Ed menengadahkan tangan, berdo'a.
Sementara itu, para tamu disilakan oleh Citra, Hans dan Ranti untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Suasana kembali riuh rendah. Beberapa titik lokasi yang menghidangkan sajian telah di padati para tamu.
***
Mulut Karenina menganga hebat menahan iri melihat pemandangan yang tak jauh dari jangkauan retinanya. Sedari awal dia melihat gerak gerik Yundhi di kantor, Karenina sangat ingin menjadi wanita sang atasan. Meski dia tahu bahwa atasannya itu telah beristri.
Dia juga hadir di sana, mengikuti acara syukuran di rumah Yundhi dan Tiara. Kepala divisinya mengajak Karenina untuk hadir sebagai perwakilan karyawan yang tidak sempat datang ke acara itu.
Tanpa dia sadari, salivanya hampir keluar dari salah satu sudut bibir.
Namun jawaban pedas Yundhi kemarin benar-benar menamparnya. Harapannya telah pupus jauh sebelum Karenina memuali aksi menggaet sang atasan. Dia benar-benar salah sasaran menjadikan Yundhi sebagai target.
Kejadian Tiara yang terjebak di lift hingga membuat Yundhi hampir kehilangan kontrol dia lihat sendiri saat itu. Bagaimana mesranya Yundhi mengantar Tiara menuju lobi saat hendak pulang juga tak luput dari pengamatannya. Puncaknya saat ini, bagaimana Yundhi terus menerus menempel pada sang istri, menjadi pemandangan menyakitkan bagi Karenina. Dia haru mengubur dalam keinginan haramnya. Jika memang waras, Karenina harus berhenti saat ini juga menjadi penghancur tumah tangga anak Dewa Bos. Hans Prasetya.
"Ayo makan dulu, ini Mama ambilin," Citra menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk pada Tiara.
"Makasi, Mama kok repot sih, nanti Tiara bisa ambil sendiri."
"Haduh, lihat muka kamu capek gitu, Mama mana tega." Di belakang punggung Citra, Bik Jo membawakan dua gelas minuman untuk Tiara dan Yundhi.
"Makasi Bik, Bik Jo juga makan, jangan kerja terus!" Tegur Tiara halus.
"Wah, kalau Bibi mah ga perlu diingetin Non, udah kenyang duluan dari tadi."
Lagi-lagi Karenina menelan ludah dari kejauhan, bagaimana semua anggota Prasetya memperlakukan Tiara bak ratu. Jiwa irinya merintih tak keruan. Dari pada terus menderita, Karenina memutuskan menuju lokasi lain di rumah itu. Dia memilih menuju meja prasmanan. Akhirnya dia sadar mimpinya mustahil diwujudkan.
"Kamu juga belum makan, mau aku suapin?" Tiara menawarkan pada Yundhi yang masih memangku Ed. Tentu saja Yundhi mengangguk. Mereka makan sepiring berdua membuat para tamu tersenyum geli melihat tingkah sang nyonya rumah.
Satu per satu anggota keluarga Prasetya menghampiri Tiara dan Yundhi. Lama tak bertemu karena disibukkan pekerjaan membuat mereka rindu dengan pasangan fenomenal Prasetya. Mereka saling berbagi pelukan hangat. Saling menanyakan kabar dan mengingatkan agar Yundhi segera mengabari saat Tiara melahirkan nanti.
Helma dan Wahyu yang juga hadir di sana. Turut bahagia dengan segala yang di dapat Tiara. Helma yang berstatus ibu sambung, tak pernah luput dari perhatian Tiara. Sedari awal, sebagian hasil dari bimbel milik Tiara di transfer ke rekeningnya rutin setiap bulan. Bagaimana Helma tidak menyayangi anak sambungnya itu, Tiara memperlakukannya dengan sangat baik.
"Mama bawakan chees cake, kesukaan kamu, sudah di simpan Bik Jo di kulkas," terang Helma begitu mereka duduk berhadapan.
"Makasih Ma, Mama kenapa repot-repot sih?"
"Repot apanya, wong cuma bikin tiga loyang, kandungan kamu gimana?"
Tiara mengelus perutnya yang kekenyangan.
"Baik Ma, bayinya sehat."
"Jangan kecapekan, istirahat yang teratur!"
"Iya, Wahyu gimana? Pinter ga sekolahnya?" Tanya Tiara pada sang adik.
"Dia juara kelas lho kak." Helma yang menjawab.
"Wah, pinter dong. Nanti kakak kasih hadiah, Wahyu mau hadiah apa?"
Sontak Yundhi menoleh merasa namanya di sebut. Cengiran khasnya menjawab perkataan Helma.
Tak lama Citra menghampiri mereka. Beberapa saat Citra dan Helma saling bertukar sapa.
"Ada tamu yang mau pamit, ke depan gih!" ucap Citra di sela kegiatan mengobrolnya dengan Helma.
Yundhi kemudian memanggil sueter Ana untuk mengambil alih Edward. Setelahnya, seperti biasa, dia sigap membantu Tiara berdiri dari duduk.
Lagi-lagi adegan romantis itu terjadi. Yundhi yang masih posesif, menggandeng Tiara menuju bagian depan rumah. Sesekali mereka berhenti, menyapa para tamu yang masih menikmati hidangan.
***
"Mas Yundhi pagangin perut Miss Ara!"
"Gini maksudnya?"
"Iya, sekarang cium kening Miss Ara, Miss ara kepalanya maju dikit."
Tiara menurut. Begitu tamu mulai sepi, Bella yang bertindak sebagai fotografer meminta sesi foto berdua Yundhi dan Tiara. Sebelumnya, foto bersama Edward juga telah dilakoni.
"Tahan ya, Mas Yundhi merem, tapi merem yang biasa aja, jangan mengkerut, oke sip," Bella mengarahkan.
Bella mulai membidik, "satu...dua..." suara jepret kamera mulai terdengar.
"Oke, sip, keren nih, sekarang ganti pose!"
"Ya Allah, belum kelar jadinya ne," Yundhi mulai protes, ini sudah pose yang entah ke berapa yang ia lakukan dengan Tiara atas permintaan Bella.
"Iiiih satu kali lagi deh Mas, kapan lagi coba, dekor sebagus lagi kayak gini terjadi, kalau ga di abadikan ga afdol, lagian ini Bella udah rela jadi fotografer gratis buat acara Mas Yundhi."
"Halah, nanti juga kalau di cetak kamu minta komisi."
"Enggak deh, Bella janji yang ini gratis. Nanti Mas bayar harga piguranya aja, Bella cetakin yang gede."
"Itu mah ga gratis."
"Adooooh, ayo makanya biar cepet kelar, posenya saling pegang bahu hadap depan, nanti harga pigura Bella minta sama Om Hans aja."
Tiara hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar dialog saudara misan itu.
"Kalau Miss duduk bisa ga Bel?" Akhirnya Tiara menyuarakan isi hatinya.
"O iya pose duduk belum ya, bentar, Bella ambilin kursi."
Yundhi kembali sadar, sepertinya acara jepret-jepret itu belum akan berakhir.
***
Begitu acara pemotretan selesai, Yundhi menghampiri Rey dan Yaris yang datang bersama pasangan masing-masing. Mereka datang terlambat, karena terhalang pekerjaan. Yah, dari pada tidak sama sekali. Yundhi mengancam akan membubarkan pertemanan mereka melalui pesan kalau mereka benar-benar tidak datang.
"Kalian memang OT ya, Omong Tok, katanya mau kosongin jadwal," tembak Yundhi begitu mereka duduk bertiga. Para istri menuju lokasi lain di rumah itu di temani Tiara.
"Sorry Bro, gue mesti hubungi arsitek baru buat gantiin arsitek lama yang berhenti di pembangunan gedung baru." Yaris dipenuhi rasa bersalah karena tidak bisa hadir di awal acara.
"Klise banget, lo?" dagu Yundhi menunjuk Rehan.
"Ada operasi mendadak."
"Lo bukan dokter bedah."
"Yang di operasi pasien gue, harus gue dampingi."
"Gue maafin kalau hadiah yang kalian bawa qualified."
Yaris dan Rey saling bertukar pandang.
"Udah kaya, masih aja," Yaris mengeluarkan amplop dari saku jasnya. Yundhi menerimanya dengan wajah semringah.
"Wuhuuuu," Yundhi kegirangan begitu matanya menangkap tiket liburan ke Singapore, lengkap dengan paket turnya.
"Oke, lo lolos. Kebetulan Tiara pengen liburan," ungkapnya oada Yarus. Yaris berdecih.
Reyhan tampak jengkel, karena dia harus merogoh kocek agak dalam kali ini. Mata Yundhi terbelalak melihat nota pembayaran sebuah paket senjata rakitan yang bersertifikat.
"Wah, sekarang gue bakal ngakuin gelar kedokteran lo." Ujar Yundhi penuh takjub.
"Teman ga tau diri, jadi kalau ga di kasih hadiah mahal, lo masih mau ingkar kalau gue profesional," kesal Rey.
" Bukan tanpa alasan, gue masih ingat, waktu mau ujian lo masih sempat ke kelab sama kita, gimana gue ga ragu."
Mereka sontak tertawa mengingat kejadian masa lalu.
"Barangnya datang seminggu lagi, langsung di antar ke alamat lo." Terang Reyhan dengan nada berat, sedikit tak ikhlas.
"Oke, hadiah kalian gue terima, sekarang kaliah tahlilan, zikir, terus do'a dulu, baru gue kasih makan," seloroh Yundhi penuh kejahilan.
"Lo ya, memang teman ga beradab, ga tau diri, untung teman."
Tawa mereka pecah seketika mengingat jalinan pertemanan mereka yang penuh pertikaian namun sangat solid dari jaman dahulu kala.