
Setengah jam yang lalu, Yundhi berhasil mengeluarkan keluarganya dari rumah Vian dengan damai tanpa ada drama baku hantam. Dia harus berterima kasih pada Asti, istri Vian yang pengertian dan bijaksana. Tanpa campur tangan wanita itu mungkin akan ada drama-drama lain dalam usahanya meyakinkan Tiara, yang melibatkan Vian di sana.
"Kita mampir dulu ya, aku lapar." Yundhi melajukan kendaraannya menuju area restoran siap saji yang buka dua puluh empat jam. Perutnya sudah tidak tahan jika harus menunggu sampai rumah untuk di isi. Belum lagi jika mereka harus terjebak macet.
"Tadi aku tawarin sarapan ga mau."
"Malulah Ra, numpang makan di tempat bang Vian, reputasiku mau di taruh di mana?"
"Dasar kamunya aja yang gengsian."
"Biarin, cowok memang harus gitu, integritas nomor satu." Jeda sejenak terjadi, "Ed juga harus di didik kayak gitu besok, dia cowok, harus punya prinsip."
"Yang itu bagian kamu."
"Beres Nyah."
Mendidik anak tak hanya tugas ibunya, bukan? Tiara sudah benar, dia juga ingin Yundhi terlibat dalam membentuk karakter Edward. Jika dari Tiara Ed bisa mendapat kelembutan, cinta, kasih sayang, dan pendidikan moral, maka Yundhi bisa mengisi bagian bagaimana bertanggung jawab, ketegasan, disiplin dan sebagainya. Tiara ingin Edward menyadari bahwa kedua orang tuanya berdampingan dalam mendidik dan menyayanginya.
"Udah lama juga kayaknya ga ke sini," celetuk Tiara. Mereka baru melewati pintu dan di sambut seorang pramusaji, Yundhi mengambil alih Ed dan Tiara memilih meja yang di rasa nyaman. Meja yang dekat dengan permainan menjadi pilihan.
"Iya, terakhir ke sini sebelum kamu main kabur-kaburan."
"Ga lupa-lupa ya kamu masalah itu." Yundhi hanya memberi cengiran khasnya, "Mau aku pesenin apa?"
"Apa aja, yang penting ada nasi, aku super lapar."
Tiara menuju layar pemesanan, memilih menu-menu yang di rasa bisa mengenyangkan Yundhi. Sedikit tersenyum miris, suaminya kelaparan sekarang karena menungguinya semalaman.
Setelah melakukan pembayaran, ia kembali pada Yundhi dan Ed. Anaknya sedang bermain perosotan mini di sana. Karena kedatangan mereka yang cukup pagi, suasana restoran itu tergolong masih sepi pengunjung. Ed bisa bermain dengan leluasa. Mungkin mereka adalah pengunjung pertama pagi itu.
"Besok aku tugas," kata Yundhi setelah Tiara duduk di sampingnya.
"Berapa lama?"
"Seminggu."
"Tumben lama."
"Sekalian nge-train pilot baru. Kalau jam terbang mereka memenuhi target dalam waktu yang singkat, semakin cepat mereka jadi kapten, aku bisa lebih cepat juga santainya."
"Ngarep, di kira bawa mobil apa."
"Ya maunya kan begitu, ga tahu nanti kejadiannya gimana."
Tahu suaminya akan pergi bertugas, Tiara memutuskan bersikap manja detik itu juga. Dia melingkari tangan di lengan Yundhi, dan menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Bakalan kangen kayaknya," eratan tangan Tiara mengencang, "bisa kita video call setiap kamu di darat?"
Yundhi tersenyum.
"Pasti."
***
Perubahan agak drastis terjadi tiba-tiba pada Tiara. Sebelum melepas keberangkatan Yundhi saat akan bertugas dia menjadi melankolis dadakan. Saat menyiapkan seragam Yundhi dia meneteskan air mata, saat menyiapkan sepatu, lagi-lagi ia terharu. Saat Yundhi sarapan sebelum pergi, dia hanya cemberut sedih sambil melayani suaminya. Yundhi sampai bingung sendiri dengan sikap Tiara, padahal sebelum-sebelumnya tidak seperti ini.
Puncaknya saat Yundhi benar-benar akan berangkat. Tiara sampai menangis. Benar-benar menangis, memeluk Yundhi lama seperti tidak mau di tinggal. Persis anak kecil.
"Aku beneran telat lho ini Ra."
Citra juga tidak mengerti dengan menantunya, tidak biasanya Tiara begitu.
Kalau sudah selesai pokoknya kamu langsung pulang, jangan mampir-mampir, jangan mau di ajak ngopi sama teman, jangan ngobrol atau diam di kantor.
Ini sudah keempat kalinya Tiara berpesan, mengulang pesan yang sama.
"Iya, janji. Di lihatin Mama sama Oma tu, kamu ga malu nangis gini?"
"Enggak" jawabnya cepat.
Ini bukan Tiara, entah kerasukan apa istrinya sekarang.
"Udah ya aku jalan dulu, nanti kalau sudah selesai aku janji langsung pulang."
Setelahnya barulah Tiara mau melepas pelukan. Citra dan Ranti yang melihat dari pintu hanya menyungging senyum geli, tak sekali mereka geleng-geleng kepala.
Mobil yang di tumpangi Yundhi dan di sopiri mang Jay sudah keluar dari pekarangan rumah. Tiara makin sedih. Dia sendiri tidak mengerti dengan dirinya hari ini. Level melankolis dalam dirinya melonjak ke level tujuh.
"Yuk masuk Ra, kita minum jamu yang kamu beli kemarin, rasanya enak, mama udah coba." Citra merangkul Tiara masuk ke rumah. Mengalihkan pikiran menantunya dengan ajakan minum jamu di pagi hari.
"Beneran enak ma? Rasanya sama ga sama jamu-jamu yang kita beli di mbok-mbok keliling?"
"Agak beda sih, enakan yang ini deh, tapi kalau segernya ya segeran jamunya mbok keliling. Mungkin karena masih fresh kali ya, begitu di bikin langsung di jual. Ga kayak ini, lain harinya bikin, lain hari juga kita minum."
"Tiara mau coba kalau gitu, testimoninya sih bagus. Ownernya juga rutin minum katanya."
Citra menuangkan segelas jamu untuk Tiara. Menyodorkan gelas itu ke depan menantunya. Cairan jamu itu berwarna oranye, tampak segar di pandang mata, "nih cobain, enak, Mama sama Oma suka."
Tanpa ragu Tiara meminum gelas berisi jamu yang di sodorkan Citra. Dalam dua tegukan, Tiara harus menghentikan diri tiba-tiba. Wajahnya menyungging reaksi aneh yang sulit di artikan Citra.
"Kenapa?"
"Ga enak."
"Lho, masa?" Citra tak percaya ucapan menantunya.
"Iya, rasanya aneh, kenapa mama bilang enak?"
"Coba sini mama minum, ini botolnya baru Mama buka lho, tadi masih di segel."
Citra mengambil alih jamu yang baru Tiara minum, rasanya ia tidak yakin dengan pendapat Tiara.
"Enak kok ini."
"Kok sama Tiara rasanya aneh, buat Mama sama Oma deh kalau gitu."
"Eh?"
Tiara meninggalkan meja makan dan meninggalkan Citra sediri, "apa efek di tinggal suminya, lidahnya jadi error?" tanya Citra pada angin.
***
Sudah lewat lima hari sejak Yundhi meninggalkan Tiara bertugas, selama itu juga Tiara menunjukkan sisi melankolis setiap mereka bertukar pandang via video call. Untuk pertama kalinya Tiara juga meminta oleh-oleh setiap Yundhi singgah di satu daerah. Apa yang menjadi ciri khas daerah itu, baik dalam bentuk olahan makanan, pernak-pernik, atau baju, Tiara meminta Yundhi membelinya untuk oleh-oleh.
"Sudah aku beliin, tadi cepat-cepat, ga bisa milih banyak, ga apa-apak kan?"
"Yang penting ada."
Saat itu Yundhi mendapat rute penerbangan Jakarta-Sumbawa. Yundhi menyempatkan diri singgah di toko oleh-oleh sekitar daerah itu. Madu hutan, permen susu, dan kain khas Sumbawa menjadi oleh-oleh pilihan Yundhi untuk sang istri.
"Hari ini Ed aneh." Ungkap Tiara dengan nada sedih, kali ini serius, tidak di buat-buat.
"Aneh gimana?"
"Dia ga mau ASI-ku."
"Lho kok?"
"Ga tahu makanya, aku juga bingung."
"Terus gimana dong?"
Yundhi tidak bisa memberi pendapat, hal macam ini bukan keahliannya.
"Ya terpaksa aku sapih."
"Sapih itu apa?" Tanya Yundhi polos, ia benar-benar buta dalam hal ini.
"Ya berhenti di susui, padahal aku niatnya berhenti kalau dia udah dua tahun," Tiara mendesah panjang, "menurut kamu gimana?"
"Ya kalau itu yang terbaik, ga apa-apa, kamu gimana jadinya ga susui Ed?"
"Agak nyeri, tapi kata Mama nanti hilang sendiri." Ada jeda yang membentang beberapa saat, Yundhi memperhtikan wajah Tiara yang dalam benaknya istrinya itu terlihat lebih glowing, cantik. "Besok aku mau ke bimbel, kita ada program baru, mau bikin kelas online."
"Wah, bagus tuh, sekarang memang jamannya kelas online gitu kan, sudah ada persiapan?"
"Kata teman-teman sudah, basic kita siap, tinggal tentukan paket price sama advertising. Rencananya mau nyari brand ambasador juga biar lebih menarik, gimana menurut kamu?"
"Boleh, aku dukung. Mau di sponsori juga?"
"Hmm, gimana ya, lihat nanti deh, aku belum ada taksiran, lihat permintaan pasar juga kayaknya perlu."
"Kalau berubah pikiran kasih tahu!"
"Siap bosku."
"Brandnya minta Bella aja, kayaknya dia oke juga, gaulnya luas tu anak."
"Nanti aku masukin daftar usul kamu."
Pasangan suami istri itu kini hanya saling pandang melalui layar ponsel masing-masing, baik Tiara atau Yundhi seperti menikmati adegan yang mereka lakukan. Tingkah mereka seperti abg yang sedang LDR-an, sampai Yundhi tiba-tiba bicara, "kamu kok cantikan, perawatannya kayaknya sukses."
"Masa?" Tiara meraba-raba wajahnya, "aku malah ga pernah maskeran selama kamu pergi lho, males juga skin care-an."
"Bagus, ga usah cantik-cantiklah, ga ada aku di sana."
"Jadi kapan pulang?" mengabaikan pendapat nyeleneh suaminya. Aneh. Biasanya Tiara akan protes dikatai begitu.
"Kalau ga besok, mungkin lusa pagi."
"Aku tunggu."
***
Keesokan sorenya, Tiara bergegas menuju bimbel. Rekan-rekannya yang lain sudah menunggunya untuk rapat. Ed yang sudah di sapih bisa dia titip pada Citra dan Ranti.
Ed biasanya akan dia bawa setiap akan keluar rumah, baik untuk bekerja atau untuk urusan lain. Anak itu makin tenang dan anteng setelah di sapih. Meski begitu, Tiara tidak akan tenang meninggalkan rumah lebih dari dua jam tanpa Ed.
Sebelum meninggalkan kamar, Tiara meletakkan sebuah amplop berwarna merah jambu di atas nakas. Segala keanehan yang dia alami terjawab sudah tadi malam, dan jawabannya ada di amplop itu.
Di antar oleh mang Jay, Tiara kini sudah berada di tengah perjalanan, beberapa meter lagi dia akan tiba di tujuan.
Perasaannya bercampur aduk. Tiara merasa bersemangat entah untuk alasan apa. Ajaibnya, perasaan melow yang dia rasakan berangsur hilang saat dirinya mengetahui alasan dia menjadi tiba-tiba melankolis.
"Jadi untuk mekanismenya sama dengan proses belajar secara langsung ya, seperti tatap muka di kelas. Siswa juga bisa mengajukan pertanyaan seperti biasa," kata Tiara menyimpulkan.
"Materi juga sudah oke, sesuai kurikulum yang berlaku, saya yakin program ini akan di terima baik," Jenny menimpali.
"Kalau jumlah siswa dalam satu kelas gimana? Kita batasi berapa?" tanya Mimi.
"Yang lain gimana?" Tiara melempar pertanyaan pada anggota yang lain.
"Setuju Ra, ga lebih dari sepuluh. Buat jaga-jaga juga, setiap siswa nanti pakai jaringannya beda-beda, ada yang pakai data ada yang pakai wifi, aksesnya jangan sampai lelet."
"Oke, udah fix ya semua. Jen minta tolong buat notulen ya, sama laporan, bisa ga?"
"Bisa."
"Aku nanti hubungi calon brand ambasadornya, kalau dia oke, kita bisa langsung tanda tangan kontrak."
Para peserta rapat membereskan perlengkapan mereka masing-masing, mencium gelagat kalau rapat itu akan segera berakhir.
"Untuk sementara pembahasan kita sampai di sini, kalau ada hal yang perlu di bahas lagi bisa hubungi saya dan kita adakan rapat berikutnya. Selamat sore semua, boleh bubar ya, selamat berlibur, happy weekend." Tiara menutup rapat itu dengan semangat menggebu. Perasaannya sangat baik sekarang.
"Kayaknya ada yang aneh, kamu ga biasanya berkobar kayak gini," tembak Jenny saat mereka hanya tinggal bertiga dengan Mimi.
"Iya, kebaca banget ya, tapi sorry to say ni, gue ga mau kalian jadi orang yang pertama tahu alasan kenapa gue begini."
"Lagak lo, sok misterius. Lo kayaknya juga ga tahu kabar terbaru Mimi."
"Apaan?"
"Sini gue bisikin."
Mimi yang merasa menjadi bahan omongan memillih tidak menghiraukan dua sahabatnya. Dia juga tahu pasti apa yang akan terjadi berikutnya.
"SERIUS, JANGAN BOHONG LO!"
Tuh kan, persis perkiraannya, suara Tiara menggelegar.
"Tanya sendiri kalau ga percaya!"
Kali ini reaksi Tiara mulai menjengkelkan di mata Mimi, sahabatnya itu tertawa terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya.
Tawa Tiara mereda dengan napas yang naik turun benerapa detik kemudian.
"By the way, selamat kalau gitu, gila gue baru tahu kabar sebahagia ini, akhirnya kutukan kalian akan segera berakhir, tinggal Jenny."
Tiara memeluk Mimi dari arah samping sambil menggerak-gerakkan badan sahabatnya depan belakang, seperti Mimi baru mendapat jackpot miliaran saja.
"Ga usah di perjelas kali, kedengeran gue orang paling ngenes di muka bumi." Jenny sewot.
"Pokoknya gue mau cerita selengkapnya di pertemuan berikutnya, titik." Kali ini Tiara menghadiahi ciuman di pipi untuk Mimi.
"Ih jijay, apaan sih." Mimi menggosok pipi bekas ciuman Tiara.
"Alah, coba kalau dia yang cium, lo demen."
"Ya demen lah, beda rasa Ra, kayak ga tahu aja."
"Lihat ya Ra, bentar lagi Mimi pasti di jemput, Deki lumayan bucin lho."
Lagi, Tiara tertawa keras. Membuat Mimi jengah, merasa seperti di bully.
"Suka-suka kalian deh."
***
Tiara duduk di sofa depan lobi bersama Mimi. Jenny sudah lebih dulu pulang dengan motornya. Karena tidak tahan menunggu pertemuan berikut, Tiara denga jurus gilanya memaksa Mimi bercerita dari awal hingga akhirnya dia resmi menjalin hubungan dengan Deki.
"Keren deh perjalanan kalian."
"Makasih sis."
"Semoga langgeng deh, berjodoh, sampai ke jenjang berikutnya, sampai tuir."
"Kecepetan kali, Ra, belom sebulan."
"Lo aminin dong, di do'ain yang baik-baik juga."
"Aamiiin, gue ke toilet bentar."
Tiara memutuskan memeriksa ponselnya selepas Mimi ke toilet. Mang Jay yang katanya akan menjemput entah kenapa belum tiba.
"Hai, Ra!"
Deki muncul dari balik pintu kaca dengan membawa kantong plastik.
"Wiiiiiiiih ada pasangan anyer nih," ledeknya pada Deki.
Deki tersenyum kikuk.
"Udah di ceritain ya?"
"Baru aja, congrats brader. Semoga langgeng."
Deki duduk di bagian yang di tinggalkan Mimi, membuat posisi mereka berdekatan
"Thanks, Mimi mana?"
"Ke toilet."
"Kamu kenapa belum pulang?"
"Lagi nunggu di jemput juga."
"Mau minum? Aku beli lumayan banyak tadi."
"Boleh, kalau ada yang buah Ki."
"Ada ni, kebetulan Mimi sukanya yang buah."
Beberapa menit obrolan akrab terjadi antara Deki dan Tiara. Tak jarang mereka tertawa lepas mendengar cerita masing-masing.
"Kok kamu ga maju-maju sih, masih belum bisa nyetir sendiri?"
"Saya yang ga ngasih."
Jawaban itu bukan datang dari Tiara, lalu?
"Saya sanggup sewa sopir buat nganter dia kemana-mana kalau saya sedang tidak di rumah." Yundhi sudah berada di ambang pintu, menjawab pertanyaan Deki dengan nada sinis.
***
When a boy gets jealous it's a kinda cute.
Tapi sepertinya istilah itu tidak berlaku pada Yundhi sekarang. Wajahnya tampak tidak bersahabat meski Tiara sudah menjelaskan tentang bagaimana ia bisa mengobrol dengan Deki di lobi. Di mobil, dia hanya menjawab singkat jika Tiara mengajaknya bicara. Di rumah masih sama, rasa cemburunya belum juga surut.
Karma.
Mungkin.
Yundhi merasakan apa yang Tiara rasakan tempo hari. Tapi yang Yundhi rasakan malah lebih parah. Entah bagaimana rasa cemburunya terbentuk, melihat Deki tertawa bersama dengan istrinya membuat Yundhi kesal setengah mati. Dia sampai meminta Tiara memuntahkan minuman yang di berikan Deki tadi.
Sampai menjelang tidur, Tiara yang sudah mengeluarkan jurus manja lebaynya tak juga di respon baik Yundhi.
"Udah lima kali lho aku minta maaf, kamu ga mau maafin ya?" Tiara sudah rela minta maaf meski dia tidak salah.
"Kamu kayaknya seneng banget ngomong sama dia, kalau tadi mang Jay yang jemput, pasti bakal lebih heboh." Untuk pertama kalinya Yundhi bicara lebih panjang.
"Ya enggak, kan aku udah bilang Deki itu mau jemput Mimi, Mimi lagi di toilet, makanya kita ngobrol sambilan nunggu, itu aja."
"Aku ga suka kamu ngobrol sama dia, tahu kan sejarah kamu sama dia gimana?"
"Iya, tapi kan sekarang situasinya udah beda, astaga sayang, masa yang begini harus kita jadiin bahan..."
Tiara belum menyelesaikan kalimatnya dan Yundhi sudah melakukan serangan. Ciuman dalam, keras dan memaksa dilakukan Yundhi pada istrinya. Terbakar cemburu, Yundhi sedikit liar melakukannya dengan sang istri. Dalam hati, niatnya ingin menghukum. Menghukum Tiara karena membuatnya marah. Tiara kewalahan mengimbangi dan beberapa kali meminta Yundhi agar lebih pelan.
Beberapa kali Yundhi menyentak tubuh istrinya, segala kemarahannia lampiaskan malam itu. Tiara ingin memberontak, tapi percuma. Yundhi akan semakin agresif jika di lawan.
Seakan buta dan tuli, Yundhi sedikit tak menghiraukan apa kata istrinya. Terbakar cemburu membuat Yundhi menjadi sosok menakutkan malam itu. Untuk pertama kali, Yundhi melakukannya tanpa kesan romantis dan lembut. Tiara berusaha menerima, sambil berdo'a agar apa yang di lakukan suaminya tidak berpengaruh pada kehidupan lain di sana.
***
Suasana lampu yang temaram tak bisa mempengaruhi Yundhi untuk segera terlelap. Tangannya membelai lembut rambut Tiara yang sudah terbuai mimpi. Ada rasa sesal yang datang katika melihat Tiara kelelahan melayaninya tadi. Tapi dia mengakui berkat itu perasannya membaik. Egois.
Padahal dia juga sebenarnya juga lelah. Sepulang bertugas, dirinya tak mendapati Tiara di rumah, dan diberitahu kalau sang istri sedang ke bimbelnya. Yundhi berinisiatif menjemput untuk memberi kejutan bahwa kepulangannya di percepat.
Di sana dia malah mendapati Tiara mengobrol akrab dengan mantan rivalnya. Meski sudah mendapat penjelasan, tetap saja egonya terluka. Dia masih tidak suka Tiara berbagi tawa dengan pria lain, apalagi orangnya Deki.
Masih belum bisa tidur, Yundhi memutuskan untuk mencari minuman ke dapur. Dia lebih dulu merapikan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Mengecup dalam kening Tiara kemudian bangkit dari peraduan.
Baru akan melangkah, matanya di tarik oleh pemandangan tak biasa di atas nakas. Amplop berwarna merah jambu tergeletak di sana. Tangannya meraih amplop itu. Ada tulisan di bagian luar.
To papa; your wish is on the way.
Yundhi tersenyum, itu tulisan tangan istrinya.
Dia kemudian bergerak membuka amplop itu. Tangannya di masukkan lebih dalam karena tidak ada surat di sana. Dia sampai harus membuka lebar-lebar amplop itu untuk mencari tahu apa isinya.
Sebuah test pack.
Dada Yundhi bergemuruh dahsyat.
Dua garis merah.
Matanya membelalak hebat.
Astaga, Tiara....hamil?
SEKIAN
Guys guys guys chap ini 2700 kata lebih.
Ungkapn cintaku pada kalian.
Bolehkan aku meminta ungkapan cinta kalian dengan vote,komen,like, follow atau apapun yang bentuknya positif yang membuatku makin semangat nulis, oke!
ps. belum tamat kok.
Happy reading.
with love
Lia