When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
87



"Borong ya, Ra?"


"Haduh, ga ngerti."


Tiara meletakkan kantung belanja yang ia bawa di samping meja yang ia duduki bersama Ralin dan Mega. Mega yang belum mengenal Tiara hanya memberi senyum manis begitu melihat Tiara mendaratkan diri di sofa empuk restoran.


"Eh, Mba Mega ya, ya Allah istrinya Dokter Rey, cantik ya." Tiara menyalami Mega.


"Kaku banget sih, pernah ketemu kan kalian, di ultahnya Vo, tapi waktu itu kamunya kabur Ra, sebelum kita sempat ngobrol."


"Iya bener, wah maaf ya mba waktu itu akunya ga sopan."


"Ga apa-apa, kayaknya capek ya habis belanja?" Mega bicara sangat ramah, membuat suasana menjadi akrab meski mereka baru sempat saling menyapa.


"Bukan aku Mbak, Bapaknya nih yang punya gawe. Yang lagi demam pengen anak perempuan."


Sejenak Mega dan Tiara saling lihat, kemudian memandangi perut besar Tiara.


"Jadi yang ke dua perempuan? Keren dong sepasang." Ralin tampak antusias.


"Selamat ya."


"Haduh," Tiara tersenyum geli, "kita belum tau Mba, yang ini cowok atau cewek?"


"Belum USG?"


"Perutnya udah besar, kelaminnya belum kelihatan ya, masih ngumpet?"


Tanya Ralin dan Mega bergantian.


"Semuanya udah, USG sama kelaminnya udah terbentuk, cuma aku aja yang ga mau di kasih tau, biar kejutan."


"Gitu, ngerjain ya kamu."


"Biar seru Mba, tapi Yundhi ketularan Papa kayaknya yang ngebet pengen cucu perempuan."


Di meja yang terpisah, tiga ayah muda itu juga melakukan ngobrol santai. Sayup-sayup Yundhi, Yaris dan Rey bisa mendengar apa yang diobrolkan para istri, tapi mereka memilih tidak menimpali apapun yang para wanita itu bicarakan. Sampai Yundhi menangkap sebuah kesepakatan yang akan terjadi antara istrinya dan Ralin, istri Yaris.


"Anak gue sama anak lo?" Yaris tiba-tiba berteriak menyela, "wah enggak deh."


Sontak saja ke tiga wanita itu menatap pada Yundhi, terutama Tiara yang merasa Yundhi sedikit berlebihan.


"Gini ya Lin," Yundhi kembali bersuara, "kalau besanan sama lo, gue mah oke, you're a good person, tapi karena suami lo nih orang," dengan telunjuk menunjuk Yaris, "gue harus mikir-mikir lagi. Maaf-maaf aja."


"Wah, lo kira gue sudi besanan sama lo." Kini Yaris yang bereaksi, "sampai anak lo ngejar anak gue aja, gue bakal jadi orang pertama yang misahin mereka."


"Lo berani nolak anak gue?" Yundhi ngegas.


Lah?


"Amnesia lo?"


"Rugi lah lo, bibit aja udah jelas, anak-anak gue lahir dengan himpunan semua kekuatan alam semesta ini, asal lo tahu." Tiba-tiba Yundhi bicara narsis yang absurd.


"Sekalipun kekuatannya dari kayangan di tingkat tujuh, gue himpun kekuatan akhirat buat bantu gue pisahin mereka."


"Sayang!" panggil Yundhi pada istrinya, "ingat nih kata Yaris!"


Para wanita hanya geleng-geleng kepala miris melihat reaksi yang diperlihatkan para suami mereka. Di sana hanya Reyhan yang tidak aktif karena merasa yang di lakukan sahabatnya hanya debat kusir.


"Mereka udah kepala tiga kan? Kenapa masih kayak gitu?"~Ralin


"Bener ga sih mereka temenan? Sahabatan? Tapi setiap ketemu kenapa jadi kayak orang yang dudukin petasan, bising."~Tiara


"Ga ngerti aku. Mending pesankan makan deh, mungkin mereka sebenarnya lapar."~Mega


***


Pagi itu untuk Yundhi akan berkunjung ke kantor pusat milik perusahaan Prasetya yang berada di pusat kota. Tiara sudah mengingat hal itu ketika dirinya membuka mata di pagi hari. Maka, setelah menyelesaikan ritual pagi hari, Tiara menyiapkan segala keperluan Yundhi. Berbeda dengan keperluan yang di pakai jika hendak tugas terbang, kali ini Tiara menyiapkan kemeja lengan pendek dan jas saja. Tanpa embel-embel dasi dan topi, karena sebelum resmi bergabung dengan perusahaan keluarga, Yundhi enggan memakai dasi ke kantor.


Begitu Yundhi keluar dari kamar mandi, segala atribut yang akan ia kenakan telah siap di atas tempat tidur. Ciri khas Tiara, yang tidak pernah mengecewakannya.


"Apa aku pakai jaket aja ya, Sayang?"


"Kok jaket? Ga panas?"


"Jaket yang ringan aja, biar keliatan muda gitu."


"Kamu mau kerja atau mau ngecengin karyawan magang?"


"Oke, aku pakai yang ini, yang udah kamu siapin." Sambar Yundhi cepat, memilih jalur aman dari nada ketus Tiara.


Tiara yang sempat tersulut juga memilih untuk meredakan diri. Pagi hari tak pantas di sambut dengan emosi jiwa yang membara.


"Aku boleh ga nyusul kamu?" Tanya Tiara saat membantu mengancingkan kemeja Yundhi.


"Kamu mau kerja di kantor juga? Ga usah lah, aku masih sanggup kok biayain kamu sama anak-anak kita, bahkan sampai kita punya cicit nanti. Tugas aku yang kerja, tugas kamu menikmati," jawabnya lugas dan percaya diri.


Saat itu juga Tiara melepaskan bantuannya.


"Kamu belum dengar sampai selesai udah nyambar aja kayak geledek."


Yundhi menarik lagi tangan Tiara yang melepaskan diri dari kemejanya.


"Aku mau nganterin makan siang," Yundhi tampak berpikir, sangat paham maksud Tiara tapi, berusaha mencari akar yang dapat membuat Tiara akan melanggar aturannya.


"Boleh asal bukan kamu yang masak."


Lagi, Tiara melepaskan tangannya dari kemeja Yundhi, dan Yundhi dengan lembut kembali menariknya.


"Kok gitu?"


"Kalau kamu masak pasti bakal capek."


"Emang apa sih kerjaan yang ga bisa bikin capek?"


"Ga ada, tapi aku ga mau kamu drop karena capek masakin aku terus berakibat sama anak kita, minta Bik Jo aja yang masak."


"Istri kamu Bik Jo?" Tiara mulai kesal. Yundhi serba salah, "aku hamil bukannya sakit, sekedar masak ga bakal bikin aku pingsan, kalau capek kan bisa duduk, istirahat." Tiara mulai berkaca-kaca. Saat ini dirinya di kuasai perasaan sensitif.


Yundhi melihatnya, ia tahu Tiara bosan, ingin melakukan kegiatan. Tiara terbiasa sibuk, bekerja dalam kesehariannya sejak muda. Tapi trauma Yundhi saat melihat Tiara celaka dulu membuatnya memberi aturan yang sedikit mengekang sang istri.


Kemejanya belum selesai di kancing Tiara tapi Yundhi sangat ingin memeluk wanita di depannya.


"Mau masak apa memangnya?"


"Belum tau juga, aku belum tau bahan yang ada di kulkas."


"Kenapa pengen bawain aku makan siang? Aku bisa pulang dan makan di rumah kalau kamu minta."


Tiara menjauhkan tubuh.


"Aku pengen kayak petani yang aku lihat di tanyangan televisi. Petaninya lagi kerja di sawah, terus di bawain bekal makan siang sama istrinya. Mereka makan di pematang sawah. Kayaknya nikmat banget. Kita ga punya sawah, kamu bukan oetani juga. Lagian selama ini aku ga mungkin kan bawain kamu makan siang ke atas pesawat, ke bandara. Kita ga pernah makan siang di tempat kerja kamu."


Jawaban panjang Tiara membuat Yundhi tertawa kecil.


"Oke, asal ga capek dan minta Bik Jo yang bantu."


Mata Tiara kembali berbinar dan senyumnya mengembang. Dia benar-benar inginnmerasakan sensasi makan siang di tempat kerja suami. Seperti liputan yang ia tonton kemari. Makan dengan menu rumahan sederhana, berdua dengan suami.


"Ini mau anak kamu lho, bukan mau aku."


"Ya, ya, ya."


Tiara kembali membantu Yundhi berpakaian.


"Tadi kamu ibaratkan kita petani, jadi boleh dong sekarang aku garap kamu dulu sebelum ke kantor." Ungkap Yundhi sambil menaik turunkan alisnya.


"Astaga."


Yundhi membatin, terima kasih Pak Tani.


***


"Sini deh biar Mama sama Bik Jo yang selesaikan, kamu duduk aja." Tawar Citra pada Tiara yang bersikukuh kembali melanjutkan memasak menu terakhir.


"Tinggal ini kan Ma, Tiara bisa kok." Adonan perkedel kentang yang ia buat memang tampak telah siap di bentuk Tiara. Tangannya mulai melambat saat mengulen.


"Ini kalau Papamu lihat bisa ngamuk lho." Citra mulai gelisah melihat butiran kecil keringat di dahi Tiara.


"Kamu kan yang ngadon biar Mama yang bentuk, dan Bik Jo yang goreng, ya. Kita kerja sama tim." Usul Citra.


Merasa tidak enak karena membuat mertuanya cemas, Tiara pun mengiyakan. Menit berikutnya adonan itu ia serahkan pada Citra untuk di bentuk meski dirinya benar-benar ingin berperan total dalam membuat makanan yang akan menjadi bekal makan siang pertama Yundhi ini.


"Makasih Ma."


"Iya, sekarang duduk deh, kamu udah keringatan gitu."


***


Mendekati jam makan siang Yundhi masih mengikuti rapat dengan beberapa karyawan dan sang pemilik perusahaan, yang tidak lain ayahnya sendiri. Sungguh Yundhi masih belum terbiasa dengan kegiatan baru ini. Hans memintanya lebih aktif lagi mengunjungi kantor jika dirinya sedang day off. Alhasil disanalah dirinya sekarang. Duduk di samping ayahnya, membaca berlembar-lembar dokumen, mendengarkan presentasi dan memberi tanda tangan jika di butuhkan.


Saat melihat jam yang melingkar di pergelangan, Yundhi memperkirakan Tiara sudah harusnya tiba di kantor. Jika tidak dalam situasi itu, mungkin dia sudah bergerak menelpon belahan jiwanya.


"Target bulan ini pencapaiannya terlalu rendah kalau di banding bulan lalu. Kita sudah menerapkan program baru bukan? Kalau memang tidak efektif kenapa tidak di hapus saja, dan kembali menerapkan program yang dulu." ungkap Yundhi dengan nada penuh wibawa.


"Itu artinya kita mundur Pak. Perusahaan sebelah sudah menerapkan program yang sama dan mereka berhasil melewati target..."


"Lantas apa yang kalian lakukan? Mana analisa? Mana survey?" nada Yundhi meninggi, Hans terkesiap, "kalian sudah di gaji tinggi. Kalau keadaan di lapangan kalian tidak kuasai, profesionalitas kalian saya pertanyakan, kalau cuma duduk di balik meja bukannya keadaan riil kalian buta. Kalian pastinya lebih berpengalaman dari saya, tapi saya ga sebuta itu untuk tau data yang kalian tunjukkan ini bukan hasil pengamatan kalian langsung di lapangan, saya tahu ini hasil survey pegawai yang tingkat pendidikannya, maaf, mungkin rendah yang kalian jajah hingga hasilnya mentah seperti ini. Saya tidak mau merendahkan, tapi itu kenyataan. Silahkan bantah kalau saya salah."


Tidak ada yang menjawab, ruangan itu sunyi beberapa saat yang artinya argumen Yundhi valid. Beberapa dari mereka mulai pucat. Tidak menyangka akan kena damprat calon atasan baru.


Hans memberi ruang pada Yundhi untuk mendominasi, karena cepat atau lambat Yundhi akan menggantikannya.


"Saya beri waktu hingga bulan ini saja, kalau target tidak terlampaui lebih dari lima persen, kalian akan dapat surat cinta dari saya. Dan, kalau program ini tidak berhasil, kembali ke program lama. Kembali bukan berarti kita mundur. Kembali untuk menang tidak akan salah. Analisa kalian di butuhkan untuk mematangkannya dan membuatnya berhasil." Yundhi memberi jeda.


"Seminggu dari sekarang, Direktur Utama harus menerima laporan hasil survey dan analisa paling valid, solid, dan riil dari kalian. Bukan hasil yang abal-abal seperti ini." Yundhi melempar bundelan dokumen ke atas meja


Setelah selesai dengan kalimatnya, ponsel di saku Yundhi bergetar. Yundhi membukanya karena Hans kembali mengambil alih. Sebuah pesan dari Tiara. Sesaat Yundhi membacanya. Sesaat berikutnya mata Yundhi membulat penuh dengan wajah yang mendadak pias. Dia menoleh pada Hans.


"Pa," dengan suara rendah Yundhi memanggil Hans, lupa kalau dia di kantor yang harusnya memanggil Hans dengan sebutan resmi, "Tiara."


Detik itu juga Yundhi bangkit dan berlari ke arah pintu keluar. Tiara memenuhi kepalanya. Berbagai dugaan berseliweran. Bagaimana bisa ini terjadi di gedung kantor miliknya. Tiara membutuhkannya sekarang. Sekarang juga.