When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
85



Hampir dua puluh menit, Tiara belum juga selesai memuntahkan semua isi perutnya. Waktu sudah memunjukkan pukul tiga pagi. Yundhi juga masih setia menemaninya di kamar mandi sambil memijit tengkuk Tiara. Tiara duduk di lantai. Kakinya lemas tak bertenaga.


"Mau ke rumah sakit?"


Tiara menggeleng lemah.


Saat itu Tiara baru saja terlelap satu jam setelah melayani Yundhi. Di tengah tidurnya, Tiara tiba-tiba di serang mual yang sangat dahsyat yang kemudian membuatnya terjaga dan berlari ke kamar mandi.


"Hooowek."


Lagi, rasa mual itu menyerang lebih dalam ke bagian perutnya. Sudah tidak ada makanan yang keluar, hanya cairan kental tak berwarna dan terasa pahit di lidah dan tenggorokan. Air mata sudah bercucuran dan tangan Tiara mulai gemetar. Yundhi kini khawatir melihat tanda kehamilan Tiara yang berbeda dari kehamilan sebelumnya.


Dengan gerakan pelan Yundhi mengusap punggung sang istri. Bingung juga bagaimana harus menolong di saat seperti ini. Dia hanya bisa menawarkan alternatif rumah sakit untuk Tiara. Seandainya tidak mustahil, dia ingin menggantikan saja Tiara saat ini untuk... muntah.


Menit berikutnya mual yang Tiara rasakan mulai reda. Rasa yang mengaduk perut mulai menghilang. Meski air matanya masih saja keluar, Tiara bisa merasakan tubuhnya lebih baik. Kepalanya yang bersandar di ujung toilet perlahan terangkat. Yundhi setia menunggui Tiara di belakang.


"Masih mual?"


Tiara menggeleng lemah. Mual yang hilang kini berganti pusing dan lemas.


Yundhi membantu membersihkan wajah Tiara. Mengusapnya dengan air, kemudian ia keringkan dengan handuk kecil.


Dirinya masih tak habis pikir. Sepulang mereka dari acara Mimi, Tiara masih baik-baik saja. Bahkan tubuhnya terlihat segar. Saat makan malam tambahan di warung Bu' De Lastri pun Tiara makan dengan lahap. Nasi lalap dengan sambel yang melimpah favoritnya mampu dia habiskan satu porsi ukuran besar.


Tanpa bertanya, Yundhi menggendong Tiara kembali ke tempat tidur. Dia tau pasti Tiara tidak akan mampu berjalan, bahkan berdiri.


Tiara masih ingin bersandar. Kantuk yang ia rasakan sudah hilang entah kemana. Wajahnya pucat dan matanya pun bengkak. Melihat keadaan istrinya, Yundhi merasa pilu. Tangannya bisa merasakan tangan Tiara yang terasa dingin.


"Mau aku buatin teh atau susu?"


"Teh aja, ga usah terlalu manis."


"Tunggu ya, aku buatin dulu."


"Aku ga apa-apa," cegat Tiara saat Yundhi akan meninggalkannya," ini cuma mual biasa, jangan khawatir kayak gitu!"


Sempat-sempatnya Tiara tersenyum. Bukan tanpa alasan, wajah Yundhi sepertinya lebih pasi dari dirinya.


Yundhi ingin menjawab, tapi enggan karena melihat wajah sayu Tiara. Bagaimana mungkin dirinya tidak khawatir. Melihat sendiri bagaimana makanan bercampur cairan itu keluar dari mulut istrinya dengan sangat hebat. Yundhi malah menyiapkan diri kalau sewaktu-waktu Tiara pingsan.


"Ga usah ngomong dulu, aku buatin minum."


Yundhi akhirnya keluar dari kamar meninggalkan Tiara sendiri. Tiara memejamkan mata sejenak. Memijit pelipisnya untuk menghilangkan rasa pening. Tiara mengingat-ngingat lagi makanan yang dia konsumsi tadi. Apa yang salah dengan makanannya hingga ia di serang rasa mual kemudian. Sejak awal kehamilan, dia tidak merasakan pantangan apapun untuk masalah makanan.


Apa mungkin... sambel?


Memang tidak sepedas biasanya. Tiara menurunkan level cabai yang biasa ia pakai di sambel lalapan pesanannya tadi, hanya saja, memang porsinya lebih banyak.


Tiara senyum sendiri, mengelus perutnya yang sudah tidak merasakan mual, "kamu ga suka sambel ya Nak? Kok gitu? Mama tu pecinta sambel lho. Masa kamunya ga suka? Kakak Ed dulu ga pernah protes kalau Mama makan pakai sambel." Curhat Tiara pada jabang bayi di perutnya.


***


Di dapur, air yang ia rebus sudah mendidih, tapi Yundhi seperti tidak menyadarinya. Dalam posisi duduk, pandangannya lurus dengan tatapan kosong. Pikirannya sibuk menerka kenapa Tiara bisa mual sehebat tadi. Apa mungkin ada pengaruh dari cairan pelemah jantung yang di suntikkan anak buah Lingga? Atau hanya pengaruh makanan yang tidak cocok di konsumsi Tiara? Atau mungkin dirinyalah penyebab istrinya merasakan mual itu, karena seodrtinya tadi dia terlalu bersemangat.


Apa yang harus ia lakukan untuk memastikan?


Detik berikutnya, Yundhi seperti tersadar dan segera menyeduh teh dengan air yang ia rebus.


***


"Pelan-pelan, aku tiup sebentar."


Tiara menyeruput teh yang disodorkan Yundhi menggunakan sendok.


"Kamu ga ngantuk? Kalau capek istirahat aja!" kata Tiara di sela acara menyeruput tehnya.


Sudah barang tentu Yundhi saat ini kelelahan. Baru mendarat, suaminya itu harus menemaninya ke acara pertunangan sahabatnya, dilanjutkan makan malam tambahan, dan acara pelepasan rasa rindu tengah malam. Kemudian, di sambung lagi dengan acara mual hebat yang mengharuskan Yundhi ikut terbangun mendengar suaranya saat mual itu tiba-tiba datang.


"Bukannya aku yang harus ngomong gitu?" Balas Yundhi sambil menyodorkan lagi sesendok teh pada Tiara.


"Kamu ga keberatan aku ngerepotin gini?"


"Jangan ngawur, Ra!


Tiara tersenyum, pria di depannya ini masih sama seperti yang dulu. Perhatian.


"Bisa masuk makanan ga ya, aku bawain roti tawar."


"Boleh, aku mau coba."


Yundhi mengambil roti yang ia bawa dengan tangannya yang bebas.


"Aku mau coba celupin rotinya ke dalam teh."


"Lho? Emang enak? Ga mau pakai selai?"


"Enggak, celupin ke tehnya, aku bayanginnya gitu masalah enak atau ga urusan belakang, yang penting masuk."


Yundhi mengabulkan keinginan Tiara. Membiarkan Tiara melakukan sendiri keinginannya mencelup roti ke dalam teh. Awalnya ia ragu, takut Tiara bereaksi dengan mual lagi. Tapi, melihat celupan ke tiga, Yundhi merasa lega roti itu bisa di terima istrinya tanpa drama mual.


"Udah."


"Ga mau namabah lagi?" Gelengan lemah Tiara menjawab pertanyaan Yundhi.


"Perut kamu kosong lho, masa rotinya cuma selembar yang di makan?"


"Udah cukup kok, kebanyakan nanti mual lagi," kata Tiara menenangkan Yundhi yang sepertinya khawatir melihatnya makan sedikit setelah muntah hebat.


"Ayo tidur!" sambung Tiara lagi.


Lagi-lagi Yundhi menurut. Apapun, asal membuat Tiara senang dan tenang, akan dia lakukan saat ini.


***


"Lo yakin, cairan sialan itu ga ngaruh ke janin Tiara?"


Demi memastikan keadaan sang istri, Yundhi pergi menemui Reyhan sendirian untuk konsultasi. Menceritakan kejadian semalam dan menanyakan lebih detil hasil pemeriksaan terakhir Tiara bulan lalu.


"Gini ya Bro, sebelum anak lo lahir gue ga bisa mastiin keadaannya. Secanggih-canggihnya teknologi kesehatan juga tidak bisa memprediksi keadaan janin secara gamblang. Tapi dari hasil pemeriksaan, observasi, USG, dan berbagai pengobatan yang sudah di jalani istri lo, gue harus yakin perbuatan rese Lingga tidak berpengaruh sama sekali terhadap kehamilan Tiara. Obat-obatan yang diresepkan sama Tiara, baik dari gue atau dokter kandungannya, adalah obat paling paten yang kami punya." Jelas Reyhan panjang lebar.


Mendengar penjelasan Reyhan, Yundhi merasakan sedikit kelegaan.


"Yakin deh, mual yang Tiara alami itu cuma mual kehamilan biasa. Semakin tua usia kehamilan nanti akan hilang juga rasa mualnya. Setiap janin, punya bawaan masing-masing saat dalam kandungan. Setahu gue sih gitu."


"Hm, gue shock aja, masalahnya waktu Hamil Ed, Tiara ga separah ini mualnya. Morning sick paling lima menit, ga pernah selama kemarin hampir setengah jam."


"Lo kayaknya concern banget sama istri." Reyhan menyatakan pendapatnya, berhubung mereka hanya berdua saja sekarang. Dia ingin mengulik sedikit hubungan suami istri sahabatnya itu. Boleh dong skali-skali.


Yundhi tertawa pelan, "pastilah, emangnya lo yang ga ada perhatian sama istri." Sindir Yundhi telak.


"Seumur-umur gue jadi dokter, baru lo doang yang panik lihat istri mual dan konsul gini, sialan. Benar kata Lingga, Tiara jantungnya Prasetya."


"Hm, jantungnya Prasetya, oksigen buat gue, dapetin dia banyak cobaannya, gimana gue ga sayang."


"Kalian ketemunya di mana sih? Kok bisa orang sewaras Tiara mau sama lo?"


"Lo nanya apa ngajak ribut?" Yundhi melotot.


"Hahaha... serius, gue nanya."


"Oma yang duluan ketemu sih sama dia," Yundhi mulai bercerita, "di mall gitu. Gue dulu juga ga ngerti kenapa Oma kekeuh minta gue deketin Tiara. Oma yang duluan jatuh cinta sama kepribadiannya. Ketemu sekali dua kali kita masih suka ribut, bahkan gue ga yakin bisa lanjut. Semakin gue kenal, point of view gue ke dia berubah. Sampai kita pernah ribut besar, dia hilang gitu aja berbulan-bulan, di titik itu gue baru sadar, dia bawa semua hati gue. Gue baru sadar dia berhasil bikin gue bisa mencintai lagi setelah putus dari Emmy." Jeda beberapa detik, Yundhi menerawang kembali ke masa lalu.


"Kalau kehilangan Emmy bikin gue patah hati, kehilangan Tiara bikin gue kehilangan poros hidup, lebih kacau dari patah hati." Yundhi tersenyum, "ga ada Emmy gue masih mampu berdiri tebar pesona kemana-mana, Tiara hilang itu buka mata aja gue harus berjuang mati-matian. Gue sampai dapat SP ga terbang tiga minggu."


"Serius?" Rey merespon.


"Lucu juga sih setelah enam bulan barulah takdir memihak gue, malah gue yang jemput dia dari persembunyian. Sejak itu gue ga ngasih dia celah buat kabur lagi. Apapun yang terbaik yang gue punya, akan gue berikan ke dia."


Reyhan menggelengkan kepala, terkesima mendengar sepenggal cerita percintaan sahabatnya.


"Kalau misalnya, misal lho ini, jangan pakai emosi jawabnya. Misal Tiara ga ketolong kemarin. Lo bakal nikah lagi ga?"


Mata Yundhi mengkilat mendengar pertanyaan Reyhan. Temannya itu minta di hajar memberi pertanyaan seperti itu.


"Gue bakar dulu ni rumah sakit, setelah itu Lingga gue penggal."


***


Setelah menemui Reyhan, Yundhi segera kembali ke rumah. Ketika meninggalkan Tiara tadi, istrinya itu masih tertidur pulas. Satu plastik besar berisi buah-buahan dan beberapa kotak susu untuk ibu hamil menjadi buah tangan Yundhi sekembalinya ke rumah. Begitu membuka pintu, matanya terbelalak melihat pemandangan yang menyambutnya. Kantong belanja yang ia bawa terlepas begitu saja dari tangan Yundhi.


"Sayang, astaga!" Suster Ana terperanjat mendengar suara tiba-tiba majikannya, Tiara menoleh.


"Udah pulang? Dari mana?" Tanya Tiara pada Yundhi yang menghampirinya.


"Kamu kenapa gendong-gendong Ed, sih?" Tanya Yundhi sambil menahan intonasi bicaranya yang hampir meninggi.


Tatapan Yundhi beralih pada suster Ana yang berdiri di belakang Tiara.


"Ed sama Papa ya, sini!" Yundhi mencoba membujuk putra sulungnya agar mau berpindah di gendong olehnya. Tapi usahanya gagal. Ed tidak mau berpindah gendongan.


"Sini deh main sama Papa, ayo Papa ajarin nyetir mobil."


"Eh, jangan aneh-aneh ya! Kamu belum cuci tangan juga." Larang Tiara, tapi Ed malah meronta ingin di raih sang ayah. Yundhi hanya memberi cengiran.


"Udah bersih ni, udah di cuci kok tadi di depan." Yundhi mengambil alih Edward dari gendongan Tiara.


"Ed bantuin Mama dong, jadi anak pinter, kalau mau gendong sama susternya ya, atau sama Papa, di perut Mama ada adeknya Ed lho." Edward yang seperti paham ucapan ayahnya memberi tawa dan gumaman sambil memainkan wajah Yundhi dengan tangan kecilnya.


"Kita jalan-jalan ya, naik mobil, nanti Ed yang nyetir, ini mobil beneran lho." Suami Tiara itu berlalu keluar membawa buah hatinya menuju mobil yang baru saja ia parkir.


"Yundhi jangan macam-macam ya!"


"Ga macam-macam kok ini, ini cuma satu macam, aku bawa Ed sebentar keliling kompleks aja."


"Tapi ga usah di kasih pegang setir gitu dong!"


"Ya mau gimana lagi, aku kan udah janji, ga apa-apa kok ini." Balasnya enteng sambil memasukkan kunci mobil, "daripada lihat kamu gendongin Ed segede ini." Mobil pun di stater.


"Sebentar kok Sayang, buat ngalihin perhatian dia aja." Yundhi berlalu meninggalkan Tiara yang memancarkan wajah was-was. Sebaliknya, Ed justru terlihat senang dan antusias di pangkuan Yundhi, di belakang kemudi.


"Mama tungguin kita ya, Ed da..dah... dulu ke Mama!"


Ed bergeming, tangannya sibuk memainkan setir. Tiara hanya bisa mengelus dada melihat tingkah anak dan suaminya.


Kemana lagi darah Prasetya itu akan mengalir.


***


Bangun dari tidur beberapa jam lalu membuat tenaga Tiara kembali pulih. Badannya tidak lemas lagi, pusing yang mendera juga hilang, dan mual sudah berganti rasa lapar.


Setelah menyelesaikan acara ngemilnya, di dapur Tiara sibuk membuat saus untuk salad buah, di bantu Bik Jo yang mengupas dan memotong buah-buahan yang tadi di bawa Yundhi.


"Buahnya sudah di potong dan di cuci Non."


"Taruh di sana aja Bik."


"Non, biar Bibik yang bikin sausnya, Non Tiara istirahat aja!"


Kalimat Bik Jo membuat Tiara menoleh.


"Saya ga lagi sakit Bik, cuma hamil lho Bik Jo, kalau cuma bikin saus gini juga ga bakal capek. Kenapa Bik Jo jadi ketularan Yundhi?" Tiara tersenyum di ujung kalimatnya. Berlawanan dengan Bik Jo yang malah tampak cemas.


"Aduh, saya sudah di pesan sama semua orang rumah termasuk Tuan Hans, Non Tiara ga boleh lama-lama di dapur, apalagi sampai kerja kayak gini, nanti saya kena omel lho."


"Enggak bakal Bik, tenang aja nanti Tiara yang ngomong kalau Bibik di omelin, ini sudah mau matang, dikit lagi."


Tiara mengangkat spatula untuk memastikan kekentalan saus saladnya, "nah beres," ujarnya setelah mendapat kekentalan yang diinginkan.


Kompor yang menyala kini dimatikan.


"Nanti tunggu sausnya dingin ya Bik, baru di campur ke buahnya."


"Beres Non, terus tambah keju dan taruh di kulkas kan?"


"Nah, udah pinter. Kejunya ga usah terlalu banyak kayak biasa ya, kurangi dikit."


"Siap Non."


"Ya udah, saya tinggal ke kamar.


***


Tentu saja Tiara merasakannya. Perhatian yang di berikan semua keluarga lebih ketat dari sebelum-sebelumnya. Pasca keluar dari rumah sakit, Tiara sama sekali tidak di berikan akses ke dapur. Kalau tadi salah satu keluarganya berada di rumah mungkin dirinya tidak akan bisa membuat salad buah.


Perhatian yang beruntun dari semua pihak bukannya membuat Tiara merasa nyaman. Dia malah merasa agak sesak. Pernah suatu sore Tiara ingin menyiram tanaman di halaman, begitu tangannya akan meraih selang air, Mang Jay langsung beringsut mengambil alih. Mang Jay beralasan, bahwa dirinya telah mendapat perintah langsung dari Tuan Hans. Salah sedikit saja, jabatan supirnya akan dipertaruhkan.


Bahkan mertua laki-lakinya yang dulunya tidak terlalu banyak mengurusi pegawai di rumah, turun tangan langsung memberi instruksi pada Mang Jay.


"Mau tidur ya?"


Yundhi meraih tubuh istrinya saat mata Tiara hampir terpejam. Tiara berbalik.


"Ed mana?"


"Sama susternya. Gimana mualnya, masih?"


"Udah hilang."


"Tadi aku ketemu Reyhan."


"Dokter Reyhan," koreksi Tiara, "ngapain?"


"Dia gelarnya abal-abal, sekolah ga pernah serius, makanya aku malas panggil dokter."


Mereka tertawa.


"Teman kamu lho."


"Hm, masalah gelar Rey kita skip aja, aku konsultasiin masalah mual kamu kemarin."


"Lho, aku kan udah bilang cuma mual biasa, ngapain coba kamu konsul sama Dokter Rey, lagian dia bukan spesialis kandungan."


"Mama kamu cerewet ya Nak, kalau sehat." Dengan gerakan lembut Yundhi mengusap perut Tiara yang semakin membesar.


"Aku cuma minta pendapat dari sudut pandang dia sebagai seorang tenaga medis."


Tiara menahan tawa mendengar kalimat Yundhi yang secara tidak langsung sekarang mengakui keahlian Reyhan.


"Ooh, terus dia bilang apa?"


"Persis seperti kata kamu, mual karena bawaan bayi bukan karena faktor lain."


"Faktor lain maksudnya?"


"Aku sempat mikir mungkin penyebabnya karena cairan yang di suntikkan anak buah Lingga, tapi Rey bilang itu ga ngaruh."


"Kamu mikir sampai sejauh itu, ya ga mungkin lah. Mualku yang kemarin itu karena kebanyakan sambel kok, bisa kan sekarang ga usah terlalu khawatir?"


"Tau dari mana?"


"Insting aja."


"Yakin?"


"Yakinlah."


"Jadi bukan karena aku yang terlalu semangat?"


"Hah?"


Yundhi meletakkan wajahnya di depan perut sang istri.


"Jadi kamu bukannya ga suka Papa sering jengukin ya Nak?" Yundhi merapatkan telinga berlagak mendengar sebuah jawaban.


"Oh, jadi ga apa-apa kalau Papa jengukin lagi?"


"Yundhi apaan sih." Protes Tiara.


"Oke, tenang aja Papa bakal rajin kok jengukin kamu."


"Astaga, kamu tu ya."


Yundhi tetap saja melakukan aksinya meski Tiara beberapa kali ingin menjauhkan wajah suaminya itu.


"Apa? Sekarang? Bener ni mau di jengukin sekarang?"


"Enggak, aku mau tidur."


"Tapi bayinya mau di jenguki Ra, dengar deh."


Lagi-lagi tangannya meraba perut sang istri.


"Nak, Mamamu ga mau katanya." Lapor Yundhi di depan perut Tiara, "tu kan Ra, bayi kita nangis di dalam."


"Akal-akalan kamu, udah, aku capek mau tidur."


"Fix, kamu tidur aja biar aku yang kerja."


"Yundhi setop, ih."