
Tiara menarik nafas dalam dan menghembuskannya, semoga jawabannya tidak membuat Yundhi kecewa.
Jika boleh jujur, dia masih trauma dengan masa lalu yang membuatnya kapok menerima keseriusan dari makhluk yang namanya lelaki.
Empat tahun lalu, Tiara pernah menerima ajakan pertunangan sehari setelah ia menerima pernyataan cinta seseorang. Tapi dua hari sebelum acara pertunangan itu, Tiara tanpa sengaja membaca kiriman sms dari seorang wanita di ponsel milik Ivan dimana isinya menagih keseriusan janji calon tunangannya itu. Tentu saja itu membuat Tiara kecewa dan memutuskan Ivan secara sepihak dan tidak ingin mengenal dia lagi. Segala akses komukasinya ia blokir untuk Ivan.
Saat ini, Tiara seperti kembali mengalami kejadian itu, bedanya laki-laki yang memintanya kali ini adalah Yundhi. Lelaki yang bahkan ia kenal karena sebuah kebetulan. Tentu Tiara diliputi ribuan rasa ragu dan ia berperang melawan pikirannya sendiri. Tiara berusaha mati-matian meyakinkan diri bahwa kejadian itu tidak akan terulang dan besar hatinya ingin memberikan Yundhi kesempatan.
Yundhi masih setia menunggu jawaban Tiara. Menunggu Tiara membuka mulutnya seperti menunggu hasil ujiannya dulu ketika masih di sekolah penerbangan. Rasa takut bercampur khawatir menjadi satu.
Di tengah-tengah penantiannya Yundhi kembali teringat sebuah tulisan Tiara di salah satu file pribadi yang berisi segala keinginan dan cita-citanya.
***
Dear Allah, hari ini aku melihat pemandangan yang indah, lebih indah dari hamparan laut biru dengan deburan ombak, lebih indah dari kemegahan gunung dan hijaunya hutan, lebih indah dari padang bunga tulip di Belanda, bahkan. Pemandangan indah itu ada di *hadapanku.
Keluarga kecil yang sedang menikmati waktu bersama. Anak-anak yang sedang membuat istana pasir, ibu yang sedang menyiapakan makanan, dan ayah yang mengawasi anak-anaknya bermain. Pemandangan apa lagi yang lebih indah dari ini?
Aku sudah lupa bagaimana rasanya bermain bersama ibu, aku tidak ingat rasa masakan yang ia buatkan untukku dulu, aku tidak tahu bagaimana cemasnya dia saat aku pulang terlambat karena bermain ke rumah temanku yang jauh. Andai waktu bisa di ulang. Aku merindukan dia yang ada di surga*.
Aku ingin merasakan apa yang ia rasakan, melakukan apa yang menjadi tugasnya, aku ingin menjadi seorang ibu.
Aku ingin punya gambaran keluarga yang seperti ini Tuhan, yang seperti ku lihat sekarang, sebelum usiaku 30 tahun, aamiin.
***
"Aku...mau kita nikah, tapi pas bulan kelahiranku, jadi hitungannya tahun depan karena sekarang sudah bulan November."
Tiara membungkam mulutnya, lantas memejamkan mata tidak menyangka kalimat itu terlontar begitu lancar dari bibir manisnya. Sungguh dia merasa malu dengan ucapannya sendiri. Andai ia bisa meniru kemampuan salah satu tokoh Fantastic Four, Invisible Woman, ia ingin menghilang detik itu juga.
Di sampingnya, Yundhi masih terdiam, mencerna jawaban yang Tiara ucapkan, beberapa detik kemudian ia mulai bersorak kegirangan. Sesekali tangannya terkepal ke udara diiringi kata 'yes' tanpa henti.
Mungkin saking senangnya Yundhi melepas kemudi mobil, meraih dan memeluk tubuh Tiara hingga Tiara merasa sesak. Ia harus mengingatkan Yundhi kalau mereka di tengah perjalanan.
'Apa aku terlalu mudah ya nerima permintaan cowok ini, masa bodoh, gue juga males pacaran lama.'
"Yundhi, aku ga bisa nafas, lepas dong!"
Dengan berat hati Yundhi melepas pelukannya dan mencium pipi Tiara sekilas. "Makasih sudah nerima ajakan aku."
Tiara berusaha mengatur detak jantungnya agar kembali normal, tangannya sudah berkeringat, tubuhnya serasa di jalari ribuan ulat di saat yang bersamaan. Tiara tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Yundhi, begitu cepatnya hati laki-laki itu berubah, semoga saja tidak berubah lagi membencinya seperti awal pertemuan mereka setelah malam ini.
***
"Kamu bisa makan pedas?"
Tiara memastikan agar dia tidak salah meracik bumbu sambal matah untuk Yundhi. Saat ini mereka telah berada di warung tenda yang biasa Tiara datangi dengan Mimi dan Jenny saat mereka ingin makan lalapan.
Yundhi mengangguk pelan, "tapi level satu."
"Oh." Tiara tersenyum geli melihat wajah Yundhi yang sedikit ragu di akhir kalimatnya.
"Mau ayam, bebek atau nila?" sambung Tiara bertanya layaknya seorang pelayan.
"Bebek deh."
"Tunggu ya!"
"Kamu mau kemana?"
"Mau pesan sekalian bikin sambalnya."
"Kok kamu yang bikin?"
"Emang biasanya gitu, bu' de Lastri ga kuat ngulek kalau sambel pesananku."
"Hah?!"
Tiara meninggalkan Yundhi yang masih dipenuhi pertanyaan.
"Ga kuat gimana sih maksudnya, ga kuat karena panas atau apa?" Yundhi menggerutu sendiri di atas tikar pinggiran toko warung tenda tersebut.
Pemandangan yang sangat berbeda dengan yang biasa ia lihat ketika makan di luar. Jika ia biasanya duduk dalam ruangan sejuk dengan kursi empuk dan meja yang penuh hidangan makanan yang di masak chef terkenal, kali ini ia duduk bersila di atas tikar emperan toko dengan pemandangan hilir mudik kendaraan beberapa meter dari tempatnya. Keadaannya pun sangat kontras dengan penampilannya yang necis khas orang kaya. Beberapa pengunjung warung tenda itu tanpa ragu memandang ke arah Yundhi membuatnya salah tingkah sampai sesekali melempar senyum kikuk pada para pengunjung tersebut.
Dari tempatnya duduk Yundhi bisa melihat Tiara meracik bumbu sambalnya sambil ngobrol dan sesekali bercanda dengan pemilik warung.
Sambil menunggu Yundhi mengeluarkan ponsel membuka menu social medianya. Ia memilih salah satu fotonya bersama Tiara ketika menghadiri acara resepsi tadi, menyematkan emoji hati berwarna merah dengan caption 'just official', lalu tanpa ragu Yundhi memposting gambar itu. Benar saja kata kapten seniornya, berbagai komentar muncul dan kebanyakan mengkomen dengan gambar hati yang retak. Yundhi senyum-senyum sendiri memandang benda pipih berwarna hitam di tangannya tersebut.
"Kamu masih waras, kan?" suara Tiara tiba-tiba menyela kesenangannya. "Kenapa senyum-senyum sendiri? Aneh liatnya."
"Enggak, lucu aja baca komen postinganku."
"Oh, tunggu ya, bentar lagi makanannya di anterin."
"Kamu ga nanya aku posting apa?"
"Apa?"
Yundhi menghadapkan ponselnya pada Tiara membuat Tiara ikut tertawa membaca sekilas berbagai komentar yang masuk.
"Follower kamu banyak ya."
"Lumayan sih, maklum pilgan, pilot ganteng." ujar Yundhi dengan percaya diri level penuh.
"Cih, dasar, eh tunggu! Kenapa nama akun Mimi dan Jenny muncul juga di kolom like?" Tiara sedikit kaget, artinya saat ini Jenny dan Mimi sudah melihat postingan itu.
Tiara lalu membuka ponsel dan benar saja nada notifikasi bermunculan tanpa jeda di layar ponselnya mulai dari chat grup wa-nya beranggotakan ia, Mimi, dan Jenny yang di beri nama The Power Puff Girls, hingga notifikasi permintaan menjadi follower dari akun instagramnya.
Tiara lebih dulu membuka obrolan grup wa yang sudah ramai.
Jenny:
Ciyeeeeeeee yang udah official
Selamat say
Kutukan jomblo kita terpatahkan
Lagi dimana Ra?
Dikau hutang cerita
Awas ya besok ceritanya harus full
Tiara!!!
Ra......!
Main hilang lo
Mimi:
Ra, minta buket yang di kasih pengantin
Ra, kalo ada teman Yundhi jomblo kenalin kita juga
Ra hilang aja, masih di tempat acara ga
Mau vc dong
Teman durhaka anda, Tiara!
Bahagia ga bagi-bagi
Tiara muncul dong
Jen, ga di read chat kita
Sabar!
Lagi makan di tempat bu' de Las
Tiara lalu memeriksa akun instagramnya dan terperangah dengan tambahan jumlah followernya sendiri.
"Wow, berasa artis."
"Kenapa?"
"Follower aku, hm." Tiara mendengus pura-pura tidak suka.
"Kenapa?"
"Kebanyakan cewek, cowok-cowok menjauh."
"Kamu tuh..."
Kalimat Yundhi terhenti dengan kedatangan wanita paruh baya yang membawa nampan berisi pesanan mereka.
"Permisi, udah siap neng." ujar wanita itu dengan logat daerah yang kental.
"Makasih, bu' de, sini biar Tiara aja!" Tiara mengambil alih nampan itu dan menghidangkan menu satu persatu dengan cekatan.
"Kalau ada yang kurang, ambil sendiri yo, udah tau to tempatnya?"
"Iya bu' de."
Dua porsi lalapan bebek goreng lengkap dengan nasi putih, tahu, tempe, telur dadar gulung, sayur, dan sambal terhidang di hadapan Yundhi. Minumannya tentu pilihan Tiara, es jeruk peras.
"Maksudnya ngambil sendiri itu gimana?"
"Ya kalau ada yang kurang biasanya aku ambil sendiri, nasi, lauk apa aja gitu."
"Kamu sering makan di sini?"
"Enggak."
"Kok akrab?"
"Oh itu. Dulu pas baru-baru buka, bu' de Las cuma berdua sama suaminya, kebetulan aku makan di sini bertiga sama Mimi Jenny, waktu itu lagi rame, kita bantuin deh, ngulek sambellah, nganter pesanan, goreng lauk, nyuci sayur, kecuali nyuci piring bu de ngga ngasih. Jadi setiap kesini kita tu jadi pembeli sekaligus pelayan, keterusan sampai sekarang."
Lagi dan lagi sikap humble Tiara membuat Yundhi semakin jatuh cinta. Pantas saja para lelaki di acara resepsi tadi betah berlama-lama melihatnya, tidak hanya cantik di luar, pacarnya juga cantik dari dalam.
"Makan dulu, nanti keburu dingin!"
Aroma makanan yang tersaji itu memang menggugah selera makan Yundhi, tapi rasanya mendengar cerita Tiara jauh lebih menarik.
Yundhi yang terbiasa makan dengan peralatan lengkap, terasa ganjil ketika mengikuti langkah-langkah Tiara yang makan menggunakan tangan. Lama kelamaan dia dia bisa beradaptasi dan mulai menyukai kegiatan barunya.
Ia menikmati makan malam pertama mereka sebagai pasangan baru. Sambal yang di buat Tiara terasa pas di lidahnya. Sesekali Yundhi melihat warna sambal Tiara yang lebih mencolok dari sambal miliknya. Di dera rasa penasaran, Yundhi tergerak mencicipi rasa sambal milik Tiara. Ia mengambil potongan tahu goreng dan mencelupkannya pada mangkuk sambal milik Tiara.
"Aku coba punyamu ya."
"Ja..." Tiara yang asik dengan makanannya merasa kaget melihat Yundhi yang bergerak sangat cepat dan berusaha mencegah tapi gagal. Yundhi sudah lebih dulu memasukkan potongan tahu itu ke dalam mulutnya.
"Hhhaaaahhhh."
"Minum, minum ini!"
Tiara menyodorkan gelas minuman Yundhi. Setengah gelas minuman itu tandas tapi rasa pedas yang luar biasa masih terasa di lidah Yundhi. Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan mulutnya.
"Mau minum lagi?"
Tiara akan beranjak mengambil tambahan es jeruk untuk Yundhi. "Punyamuh ajah."
Yundhi menyambar gelas minuman milik Tiara yang juha ia tandaskan. Barulah kemudian ia merasa lidahnya sedikit netral.
"Kamu vake cave dari neraka mana, fedes banget?" tanya Yundhi masih dengan suara cadel kepedasan. "Makenya berafa sih?"
Tiara ingin tertawa tapi tidak enak hati, ia lebih memilih pergi mencuci tangannya dengan sabun ke keran yang tersedia dan kembali dengan tangan yang sudah bersih dan kering. Tiara menatap Yundhi intens, ia bisa melihat titik-titik keringat di wajah kekasihnya. Ia lalu mengambil beberapa lembar tisu, "Kamu keringetan, maaf ya!"
Tiara langsung menyeka keringat Yundhi dengan lembut. Yundhi tersenyum tipis melihat dan merasakan Tiara yang sedang mengusap wajahnya.
"Lain kali pelan-pelan, jangan langsung coba, muka kamu sampai merah gini!"
"Nggak apa-apa deh, aku kan jadi di perhatiin." jawaban Yundhi mendapat picingan tajam Tiara tapi Yundhi malah jadi lebih senang berhasil menggoda kekasihnya itu.
"Tapi beneran deh, kamu taruh berapa cabe sih di sambal itu?"
"Cuma dua belas."
"Cuma? ya Allah dua belas di bilang cuma."
"Itu masih sedikit, dibanding Mimi sama Jenny, mereka sampai puluhan."
"Jangan terlalu lebar, nanti lalat masuk!"
***
Mobil yang di kendarai Yundhi melaju meninggalkan area warung tenda yang terletak di kompleks pertokoan itu. Yundhi mengarahkan mobilnya menuju rumah Tiara. Meski sudah mendapatkan izin, rasanya belum pantas jika harus mengantar kekasihnya pulang di atas jam 12.
"Besok kamu ada acara?"
"Nggak, kenapa?"
"Kita ketemu oma ya!"
"Oke, oya, oma gimana kabarnya?"
"Sehat dong, dia suporter paling fanatic minta aku nge-sahin kamu."
"Apaan sih."
"Beneran, nanti kita kasih tau oma sama-sama."
Tiara menyanggupi dengan anggukan di barengi senyum manis di wajahnya.
Sekitar dua puluh lima menit perjalanan, mereka telah sampai di depan rumah Tiara. Yundhi pastinya mengekori Tiara, memastikannya selamat sampai masuk rumah. Agak lebai, tapi perasaannya yang sedang bahagia membuat pikirannya di penuhi hal konyol.
"Ra!"
"Hm." Mereka kini tengah berdiri di depan pintu.
"Boleh peluk ngga?"
Tiara sebenarnya ragu, tapi melihat Yundhi yang bersikap manis, tidak ada salahnya mengabulkan keinginan pacar.
"Oh, o-oke." Tiara membuka tangan meski awalnya sempat sangat sangat ragu mengingat mereka telah di area rumah.
Tidak perlu menunggu izin lagi, Yundhi langsung memeluk Tiara erat. Tubuh Tiara yang kecil terasa semakin kecil dalam dekapan Yundhi. Tiara bahkan baru menyadari jika bahu Yundhi ternyata begitu lebar.
"Ini pelukan kita yang kedua." Yundhi berujar di sela pelukannya. Tangan Tiara ikut merangkul bahu Yundhi dan menepuknya pelan. Beberapa waktu mereka bertahan di posisi itu.
"Aku bersyukur kamu mau nerima aku, kamu jangan berubah pikiran kalau lihat maba ganteng!"
Tiara tertawa begitu keras mendengar ketakutan yang di ungkapkan pasangannya itu hingga Yundhi melepas pelukannya.
"Harusnya aku yang bilang gitu, tempat kerja kamu banyak cewek cantiknya."
"Ck, mereka itu ga ada apa-apanya di banding kamu, lusa aku tugas, selama itu kamu harus kasih tahu aku semua kegiatana kamu!"
"Kenapa mendadak posesif?"