When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
89



Tiara dan Yundhi menjelaskan apa yang terjadi pada Hans yang menyambangi mereka di ruangan Yundhi. Hans hampir melakukan tindakan ekstrim dengan menelpon beberapa anak buahnya untuk mengamankan kantor dan hampir menelpon ke kantor polisi. Andai dia tidak berinisiatif menemui Yundhi lebih dulu, mungkin hal itu akan benar-benar terjadi.


"Ya sudah Papa keluar dulu, mau makan siang sama Mama kalian."


"Hati-hati Pa."


Hans keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega. Di ikuti sekretaris pribadinya di belakang, Hans melangkah menuju lift.


"Setelah dari sini kamu ada acara ke mana?" Tanya Yundhi begitu mereka hanya tinggal berdua di ruangan.


"Aku ke bimbel sebentar, setelah itu, hmm...." Tiara tampak berpikir.


"Hm apa?"


"Pengen ke pantai."


Yundhi refleks menoleh mendengar keinginan tiba-tiba Tiara.


"Setelah sawah, kamu bayangin pantai?"


"Bukan aku, anak kita."


"Tapi aku lagi kerja."


"Aku ga minta kamu nemenin."


"Terus mau pergi sama siapa?"


"Sama Mang Jay lah."


"Emang Mang Jay suami kamu."


"Ya udah pakai motor kalau gitu." Usul Tiara karena sampai saat ini dia belum bisa menyetir mobil sendiri.


"Astaga ga bisa gitu dong, Ra!"


"Ya terus gimana?" Tanya Tiara santai, "besok juga kamu masih ke kantor, minggu depan tugas terbang kalau ga salah."


Yundhi menggeram kesal.


"Ya tunggu aku balik dong."


"Kalau nunggu sampai minggu depan, ceritanya beda."


"Sayang, kalau kamu kenapa-kenapa di sana nanti gimana?" Ujar Yundhi memelas.


"Pantai kan ga sebahaya terjebak di lift."


"Tapi..."


"Ya udah deh ga jadi kalau gitu." Sela Tiara cepat, memutuskan menjadi istri yang berbakti karena Yundhi sepertinya akan terus menentang keinginannya.


Yundhi baru saja menyadari, hampir setahun ini mereka tidak pernah menjalani liburan keluarga. Yundhi yang di sibukkan dengan tugas terbang dan urusan bisnis keluarganya. Tiara yang tenggelam dengan urusan rumah tangga, merawat Ed, dan sesekali mengurusi SWOT SPOT dan Green Yard.


"Aku ga mau ambil resiko kamu pergi sendiri atau di supiri Mang Jay."


Yundhi yang melihat raut kecewa di wajah Tiara merasa bersalah tidak bisa mewujudkan istrinya saat itu. Mungkin benar kata Tiara, pantai tempat yang aman, tapi bisa saja hal tidak terduga terjadi di sana. Lebih baik antisipasi di awal.


"Iya, aku ngerti. Aku juga ga mungkin senang sendiri sementara kamu kerja."


"Kok lucu ya."


"Lucu? Apanya?"


"Aku terbangkan penumpang ke tempat lain dengan salah satunya yang tujuan mereka adalah berlibur, tapi sampai sekarang.... astaga.... kamu belum pernah jadi penumpang di pesawat yang aku bawa."


Tiara mengernyit, kemudian tertawa ringan karena menyadari hal yang sama.


"Iya. Kayaknya Emmy lebih beruntung dari aku," ungkap Tiara sambil mengenakan tas bersiap pergi. Tanpa Tiara ketahui Yundhi merasa tertohok dengan ucapannya tadi. Dengan gerakan cepat Yundhi menahan Tiara, menarik lengan Tiara sampai wanita hamil itu harus duduk kembali.


"Mau ke mana?"


"Balik, jam istirahat kamu udah habis, lho."


"Kita belum selesai." Entah kenapa Yundhi tidak rela Tiara meninggalkannya.


"Mau bahas apa lagi? Kan aku ga jadi ke pantainya."


"Sejam lagi deh."


"Kok gitu? Kamu belum aktif aja udah KKN waktu."


"Pimpinan jam istirahatnya tidak terbatas."


"Pimpinan jadi panutan bawahannya, harus disiplin."


"Gini aja," secara tiba-tiba Yundhi memeluk Tiara sedikit erat, membuat Tiara merasa sesak dengan tangan Yundhi yang melingkari bagian atas perutnya.


"Ini kenapa lagi sih?" Setelah dua menit berlalu, Tiara memutuskan bersuara.


"Lain kali jangan samain diri kamu sama wanita lain, sekalipun Mama." Tiara menelan saliva, tidak menyangka Yundhi memikirkan ucapannya.


"Emmy mungkin beruntung, tapi dia ga ada apa-apanya di banding kamu,"


"Aku...."


"Aku janji setelah pulang tugas nanti kita pergi liburan."


"Jangan deh!"


"Kenapa?"


"Lusa acara syukuran rumah baru, aku bakal sibuk ngurusin kepindahan kita, ini bisa lepas dulu ga sih?"


"Enggak."


"Ya udah longgarin!"


Yundhi otomatis melonggarkan pelukan. Dan Tiara harus rela bicara dengan Yundhi yang masih melingkari tubuhnya.


"Jadi kita bakal sibuk, aku juga hamil gini."


"Tapi kan..."


"Buat kepindahan kita bisa minta jasa orang rumah, pasukanmu kan banyak."


"Jangan ngawur deh."


***


"Hati-hati, telpon kalau sudah sampai bimbel?"


Yundhi bersikeras mengantar Tiara sampai lobi meski Tiara menolak. Di sana Mang Jay sudah menunggu. Setelah menyalami Yundhi Tiara segera menuju mobil.


Mobil belum juga bergerak meski Tiara sudah di dalamnya. Kaca mobil itu tiba-tiba bergerak turun. Kepala Tiara muncul di sana.


"Kamu makan malam di rumah ga nanti?"


"Iya."


"Oh, oke."


Setelah itu mobil pun bergerak meninggalkan pelataran gedung Prasetya.


"Mang, nanti mampir sebentar di supermarket ya!"


"Beres Non."


***


"Dari beberapa peserta yang kita wawancara, hampir semuanya merasa puas kok dengan sistem online yang kita tawarkan. Hampir tidak ada keluhan. Masalah lebih banyak datang dari jaringan internet yang mereka gunakan. Untuk solusinya, kita menawarkan paket modul. Kumpulan soal-soal lengkap dengan kunci jawaban." Jenny menjelaskan mengenai perkembangan bimbel milik Tiara.


"Kenapa harus modul, hard file dong, jadi nambah biaya ga sih, bukannya harga sudah kita minimaliskan?"


"Sampai saat ini solusinya cuma itu, gue juga ragu bakal ada komplain ke belakangnya atau ga kalau modul kita kenakan biaya tambahan."


Semua yang hadir dalam ruangan itu tampak berpikir serius dengan masalah yang mereka hadapi.


"Modulnya bikin dalam bentuk soft file aja, kirim ke peserta dalam via email, gue yakin mereka semua punya email, jaman sekarang gitu lho." Tiara mengusulkan.


"Gimana untuk yang peserta elementary?"


"Minta email wali mereka," tangkas Tiara, "kalaupun mentok ga ada..." Tiara menggantung kalimatnya, "modulnya kita buat dalam bentuk web, anjurkan agar mereka mendownload sesuai kesulitan tentang soal yang mereka hadapi, level juga sesuaikan, pakai pasword tertentu untuk menghindari hack. Program ini online, everything should be online."


"Wah wah wah, owner kita memang da best." Puji Jenny pada Tiara, "gue malah ga kepikiran sampai sana."


"Asoy lo, ada yang bisa atasi ga masalah webnya?"


"Rizkan kayaknya oke masalah beginian, tapi sekarang lagi ga ada jadwal."


"Kalau gitu nanti lo hubungi ya Jen."


"Siap bos!"


***


"Permisi," seorang wanita berpakaian rapi tampak berlari mengejar tubuh seorang laki-laki yang hendak memasuki mobil.


"Permisi, Pak Yundhi." Yundhi berhenti dan menoleh ke sumber suara. Setelahnya dia disuguhkan seorang wanita kantoran berparas menawan, dress selutut bedada rendah di tutupi blezer, make up natural dan sepatu sepuluh senti.


"Ya?"


"Maaf saya ganggu."


"Ada apa?"


"Oh, maaf saya kurang sopan, kenalkan saya Karenina, saya salah satu bawahan bapak di bagian keuangan."


"Oh ya? Saya belum banyak mengenal karyawan di kantor karena belum terjun secara total, ada yang bisa saya bantu?"


Wanita yang bernama Karenina itu tampak tersipu malu begitu Yundhi bertanya, kakinya maju selangkah mendekati Yundhi, refleks Yundhi memundurkan diri.


"Bapak sudah mau pulang ya?" Tanya Karenina penuh antusias. Lengkap dengan senyum manis menggoda.


"Iya, ini kan sudah jam pulang kantor, kenapa? Kalau mau tanya masalah pekerjaan sebaiknya besok saja." Tolak Yundhi halus.


Sekali lagi, wanita itu mengambil langkah maju namun tak selebar yang pertama.


"Enggak kok, saya tidak akan bertanya masalah pekerjaan, emm...begini, mobil saya mogok, jadi boleh ga saya menumpang di mobil Bapak."


"Oh mobilnya mogok ya?"


"Iya, jadi kalau boleh saya mau ikut sama bapak."


"Kalau saya ga bolehin gimana?"


"Hah?"


Yundhi memandang takjub pada mobilnya, "dari awal saya beli mobil ini, kursi penumpang yang ada di samping kursi kemudi adalah tempat istri saya, belum ada wanita lain yang menempati kursi itu selain istri saya dan saya memang tidak mengijinkan wanita lain mendudukinya sekalipun Mama saya sendiri, jadi kalau sekarang kamu minta tolong ikut sama mobil saya, maaf saja, saya tidak bisa membiarkan kamu duduk di depan. Alternatif yang bisa saya tawarkan kamu duduk di bagasi atau saya kasih ongkos naik taksi. Silakan pilih?"


Wanita karir nan cantik itu melongo hebat mendengar penjelasan gamblang atasannya, seketika sikap luwesnya tadi menjadi kikuk, hingga Karenina menampakkan sikap salah tingkah yang sangat kentara.


"Oh, kalau ongkos taksi saya mampu kok Pak, tapi saya pengen semobil sama Bapak." Ungkapnya terang-terangan.


"Umur kamu kayaknya masih muda." Wajah wanita itu tampak berbinar, merasa Yundhi mulai tertarik padanya.


"Saya masih 26 tahun lho Pak." Ungkapnya penuh percaya diri, "dan saya single, available."


"Bagian keuangan dengan umur semuda itu, kamu pastinya pintar, wah saya kagum lho."


"Ah, terima kasih pujiannya, jadi sekarang saya ***..."


"Sayang kalau cantik dan muda seperti kamu harus jadi pelakor."


"Hah?" Karenina lagi-lagi di buat melongo dengan jawaban pedas Yundhi.


"Saya tau kamu smart, jadi sesuaikan kepintaran kamu dengan perilaku kamu. Saya tahu kamu berniat menggoda saya, tapi saya tipikal pria kolot yang setia sama istri saya. Kali ini saya maafkan, berhenti sampai di sini, dan jangan ulangi. Silakan pulang kalau kamu punya ongkos buat taksi."


Begitu selesai dengan ucapannya Yundhi melanjutkan niatnya memasuki mobil. Dia segera berlalu, meninggalkan Karenina yang masih memunjukkan wajah tidak percaya bahwa dirinya baru saja di tolak.