
Semalam, sepulang Yundhi dari rumah Tiara.
Tiara belum bisa memejamkan mata, seperti ada yang mengganjal. Pandangannya mengelilingi kamar yang ia tempati. Helma benar-benar merawat kamarnya selamabTiara pergi. Bahkan sebutir debu, tidak terdapat di atas nakas samping tempat tidur. Pengharum ruangan memenuhi indra penciuman Tiara, aroma buah apel, Tiara menyukainya. Matanya mengarah pada pigura yang menempel di dinding. Foto dirinya dan Adib, di ambil ketika Tiara baru mendapatkan almamater memasuki dunia perkuliahan. Adib tersenyum senang, melihat Tiara bisa berkuliah di universitas tempatnya dulu berkuliah.
Bulir air matanya menetes. Ayah sengaja pergi karena ayah mau Tiara kenal dengan tante Helma, iya? gumamnya dalam hati. Tante Helma orang baik, Tiara suka yah, tapi Tiara juga akan suka kalau kita bisa kumpul berempat, kenapa ayah ga pernah cerita? Tiara pasti bisa menerima kalau ayah menikah lagi. Kesedihan yang ingin ia kubur kembali ke permukaan dikala Tiara melihat foto almarhum sang ayah. Dadanya berkecamuk, matanya memanas.
Tiara benar-benar terjaga, bisa jadi ia tidak akan bisa memejamkan mata hingga pagi. Ia butuh sesuatu untuk menenangkannya. Ia teringat obat yang di berikan dokter Reyhan, mungkin itu bisa membantu. Langkahnya beranjak menuju dapur hendak mengambil air minum. Dengan langkah gontai, Tiara keluar dari kamar.
Segelas air putih di tangannya Tiara bawa ke meja makan. Ia duduk di sana dan mengambil sebutir obat dari dalam botol.
"Kamu lagi sakit?" suara Helma hampir membuat Tiara tersedak, ia buru-buru menelan obatnya dan mengatur nafas.
"Maaf, tante ngagetin ya?" kata Helma buru-buru, kemudian menghampiri Tiara.
"Ga apa-apa, cuma obat tidur biasa, ini resep dokter Tiara," jawabnya cepat, takut kalau Helma khawatir berlebihan seperti Yundhi.
Helma ikut duduk di seberang Tiara. Mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada anak tirinya itu.
"Kamu susah tidur? Insomnia?" tanyanya ragu-ragu.
"Ga selalu, hanya di waktu tertentu, waktu banyak pikiran saja."
"Kamu memikirkan rencana pernikahan kamu ya?" tebak Helma dengan senyum sumringah. "Itu biasa terjadi pada calon pangantin."
Tiara hanya diam, membiarkan Helma mengeluarkan argumennya. Tak apa, mungkin ada pelajaran yang bisa ia ambil meski itu tidak semuanya benar.
"Tante juga dulu begitu. Waktu mas Adib berniat melamar tante, tante benar-benar tidak bisa tidur dan gelisah sepanjang malam." Helma kemudian sadar melihat ekspresi Tiara, "Maaf, kalau cerita tante agak___"
"Lanjutin tante, Tiara mau dengar cerita tante dan ayah, Tiara ga apa-apa," sanggah Tiara.
Helma menghela napas.
"Ayah kamu orang baik, kami sudah saling mengenal sejak jaman kuliah. Ayah kamu sudah semester akhir, dan tante anak baru." Mata Helma menerawang mengingat kenangannya dulu.
"Kami hanya sebatas teman, setelah ayahmu wisuda kami sama sekali tidak berkomunikasi. Tante juga kuliahnya ga sampai selesai karena terkendala biaya. Singkatnya, kami bertemu lagi setelah bertahun-tahun di acara kantor ayahmu, waktu itu tantelah yang menyediakan konsumsi di acara tersebut. Setelah mengobrol dan saling bercerita, kami sama-sama membuka diri. Tadinya tante sempat menghindar karena tante mendapat masalah finansial di usaha kue yang tante tekuni. Ayahmu ingin sekali membantu tapi selalu tante tolak. Beliau tanya alasannya, tante hanya bilang 'mas Adib bukan siapa-siapa saya, saya ga mau punya utang', besoknya beliau meminta ijin buat lamar tante sama kedua orang tua." Helma tersenyum tipis mengingat kenangannya kembali.
"Tahu ayahmu bilang apa setelah ijab qobul," Helma berdehem, 'Sekarang saya siapa-siapanya kamu, jadi kamu harus terima apa yang saya beri', nada bicara Helma menirukan Adib, membuat Tiara mengukir tawa di bibirnya. Helmapun ikut tertawa setelah menyadari kelakuannya.
"Tante ga keberatan tinggal berjauhan dengan ayah?" tanya Tiara.
"Sama sekali tidak, mas Adib sudah menceritakan semua kisahnya, termasuk kamu, dan tante bisa memahami. Mas Adib sangat menyayangi kamu, dia takut kamu terluka kalau tahu dia menikah lagi. Katanya, meski kamu orangnya cuek tapi juga sangat perasa. Dia ayah yang baik, untuk kamu dan untuk Wahyu. Kalian sama-sama mendapat kasih sayangnya dengan porsi yang pas, tidak lebih tidak kurang."
Helma meraih tangan Tiara. Mengusapnya lembut dan Tiara dijalari oerasaan hangat.
"Jangan ragukan rasa cinta ayahmu pada almarhumah ibumu, kami juga mendapat porsi kasih sayangnya, percaya sama tante, nama ibumu tetap terukir di hatinya."
Tiara menunduk, tapi segera menganggukkan kepalanya.
"Sekarang cerita sama tante, apa yabg bikin kamu tidak bisa tidur?" Tiara kelabakan mendengar pertanyaan Helma.
"Ga ada kok tante, selain pekerjaan dan pernikahan, semua sudah ada yang ngurus, cuma ga tahu tiba-tiba kepikiran."
Wajah Helma yang hangat membuat Tiara berani untuk lebih terbuka.
"Yundhi adalah pilihan ayahmu, dia sangat senang kalau bercerita tentang kalian. Tante bisa lihat dia laki-laki yang baik."
Tangan Tiara menutup bagian lehernya yang di beri stempel oleh Yundhi.
"Atau mungkin terlalu agresif," sambung Helma, memicingkan mata seakan sudah tahu yang Tiara coba sembunyikan.
"Cuma suka jahil kalau cemburu," balas Tiara.
"Oh, memang begitu laki-laki, egois, possessif, tidak mau di bantah. Apa Yundhi juga begitu?"
"Ga juga sih tante, untuk beberapa hal kami memang sering beda pendapat, tapi selalu kami omongin sampai ada penyelesaian."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ngomong-ngomong tante masih suka bikin pesanan kue, apa uang dari bimbel belum cukup?"
"Ah, iya." Helma beranjak ke arah dapur dan membuka salah satu kabinet dan mengambil sesuatu dari sana.
"Ini, tante sebenarnya mau kasih dari kemarin, ini semua uang yang ditransfer dari bimbel, kamu ga perlu repot-repot, tante masih bi ___"
"Ini buat Wahyu," Tiara terpaksa memotong kata-kata Helma, "Tiara pengen Wahyu mendapat pendidikan yang layak sampai dia dewasa, kalau tante bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan penghasilan tante, tante bisa pakai uang yang dari bimbel untuk pendidikan Wahyu, hanya ini yang bisa Tiara lakukan buat saudara Tiara, mohon tante terima."
Air mata Helma lolos mendengar Tiara mengakui Wahyu sebagai saudaranya. Ini sungguh hal yang luar biasa bagi Helma.
***
Saat ini, di ruangan dokter Reyhan.
"Sakit kepalanya masih suka kambuh?"
"Sudah berkurang dok, kalaupun kambuh ga seberat yang dulu-dulu," jawab Tiara tegas, tidak ingin di kira sakit lagi.
"Tidurnya bagaimana, masih susah?"
"Kadang bisa langsung tidur, kadang harus minum obat kalau banyak pikiran."
"Ya ampun sayang kamu pikirin apa?" Yundhi yang mendengar pengakuan Tiara pada Reyhan di ranjang pasien mendadak kaget dengan jawaban Tiara, "aku udah bilang kamu ga usah mikir macam-macam dengan rencana pernikahan kita, semua udah ada yang ngurus."
Melihat Yundhi yang panik dan mengganggu, Reyhan langsung memberi tatapan jengkelnya, daerah kekuasaannya terusik, telunjuknya naik ke wajah Yundhi.
"Lo jangan betingkah kayak asap rokok, ganggu aja, duduk!" Reyhan memberi isyarat agar Yundhi kembali ke tempatnya dan berhasil membuat Yundhi menurut.
***
"Bener-bener, dokter nyebelin, awas aja lo, gue beli beneran ni rumah sakit!" Yundhi masih saja menggerutu meski mereka kini tengah berada di parkiran rumah sakit.
"Kamu juga ngapain sih pakai motong segala, itu kan sudah jadi kapasitas Reyhan sebagai dokter."
"Akunya beres Yundhi, yang ga beres itu kamu, parno, khawatir berlebihan, lain kali ga usah ikut masuk kalau aku check up." Tiara menjawab kesal sambil memasang sabuk pengaman.
"Kita jadi ke game center ga?" tiba-tiba suara anak kecil menyela perdebatan mereka. Hampir lupa ada Wahyu di kursi belakang. Tiara dan Yundhi saling bertatapan, tak berapa lama kemudian mereka tertawa tertahan menyadari kekonyolan yang mereka lakukan.
"Jadi dong my bro," jawab Yundhi, "kamu ada tempat lain yang mau di datangi?" tanyanya pada Tiara.
"Tadinya mau ke bimbel, tapi lain kali deh, kasihan Wahyu lama nunggu?" Yundhi mengangguk setuju. Ia mengarahkan mobilnya ke mall terdekat.
Setibanya di mall, Wahyu terus meminta agar mereka langsung menuju lantai di mana game center berada. Tiara dan Yundhi tentu tidak bisa menolak. Tadinya mereka ingin makan dulu karena sudah masuk jam makan siang.
Wahyu tidak bisa menyembunyikan wajah senangnya begitu mereka memasuki wilayah game center terbesar di mall itu. Wajahnya penuh takjub, ingin segera memainkan segala bentuk permainan yang ada di sana. Ia tak segan menarik tangan Yundhi ke sana ke mari. Tiara kadang ikut bermain kadang hanya menjadi penonton untuk mereka. Wahyu sepertinya tidak ada capainya. Tiara sudah kewalahan dan memilih duduk di kursi yang tersedia di sana.
"Tiara ya?" Tiara menoleh pada orang yang menyebut namanya. "Benar kamu Tiara kan? Pacarnya kak Yundhi?"
Tiara menatap wajah asing di depannya, memutar ingatannya di mana ia pernah melihat wajah itu tapi tidak berhasil, ia tidak kenal, tapi suaranya...
"Saya Emma," sambil mengulurkan tangan, "adiknya Emmy, mantan pacarnya kak Yundhi, saya sengaja nyapa kamu karena mau minta maaf, tempo hari yang neror kamu dan kirim foto-foto lama kak Yundhi dan Emmy adalah orang suruhan saya."
Tiara termangu, mencoba berusaha mencerna kata-kata wanita di depannya.
"Dulu saya masih belum bisa terima, kak Yundhi punya pasangan dan bahagia, sedangkan kak Emmy berjuang sendiri melawan penyakitnya, jadi saya memutuskan hal gila dengan meneror kamu. Sekarang saya menyesal dan saya minta maaf untuk itu. Kepala saya penuh dengan konsep bahwa kak Emmy akan menikah dengan kak Yundhi, laki-laki yang ia cintai, andai penyakit itu tidak datang, mungkin sekarang mereka sudah menikah."
Deg
Jantung Tiara seperti di hantam batu, mendengar ungkapan Emmy yang ia tidak tahu maksudnya. Jika Emmy tidak sakit, artinya dia tidak akan bersama Yundhi, itukah maksud Emma?
"Kak Emmy bahkan sudah menggambar sendiri gaun pernikahan impiannya dan itu membut saya sakit. Maaf saya harus mengatakan ini, dan maaf sudah pernah mengganggu kamu."
Tiara bahkan tidak sempat membalas ucapan Emma, setelah selesai mengungkapkan isi kepalanya, gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Tiara yang masih syok dengan ucapannya.
Mata Tiara berembun, mengingat kata-kata Emma, dadanya terasa sasak, sakit, sakit yang dulu pernah ia rasakan. Mungkin Emma bermaksud baik dengan meminta maaf akan kesalahannya, tapi kalimat lainnya yang ia ucapkan, bahwa Yundhi tidak mungkin menjadikannya pasangan jika Emmy tidak sakit, sungguh membuat Tiara merasa bahwa kehadirannya hanya sebagai peran pengganti. Otaknya mulai kusut, Tiara tidak bisa berpikir jernih, air mata tak bisa ia tahan untuk keluar. Kepalanya menoleh ke sana ke mari mencari keberadaan Yundhi dan Wahyu.
Suara musik yang tadinya menggembirakan sekarang terasa terlalu bingar dan mengganggu pendengaran Tiara.
"Aku mau pulang." ujarnya setengah berteriak pada Yundhi ketika menemukan pilot itu bermain basket mini dengan Wahyu.
"Bentar Ra, durasinya belum habis," jawab Yundhi sambil terus memasukkan bola basket ke dalam ring.
Tiara mengalah, ia kembali menahan sesak di dadanya. Mencari kursi agar bisa menjaga tubuhnya karena kakinya terasa lemas.
Jika Emmy tidak sakit, dan aku tetap bertemu Yundhi, tentu dia tidak akan mengejarku, menjadikanku kekasih, bahkan calon istri, Emmy sudah merancang gaun pengatinnya, dan aku?
Tiara terus memikirkan kata-kata Emma, entah kenapa ia menjadi bodoh dan memasukan perkataan Emma dalam hati.
"Kamu sakit, ga enak badan?" Yundhi datang bersama Wahyu yang tangannya sudah menggenggam mainan. Tiara tidak menanggapi pertanyaan Yundhi.
"Wahyu udah puas kan mainnya, kita bisa pulang sekaranga kan?"
Wahyu mengangguk setuju.
"Kita belum makan lho Ra."
"Nanti saja di rumah," jawab Tiara cepat tanpa melihat wajah Yundhi. Membuat Yundhi mengernyitkan dahi dengan perubahan sikap Tiara. Mereka berjalan meninggalkan area mall tanpa bicara. Tiara sibuk dengan pikirannya, Yundhi pun sibuk menjwab berbagai pertanyaan Wahyu.
Di dalam mobil pun Tiara bersikap tak acuh. Sungguh ia tak ingin bersikap begini, tapi benar kata Helma, dia adalah seorang perasa. Emma berhasil menghancurkan kepercayaan dirinya menjadi wanita satu-satunya bagi Yundhi.
Yundhi tentu saja bingung, andai tidak ada Wahyu mungkin ia sudah bersuara sedari tadi.
Sesampainya di rumah, Yundhi yang paling segera membuka sabuk pengaman, dan membuka sabuk pengaman Wahyu yang duduk di belakang, ia mencegah Tiara yang ingin membuka sabuk pengamannya dan mengunci pintu mobil samping Tiara secara otomatis.
"Ga usah turun, kita harus ngomong!" ujar Yundhi sambil menatap Tiara tajam. Tiara tidak bisa berkutik, ia menurut dan diam di posisinya.
Entah apa yangdi ucapkan Yundhi pada Helma di dalam, ia langsung keluar tak lama setelah mengantar Wahyu masuk.
***
Yundhi kembali duduk di belakang setir, ia menjalankan mobil dan keluar dari kompleks perumahan Tiara.
Otaknya bekerja cepat, ia kenal Tiara, ada yang di sembunyikan wanitanya itu. Jika Tiara tidak mau bercerita, maka Yundhi akan memaksanya, meski dengan cara yang paling gila yang ia pikirkan sekarang.
Selama perjalanan, Tiara lebih memilih melihat ke luar jendela. Tak jarang ia menyeka air matanya yang masih mengalir, membuat Yundhi semakin yakin dengan kecurigaannya.
Tiara kali ini tidak akan lepas. Mau lari untuk yang ke dua kalinya, jangan harap!
***
"Sekarang cerita sama aku, apa yang bikin kamu tiba-tiba kayak gini?" Yundhi memulai pembicaraan setelah mobilnya terparkir di pinggir pantai.
Tiara bergeming, matanya lurus menghadap ombak yang berkejaran, seakan ombak itu melambangkan perasaannya yang berkecamuk saat itu.
"Oke, kita akan tetap di sini sampai kamu bicara."
"Aku mau pulang," balas Tiara cepat.
"Enggak, sebelum kamu cerita."
"Kamu tahu aku ada janji sama Dek__"
"Persetan dengan utang kamu, aku ga akan balik sampai kamu keluarin apa yang ada di kepala kamu sekarang."
Tiara tidak bisa menahan perasaannya. Ia benar-benar perasa. Bahkan bentakan kecil Yundhi membuatnya ciut dan membuatnya berurai air mata.
"Kalau nangis bisa bikin kamu lebih tenang, habiskan jatah nangis kamu sekarang, setelah ini aku ga akan segan-segan buat perhitungan dengan orang yang bikin kamu kayak gini," tegas Yundhi.
Suasana hening beberapa saat.
"Fine, sekarang aku tanya, seandainya Emmy ga sakit, dan kita tetap ketemu, apa kamu akan ngejar aku?" ujar Tiara berusaha menghentikan tangisnya.
"What?"