
Dan apa yang menjadi do'a Yundhi kala itu sedang di kabulkan saat ini. Setelah menunggu selama tiga bulan setelah pernikahan mereka, Tiara dinyatakan positif mengandung oleh dokter yang di rekomendasikan oleh dokter Reyhan.
Malam itu menjadi malam yang sangat mengharukan bagi Yundhi dan Tiara. Meski bayi mereka masih sebesar biji kacang hijau dan terlihat tidak begitu jelas di layar monitor USG, Yundhi dan Tiara sudah bisa merasakan kehadiran anggota baru yang akan melengkapi rumah tangga mereka. Yundhi tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Tiara selama dokter memeriksa istrinya. Hatinya di penuhi perasaan hangat, haru, bahagia yang membuncah dan berulang kali mengucapkan rasa syukur pada sang Pencipta.
Tiara kerap memegangi perutnya yang masih rata. Celana Citra yang ia kenakan tadi pun sudah tidak menempel di tubuhnya, berganti mini dress bawah lutut berwarna pink pastel yang katanya di beli langsung oleh ibu mertuanya begitu mengetahui Tiara mengandung.
Yundhi yang baru menyelesaikan pembayaran dan menebus resep dokter tersenyum melihat Tiara yang duduk di kursi tunggu dengan kepala menunduk.
"Ayo, kita pulang." Tiara mendongak dan menerima uluran tangan Yundhi.
***
Seperti kebanyakan wanita hamil, Tiara juga mengalami morning sick, tapi bagi Yundhi yang masih awam mengenai kehamilan ia bangun dengan keadaan panik mendengar suara muntahan dari kamar mandi. Tangannya meraih ponsel, ia terbelalak ketika menyadari saat itu baru jam empat pagi. Yundhi segera turun dari tempat tidur menyusul Tiara ke kamar mandi.
"Sayang!"
"Hoek."
Tiara menyemburkan lagi isi perutnya. Yundhi berjongkok memijit tengkuk Tiara yang duduk di lantai dengan setengah kepalanya tenggelam di bundaran toilet.
"Kita ke rumah sakit ya?"
Tiara menggeleng. Yundhi semakin panik. Tiara hendak bangun dan Yundhi menolongnya menuju wastafel. Buru-buru ia berkumur dan mencuci mulutnya. Susah payah Tiara menetralkan napasnya.
"Ini udah biasa buat ibu hamil." Tiarapun heran dengan apa yang dialaminya. Padahal ia merasa baik-baik saja semalam, entah kenapa ketika tidur tadi perutnya terasa di aduk-aduk dan menimbulkan rasa mual yang luar biasa.
Tiara berbalik dan menyandarkan badannya pada Yundhi, dengan sigap Yundhi menumpu badan Tiara yang sudah lemas.
"Peluk!"
Jika di hari biasa rengekan Tiara yang seperti itu akan membuat Yundhi gemas dan akan memakan istrinya tanpa ragu, kali ini rengekan Tiara terdengar mengharukan bagi Yundhi. Sungguh dia tidak bisa membayangkan apa yang di rasakan istrinya itu saat ini. Yundhi memberi pelukan terbaiknya sambil mengelus punggung Tiara halus.
"Mau aku gendong?"
Tiara mengangguk setuju. Kakinya benar-benar lemas setelah muntah tadi. Tiara melingkarkan tangan pada leher Yundhi, wajahnya ia tenggelamkan pada dada bidang Yundhi yang menggendongnya keluar dari kamar mandi.
"Mau aku bikinin minum atau makan? Biar aku bikinin sekarang."
Tiara menggeleng lemah.
"Kalau susu mau? Tadi kayaknya isi perut kamu keluar semua, mau ya aku bikinin susu?"
Sebenarnya Tiara ragu apa nantinya susu itu bisa masuk ke perutnya atau tidak, tapi melihat wajah Yundhi yang panik dan memelas, Tiara mengiyakan.
"Pakai gelas kecil."
"Oke, sebentar."
Yang penting perut istrinya tidak kosong meski hanya segelas kecil susu tak apa, Yundhi segera keluar kamar dengan langkah cepat menuju dapur.
Dengan hati-hati ia menyeduh susu untuk ibu hamil rasa mangga yang di pilih Tiara sendiri ketika mereka mampir di supermarket sepulang dari dokter. Tak lama segelas kecil susu ada di tangannya. Yundhi segera kembali ke kamar dengan senyum mengembang.
Yundhi termangu melihat Tiara meminum susu dengan hidung yang di jepit jarinya. Padahal tadi tidak ada yang salah dengan aroma susu yang ia buat. Yundhi juga sudah memastikan tanggal kadaluarsanya.
"Amis." komentar Tiara meski gelas yang ada di tangannya sudah kosong.
Tak peduli dengan komentar yang di utarakan Tiara, Yundhi terlihat puas Tiara menghabiskan susunya. Benar kata mamanya, ternyata wanita hamil memang mengalami masa sensitif di sekujur badan.
***
Yundhi mengirim pesan pada salah seorang staff di maskapainya untuk tidak memberinya jadwal terbang sampai batas waktu yang belum bisa ia tentukan. Bukan semena-mena, tapi saat ini maskapai tempatnya bernaung bisa di bilang sudah menjadi milik keluarganya, ia dan sang ayah bekerja sama untuk membeli setengah dari saham maskapai itu. Alasannya tidak lain karena Tiara yang tidak mengijinkannya berhenti menjadi pilot, tapi Yundhi juga tidak mau sering-sering berjauhan dengan istrinya. Dan akhirnya setelah berdiskusi cukup lama, ayahnya menyetujui keputusannya membeli satengah dari saham maskapai itu.
Tiara tentu saja belum mengetahuinya. Yundhi tahu pasti Tiara tidak akan setuju jadi lebih baik jika Tiara tahu setelah maskapai itu resmi menjadi milik keluarganya. Dan saat ini ia pun merasakan faedah dari usahanya itu, yakni bisa mengatur jadwal terbangnya dan menemani Tiara melewati masa-masa ngidam yang mulai terjadi.
Hari sudah terang. Matahari juga sudah mulai naik. Tiara masih tertidur pulas dengan tubuh yang di tutupi selimut.
"Ra, Sayang, bangun dong, ayo sarapan!" Tiara tak menjawab.
"Setelah sarapan tidur lagi deh." Tiara bergeming meski Yundhi sudah membujuknya.
Yundhi melangkahkan kaki ke arah jendela, ia bermaksud membuka tirai agar cahaya matahari masuk ke kamar mereka dan Tiara bisa menyadari kalau hari sudah beranjak.
"Tutup lagi, aku ga mau kena matahari."
Walah.
Dengan cepat Yundhi menutup kembali tirai yang tadinya ia singkap.
"Udah siang lho ini, sarapan dulu yuk, nanti tidur lagi."
Lagi-lagi Tiara menggeleng.
"Atau aku bawakan sarapannya ke kamar, mau ya?"
Yundhi meringis sedih menyadari Tiara tidak menjawab pertanyaannya tanda penolakan. Ia benar-benar di landa rasa cemas yang kuat mengenai keadaan istrinya. Tidak ada makanan yang masuk ke perut sang istri kecuali hanya segelas kecil susu. Selebihnya nihil. Ia khawatir dengan perkembangan janin yang sedang tumbuh di rahim sang istri.
***
"Tiara mana?" tanya Citra saat melihat Yundhi turun seorang diri.
"Ga mau bangun ma, jam empat tadi dia muntah hebat, sekarang takut matahari dan ga mau makan, tadi cuma minum susu segelas kecil setelah muntah. Itupun minumnya susah payah sambil jepit hidung. Amis kataanya." Yundhi mendesah.
Citra dan Ranti saling memandang turut cemas.
"Biar mama coba bujuk, mungkin dia ada yang pengen dimakan." Citra bangun dari duduknya dan menuju kamar Tiara.
"Apa aku panggil dokter aja ya Oma?"
"Nanti kalau Tiara benar-benar ga bisa makan baru kita panggil dokter. Masalah ini biasa terjadi pada ibu hamil, semoga aja Tiara kuat."
Yundhi membuang napas gusar, sepertinya sembilan bulan ke depan tidak akan mudah.
***
Trisemester pertama di lewati tidak mudah oleh Tiara. Selain takut sinar matahari dan susah makan, ia juga kerap morning sick yang hebat setiap subuh menjelang. Beberapa hari lalu ia sempat di pasangi infus di rumah karena keadaannya benar-benar lemah. Untungnya beberapa resep dokter sedikit berpengaruh pada tubuh Tiara. Pelan tapi pasti gejala-gejala itu menghilang.
Tapi mamasuki trisemester ke dua, Tiara malah membuat Yundhi semakin di landa frustasi, seperti hari ini. Saat jadwal periksanya datang, Tiara ingin ke rumah sakit menggunakan sepeda motor. Membayangkannya saja membuat Yundhi mulas.
"Aku sering lho dulu lihat ibu-ibu di bonceng suaminya pas lagi hamil."
"Iya itu kan karena mereka mungkin ga punya mobil, ini mobil udah berjejer begini, hadiah kamu dari papa juga nganggur, terus ngapain kita naik motor?"
"Ini bukan maunya aku, ini maunya Baby.
Anak pun di bawa-bawa, kalau sudah begini Yundhi kehilangan kata untuk menyanggah Tiara.
"Kalau kamu ga mau biar aku pergi sendiri, bawa sini kuncinya!"
Yundhi melotot cemas.
"Ga bisa gitu dong Ra."
"Ya ga bisa kalau kamu kamu ga mau. Kamu memang gitu, ga pernah bisa ngerti. Kamu ga tahu sih gimana rasanya pengen apa yang bukan kemauan kita."
Lah kok?
Jika hormon kehamilan itu berwujud manusia atau benda, mungkin Yundhi benar-benar akan membuat perhitungan. Mengahadapi Tiara yang kesensitifannya naik berkali-kali lipat selama hamil harus membuat Yundhi banyak-banyak menyetok sifat yang di sebut 'sabar' saat ini. Perut Tiara yang mulai membesar menjadi kendala yang paling besar bagi Yundhi unyik mengabulkan permintaan istrinya yang satu itu. Akan lebih mudah bagi Yundhi jika Tiara memintanya membangun candi atau membeli pesawat pribadi saja.
"Oke, kita naik motor," mata Tiara berbinar.
"Motor matic yang itu, jangan motor kamu, joknya terlalu kecil," Yundhi mempertimbangkan tubuh Tiara yang mulai berisi, "nanti kamu ga nyaman." Tangan Yundhi menunjuk sebuah motor matic keluaran terbaru merek ternama. Tiara mengangguk setuju. Motor mana aja deh, yang penting naik motor lah pokoknya.